Senin, 31 Januari 2022

 

BINATANG KECIL

Oleh: Marchilia Damayanti

 

            “Kalau kemana-mana baca Bismillah,” kata ibuku setiap kali aku akan keluar rumah.  Ibu selalu mengingatkan untuk mengawali apapun dengan Bismillah. Pernah suatu ketika ibu menyuruhku   membeli pisang di warung yang tidak jauh dari rumah.  Meski dekat aku ingin cepat sampai, sehingga memutuskan naik motor dan tidak mengenakan helm.

            “Ah, nggak jauh,” gumamku.

            “Erna, hati-hati. Jangan lupa baca Bismillah,” teriak ibuku dari dapur.

            Saking semangatnya kupacu motor tanpa memedulikan teriakan ibu.  Sesampai di warung, ternyata pisangnya sudah habis.  Aku berpikir, bagaimana kalau mencarinya di warung yang lain.  Ya, akhirnya kuputuskan memacu motor menuju warung berikutnya.  Alhamdulillah ada pisang pesanan ibu.

            “Berapa harga pisangnya Mbak?” Tanyaku.

            “Lima belas ribu, Dik,” jawab pemilik warung.

            Kukeluarkan uang dari dompet sejumlah harga pisang.  Dengan ucapan syukur aku kembali ke rumah.  Dalam perjalanan tiba-tiba ada yang masuk ke mataku. “Plek”, Duuuh, perih sekali.  Aku menepikan motor dan mematikan mesinnya.  Aku mengucek mata sampai keluar air mata tetapi binatang kecil itu semakin masuk ke dalam.

            “Ya Allah,” batinku.

            Banyak kendaraan lalu lalang di jalan yang memperhatikan gayaku.  Mereka kemungkinan bertanya-tanya, mengapa aku melihat kaca spion terus.  Hingga kuputuskan memilih untuk meneruskan perjalanan ke rumah sambil menahan rasa perih tiada tara.  Sesampainya di rumah aku bercermin lagi, tetap masih belum terlihat penampakan binatang kecil tadi.

            “Erna mana pisangnya?’

            “Waduh, iya Bu.”

            Aku berlari ke dapur menyerahkan pisang kepada ibu.

            “Kenapa matamu?”Tanya ibu.

            “Perih Bu, kemasukan binatang kecil,”jawabku.

            “Pasti kamu tadi tidak baca Bismillah.”

            Ya Allah, betul kata ibu, aku tadi tidak mengucapkan Bismillah sebelum pergi.  Meski kecil, binatang tadi cukup mengganggu dan membahayakan bagi mata. Binatang kecil itu telah menyadarkanku. Astaghfirullah Haladzim.

 

#60HMB

#BATCH9

#DAY28

             

 

 

 

Minggu, 30 Januari 2022

 

ODI

Oleh: Marchilia Damayanti 

             Tiba-tiba Odi menghampiriku dan berkata’”Tolong aku dulu.”

            Aku yang sedari tadi hanya terdiam pun menjadi penasaran, ada apa dengan Odi?

            “Emangnya ada apa Odi?” Tanyaku.

            “Tolong aku, ibuku sakit dan mau dibawa ke puskesmas tetapi aku tidak punya  uang untuk naik angkot,’ katanya lirih.

            “Hah, sakit apa?”Tanyaku kaget.

            “Tadi malam badannya panas sampai pagi ini belum juga turun.”

            Sementara  Odi menunggu di teras rumah.  Tanpa pikir panjang aku  bergegas masuk ke dalam rumah dan membuka celenganku. Kemudian kuserahkan uang dua puluh ribu kepada Odi.

            “Uangku hanya ada ini, Odi,” kataku.

            “Iya, tidak apa-apa,” jawab Odi.

            Odi pun pamit setelah mengucapkan terima kasih. Odi dan aku bersahabat dari kecil.  Dimana ada dia disitu ada aku.  Tidak pernah sekalipun kami berpisah.  Bapak Odi sudah lama meninggal dunia sekitar empat tahun yang lalu.  Ibu Odi hanya seorang buruh tani yang ketika ada pekerjaan di sawah saja ia bekerja.  Sementara untuk menyambung hidup jika tidak bekerja di sawah, ia menjadi buruh cuci pakaian.  Meskipun hidup sangat sederhana Odi sangatlah jujur.  Terkadang ada orang menyuruh dia membersihkan halaman rumah dan mencabut rumput pengganggu  di ladang.

