Selasa, 10 April 2018

Sebuah Refleksi dalam Mendidik Anak ( oleh: Marchilia Damayanti si guru beta)

Pagi seperti biasanya sebelum memulai pembelajaran saya mengecek kehadiran siswa.  Satu persatu saya amati, seiap kursi saya perhatikan.  Ada beberapa kursi kosong ,yang memang terkadang siswa masih di jalan alias terlambat.  Akan tetapi ketika pandangan saya sampai di sebuah kursi dan saya menunjuknya,siswa yang lain mengatakan jika si empunya sering bolos.  Keesokan harinya saya bertemu siswa itu, sebut saja si Pintar.  saya menanyakan mengapa ia sering bolos.  Ia menjawab sambil menundukkan wajahnya, bahwa mama papanya sedang ada masalah.  

Hari berganti hari, ketika tiba waktunya praktek kerja lapangan siswa diturunkan ke beberapa perusahaan termasuk si Pintar.  Lokasi praktek si Pintar  tidak jauh dari rumahnya.  Akan tetapi menurut pihak perusahaan ia sering tidak masuk.  Banyak alasan sehingga ia tidak dapat masuk kerja di perusahaan itu, diantarnya: mengantar neneknya ke rumah sakit, mengantar omnya yang kecelakaan di UGD, membantu orang tuanya dan lain sebagaiya.  Pihak sekolah mengundang orang tua si Pintar untuk membahas permasalahan si Pintar.  

Pada saat sedang berlangsung diskusi anrara saya, orang tua dan siswa itu sendiri.  Tanpa diduga orang tua si Pintar menamparnya hingga tersungkur.  Tidak berselang lama menendangnya kemudian menamparnya lagi.  Orang tua si Pintar kecewa dengan perilaku anaknya yang sering berbohong.  Kemudian saya menanyakan tentang pernyataan anaknya bahwa kondisi rumah tangga orang tuanya sedang ada masalah.  Orang tua si Pintar menyangkal dan mengatakan itu tidak benar.  Tiba-tiba orang tuanya menendang lagi.  Sambil menangis kesakitan si Pintar berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya lagi.

Kami menanyakan kemana ketika ia bolos sekolah dan PKL, ternyata ia pergi ke warnet untuk bermain games.  Ia mengatakan bahwa di sana ia menemukan sesuatu yang tidak ia dapatkan di rumah, diantaranya:  kepuasan ketika memainkan games, kepuasan ketika menang, bercanda dengan teman-temannya, saling menceritakan kegiatan sehari-harinya dan obrolan ringan lainnya.

Kebohongan dapat terjadi ketika di rumah anak takut mengemukakan apa yang diinginkannya.  Anak takut mengungkapkan pendapatnya.  Ketakutan ini didasari atas sikap orang tua yang selalu menggunakan kekerasan jika anak melakukan kesalahan.  Orang tua merasa dirinya adalah satu-satunya orang yang harus didengar ketika anak mengungkapkan keinginannya.  Anak adalah obyek penderita ketika orang tua sedang tidak sedang dalam kondsi "baik".

Bohong adalah berkata tidak sesuai dengan kenyataan, mengatakan sesuatu tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya.  Dalam suatu hadist dinyatakan "Pertanda orang munafik ada tiga, apabila berbicara bohong, apabila berjanji mengingkari janjinya dan apabila dipercaya ia berkhianat." (HR. Bukhari dan Muslim).

Mungkin kita sebagai orang tua pernah melakukan kebohongan. Kebohongan yang menurut kita sesuatu yang sepele. Mungkin kita perlu instrospeksi diri. Adanya akibat pasti ada sebab. Ada asap pasti ada api. Anak kita berbohong mungkin karena kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar