Rabu, 21 Oktober 2020

“BUKTI KASI” UNTUK SISWA TERKASIH DI ERA DIGITALISASI (belajar.kemdikbud.go.id)

 Oleh: Marchilia Damayanti





Latar Belakang

Hak asasi manusia menjamin kebebasan setiap orang mendapatkan pendidikan. Pendidikan yang kelak dapat menjamin kelangsungan kehidupan bagi setiap individu.  Hidup yang benar-benar mandiri tidak bergantung kepada orang lain.  Kecakapan hidup akan menjamin kemampuan seseorang dalam menggapai kesejahteraannya.  Akan tetapi dalam kondisi normal terkadang belum dapat menjamin tercapainya hal tersebut.  Apalagi ketika berlangsung dalam kondisi di luar batas normal. 

Kondisi di luar batas normal artinya, individu yang memiliki kekurangan dan keterbatasan diri. Tidak seorangpun menginginkan mempunyai keterbatasan dalam dirinya.  Namun dibalik keterbatasan itu, Tuhan pasti menganugerahkan kelebihan kepada sebagian hamba-Nya ini.  Keterbatasan diri bukanlah suatu malapetaka, akan tetapi memaksimalkan menggali potensi diri adalah solusinya. Seseorang yang memiliki keterbatasan diri (berkebutuhan khusus) berhak atas pengakuan dari lingkungan dan lingkungan wajib memberikan respon positif atas kehadirannya.

Data Pusdatin dari Kementerian Sosial pada 2010  menunjukkan jumlah penyandang disabilitas adalah 11.580.117 orang.  Jumlah ini merupakan angka komulatif dari berbagai kondisi penyandang disabilitas,  diantaranya penyandang disabilitas penglihatan, penyandang disabilitas pendengaran, penyandang disabilitas mental dan penyandang disabilitas kronis. Data jumlah penyandang disabilitas tersebut akan menentukan kebijakan pemerintah guna membantu penyandang disabilitas memperoleh haknya sebagai warga negara lainnya tanpa diskriminasi.

Kondisi ekonomi masyarakat Indonesia sangatlah beragam.  Ketika salah satu anggota keluarga menyandang disabilitas dan perekonomian keluarga pada tingkat “mampu” maka orang tua akan menyekolahkan putra/putrinya ke sekolah luar biasa (SLB).  Sebaliknya ketika perekonomian keluarga dalam kondisi “pas-pasan” maka orang tua membiarkan putra/putrinya hanya berada di rumah tanpa pendidikan. Padahal setiap individu berhak mendapatkan pendidikan

Pemerintah memberi dukungan terhadap penyandang disabilitas agar dapat berkiprah dalam pembangunan tanpa diskriminasi. Beberapa dukungan pemerintah terhadap peyandang disabilitas diantaranya adalah dengan mengeluarkan undang-undang tentang kuota tenaga kerja penyandang disabilitas di perusahaan pemerintah dan swasta, undang-undang tentang kesamaan hak atas fasilitas dan perlakuan khusus, undang-undang tentang hak mendapatkan sertifikat kejuruan, dan masih banyak lagi peraturan pemerintah serta peraturan menteri terkait dengan penyandang disabilitas.  Hal ini menunjukkan kesungguhan pemerintah dalam mengayomi penyandang disabilitas.

Sebagian orang tua yang memiliki putra/putri menyandang disabilitas menginginkan putra/putrinya tetap bersekolah di sekolah reguler.  Hal ini bukan tanpa alasan, orang tua menginginkan putra/putrinya tetap tumbuh di lingkungan sosial yang normal tanpa mendapatkan perlakuan diskriminasi dari lingkungannya.   Lingkungan yang kelak dapat memberikan rasa aman dan nyaman untuk pertumbuhan dan perkembangan pola pikir dalam proses mendewasakan diri.