            Suatu hari ada pengumuman lomba cerdas cermat tingkat sekolah dasar di sekolah kami.  Aku menyuruh Odi untuk mengikuti lomba itu.  Oiya, Odi termasuk siswa yang cerdas di kelasku.  Seringkali ia menjadi juara dalam beberapa perlombaan di kecamatan. 

            “Odi ada lomba tuh, ikut saja, ini kesempatan lho,” kataku.

            “Tapi….” Jawabnya ragu.

            “Tapi kenapa Odi, biasanya kamu semangat kalau ada lomba.”

            “Ibuku masih sakit,” jawabnya sedih.

            Akupun ikut merasakan kesedihan yang dirasakan Odi. Aku tahu yang ada dalam pikiran Odi.  Sebenarnya ia ingin mengikuti lomba tapi harus merawat ibunya yang sedang sakit. 

            “Iya…ya, tidak apa-apa kali ini tidak usah ikut lomba.  Kamu rawat ibumu dulu,”     saranku.

            Odi mengiyakan apa yang aku katakan. Odi anak yang sangat berbakti. Meskipun di lubuk hati terdalam ia sangat ingin mengikuti lomba itu. Kali ini harus memendam keinginannya  mengikuti lomba demi kesembuhan sang ibu. 

 

#60HMB

#BATCH9

#DAY27

           

Sabtu, 29 Januari 2022

 

NENEK “JUTEK”

Oleh: Marchilia Damayanti

            “Ma, kasihan nenek itu jalan sendiri,” kata Caca.

            “Iya…ya, yuk kita lihat membawa apa dia,” ucap Mama sambil nyetir  mobil.

            “Iya Ma, yuk kita lihat,” ucapku menimpali.

            Aku, Mama, dan Caca sedang berada dalam mobil menuju ke sekolah Mama.  Dalam perjalanan kami melihat seorang nenek dengan badan sedikit bungkuk berjalan di pinggir jalan sambil menggendong keranjang dan menenteng toples berisi sesuatu.  Setelah agak dekat dengan posisi si nenek kami melihat ternyata toples tadi berisi kacang sangrai yang terbungkus plastik.  Kami pun berhenti dan turun dari mobil.

            “Nek, berapa harga kacanya?” Tanya Mama.

            “Lima ribu satu bungkus,” jawab si nenek.

            “Beli dua bungkus ya, Nek,” kata Mama.

            “Ooooo, saya kira mau beli sepuluh bungkus,”jawab si nenek dengan  sedikit menggerutu.

            Mama melirik ke arahku.  Aku dapat merasakan kekecewaan mama.

            “Tidak usah pakai kantong plastik, Nek,”pinta Mama.

            “Iya, kalau beli sepuluh baru saya kasik kantongan.”

            “Duuuuh si nenek,”batinku.

            Kami pun masuk ke dalam mobil lagi.  Di dalam mobil kami membicarakan kejadian tadi. 

            “Icha, gimana pendapatmu tentang nenek tadi?” Tanya Mama kepadaku.

            “Neneknya galak,”ucap Caca.

            “Neneknya kurang bersyukur, Ma,”jawabku.

            “Mengapa begitu Icha?”

            “Mama lihat sendiri kan, tadi waktu kita membeli kacangnya, si nenek        nggak tersenyum dan mengucapkan terima kasih,” ujarku kesal.

            Mama tersenyum melihatku sambil  menyetir mobil. Mama memahami kekesalanku.  Mama sering mengatakan kepadaku jika memberi jangan pernah mengharapkan imbalan sesuai dengan harapan kita.  Ketika memberi niatkan hati hanya kepada Allah, maka kita akan ikhlas apapun reaksi dari si penerima.  Mama juga menjelaskan jika kita memberi dan mendapatkan perlakuan kurang menyenangkan maka bersikap sabar serta menahan amarah adalah lebih baik. 

