Senin, 28 Februari 2022

“KATAKAN IPAL”

 

“KATAKAN IPAL”

 

            Ipal lagi-lagi menundukkan kepalanya. Sikapnya beberapa hari ini membuat kami kebingungan.  Ia sering kali menghindar jika bertemu dengan kami. Sepertinya ada yang ia rahasiakan.  Ketika bertemu di pematang sawah ia berjalan menjauh dari kami. Pada saat makan bersama ia mengambil tempat di sudut menyendiri. Wajahnya tampak murung menunjukkan kesedihan yang amat sangat.

            Sikapnya yang tiba-tiba aneh membuat kami penasaran dan berusaha mencari tahu ada apa dengannya Berdasarkan hasil pembicaraan kami satu kelompok menyepakati untuk membantu Ipal keluar dari masalahnya. Maka kami memutuskan sengaja mendatangi tempat Ipal untuk menghiburnya.

            Selama berada di tempat Ipal aku dan teman-teman berusaha bersikap wajar seolah tidak sedang menyelidik.  Teman-teman lain juga sudah aku beritahu jika kita sedang bersama Ipal bersikap seolah tidak ada apa-apa.

            “Ipit, jangan lupa atur strategi ya,” kataku

            “Siap komandan.” jawabnya sambil tersenyum

            “Ingat ya teman-teman misi kita. Kita membantu menyelesaikan masalah dengan  tetap memberikan rasa nyaman.”

            Ipit lalu mengatur strategi yang akan kami gunakan.  Ipit memang ahli di bidang ini, banyak pengalaman yang sudah membuktikan bahwa ia dapat kami andalkan.  Ketika ada diantara kami mengalami masalah maka Ipitlah yang ditunjuk sebagai ketua pelaksana eksekusi.

            Kami sedang mencari makanan di sawah, dari kejauhan terlihat rombongan itik lain juga sedang menuju ke arah kami.  Semakin lama rombongan itu semakin mendekat.  Tanpa basa-basi, sesampainya di tempat kami mereka juga langsung menyantap makanan bersama-sama.  Kami yang terlebih dahulu berada di tempat itu sangat terganggu dengan kedatangan mereka.  Sesaat kelompok kami berhenti makan.  Kami memperhatikan mereka menyantap makanan dengan lahapnya. 

            Di satu sudut pematang tampak Ipal duduk menyendiri, namun kami perhatikan sesekali ekor matanya melihat ke arah kami.  Kami pun curiga, mengapa ia selalu mencuri pandang ke arah kami.

            “Ipit, kamu lihat raut wajah Ipal tidak?” tanyaku

            “Iya, dari tadi sesekali ia melihat ke arah kita.”

            “Aku curiga dengan gerak-geriknya, seperti ada yang ia sembunyikan.”

            Kecurigaanku bertambah manakala ada salah satu itik dari rombongan lain mendatangi Ipal dan mereka asyik berdiskusi.  Kejadian itu berulang, ada itik lain lagi mendatangi Ipal, mereka mengobrol sesaat dan berpisah. 

            “Hei, teman-teman saatnya beraksi,” ujarku

            “Ok siaaap!” seru yang lain

            Kami pun berpencar sesuai strategi yang sudah diatur oleh Ipit.  Ada yang bergabung dengan rombongan lain, ada yang pura-pura berjalan di dekat Ipal, mendekati itik yang sedang menyantap makanan sambil bercerita, dan masih banyak aksi kami untuk mendapatkan informasi.  Tentu saja aksi yang kami lakukan tanpa sepengetahuan Ipal.

            Seharian kami berada di sawah bersama rombongan lain tadi sudah cukup memberikan banyak informasi yang kami butuhkan. Tanpa menunggu berlama-lama, kami pun melakukan diskusi dengan mengumpulkan informasi yang sudah kami dapatkan.

            Satu per satu teman-teman mengeluarkan informasi yang sudah mereka peroleh. 

            “Teman-teman kita tidak bisa membiarkan sikap Ipal,” kata Ipit.

            “Ya, kita harus mengambil tindakan,” ujar Itong

            “Ipal sangat merugikan kita,” ungkap yang lain

            “Kita harus memanggil Ipal untuk menanyakan, mengapa ia berani membocorkan rahasia keberadaan sumber makanan kita kepada rombongan lain,” saranku.

            “Ya, mau tidak mau kita harus memberikan peringatan kepada Ipal.”

            Setelah terkumpul saran dan pendapat maka kami memutuskan untuk mengundang Ipal pada malam harinya. Kami menghampiri Ipal yang sedang  duduk menyendiri.

            “Ipal boleh kami ngobrol sebentar?” tanya Ipit.

            Ia mendongakkan kepala, wajahnya menunjukkan ketidaksiapan menerima kami. Dengan tergopoh-gopoh ia menggeser duduknya dan mempersilakan kami.

             

#60HMB

#BATCH9

#DAY56

 

           

           

           

 

           

Minggu, 27 Februari 2022

SENYUM ILA

 

SENYUM ILA

            Seharian Ila tersenyum terus tanpa henti.  Entah apa yang ada dalam pikirannya. Meski sedang sendirian ia tersenyum apalagi ketika bertemu itik yang lain.  Kedua sudut bibirnya selalu mengarah ke atas, mimik wajahnya menunjukkan keceriaan.  Teman-teman yang lain juga sangat heran melihat perangainya.  Ila yang biasanya cenderung pendiam kini berubah menjadi sosok yang ramah dan ceria.  Kami semua terkejut dengan perubahan ini. 

            “Eh, ada apa dengan Ila ya?” tanyaku

            “Kamu lihat juga perubahan sikapnya?”ucap Ika

            “Iya, dari tadi pagi kuamati sepertinya ada yang berbeda dengan dirinya.”

            “Ah, mungkin saja  lagi senang hatinya.”

            “Iya, mungkin ia mendapatkan sesuatu yang diinginkannya.”

            “Atau jangan-jangan mendapatkan hadiah dari orang tuanya.”

            Kami saling menceritakan perubahan sikap Ila. Ya, siapa yang tidak kaget terhadap perubahan yang begitu tiba-tiba. 

            “Eh, kamu berani apa tidak tanya ke Ila, kenapa dia begitu?”tantangku

            “Nggak ah, nanti dia marah padaku.”jawab Ika

            “Iya nanti dia marah,” ujar Ita

            “Aku berani,” kata Iza

            “Kamu berani Iza?” jawabku tidak yakin

            “Berani donk.”

            Akhirnya kami putuskan untuk menemui Ila.  Kami berjalan beriringan menuju rumah Ila.  Dari kejauhan rumah Ila tampak asri dengan berbagai tanaman.  Sesampainya di rumah Ila kami memberi salam dan ibunya yang menyambut kedatangan kami.

            “Ada Ila Tante?” tanyaku

            “Ada, ada apa ini kok tiba-tiba ramai-ramai datang ke rumah?”

            “Nggak Tante, cuma pingin main saja,” jawabku

            “Oooo.  Tunggu ya, Ila lagi  di belakang.”

            Kami saling pandang dan mulai kasak-kusuk.  Ita yang memang semula ragu akan keputusan kami mulai diam tidak berkata apa-apa.  Sementara Iza yang sanggup menerima tantanganku tampak tenang-tenang saja.  Sepertinya ia siap menghadapi resiko apapun. 

            “Eh, kalian pada kenapa kok semuanya diam, santai saja kali,” kata Iza sambil tertawa.

            “Ah, kamu Iza, kita lagi memikirkan bagaimana kalau Ila marah nanti.”

            “Aaahhh, nggak apa-apa, dia tidak bakalan marah,” ujar Iza

            Untuk beberapa saat kami terdiam tenggelam dalam pikiran masing-masing.  Suasana begitu hening, hanya kicauan burung yang terdengar.

            “Hai, teman-teman, apa kabar?” sapa Ila dengan ceria

            “Eee…, eeemmm, ka…ka…bar baik,” jawab kami serempak.

            “Tumben ke rumahku, ada yang bisa saya bantu?”

            Lagi-lagi Ila tersenyum ramah.