Salah satu siswa SMK Negeri 1 Sigi adalah seorang disabilitas yang mengalami gangguan fisik dan motorik. Siswa ini memiliki keterbatasan dalam berbicara dan memegang sesuatu, namun mempunyai kecerdasan yang hampir sama dengan teman-teman satu kelasnya.  Ketika siswa tersebut berbicara, terkadang teman dan guru  kesulitan memahaminya. Demikian juga ketika menulis, ia dapat menulis akan tetapi tulisannya sulit untuk dibaca. Pada saat memegang sesuatu tidak cekatan seperti siswa normal lainnya. Demikian juga dalam hal kemampuan memahami perintah, baik dari guru maupun perintah dalam langkah-langkah mengoperasikan peralatan. Terkadang teman satu kelas sudah selesai mengerjakan tugas, ia terlambat  menyelesaikan tugasnya. 

Di era digitalisasi seperti sekarang ini guru dituntut  memanfaatkan teknologi untuk memudahkan penyampaian materi ajar dan siswa dapat berperan aktif  dalam proses pembelajaran. Peran aktif siswa akan menciptakan pembelajaran yang menyenangkan. Pemanfaatan teknologi bertujuan agar sisiwa dapat terus mengikuti perkembangan teknologi pembelajaran, termasuk siswa penyandang disabilitas.  Harapannya siswa ini dapat maju dan tumbuh  bersama teman-teman lainnya dan tidak ketinggalan dalam penguasaan informasi teknologi (IT).

Kelas digital merupakan salah satu metode yang memanfaatkan informasi teknologi.  Dalam kelas digital siswa menyimak video yang disajikan guru.  Guru juga memberi penugasan kepada siswa untuk mengulang kembali penjelasan dari guru dengan mengunggah tugasnya di kelas digital.  Kelas digital mengajarkan kepada siswa belajar dalam suasana era digital.  Kelas digital merupakan penerapan pembelajaran berbasis informasi teknologi komunikasi (TIK).

Bagi siswa normal mengikuti langkah-langkah masuk ke kelas digital sangat mudah.  Tetapi tidak dengan siswa yang mengalami gangguan fisik dan motorik tadi. Ia kesulitan masuk ke kelas digital karena keterbatasannya. Siswa  kesulitan mengikuti langkah-langkah masuk ke kelas digital. Setiap kali guru memberi penugasan. Siswa tersebut mengalami kebingungan. Ia terlambat merespon dan memahami langkah-langkah kerja ketika masuk ke kelas digital. Keadaan ini dapat menghambat pencapaian tujuan pembelajaran. 

Guru membuat sebuah buku tipis kantong informasi  (Bukti Kasi) untuk masuk ke dalam kelas digital.  Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kantong merupakan tempat mengumpulkan bawaan. Dapat diartikan pula sebagai tempat mengumpulkan sesuatu. Bukti Kasi ini merupakan sebuah kantong informasi berbentuk buku tipis yang  memudahkan siswa yang memiliki keterbatasan dalam menerapkan langkah-langkah mengikuti kelas digital. Berdasarkan hal tersebut maka diangkatlah gagasan  “Bukti Kasi untuk Siswa Terkasih di Era Digitalisasi”.


Kerangka Pemikiran

Pendidikan inklusif memiliki keisimewaan, dimana anak yang memiliki keterbatasan belajar bersama dengan anak normal lainnya.  Artinya dalam pelaksanaannya guru dapat memodifikasi kurikulum, sarana prasarana, proses pembelajaran sedemikian rupa agar ABK dapat mengikuti pembelajaran sebagaimana teman-teman normal lainnya.  Hal ini sesuai dengan amanat Undang-undang Dasar 1945 Pasal 32 ayat 1, bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan. 

Penguasaan teknologi informasi komunikasi pada era sekarang ini sangatlah mutlak.  Siswa dituntut untuk dapat terus membarui pengetahuan dan keterampilanya melalui penerapan dan penggunaan teknologi.  Penerapan kelas digital salah satunya.  Melalui kelas digital siswa diharapkan dapat belajar dan mengakses materi ajar kapan saja dan dimana saja tanpa batas ruang dan waktu.  Untuk masuk kelas digital membutuhkan langkah-langkah agar dapat mengikutinya dengan baik.

Dalam kelas inklusif kemampuan siswa sangat beragam.  Siswa normal mungkin dapat dengan mudah mengikuti langkah-langkah petunjuk masuk ke dalam kelas digital.  Akan tetapi tidak halnya dengan ABK, yang memiliki keterbatasan dalam mengikuti kelas digital.  Media pembelajaran dapat membantu mengatasi masalah tersebut.  Media pembelajaran berupa Bukti Kasi (buku tipis kantong informasi) dapat memandu siswa yang memiliki keterbatasan untuk masuk ke kelas digital.  Bukti Kasi ini full color, praktis, simpel, menarik dan mudah dibawa.

 

Pembelajaran di Era Digitalisasi

Literasi digital merupakan salah satu bentuk literasi yang harus dikuasai siswa pada era saat ini.  Respon terbuka terhadap kemajuan teknologi harus ditumbuhkan. Siswa  mau tidak mau suka tidak suka harus terbuka dan membuka diri terhadap perubahan ini.  Manakala siswa dan guru menutup diri terhadap perubahan maka dapat dipastikan guru dan siswa akan ketinggalan dan bahkan ditinggalkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan serta teknologi.

Persaingan ketat dunia kerja sudah menanti, tidak terkecuali siswa yang memiliki keterbatasan dan berkebutuhan khusus (ABK).  Proses pembelajaran menentukan bagaimana kelak siswa dapat bersaing di dunia kerja dan bahkan jika mungkin menciptakan lapangan kerja baru.  Kita tidak dapat menghindari tuntutan digitalisasi.  Penggunaan internet merambah setiap bidang pekerjaan.  Penggunaan peralatan yang dulu manual sudah berubah menjadi digital.  Oleh karena itu pendidikan inklusif harus dapat beradaptasi dan memodifikasi pembelajaran berbasis TIK (Teknologi Informasi Komunikasi).

Kelas digital merupakan salah satu penerapan pembelajaran berbasis teknologi informasi di era digtalisasi sekarang ini.  Dalam kelas digital siswa diajarkan memanfaatkan teknologi informasi agar nantinya dapat beradaptasi dengan kemajuan teknologi. Kelas digital yang berisi berbagai konten pembelajaran memudahkan siswa untuk belajar mengakses berbagai materi ajar dari guru.

Pemanfaatan kelas digital untuk pembelajaran memotivasi siswa untuk terus belajar dalam menggunakan berbagai aplikasi. Suatu contoh, untuk mengerjakan tugas dari guru di kelas digital, guru meminta kepada siswa untuk membuat tugas dalam bentuk video pembelajaran  yang dibuat oleh siswa.  Dalam pembuatan video pembelajaran siswa dapat menggunakan power point, download, editing video dan sebagainya.  Hal ini memungkinkan tumbuhnya rasa ingin tahu siswa akan sesuatu yang baru.  Ini juga termasuk salah satu program pemerintah yaitu literasi digital.   Untuk itu ketika siswa memiliki keterbatasan dalam memahami langkah-langkah masuk kelas digital, maka guru dapat membuat media pembelajaran yang dapat membantu siswa mengakses kelas digital.

 

Langkah-langkah Masuk Kelas Digital dengan Menggunakan Bukti Kasi  (Buku Tipis Kantong Informasi)

Di era digitalisasi ini membarui pengetahuan dan keterampilan adalah suatu keniscayaan.  Guru dan siswa harus pula terus belajar mengikuti pola perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK).  Tidak terkecuali siswa berkebutuhan khusus.  Agar dapat terus seiring dengan siswa lainnya maka siswa berkebutuhan khusus dalam hal ini yang memiliki keterbatasan motorik, belajar bersama siswa normal lainnya. 