 

#60HMB

#BATCH9

#DAY26

 

 

 

Jumat, 28 Januari 2022

 

ANAK MUDA YANG MENGINSPIRASI

Oleh: Marchilia Damayanti

 

            Begitu giat ia bekerja.  Sehari-hari bergelut dengan kesibukan untuk memajukan bisnisnya.  Usianya masih sangat muda baru menginjak 20 tahun.  Namun keinginan menjadi sukses sebelum usia 30 tahun cukup besar.  Sungguh sangat mengagumkan cita-citanya.  Berbeda dengan anak muda kebanyakan yang ingin menyelesaikan kuliahnya terlebih dahulu baru mencari pekerjaan. Ia lebih menyukai tantangan.  Baginya tantangan merupakan sesuatu yang harus ditaklukkan.  Sebuah pemandangan yang jamak terjadi,  sebagian pemuda lebih menyukai berada pada zona nyaman.  Zona yang mengekang  pola pikir untuk mengasah kreativitas  dan inovasi.

             Sebuah langkah besar ketika seorang anak muda berani memutuskan untuk mengambil jalan yang berbeda dengan anak muda kebanyakan (anti mainstream).  Ia berani mengambil keputusan diantara godaan teman sebaya yang cenderung masih menyukai berada di bawah naungan perlindungan orang tua.  Bisa kita bayangkan ketika teman-temannya asyik nongkrong di kafe saling bercanda dan ngobrol kesana kemari tanpa tujuan. Ia dengan segenap kemampuan menggali potensi dirinya dalam berbisnis.

            Setiap hari merancang dan merencanakan hal-hal baru terkait hasil evaluasi setelah  closing penjualan. Terus mencari ide-ide yang dapat meningkatkan branding dan penjualan.  Bahkan belajar dari mentor pun ia lakoni.  Baginya untuk mengembangkan bisnis membutuhkan ilmu. Menurutnya pula, ilmu adalah anak panah yang akan mengarahkan kemana akan melesat.  Ilmu ini juga berguna untuk mendukung kemudi bisnisnya.  

            Bisnis berbeda dengan berjualan.  Ia menggambarkan bahwa berjualan hanya untuk mendapatkan keuntungan semata.  Sedangkan bisnis, selain keuntungan, terdapat juga makna bagaimana mengembangkannya sehingga akan lebih meningkat dan bermanfaat bagi orang banyak.  Ia memiliki niat yang mulia yaitu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar dengan membuka lapangan pekerjaan. Kita patut mengapresiasi niat mulia tersebut dengan mendukung tumbuh kembang UKM.

 

 

#60HMB

#BATCH9

#DAY25

           

Kamis, 27 Januari 2022

 

INDAHNYA PERSAHABATAN

Oleh: Marchilia Damayanti

            Indah berlari kecil menuju ke arah Lusi.  Mereka kemudian berpelukan erat.  Sudah beberapa bulan mereka jarang bertemu karena Indah pindah kota mengikuti orang tuanya yang bertugas di perusahaan swasta.  Namun keduanya masih tetap berkomunikasi melalui gawai.

            “Apakabar, Ndah?” Tanya Lusi.

            “Alhamdulillah sehat Lus,” jawab Indah.

            Indah dan Lusi bersahabat dari taman kanak-kanak.  Rumah Indah tidak berapa jauh dari rumah Lusi.  Orang tua mereka pun satu kantor.  Jadi ketika pulang sekolah mereka biasanya bermain bersama.

            :Eh, gimana rasanya sekolah di kota?” Tanya Lusi.

            “Ah, kamu.  Namanya sekolah dimana-mana sama saja.”

            “Maksudku, ketika pertama kali kamu masuk sekolah,” jelas Lusi lagi sambil tersenyum.

            “Iya sih, awalnya aku cukup sulit menyesuaikan diri dengan tema-teman baru,” jawab Indah.

            “Tapi aku tetap berusaha mendekati mereka dan lama-lama akrab.”

            Selama pertemuan itu Indah bercerita banyak tentang kegiatannya  di sekolah kepada Lusi.

            “Aku mengikuti beberapa kegiatan yang ada di sekolah. Persiapan olimpiade  sains yang sangat banyak menyita waktuku.  Pulang sekolah aku masih harus belajar lagi.  Banyak juga tugas-tugas dari guru yang harus aku kerjakan,” ucap Indah setengah mengeluh.

            “Banyak dari teman-temanku juga sudah mulai bosan dengan kegiatan ini,” lanjut Indah.

            “Terkadang untuk mengusir kebosanan kami membawa beberapa permainan dari rumah.  Kami mainkan ketika guru memberi waktu jeda istirahat,” tambah Indah.

            Lusi pun mendengarkan dengan penuh perhatian curahan hati Indah.  Begitulah dulu keseharian mereka kemana-mana bersama saling  berbagi cerita.  Sekarang pun jika bertemu masih tetap melakukan hal yang sama.  Ya, meskipun berbeda kota mereka tetap saling menyayangi satu sama lain. dan walaupun sering berkomunikasi melalui gawai, tetapi pertemuan adalah saat yang paling mereka tunggu-tunggu untuk melepas rindu. Indahnya persahabatan.

  

#60HMB

#BATCH9

#DAY24

 

Rabu, 26 Januari 2022

 

SYUKURKU PAGI INI

Oleh: Marchilia Damayanti

            Ucap syukurku kepada Allah, pagi ini aku bangun dalam keadaan sehat.  Aku masih bisa bertemu emak, bapak, dan adikku.  Sebentar di sekolah aku berjumpa dengan teman-teman.  Semangat menyambut pagi, seperti biasa setelah selesai shalat subuh aku membantu emak menyiapkan sarapan buat bapak dan adikku.  Oiya, aku sekarang kelas V SD dan adikku kelas III. 

            “Dei, tolong ambilkan daun kelor di sebelah rumah,”teriak emak dari dapur.

            “Iye Mak,”jawabku.

            Aku pun berlari kecil menuju kebun samping rumah.  Rumahku tidak begitu besar tetapi halaman samping dan depan cukup luas.  Emak dan bapak menanami tanaman yang dapat kami manfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari.  Aku sangat bersyukur masih bisa menikmati hasil kebunnya.

            Daun kelor merupakan tanaman yang biasa kami masak menjadi sayur kelor atau kami menyebutnya “uta kelo”. Bumbunya sederhana saja, terdiri dari santan kental, cabai rawit hijau, dan garam.  Kami menikmatinya dengan “talebe” (nasi jagung) dan lauknya saus ikan duo.

            “Hhhmmm,”gumamku lirih.

            “Dei…!”

            Emak memanggilku lagi, aku pun bergegas membawa daun kelor.

            “Kau petik daun kelornya,”kata emak.

            “Iye, Mak.”

            Akupun memisahkan daun kelor dari serat daunnya. Sementara itu emak memarut kelapa untuk  kuah nanti.  Aku sudah membayangkan betapa nikmat sarapanku hari ini.

            Aroma daun kelor berpadu dengan santan sungguh menggoda.  Apalagi ditambah aroma saus duonya.  Saus duo, kami menyebutnya demikian, bahannya terdiri dari teri basah khas Sulawei Tengah, cabai, bawang merah, dan tomat.  Semua bumbu digoreng kemudian semua dicampur menjadi satu.

            “Dei, sarapan dulu,”suara Emak mengagetkanku.

            Dengan segera aku mengambil piring dan mengambil makanan yang telah emak siapkan. Aku mengambil satu per satu makanan di atas meja.

            “Nikmaaat, terima kasih emak.”

            “Terima kasih Ya Allah telah memberi karunia yang sangat luar biasa pagi ini kepadaku.”

           

#60HMB

#BATCH9

#DAY23

           

           

           

Selasa, 25 Januari 2022

 

AYAH PAHLAWANKU

Oleh: Marchilia Damayanti

            Hal yang sangat aku tunggu-tunggu ketika ayahku pulang dari kantor.  Aku dan adik-adikku selalu penasaran oleh-oleh yang dibawa ayah buat kami.  Biasanya ayah membawa sejenis makanan ringan dan kue yang belum pernah kami makan.  Ayahku bekerja di sebuah BUMN yang berada di Surabaya.  Jarak kantor dengan rumah adalah dua jam perjalanan jika tidak macet.