            “Ila…Ila…ada apa denganmu?” batinku

            Sementara aku melihat ke arah Iza, ia hanya diam. Aku mulai ragu terhadap Iza.  Katanya ia berani akan tapi kok malah diam di saat Ila datang.

            “Iza…, ayo …,” bisikku kepada Iza yang duduk tidak jauh dariku.

            Teman-teman lainnya juga mengarahkan pandangannya kepada Iza.  Tapi Iza malah menunduk.  Ya…Iza…katanya berani.

            “Hai…ada yang bisa saya bantu?” tanya Ila sekali lagi.

            “Begini Ila, boleh kami menanyakan sesuatu?” kataku membuka pembuka pembicaraan.

            “Tentu donk dengan senang hati aku akan menjawabnya…”

            “Eeemmm, kenapa akhir-akhir ini kamu sering tersenyum dan selalu ceria?”

            Sesaat suasana menjadi hening kembali setelah aku mengajukan pertanyaan ke Ila.  Aku memperhatikan dengan ekor mataku reaksi Ila yang lagi-lagi hanya tersenyum.

            “Oooo, itu ya yang menjadikan kalian ingin tahu,” jawabnya

            Ila pun menceritakan mengapa akhir-akhir ini ia lebih sering tersenyum dan ceria. 

            “Begitulah teman-teman, senyum membuat kita membawa suasana lebih ceria.  Senyum akan lebih mencairkan keadaan.”

            “Oooo, begitu ya Ila.”

            Kami pun tertawa bersama sambil menyantap cemilan yang telah dihidangkan oleh mama Ila.  Setelah puas mendapatkan jawaban dari Ila kami berpamitan pulang.

 

#60HMB

#BATCH9

#DAY55

 

 

           

           

           

           

 

Sabtu, 26 Februari 2022

TAS IWA

 

TAS IWA

 

            Iwa terlihat cemberut tidak seperti hari-hari biasanya.  Iwa adalah itik yang sangat ceria.  Entah kenapa kali ini mukanya tampak kusut.  Bibirnya manyun beberapa senti, matanya tidak begitu bersinar, jika biasanya ia itik yang gesit, kali ini gerak-geriknya lemas. 

            Begitu selesai bekerja aku menghampirinya untuk menanyakan keadaannya.

            “Iwa, apa kabar? Kenapa mukamu kusut seperti itu, ada apa denganmu?”

            Matanya hanya melihatku sebentar kemudian menunduk lagi sambil memainkan jari-jari kukunya.  Semakin lama bibirnya semakin manyun.  Aku menggeserkan posisiku untuk lebih mendekatinya.  Namun ia juga beringsut dari tempatnya semula. 

            “He… ada apa sih? tanyaku

            “Tidak.” Jawabnya singkat.

            “Cerita dong kalau ada masalah, kita kan sudah lama berteman.”

            Sekali lagi ia hanya memainkan jari-jari kakinya ke tanah. 

            “Hei, kamu mau melukis di tanah ya?” candaku

            Tetapi ekspresi wajahnya malah menunjukkan ketidaksukaan. 

            “Ok deh, kalau tidak mau cerita tidak apa-apa. Nanti kalau sudah enakan boleh kok ngobrol denganku,” ucapku.

            Iwa terus menunduk menandakan ia begitu kesal.  Akupun beranjak meninggalkan Iwa sendirian. Dari kejauhan aku melihat ibu Iwa yang sedang meyapu halaman. Rupanya dari  tadi ibu Iwa memperhatikan kami.

            “Gimana Iwa masih cemberut?” tanyanya

            “Iya, tante belum berubah,” kataku

            “Iwa…Iwa…kalau punya kemauan harus diikuti.” kata ibu Iwa sambil menghela nafas panjang.

            “Memangnya ada apa dengan Iwa, Tante?” tanyaku penasaran

            Ibu Iwa kemudian menceritakan kejadian yang membuat Iwa seperti itu.  Rupanya beberapa hari yang lalu mereka pergi ke pasar.  Seperti biasanya Iwa juga ikut ibunya.  Biasalah kalau ikut ibu pasti ada yang mau kita beli.  Demikian juga Iwa, ia ingin membeli tas sekolah.  Ibunya pun menuruti kemauan Iwa, mereka menuju ke toko yang menjual tas.  Iwa tampak senang sekali.  Ia lalu memilih tas sesuai keiginannya.