Kelas digital adalah salah satu  solusi untuk menjawab tantangan di era digitalisasi.  Tantangan yang harus disikapi dengan kerja keras dan berbagai kreasi. Demikian juga pembelajaran yang menggunakan kelas digital.  Untuk masuk kelas digital memerlukan langkah-langkah sebagai berikut:

Sebelum masuk ke kelas digital, siswa terlebih dahulu membuat akun di Rumah Belajar.  Akun ini dapat digunakan untuk masuk ke kelas digital dan download aplikasi Rumah Belajar. Adapun langkah-langkah masuk ke kelas digital adalah:

1)  Klik: Coba sekarang pada kelas digital

2) Setelah terbuka tampilan kelas digital atau kelas maya, kilik: login

3)  Masukkan username dan password

4)  Klik: nama modul

5)  Klik: video dan simak

6)  Kerjakan tugas : Buat tugas di Ms.Word

7) Telusuri (cari file kemudian unggah tugas (up load file))

8) Setelah itu klik: forum diskusi

9) Jawab pertanyaan yang ada di forum diskusi di kotak yang sudah disiapkan

10) Klik: kegiatan belajar

11) Klik: ambil kuis online

12) Jawab pertanyaan pada kuis

13) Setelah itu klik: ambil ujian online

14) Klik: pengaturan dan centang pilihan paling atas

15) Jawab pertanyaan pada ujian online

16) Klik: detail untuk mengetahui nilai-nilai hasil tugas, forum diskusi, kuis dan ujian akhir

 

Langkah-langkah tersebut di atas dibuat dalam bentuk kantong informasi dan dibuat seperti buku.  Hal ini untuk memudahkan siswa yang memiliki keterbatasan dalam mengikuti pembelajaran kelas digital.  Ini sesuai dengan penelitian yang pernah dilakukan oleh Rahayu (2017) yang menyatakan bahwa media kantong  bilangan dapat mempermudah siswa dalam memahami nilai tempat suatu bilangan, dan selama proses pembelajaran siswa dapat mengikuti pembelajaran dengan baik.

Kelebihan dari media berbentuk kantong adalah dapat dibuka kembali ketika siswa lupa atau terlambat dari teman-temannya dalam mengikuti langkah-langkah masuk ke kelas digital.  Bagi siswa yang memiliki keterbatasan motorik, buku tipis kantong informasi ini cukup membantu dan sangat bermanfaat. 

Di halaman youtube tersedia juga  tutorial masuk kelas digital.  Tetapi tampilan video tutorial terkadang menyulitkan siswa yang memiliki keterbatasan motorik untuk mengulang ketika lupa atau tertinggal dari teman-temannya. Untuk menerapkan masuk kelas digital melalui video tutorial juga membutuhkan waktu yang agak lama. Siswa berkebutuhan khusus terkadang kesulitan untuk kembali ke awal.

Berbeda dengan video turorial, kelebihan Bukti Kasi (buku tipis kantong informasi) adalah:

1) Full color

Kantong informasi dibuat dengan perpaduan warna-warna  kontras. Tujuannya agar siswa tidak bosan dalam belajar masuk kelas digital. Warna berpengaruh terhadap daya tangkap siswa terhadap suatu materi. Sebuah penelitian yang dillakukan Sujarwo dan Oktaviana (2017) membuktikan bahwa penyajian materi dengan menggunakan warna, dapat menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan kemampuan kognitif dan hasil belajar siswa.

2) Simpel (mudah dimengerti dan tidak berbelit-belit)

Bukti Kasi ini dirancang dengan menampilkan perintah-perintah singkat yang mudah dipahami.  Sehingga memudahkan siswa yang memiliki keterbatasan motorik untuk mengingat dan mengikuti tahap-tahap masuk kelas digital.  Juga menampilkan hasil tangkapan layar setiap langkah-langkah dalam kelas digital.

3)  Terstruktur

Bukti Kasi disajikan dalam bentuk terstruktur, artinya langkah-langkah masuk kelas digital menggunakan pola berurutan.  Sehingga siswa dapat bekerja dengan mengurutkan tahap demi tahap masuk ke kelas digital.

4)  Efisien

Dibandingkan dengan video tutorial, Bukti Kasi  lebih efisien dan menghemat waktu.  Ketika siswa ABK bekerja pada halaman kerjanya dan terlambat mengikuti instruksi dari guru, dapat dengan mudah membuka Bukti Kasi  dan  melihat langkah apa yang belum dilakukan.  Sedangkan pada video tutorial, siswa berkebutuhan khusus mengalami kesulitan jika kembali lagi ke  halaman yang terlewati. 