            Peraturan di kantor ayah, pukul 07.00 sudah harus apel pagi. Sehingga sebelum pukul 06.00 sudah harus tiba di kantor.  Maka ayah berangkat dari rumah biasanya pukul 03.00 pagi.  Sepagi itu belum ada bis yang melintas di desaku.  Sehingga ayah harus menumpang mobil tangki pengisi minyak tanah yang dikemudikan oleh pak dheku. Pak dheku adalah sopir tangki yang biasa mengambil stok minyak tanah dari Surabaya untuk dibawa di desa kami. Mobil  ini milik juragan pak dhe.

             Malam hari sebelumnya ayah ke rumah pak dhe untuk menginformasikan bahwa besok pukul 03.00 mau menumpang. Rumah pak dhe bersebelahan dengan rumahku.

            “Cak, aku numpang ya besok,” kata ayahku.

            “Iya, jam tiga ya?” ujar Pak Dheku.

            "Iya," jawab ayahku.

            Pagi pun tiba, setelah mandi dan berganti pakaian ayah berjalan kaki bersama pak dhe menuju pangkalan tangki.  Di sana  menunggu kernet yang sudah menyiapkan mobil tangki. Begitulah keseharian ayahku.

            Ayah menceritakan beberapa kejadian lucu kepadaku tentang perjalanannya menuju ke Surabaya.

            Mobil tangki merupakan mobil barang yang tidak boleh memuat lebih dari dua penumpang.  Nah, jika ayah menumpang maka jumlahnya menjadi tiga orang, kalau ketahuan polisi maka akan ditilang.

            Oleh karena itu setiap melewati pos polisi ayah harus merundukkan badannya  sampai sejajar jok mobil.  Suatu ketika karena panik, tanpa pikir panjang ayah merundukkan badannya hingga kejedot dan benjol kepalanya.  Sungguh pengorbanan ayah begitu luar biasa. Ayah adalah pahlawanku.

 

#60HMB

#BATCH9

#DAY22

Senin, 24 Januari 2022

CIK HWA 

Oleh: Marchilia Damayanti

 

            Pagi setelah shalat subuh terlihat Cik Hwa melintas di depan rumah.  Aku sedang duduk di teras  menunggu giliran mandi. Maklum kamar mandi di rumah hanya satu dan harus antri.

            Kusapa Cik Hwa,”Pagi Cik Hwa.”  Cik Hwa tersenyum dan berhenti sejenak.

            “Mau kemana Cik?” Tanyaku.

            “Biasa disuruh mama beli sabun di Cak Ran,” jawabnya sambil berlalu.

            Cak Ran adalah pemilik toko kelontongan terlengkap di desaku. Aku dan Cik Hwa bertetangga gang.  Rumahnya berada di depan jalan besar sedangkan rumahku agak ke dalam.  Kala itu  listrik belum masuk ke desaku, televisi saja masih hitam putih dengan bahan bakar aki.   Ketika aki di rumah habis setrumnya kami ramai-ramai menonton di rumah Cik Hwa.  Papa Cik Hwa pemilik bengkel mobil  terbesar di desaku.  Kami menonton di halaman depan rumahnya yang penuh dengan alat perbengkelan.

            Mama dan Papa Cik Hwa sangatlah baik, mereka berjiwa sosial dengan masyarakat desa.  Cik Hwa anak perempuan satu-satunya dari lima bersaudara.  Ia sangat rajin dan patuh kepada mamanya.  Dalam satu hari Cik Hwa bisa bolak-balik ke tokonya Cak Ran untuk membeli sesuatu dengan berjalan kaki. 

            Suatu hari ibu menyuruhku ke rumah Cik Hwa meminta  belimbing sayur.  Bukannya aku tidak mau, bagiku ini pekerjaan yang berat.  Di rumah Cik Hwa ada dua ekor anjing penjaga rumah.   Belum lagi di dalam rumahnya masih ada  anjing kecil-kecil.