            “Bu, yang ini,” kata Iwa sambil menunjuk ta situ.

            “Berapa harganya, Pak?” tanya Ibunya dengan sedikit ragu, khawatir harga tasnya mahal.

            “Dua ratus ribu bu.”

            “Hah, mahal sekali pak.  Iwa terlalu mahal itu Nak,” ucap ibu Iwa.

            “Yang lain saja, kan yang penting bisa untuk tempat buku,” lanjut ibu Iwa memberi pengertian kepada Iwa.

            “Tapi, saya suka yang itu bu,” ujar Iwa tetap dengan pendiriannya.

            “Iwa, uang ibu tidak cukup untuk membeli tas semahal itu. Kita pulang dulu yuk.” ajak ibunya.  Tetapi Iwa belum mau beranjak dari tempatnya berdiri.  Sekali lagi ibu Iwa mengajaknya pergi dari toko itu.  Namun Iwa tetap bertahan.  Akhirnya Ibunya meninggalkan dirinya sendirian di toko. 

            Sesampainya di rumah, Iwa masih cemberut.  Ia tidak mau berbicara dengan siapapun.  Kakaknya yang suka bercanda pun sudah kehabisan akal membujuk Iwa.

             Hari berganti hari, aku berusaha mendekati Iwa untuk melupakan saja ta situ. 

            “Iwa, main yuk,” ajakku

            “Nggak ah, lagi malas,” jawabnya

            “Ayo dong, aku punya sesuatu untukmu.”

            Aku berusaha membujuknya.  Iwa memang begitu, ia keras kepala.  Jika memiliki keinginan harus dituruti.  Tetapi ia lupa bahwa orang tuanya juga mempunyai kebutuhan lain yang lebih penting dari pada hanya sekedar tas yang harganya mahal.

            “Gimana Iwa, mau nggak? Ayolah…”

            “Baiklah,” ucapnya sambil beranjak dari tempat duduknya.

            Kami pun pergi ke suatu tempat.  Selama perjalanan aku menceritakan kekhawatiran ibunya terhadap sikapnya.

            “Iwa, ibumu sangat ingin membelikan tas itu, tetapi belum memiliki cukup uang. Ibumu mengatakan kepadaku bahwa suatu saat akan membelikan tas itu.”

             “Tapi aku menginginkannya sekarang.”

            “Iya, tetapi kamu harus sabar.  Kasihan orang tuamu jika kamu memaksakan kehendakmu.  Orang tuamu mana sih yang tega dengan anaknya? Kamu mau jika orang tuamu sakit, gara-gara memikirkan sikapmu? Kamu mau orang tuamu malu hanya gara-gara memaksakan diri menuruti keinginanmu.” ucapku sedikit keras.

            Iwa mulai luluh hatinya, ia memandangku dan berucap,”Maafkan aku ya.”

            “E…bukan sama aku minta maafnya, tapi sama ibumu.  Beliau sudah mencemaskan dirimu.”

            Iwa pun kemudian berlari menuju rumah dan mencari ibunya.  Aku mengikutinya dari belakang.  Ibu Iwa yang sedang memasak terkejut dengan kedatangan kami.

            “Bu, aku minta maaf ya, aku tidak akan mengulangi lagi perbuatanku.”

            Ibu Iwa tersenyum sambil mengelus kepala Iwa.  Mereka pun berpelukan.

           

#60HMB

#BATCH9

#DAY54

           

 

           

 

 

 

           

Jumat, 25 Februari 2022

ITA SAHABATKU

 

ITA SAHABATKU

 

             Kuhampiri Ita dengan tergesa-gesa.  Setengah berlari aku mendekatinya yang sedang menyapu.    \

             “Ada apa denganmu?” tanyanya

            “Anu…anu… aku hanya ingin menyampaikan pesan,” kataku terengah-engah.