5)  Efektif

Bukti Kasi memudahkan pemahaman dalam menerapkan langkah-langkah suatu kegiatan. Perintah-perintah yang simpel, menjadikannya mudah diingat. Penggunaan warna yang kontras menarik perhatian siswa.  Sehingga  akan menumbuhkan rasa ingin tahu.  Adanya rasa ingin tahu akan merangsang siswa untuk membacanya.

6)  Bentuk proporsional

Bentuk bujur sangkar dari Bukti Kasi menambah indah tampilan kantong informasi.  Tujuan pemilihan bentuk ini adalah agar mudah dalam membuka dan membolak-baliknya.  Bentuk proporsional menguntungkan siswa berkebutuhan khusus, karena mudah memegangnya.

Bukti Kasi membantu siswa berkebutuhan khusus dalam memahami langkah-langkah masuk ke dalam kelas digital.  Hambatan tertinggal dengan teman normal lainnya dapat diatasi.  Bukti Kasi dapat menumbuhkan rasa percaya diri siswa berkebutuhan khusus, yang merupakan motivasi untuk terus melangkah sejajar dengan teman-teman lainnya.

Pustaka:

Sujarwo, S. dan Oktaviana, R.  2017.  Pengaruh Warna Terhadap Short Term Memory pada Siswa Kelas VIII SMPN 37 Palembang.  Jurnal Psikologi Islami. 3 (1).



Link vlog terkait "Bukti Kasi":  https://youtu.be/j4uVEDIgKZw


Senin, 19 Oktober 2020

Berbagi di Sekolah Sendiri

 Oleh: Marchilia Damayanti

Seperti biasanya selesai melaksanakan kegiatan pelatihan,melapor kepada kepala sekolah yang telah memberi izin.  Laporan kali ini berbeda dengan sebelum-sebelumnya.  Laporan selesai mengikuti coaching PembaTIK disertai dengan permohonan izin untuk melaksanakan sosialisasi di sekolah, dalam hal ini SMKN 1 Sigi.  Kepala sekolah menyambut baik niat sosialisasi Portal Rumah Belajar.Tapi beliau ingin mengonfirmasi dulu rencana kegiatan kepada beberapa pihak.  Alhamdulillah, rencana kegiatan pun disetujui.

 


Kepala sekolah memberi kesempatan untuk menginformasikan akan adanya sosialisasi Rumah Belajar pada saat rapat dewan guru.  Dengan senang hati kami menyampaikan informasi rencana kegiatan pada sesi akhir rapat. Oiya, kami peserta PembaTIK tahun 2020 dari SMKN 1 Sigi berjumlah tiga orang.  Ketika kami menyampaikan informasi kegiatan, beberapa teman guru menyambut dengan baik.  Semakin bertambah semangat untuk berbagi.

 


 

Tiba saatnya hari berbagi.  Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih satu jam menuju ke sekolah, saya dan teman-teman sampailah kami di sekolah.  Belum banyak guru yang datang.  Tapi kami tetap optimis pasti akan banyak yang datang.Tidak berapa lama, satu per satu guru-guru mulai berdatangan dan laboratorium komputer sudah dibuka.  Tanpa melalui komando lagi, kami pun bergerak, mengatur ruangan, kursi,dan memasang spanduk, 


 

Guru-guru mulai memasuki ruangan.  Setelah berkoordinasi dengan kepala sekolah dan wakil kepala sekolah bidang humas dan humbin, akhirnya acara dimulai.  Kepala sekolah memberikan arahannya terkait kegiatan berbagi, dilanjutkan arahan dari Duta Rumah Belajar Tahun 2017, ibu Fatmasariati, SE., yang memperkenalkan Sahabat Rumah Belajar (SRB). 

 


Semangat guru-guru begitu terlihat ketika kami memaparkan fitur-fitur Rumah Belajar.  Masing-masing membuka gawainya dan mengikuti panduan langkah-langkah masuk ke Portal rumah Belajar dari kami.  Keseruan lainnya dalam kegiatan berbagi kali ini adalah berbagi dalam pembuatan video pembelajaran.