            “Meti cepat pergi,” teriak ibu dari dalam rumah.

            “Iya Mak,” jawabku.

            Aku pun bergegas menuju rumah Cik Hwa.  Kulihat dari kejauhan tidak ada seorang pun di sana.  Semakin dekat aku semakin gemetaran.  Betul saja ketika aku sampai di rumah Cik Hwa, kedua anjing itu  menyambutku dengan gonggongan.  Tanpa pikir panjang aku berjongkok dan memanggil Cik Hwa.

 

 

#60HMB

#BATCH9

#DAY21 

Minggu, 23 Januari 2022

 

FOKUS

Oleh: Marchilia Damayanti

            Fokuslah kepada diri sendiri.  Orang yang memiliki pikiran maju selalu fokus pada apa yang ingin ia capai.  Ia mencurahkan segenap pikiran dan tenaga guna mengejar keinginannya.  Fokus membutuhkan pengorbanan yang cukup besar. Sebuah pengorbanan yang dapat membawa dampak positif bagi pencapaian tujuan.  Misalnya suatu komunitas terjadi kasak-kusuk tentang informasi yang menjurus kepada ghibah. Seseorang membawa berita ke dalam ruangan yang menggoda iman untuk turut serta “nimbrung”.  Tetapi dengan keteguhan hati kita berusaha tidak tertarik terhadap informasi tersebut.  Kita tetap fokus kepada  hati agar tidak tergoda, dengan cara menanamkan pada alam bawah sadar kita bahwa “hanya membuang waktu membicarakan orang lain.”  Kita harus dapat menanamkan hal ini dalam pikiran bawah sadar kita.  Artinya, kita tidak perlu ikut campur urusan orang lain sedangkan urusan sendiri saja sudah cukup merepotkan dan menyita banyak waktu.

            Orang bijak mengatakan, diam adalah emas.  Dalam kasus ini ketika informasi menjurus ke ghibah, diam adalah emas.  Tidak perlu alasan  pembenaran bahwa perbuatan kita membela orang lain.  Sesungguhnya hanya ingin menunjukkan bahwa seolah kita peduli.  Istiqomah memang berat ujiannya. Tetapi jika kita sudah melakukan kekeliruan dan segera menyadari maka hal itu lebih baik. Tetap teguh menjadi lebih baik di tengah komunitas dan lingkungan yang kurang mendukung sungguh sangat berat.  Namun kita harus terus berusaha dan selalu berdo’a agar dijauhkan dari hal-hal yang sia-sia.

 

#60HMB

#BATCH9

#DAY20

Sabtu, 22 Januari 2022

 

OPTIMIS

Oleh: Marchilia Damayanti

                 Yakin akan usaha dan takdir Allah.  Setiap individu pasti memiliki keinginan dan cita-cita dalam hidupnya.  Keinginan mempunyai sesuatu adalah hal yang wajar.  Ketika berkeinginan terhadap sesuatu maka harus menanamkannya dalam pikiran bawah sadar kita.  Pikiran bawah sadar akan terus mengolahnya sehingga mengarahkan kepada apa yang kita inginkan.  Tidak ada salahnya kita bisa menuliskannya di secarik kertas kemudian menempelkannya ke dinding sebagai pengingat yang setiap saat dapat kita lihat.   Optimis dan selalu fokus tentunya.

            Optimis bahwa keinginan kita pasti akan tercapai. Hendaknya kita selalu menanamkan pada diri kita bahwa “saya pasti bisa”.  Sebagai manusia biasa terkadang terbersit keraguan akan ketidakmampuan dalam meraih mimpi.  Jika hal ini melintas dalam pikiran, sangat penting kiranya untuk segera fokus kembali kepada hal-hal yang mendukung tercapainya keinginan.

            Satu hal lagi yang sangat penting adalah terus menjaga semangat.  Namanya juga manusia ada kalanya semangat kita naik kadang pula menurun.  Menjaga konsistensi sangatlah sulit, membutuhkan perjuangan untuk tetap berada pada jalurnya.  Godaan dari lingkungan demikian besar.  Apalagi keberadaan gawai cukup melenakan.  Alih-alih ingin melihat informasi terbaru dari gawai, tanpa disadari biasanya keterusan sampai berjam-jam scroll atas bawah kiri kanan  hingga menonton youtube.