            “Pesan dari siapa?” ucapnya keheranan

            “Pesan dari Ipah.  Ia mengatakan titip salam untukmu. “  

            Ita mulai mengingat-ingat kejadian yang pernah terjadi beberapa waktu lalu.

            “Oiya, aku baru ingat, beberapa bulan lalu aku sedang berada pada  suatu acara dengan Ipah. “

            “Ah, sudahlah, aku malu jika mengingatnya.” lanjutnya

            Ita agak sedikit enggan menceritakan kejadian yang sebenarnya.  Ia berkeinginan mengatakan sesuatu tetapi bibirnya tertutup rapat. Sambil memainkan sapu yang dipegang, sesekali ia melihat ke arahku.  Aku tambah bingung melihat sikapnya.

            “Kenapa kau ini? Sepertinya ada sesuatu yang kau sembunyikan.” ucapku

            “Ti…ti…tidak.” ujarnya  sambil terus memainkan sapu.

            “Ada apa sih?” Aku  semakin penasaran dengan tingkahnya.

            “Boleh aku cerita?” ucapnya sedikit ragu

            “Lho, kenapa tidak?”

            Kamipun mengambil tempat duduk di bawah pohon.  Sebuah pohon rindang yang memang sering kami gunakan untuk mengobrol, bercanda, dan berkumpul dengan teman-teman. 

            “Begini, beberapa waktu lalu aku mengikuti lomba paduan suara.  Kebetulan Ipah berada di sebelahku.  Aku merasa keberadaanku sangatlah penting  di lomba itu sehingga aku mengabaikan siapa saja yang ada di dekatku. Tanpa aku sadari banyak yang memperhatikan diriku. Semua mata tertuju padaku.  Aku semakin “gede rasa” alias ge’er.  Demikian juga Ipah, ia berusaha memberi isyarat.  Tapi aku tetap tidak mengerti.  Semakin  lama semakin banyak yang melihat ke arahku.”

            Ita terus menceritakan kejadian yang ia alami pada saat lomba.  Sesekali kepalanya tertunduk menahan malu. 

            “Dengan semangat aku menyanyi tanpa menghiraukan mereka.  Ketika lomba telah usai teman-teman satu kelompok termasuk Ipah menegurku, aku masih belum mengerti apa maksudnya. Ipah lalu menunjuk ke arah sepatuku. Dan tara…duuhhh malunya.  Sepatuku terbuka haknya.”

            Ita…Ita… kamu memang selalu seperti itu.  Kebiasaan dari dulu tidak pernah berubah.  Jika sudah fokus pada sesuatu maka ia akan mengabaikan penampilannya.  Seringkali tidak menyadari apa yang ia kenakan.  Aku sangat hafal karakternya. 

            Pernah juga suatu ketika aku mengajaknya pergi ke pasar.  Saking senangnya,  ia lupa tidak membawa dompet. 

            “Eh, pinjam dulu uangmu, aku sudah terlanjur menawar sayur, pas aku rogoh bajuku ternyata aku tidak membawa dompet,” kata Ita gugup.

            Akupun tersenyum dan memberikan uang kepada Ita.

            “Ita…Ita…,” kataku sambil menggelengkan kepala.

            Ya, begitulah temanku yang satu ini, seringkali aku harus mengingatkan untuk tidak terburu-buru.  Namun apapun itu, ia adalah sahabat terbaikku.  Ketika aku membutuhkan bantuan ia selalu bersedia membantu.  Ia memiliki sifat tulus, jika aku meminta pertolongan dengan segera ia datang. Persahabatan  bukan hanya menerima kelebihan namun juga kekurangannya.  

           

#60HMB

#BATCH9

#DAY53

           

           

           

           

 

           

 

 

 

 

Kamis, 24 Februari 2022

BERBAGI

 

BERBAGI


            Hari ini adalah hari yang kami tunggu-tunggu.  Berbagai persiapan telah kami lakukan.  Pembagian tugas sudah terlaksana dengan baik.  Teman-teman melaksanakannya dengan penuh tanggung jawab. Ito misalnya, ia mendapatkan tugas membuat oseng eceng gondok, Iza memasak gulai siput, Iwa menggoreng ikan teri, Ika membungkus makanan, dan masih banyak lagi tugas lainnya yang kami laksanakan secara gotong royong.