 

Sesi pembuatan video pembelajaran begitu menarik perhatian guru-guru.  Masing-masing guru ingin membuat video pembelajaran.  Kami pun berbagi titik lagi untuk mempercepat proses shooting.  Setelah proses shooting selesai, guru-guru masuk ruangan lagi untuk melakukan proses editing.  Semangat masih terpancar dari para guru pada saat  proses editing, kami pun dengan semangat membimbing proses editing tersebut.  Alhamdulillah, kegiatan berbagi sudah pada akhir acara, kami pun berpamitan.  Terima kasih kepada kepala sekolah dan guru-guru yang dengan antusias mengikuti kegiatan sampai selesai.

 


Dokumentasi berbagi ini dapat dilihat pada vlog berikut:

Daftar hadir:

Flayer:


Sosmed fb:








 

Berbagi dengan Tautan Hati

 Oleh: Marchilia Damayanti

Udara pagi itu begitu cerah.  Kami berenam berangkat dari rumah menggunakan dua mobil. Perjalanan yang akan kami tempuh sejauh kurang lebih 60 km.  Biasayan waktu tempuh kurang lebih satu jam tiga puluh menit.  Sehingga kami sudah bersiap dengan perbekalan logistik untuk di perjalanan.  Sosialisasi kali ini  diikuti oleh enam sekolah di Kecamatan Banawa Selatan, diantaranya SMP Negeri 1 Banawa Selatan (Bansel), SMP Negeri 2 SATAP Bansel, SMP Negeri SATAP 6 Bansel, SMP Negeri SATAP 7 Bansel, SMP Negeri SATAP 9 Bansel, dan SMP Negeri 2 Sarjo Sulbar.  Lima sekolah berada di wilayah Kabupaten Donggala Sulawesi Tengah dan satu sekolah berasal dari Sulawesi Barat yang berbatasan langsung dengan Kabupatan Donggala.

 


Keseruan kami dimulai dari keberangkatan yang memang satu misi yaitu ikhlas berbagi tanpa tendensi. Banyaknya sekolah yang menunggu, membuat kami seolah tak sabar untuk segera berbagi.  Alam begitu ramah pada kami, cuaca yang cerah menyajikan pemandangan begtiu memesona. Alam menyuguhkan pemandangan nan elok rupawan. Sehingga selama perjalanan bisa menikmati lukisan yang Maha Besar Allah SWT.  Sebelah kanan gunung dengan hijauanya pepohonan dan sebelah kiri membentang birunya lautan yang begitu luas. Nikmat mana lagi yang kamu dustakan, Subhanallah MashaAllah. 

 
 

 
 

Indahnya pemandangan seakan membius kami selama perjalanan.  Tanpa terasa sudah sampai tujuan.  Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Banawa Selatan begitu luas.  Pada bagian belakang kantor menghijau rerumputan berbaris seolah menyambut kedatangan kami.  Meski terletak di pinggir pantai, tanaman-tanaman terlihat subur mengisi ruang-ruang kosong.  Setelah beristirahat sejenak di kantor yang terletak pada bagian depan sekolah, kami diantar ke belakang lokasi sosialisasi.  Kali ini laboratorium komputer sebagai tempat sosialisasi. Namun  laboratorium komputer tidak mampu menampung jumlah peserta yang cukup banyak.  Sehingga kami memutuskan membagi dua ruangan untuk berbagi.   


 

 

Panitia pelaksanaan sekolah mempersilakan kepada kami  memulai acara.  Seperti biasanya yang pertama kami lakukan adalah mengenalkan Portal Rumah Belajar.  Kami mempersilahkan guru-guru untuk membuka gawainya masing-masing.  Selanjutnya pemaparan konten-konten pada fitur Rumah Belajar.  Pertama, kami perkenalkan konten Sumber Belajar, kemudian konten-konten lainnya, seperti Kelas Maya, Laboratorium Maya, Bank Soal, Edugame, dan Wahana Jelajah Angkasa.  Mereka sangat tertarik dengan fitur-fitur Rumah Belajar, terlihat dari pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan.  


