BINATANG KECIL
Oleh: Marchilia Damayanti
“Kalau
kemana-mana baca Bismillah,” kata ibuku setiap kali aku akan keluar rumah. Ibu selalu mengingatkan untuk mengawali
apapun dengan Bismillah. Pernah suatu ketika ibu menyuruhku membeli pisang di warung yang tidak jauh dari
rumah. Meski dekat aku ingin cepat
sampai, sehingga memutuskan naik motor dan tidak mengenakan helm.
“Ah,
nggak jauh,” gumamku.
“Erna,
hati-hati. Jangan lupa baca Bismillah,” teriak ibuku dari dapur.
Saking
semangatnya kupacu motor tanpa memedulikan teriakan ibu. Sesampai di warung, ternyata pisangnya sudah
habis. Aku berpikir, bagaimana kalau
mencarinya di warung yang lain. Ya,
akhirnya kuputuskan memacu motor menuju warung berikutnya. Alhamdulillah ada pisang pesanan ibu.
“Berapa
harga pisangnya Mbak?” Tanyaku.
“Lima
belas ribu, Dik,” jawab pemilik warung.
Kukeluarkan
uang dari dompet sejumlah harga pisang. Dengan ucapan syukur aku kembali ke rumah. Dalam perjalanan tiba-tiba ada yang masuk ke
mataku. “Plek”, Duuuh, perih sekali. Aku
menepikan motor dan mematikan mesinnya.
Aku mengucek mata sampai keluar air mata tetapi binatang kecil itu
semakin masuk ke dalam.
“Ya
Allah,” batinku.
Banyak
kendaraan lalu lalang di jalan yang memperhatikan gayaku. Mereka kemungkinan bertanya-tanya, mengapa
aku melihat kaca spion terus. Hingga kuputuskan memilih untuk meneruskan perjalanan ke rumah sambil menahan rasa perih tiada
tara. Sesampainya di rumah aku bercermin
lagi, tetap masih belum terlihat penampakan binatang kecil tadi.
“Erna
mana pisangnya?’
“Waduh,
iya Bu.”
Aku
berlari ke dapur menyerahkan pisang kepada ibu.
“Kenapa
matamu?”Tanya ibu.
“Perih
Bu, kemasukan binatang kecil,”jawabku.
“Pasti
kamu tadi tidak baca Bismillah.”
Ya
Allah, betul kata ibu, aku tadi tidak mengucapkan Bismillah sebelum pergi. Meski kecil, binatang tadi cukup mengganggu
dan membahayakan bagi mata. Binatang kecil itu telah menyadarkanku. Astaghfirullah
Haladzim.
#60HMB
#BATCH9
#DAY28