            Terlihat kesibukan yang luar biasa di kelompok kami.          

            “Iwa, sebelum kamu menggoreng teri tolong bantu aku menghaluskan bumbu ya,” kata Iza sembari menyiapkan bumbu yang akan digunakan.

            “Iya, tapi aku harus mencuci ikan teri dulu.  Tidak lama kok, jika sudah selesai aku akan membantumu.”

            “Ika tolong ambilkan kunyit,” ujar Iza kepaa Ika. 

            Ika yang sedang melipat dos makanan segera mengmbil kunit yang terletak disampingnya.

            “Ada lagi Iza? Supaya sekalian aku tidak dua kali berdiri.”

            “Ok, tunggu ya, tolong ambilkan daun jeruk di halaman belakang ya.”

            “Hhmmm, iya tuan raja,” kata Ika sambil tersenyum dan berjalan ke halaman belakang untuk memetik daun jeruk.

            “Ini daun jeruknya.”

            “Terima kasih, Ika,” ucap Iza sambil tersenyum

            Suasana semakin riuh karena masing-masing sudah mulai memasak.  Terdengar suara kelontengan wajan, sendok goreng, panci, dan suara cobek yang beradu dengan penumbuknya. 

            “Sreng…sreng…gludeg…gludeg…tang…tang…bug…bug”  Sebuah perpaduan konser alat-alat memasak yang harmonis.  Keharmonisan berpadu dengan semangat berbagi dengan sesama sehingga menghasilkan suasana sejuk di kelompok kami.

            Aku yang sedari tadi menyiapkan tempat untuk menyambut kedatangan rombongan lain, tersenyum bahagia melihat kebersamaan ini.  Aku menata meja, spanduk, dan bunga-bunga untuk mempercantik lokasi kegiatan berbagi.  Teman-teman satu timku sangat gesit dan cekatan, aku sangat bangga kepada mereka.

            “Itong, tolong ambilkan paku ya,” kataku

            Itong yang sedang menata bunga segera mengambil paku yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.

            “Terima kasih Itong.”

            Kesibukan terus berlanjut, bagi kami  tidak ada yang lebih menyenangkan ketika kita bisa berbagi dengan sesama.  Kegiatan ini merupakan agenda setiap bulan yang kami lakukan untuk menjalin kerja sama dan saling mengunjungi satu sama lain. 

            “Teman-teman… bagaimana… sudah siap…!” seruku

            “Ya, sedikit lagi.” sahut teman-teman serempak

            Masak-memasak sudah selesai,waktunya membungkus makanan.  Semua berkumpul di titik pembungkusan makanan. 

            “E…jangan yang itu , yang ini duluan,” ucap Ika

            “Aku bagian sayurnya.”

            “Aku gulainya.”

            “Aku oseng eceng gondoknya.”

            “Aku sambal goreng terinya.”

            “Aku membungkusnya.”

            Seru sekali suasana  di tahapan akhir, tanpa memerlukan waktu lama teman-teman sudah berada di posisinya masing-masing.   Makanan berpindah secara estafet dari satu menu ke menu lainnya.  Keseruan semakin bertambah ketika aku memutar musik dari pengeras suara, teman-teman tambah semangat. 

            “Ayo, semangaaat! seruku dari pegeras suara

            “Ok, siaaap….”

            Ya, satu…dua…tiga… akhirnya selesai…

            Sesuai waktu yang telah kami sepakati, rombongan telah datang.  Kami menyambutnya dengan gembira.  Teman-teman sudah berada pada posisinya masing-masing untuk berbagi membagikan makanan yang telah kami buat bersama.

            Wajah-wajah ceria dengan senyum selalu tersungging menjadikan suasana bertambah sejuk.  Setiap kali kami memberikan bungkusan makanan mereka selalu mengucapkan terima kasih sambil terseyum.  Kami sangat senang melihatnya. 

 

#60HMB

#BATCH9

#DAY52