 


Para guru tertarik juga dengan video pembelajaran seperti yang ada pada Sumber Belajar.  Sehingga kami mengatakan akan membantu para guru membuat video pembelajaran seperti itu.  Persiapan pembuatan video dimulai,  proses shooting dilakukan sebelum  istirahat dan makan siang. Hal ini mempertimbangkan efisiensi waktu, melihat cuaca mulai mendung  dan gelap.  Sesuai dengan perkiraan kami, hujan lebat mengguyur wilayah Banawa.  Kami tetap melanjutkan proses editing, untuk pengambilan gambar atau shooting kami hentikan, karena suara hujan akan mengganggu kualitas video yang akan dihasilkan. 

 

 

 
 
 
 
 
 

Waktu sudah menunjukkan pukul 15.30 Wita, hujan belum juga reda, malah semakin deras.  Saatnya berpamitan pulang dengan guru-guru luar biasa dari Banawa Selatan.  Air di halaman sekolah sudah mencapai lutut.  Beberapa guru mengatakan bahwa tidak pernah hujan sedemikian deras hingga mengakibatkan banjir.  Tetapi apapun keadannya kami harus pulang karena keluarga sudah menunggu di rumah. 


Awal perjalanan pulang pukul 16.00 Wita, masih dengan guyuran hujan sangat deras. Air seperti dicurahkan dari atas mobil, namun guyuran ini tidak menyurutkan kami untuk menghentikan perjalanan.  Sampailah kami di sebuah jembatan, terlihat air berwarna coklat bercampur lumpur dengan aliran cukup besar sudah melebihi tinggi jembatan.  Was-was, itulah yang kami rasakan, apalagi semenjak meninggalkan lokasi sosialisasi sinyal internet sudah hilang. 

 


Beberapa meter setelah melewati jembatan, kami dihentikan oleh petugas patroli jalan dari dinas perhubungan.  Petugas berpakaian dinas basah kuyup menghentikan setiap kendaraan yang lewat dan menginformasikan, di depan ada beberapa titik tanah longsor akibat hujan yang cukup deras.  Pikiran mulai kalut tetapi kami tetap berusaha tenang dan memohon perlindungan serta pertolongan Allah SWT.  Kami pun terdiam dan  larut dengan pikiran masing-masing. Datang seseorang mengetuk kaca pintu mobil, seorang bapak warga desa PanaĆ” memberi tahu kami, lebih baik putar balik arah mobil, sebelum jembatan yang kami lalui tadi putus, akibat diterjang banjir.  Dengan berbagai pertimbangan akhirnya mobil balik  arah.  Bismillahhirohmannirohim, gumam kami dari dalam mobil ketika mobil berada di atas jembatan.  Alhamdulillah mobil berhasil melewati jembatan.  

 


Pertimbangan yang kami ambil sehingga memutuskan berbalik arah adalah, jika di depan banjir dan longsor maka kami tidak bisa kemana-mana hanya terdiam di tempat itu.  Tetapi jika kami berbalik arah, maka masih ada kemungkinan bisa ke Palu melalui jalan poros ke Makassar dengan menempuh jalur Poso yang cukup jauh yaitu satu hari satu malam.  Oiya, jalan yang kami lalui ini adalah jalan satu-satunya Palu-Mamuju menuju ke Sulawesi Selatan, tidak ada jalan alternatif lain.

 

Setelah berhasil lolos dari tanah longsor dan jembatan yang retak, kami berhenti menunggu sampai ada kemungkinan bisa meneruskan perjalanan.  Sementara itu sinyal handphone belum juga menampakkan keajaibannya. Di dalam mobil kami terdiam, semua tenggelam ke dalam pikirannya masing-masing.  Sempat terpikirkan, kegelisahan keluarga di rumah menunggu kami yang tidak ada kabar beritanya.  Lama kami terdiam sambil memikirkan alternatif-alternatif dengan berbagai kemungkinan. 