            Fokus terhadap proses mencapai keinginan membutuhkan mental yang kuat.  Harus dapat membangun support system di lingkungan.  Keluarga dan teman-teman kerja menjadi mitra dalam mewujudkan impian.  Namun perlu menyadari bahwa tidak semua support system yang kita bangun dapat memberikan kontribusi nyata bagi keberhasilan kita.  Oleh karena itu tetap berbaik sangka dan selalu mengembalikan kepada Yang Maha Kuasa adalah solusinya.

 

#60HMB

#BATCH9

#DAY19

Jumat, 21 Januari 2022

 

PURA-PURA KAYA

Oleh: Marchilia Damayanti

            Gaya hidup masa kini beberapa kaum hawa di Indonesia cukup glamour atau memaksa disebut glamour.  Ramai di media sosial, sekumpulan ibu-ibu mengenakan warna baju senada denga gaya bak anak muda.  Lagi trending sekarang para kaum hawa mengerik alis lalu melukisnya dengan  pensil alis supaya terlihat lebih cantik dan segar (dalihnya). Bibir merah merona seperti selesai mengunyah sirih pinang.  Makan-makan di kafĂ© yang instagramable supaya dapat bergaya dengan foto-foto dengan latar belakang I catching. Tidak ketinggalan tas bermerk supaya terlihat branded. Seolah menegaskan “Ini lho saya yang mempunyai kehidupan serba branded.”

            Setiap indinvidu berhak menikmati kebebasan sesuai kodratnya sebagai manusia di dunia ini.  Itu semua adalah hak asasi mereka untuk menampilkan apa yang mereka miliki guna eksistensi diri di media sosial. Pemerintah dan undang-undang pun tidak melarang setiap orang mengunggah aktivitas tersebut.  Bahkan sebagian malah nekad menunjukkan kekayaan isi rumahnya.

            Sebuah fenomena  yang melanda Indonesia di media sosial, yaitu menginginkan eksistensi penyebutan kaya berada. Pura-pura kaya merupakan sebuah dusta besar dengan memanipulasi penampilan jauh dari kehidupan yang sebenarnya. Sebuah kehidupan yang melelahkan.  Kita dapat membayangkan setiap bertemu orang topik yang dibicarakan tentang uang, barang branded, hartanya dimana-mana, dan  aset yang dimiliki.  Ia harus menjelaskan kepada semua orang bahwa ia benar-benar memiliki segalanya. It’s Ok, itu merupakan hak setiap orang untuk memperoleh eksistensi diri. Tetapi sesungguhnya orang yang benar-benar kaya topik pembicaraan bukan lagi tentang apa yang mereka miliki namun sudah menjangkau luas tentang kemanfaatan dirinya bagi orang lain.   

 

#60HMB

#BATCH9

#DAY18

Kamis, 20 Januari 2022

 

HIDUP TENANG

Oleh: Marchilia Damayanti

 

            Hidupnya hanya unuk memenuhi ekspektasi orang lain.  Sungguh ironis hidup seperti itu. Betapa menderita  jika hidup kita berada di bawah bayang-bayang keinginan orang lain.  Orang mengatakan kita kaya karena punya mobil, baju, sepatu, dan tas branded. Orang mengatakan, hidupnya penuh kemewahan, perabot dalam rumah (meja, kursi, lemari, tempat tidur) semua terbuat dari kayu jati.  Kulkasnya penuh dengan makanan, tersedia berbagai jenis minuman dan makanan ringan di atas meja.  Setiap kali bercerita ia selalu membanggakan kepemilikan  harta, baik rumah maupun tanah.

            Malang tak dapat ditolak untung tak dapat diraih.  Hidup tidak ada yang tahu, hidup adalah rahasia Allah.  Ketika Allah berkehendak maka apapun yang kita miliki bisa diambil dengan  tiba-tiba.  Semua kekayaan yang hanya berupa titipan ini akan kembali kepada-Nya.  Kehidupan yang semula mewah berbalik arah. Rumah dengan segenap isi yang membuat bangga telah ditelan oleh tanah.  Apa mau dikata hidup harus berlanjut. 

            Terkadang mental terlanjur kaya masih melekat di pikiran dan perasaan.  Meskipun sudah terpuruk tetap “ngotot” paling “ter”.  Sehingga memaksakan diri memenuhi ekspektasi orang lain dengan cara yang kurang terpuji.  Dalam berbicara banyak berdusta, untuk memenuhi penilaian orang sampai-sampai harus berhutang.  Betapa sakit dan menderita hidup dalam bayang-bayang masa lalu.

            Hidup adalah anugerah terbesar yang Allah karuniakan kepada hamba-Nya.  Sungguh sangat merugi ketika kita hidup di masa lalu dan terlalu berangan di masa depan.  Hidup adalah saat ini yang harus diperjuangkan dan menerima diri apa adanya.  Biarkan orang lain menilai diri kita. Apakah ia menyukai, membenci, simpati maupun anti.  Kita tidak usah repot-repot menjelaskan hal-hal yang mereka tidak pahami tentang kita, agar kita lebih bisa menikmati hidup. 

 

#60HMB

#BATCH9

#DAY17

           

Rabu, 19 Januari 2022

 

PILIHAN HIDUP SEHAT

Oleh: Marchilia Damayanti

            Pelajaran hidup sangatlah mahal. Keinginan hidup sehat menjadi  pilihan di tengah gaya hidup  yang abai terhadap tubuh.  Berbagai komentar miring pasti kita terima ketika penampilan tubuh sudah berubah.  Dari yang dulunya gemuk menjadi langsing.  Ada yang berkomentar kita jelek kalau kurus, jadi terlihat tua, sampai ada yang mengatakan bahwa kita tidak mampu membeli makanan. Mungkin saja orang-orang tadi terkejut ketika lambat laun tubuh kita menyesuaikan diri seiring dengan prinsip penerapan pola hidup sehat. 

            Kesadaran  hidup sehat datang dari pelajaran berharga setelah kita mengalami kesakitan yang teramat sangat.  Seperti sering mengalami nyeri pada lutut, ketika menapak telapak kaki terasa sakit, berjalan hanya beberapa langkah dada sebelah kiri terasa sakit, tangan kebas, dan sering mengalami migrain.  Penderitaan yang ini dapat bersumber dari beberapa penyebab, baik fisik maupun psikis. 

            Penyebab fisik diantaranya pola makan yang masih salah dan kurang berolah raga.  Sedangkan psikis bersumber dari pikiran.  Selama ini kita menganut prinsip “makan yang penting kenyang”, sehingga tidak memedulikan kebutuhan tubuh.  Tubuh kita sebenarnya bisa berbicara. Keluhan-keluhan di atas merupakan isyarat dari tubuh bahwa ada masalah dengan asupan nutrisi.  Cobalah kita memperhatikan sekelilling kita, pagi hari sarapan nasi goreng, bubur ayam, pisang goreng dan sebagainya.  Siang hari makan sayur yang bersantan, cemilannya gorengan, kue manis. Malam hari menyantap mie ayam dan bakso. 

            Kita dapat membayangkan betapa tubuh kita bekerja berat untuk mengolah makanan-makanan tersebut.  Jika pola makan kita seperti di atas, maka tubuh akan menyimpan kelebihan cadangan makanan dalam bentuk lemak. Hari demi hari hingga berhitung tahun menerapkan pola makan seperti, maka kita akan memanen hasilnya.  Biasanya kita terlihat lebih gemuk ditandai dengan pipi yang berbentuk bulat, perut buncit, paha serta lengan semakin besar.  Banyak yang mengatakan pula kondisi ini sebagai tanda kemakmuran ekonomi.  Komentar ini tidak salah, namun perlu kita lihat ke sekitar bahwa banyak juga orang tidak berpunya yang memiliki tubuh gemuk.  Hal ini sekaligus mementahkan pendapat  bahwa indikator kemakmuran adalah kondisi tubuh kurus dan gemuk.

 

#60HMB

#BACHT9

#DAY16