 

Beberapa kali berusaha menyentuh handphone menekan nomor-nomor yang bisa dihubungi, siapa tahu bisa, berulang dan berulang kami melakukannya dengan harapan ada suara dari seberang sana. Dan....terima kasih Ya Allah, Alhamdulillah, kami mengucapkan syukur yang tiada terkira, rupanya Allah menyayangi kami. Beberapa saat kemudian ada sinyal, kami berhasil menghubungi keluarga yang ada di Palu.  Aaahhhh, lega rasanya, inilah sebuah nikmat yang luar biasa di kala dalam kesempitan Allah memberi pertolongan yang tidak terduga.  Kami bisa tenang dan tersenyum kembali setelah menelpon anak dan suami.

 

 

Sore mulai merambah malam, hari pun mulai gelap. Hujan sudah berhenti, terlihat masyarakat sekitar jalur longsor dengan alat seadanya, bergotong royong menyingkirkan batu, tanah, dan pohon yang tumbang di badan jalan.  Gotong-royong ini adalah inisiatif warga sendiri guna membantu pengguna jalan agar bisa melanjutkan perjalanan.  Air dari atas lereng bukit juga semakin berkurang sehingga tidak ada lagi yang mengalir di atas jembatan.  Alhamdulillah, berkat kerja sama masyarakat sekitar berhasil membuka jalur kembali dan kami bisa melanjutkan perjalanan.

 

Ternyata perjuangan menembus batas kami belum berakhir. Perjalanan berlanjut, hingga sampai pada suatu desa, banjir menghadang kami.  Ya Allah, banjir hampir menyentuh badan mobil yang kami tumpangi.  Rupanya aliran air berasal dari laut di sebelah kiri jalan, alirannya lumayan deras.  Astaghfirullah, Allahhuakbar, Lahaulawalakuwwata Illabillah, lantunan zikir terus kami ucapkan.  Seisi mobil terdiam, berzikir dan memohon perlindungan dari Allah SWT, jangan sampai air bertambah besar.  Sebab kita tidak tahu rahasia alam yang akan terjadi.  Hanya Allah satu-satunya yang memiliki kuasa untuk menghentikan banjir ini. 

 

Banjir memaksa kami berhenti, degup jantung semakin kencang ketika melihat keluar jendela kaca mobil.  Mata terus memandang aliran air, sambil mengajak berbicara dengan alam agar segera surut.  Orang mengatakan, alam pun memiliki “nyawa” dan mampu menangkap apa yang kita ucapkan.  Setelah beberapa jam, akhirnya sudah mulai terlihat lagi ujung rerumputan yang tadi tenggelam oleh air.  Ya Allah terima kasih banyak atas perlindungan-Mu.  Sedikit-demi sedikit batang rumput pun mulai terlihat jelas.  Subhanallah, Alhamdulillah,MashaaAllah, Laillahaillah.  Jantung mulai menurun  ritmenya, lega telah lepas dari musibah.  Terharu... terima kasih Ya Allah. Benar, dimana, kemana, dan kapan pun kita harus menautkan hati kita kepada Allah SWT.   Seiring surutnya air, sambil menitikkan air mata, kami pun melanjutkan perjalanan dan berdo”a agar perjalanan lancar sampai di rumah.

 

Alhamdulillah kurang lebih pukul 21.30 sampai di rumah dengan selamat.  Terima kasih Ya Allah, atas perlindungan-Mu kami bisa melaksanakan giat berbagi dengan baik.  Semoga ilmu yang belum seberapa ini dapat bermanfaat bagi guru-guru di sekolah yang jauh dari pusat ibu kota.  Salam sehat untuk teman-teman seperjuangan: Ibu Fatmasariati, S.E. (Duta Rumah Belajar Sulawesi Tengah Tahun 2017) yang sudah berkenan mendampingi giat berbagi kami SRB Sulteng Tahun 2020: Marchilia Damayanti, Putrianti, Atina Liestyawati, Elis N. Hasibuan, dan Yandu Ardiansyah. Sebuah perjalanan yang sangat berkesan dan tidak akan terlupakan semoga membawa kita untuk selalu menautkan hati kita kepada Allah SWT.  Aamiin


Dokumentasi berbagi dapat dilihat pada vlog berikut ini:

 https://youtu.be/90UdfjY8G1s

Daftar hadir:





Flayer:

Sosmed fb: