Oleh: Marchilia Damayanti
Latar Belakang
Hak
asasi manusia menjamin kebebasan setiap orang mendapatkan pendidikan.
Pendidikan yang kelak dapat menjamin kelangsungan kehidupan bagi setiap
individu. Hidup yang benar-benar mandiri
tidak bergantung kepada orang lain. Kecakapan
hidup akan menjamin kemampuan seseorang dalam menggapai kesejahteraannya. Akan tetapi dalam kondisi normal terkadang
belum dapat menjamin tercapainya hal tersebut.
Apalagi ketika berlangsung dalam kondisi di luar batas normal.
Kondisi di luar batas normal artinya,
individu yang memiliki kekurangan dan keterbatasan diri. Tidak seorangpun menginginkan mempunyai
keterbatasan dalam dirinya. Namun dibalik
keterbatasan itu, Tuhan pasti menganugerahkan kelebihan kepada sebagian
hamba-Nya ini. Keterbatasan diri
bukanlah suatu malapetaka, akan tetapi memaksimalkan menggali potensi diri
adalah solusinya. Seseorang yang memiliki keterbatasan diri (berkebutuhan
khusus) berhak atas pengakuan dari lingkungan dan lingkungan wajib memberikan
respon positif atas kehadirannya.
Data Pusdatin dari Kementerian Sosial
pada 2010 menunjukkan jumlah penyandang
disabilitas adalah 11.580.117 orang. Jumlah
ini merupakan angka komulatif dari berbagai kondisi penyandang
disabilitas, diantaranya penyandang
disabilitas penglihatan, penyandang disabilitas pendengaran, penyandang
disabilitas mental dan penyandang disabilitas kronis. Data jumlah penyandang
disabilitas tersebut akan menentukan kebijakan pemerintah guna membantu
penyandang disabilitas memperoleh haknya sebagai warga negara lainnya tanpa
diskriminasi.
Kondisi ekonomi masyarakat Indonesia
sangatlah beragam. Ketika salah satu
anggota keluarga menyandang disabilitas dan perekonomian keluarga pada tingkat
“mampu” maka orang tua akan menyekolahkan putra/putrinya ke sekolah luar biasa
(SLB). Sebaliknya ketika perekonomian
keluarga dalam kondisi “pas-pasan” maka orang tua membiarkan putra/putrinya
hanya berada di rumah tanpa pendidikan. Padahal setiap individu berhak
mendapatkan pendidikan
Pemerintah memberi dukungan terhadap
penyandang disabilitas agar dapat berkiprah dalam pembangunan tanpa
diskriminasi. Beberapa dukungan pemerintah terhadap peyandang disabilitas diantaranya
adalah dengan mengeluarkan undang-undang tentang kuota tenaga kerja penyandang
disabilitas di perusahaan pemerintah dan swasta, undang-undang tentang kesamaan
hak atas fasilitas dan perlakuan khusus, undang-undang tentang hak mendapatkan
sertifikat kejuruan, dan masih banyak lagi peraturan pemerintah serta peraturan
menteri terkait dengan penyandang disabilitas.
Hal ini menunjukkan kesungguhan pemerintah dalam mengayomi penyandang
disabilitas.
Sebagian orang tua yang memiliki
putra/putri menyandang disabilitas menginginkan putra/putrinya tetap bersekolah
di sekolah reguler. Hal ini bukan tanpa alasan,
orang tua menginginkan putra/putrinya tetap tumbuh di lingkungan sosial yang
normal tanpa mendapatkan perlakuan diskriminasi dari lingkungannya. Lingkungan yang kelak dapat memberikan rasa
aman dan nyaman untuk pertumbuhan dan perkembangan pola pikir dalam proses mendewasakan
diri.
Salah satu siswa SMK Negeri 1 Sigi
adalah seorang disabilitas yang mengalami gangguan fisik dan motorik. Siswa ini
memiliki keterbatasan dalam berbicara dan memegang sesuatu, namun mempunyai
kecerdasan yang hampir sama dengan teman-teman satu kelasnya. Ketika siswa tersebut berbicara, terkadang
teman dan guru kesulitan memahaminya.
Demikian juga ketika menulis, ia dapat menulis akan tetapi tulisannya sulit
untuk dibaca. Pada saat memegang sesuatu tidak cekatan seperti siswa normal
lainnya. Demikian juga dalam hal kemampuan memahami perintah, baik dari guru
maupun perintah dalam langkah-langkah mengoperasikan peralatan. Terkadang teman
satu kelas sudah selesai mengerjakan tugas, ia terlambat menyelesaikan tugasnya.
Di era digitalisasi seperti sekarang
ini guru dituntut memanfaatkan teknologi
untuk memudahkan penyampaian materi ajar dan siswa dapat berperan aktif dalam proses pembelajaran. Peran aktif siswa
akan menciptakan pembelajaran yang menyenangkan. Pemanfaatan teknologi
bertujuan agar sisiwa dapat terus mengikuti perkembangan teknologi pembelajaran,
termasuk siswa penyandang disabilitas.
Harapannya siswa ini dapat maju dan tumbuh bersama teman-teman lainnya dan tidak
ketinggalan dalam penguasaan informasi teknologi (IT).
Kelas digital merupakan salah satu
metode yang memanfaatkan informasi teknologi.
Dalam kelas digital siswa menyimak video yang disajikan guru. Guru juga memberi penugasan kepada siswa
untuk mengulang kembali penjelasan dari guru dengan mengunggah tugasnya di
kelas digital. Kelas digital mengajarkan
kepada siswa belajar dalam suasana era digital.
Kelas digital merupakan penerapan pembelajaran berbasis informasi
teknologi komunikasi (TIK).
Bagi siswa normal mengikuti
langkah-langkah masuk ke kelas digital sangat mudah. Tetapi tidak dengan siswa yang mengalami
gangguan fisik dan motorik tadi. Ia kesulitan masuk ke kelas digital karena
keterbatasannya. Siswa kesulitan
mengikuti langkah-langkah masuk ke kelas digital. Setiap kali guru memberi
penugasan. Siswa tersebut mengalami kebingungan. Ia terlambat merespon dan
memahami langkah-langkah kerja ketika masuk ke kelas digital. Keadaan ini dapat
menghambat pencapaian tujuan pembelajaran.
Guru membuat sebuah buku tipis kantong
informasi (Bukti Kasi) untuk masuk ke dalam
kelas digital. Menurut Kamus Besar
Bahasa Indonesia (KBBI), kantong merupakan tempat mengumpulkan bawaan. Dapat
diartikan pula sebagai tempat mengumpulkan sesuatu. Bukti Kasi ini merupakan
sebuah kantong informasi berbentuk buku tipis yang memudahkan siswa yang memiliki keterbatasan
dalam menerapkan langkah-langkah mengikuti kelas digital. Berdasarkan hal
tersebut maka diangkatlah gagasan “Bukti
Kasi untuk Siswa Terkasih di Era Digitalisasi”.
Kerangka Pemikiran
Pendidikan inklusif memiliki
keisimewaan, dimana anak yang memiliki keterbatasan belajar bersama dengan anak
normal lainnya. Artinya dalam
pelaksanaannya guru dapat memodifikasi kurikulum, sarana prasarana, proses
pembelajaran sedemikian rupa agar ABK dapat mengikuti pembelajaran sebagaimana
teman-teman normal lainnya. Hal ini
sesuai dengan amanat Undang-undang Dasar 1945 Pasal 32 ayat 1, bahwa setiap
warga negara berhak mendapatkan pendidikan.
Penguasaan teknologi informasi
komunikasi pada era sekarang ini sangatlah mutlak. Siswa dituntut untuk dapat terus membarui pengetahuan dan keterampilanya melalui
penerapan dan penggunaan teknologi. Penerapan
kelas digital salah satunya. Melalui
kelas digital siswa diharapkan dapat belajar dan mengakses materi ajar kapan
saja dan dimana saja tanpa batas ruang dan waktu. Untuk masuk kelas digital membutuhkan
langkah-langkah agar dapat mengikutinya dengan baik.
Dalam kelas inklusif kemampuan siswa
sangat beragam. Siswa normal mungkin
dapat dengan mudah mengikuti langkah-langkah petunjuk masuk ke dalam kelas
digital. Akan tetapi tidak halnya dengan
ABK, yang memiliki keterbatasan dalam mengikuti kelas digital. Media pembelajaran dapat membantu mengatasi
masalah tersebut. Media pembelajaran
berupa Bukti Kasi (buku tipis kantong informasi) dapat memandu siswa yang
memiliki keterbatasan untuk masuk ke kelas digital. Bukti Kasi ini full color, praktis, simpel, menarik dan mudah dibawa.
Pembelajaran di Era
Digitalisasi
Literasi digital merupakan salah satu
bentuk literasi yang harus dikuasai siswa pada era saat ini. Respon terbuka terhadap kemajuan teknologi
harus ditumbuhkan. Siswa mau tidak mau
suka tidak suka harus terbuka dan membuka diri terhadap perubahan ini. Manakala siswa dan guru menutup diri terhadap
perubahan maka dapat dipastikan guru dan siswa akan ketinggalan dan bahkan
ditinggalkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan serta teknologi.
Persaingan ketat dunia kerja sudah
menanti, tidak terkecuali siswa yang memiliki keterbatasan dan berkebutuhan
khusus (ABK). Proses pembelajaran
menentukan bagaimana kelak siswa dapat bersaing di dunia kerja dan bahkan jika
mungkin menciptakan lapangan kerja baru.
Kita tidak dapat menghindari tuntutan digitalisasi. Penggunaan internet merambah setiap bidang
pekerjaan. Penggunaan peralatan yang
dulu manual sudah berubah menjadi digital.
Oleh karena itu pendidikan inklusif harus dapat beradaptasi dan
memodifikasi pembelajaran berbasis TIK (Teknologi Informasi Komunikasi).
Kelas digital merupakan salah satu
penerapan pembelajaran berbasis teknologi informasi di era digtalisasi sekarang
ini. Dalam kelas digital siswa diajarkan
memanfaatkan teknologi informasi agar nantinya dapat beradaptasi dengan
kemajuan teknologi. Kelas digital yang berisi berbagai konten pembelajaran
memudahkan siswa untuk belajar mengakses berbagai materi ajar dari guru.
Pemanfaatan kelas digital untuk
pembelajaran memotivasi siswa untuk terus belajar dalam menggunakan berbagai
aplikasi. Suatu contoh, untuk mengerjakan tugas dari guru di kelas digital,
guru meminta kepada siswa untuk membuat tugas dalam bentuk video
pembelajaran yang dibuat oleh siswa. Dalam pembuatan video pembelajaran siswa dapat
menggunakan power point, download,
editing video dan sebagainya. Hal
ini memungkinkan tumbuhnya rasa ingin tahu siswa akan sesuatu yang baru. Ini juga termasuk salah satu program
pemerintah yaitu literasi digital.
Untuk itu ketika siswa memiliki keterbatasan dalam memahami
langkah-langkah masuk kelas digital, maka guru dapat membuat media pembelajaran
yang dapat membantu siswa mengakses kelas digital.
Langkah-langkah Masuk Kelas Digital
dengan Menggunakan Bukti Kasi (Buku Tipis
Kantong Informasi)
Di era digitalisasi ini membarui
pengetahuan dan keterampilan adalah suatu keniscayaan. Guru dan siswa harus pula terus belajar
mengikuti pola perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Tidak terkecuali siswa berkebutuhan
khusus. Agar dapat terus seiring dengan
siswa lainnya maka siswa berkebutuhan khusus dalam hal ini yang memiliki
keterbatasan motorik, belajar bersama siswa normal lainnya.
Kelas digital adalah salah satu solusi untuk menjawab tantangan di era
digitalisasi. Tantangan yang harus
disikapi dengan kerja keras dan berbagai kreasi. Demikian juga pembelajaran
yang menggunakan kelas digital. Untuk
masuk kelas digital memerlukan langkah-langkah sebagai berikut:
Sebelum
masuk ke kelas digital, siswa terlebih dahulu membuat akun di Rumah
Belajar. Akun ini dapat digunakan untuk
masuk ke kelas digital dan download
aplikasi Rumah Belajar. Adapun langkah-langkah masuk ke kelas digital adalah:
1) Klik: Coba
sekarang pada kelas digital
2) Setelah terbuka tampilan kelas digital atau kelas maya, kilik: login
3) Masukkan username dan password
4) Klik: nama modul
5) Klik: video dan simak
6) Kerjakan tugas : Buat tugas di Ms.Word
7) Telusuri (cari file kemudian unggah tugas (up load file))
8) Setelah itu klik: forum diskusi
9) Jawab pertanyaan yang ada di forum diskusi di kotak yang sudah disiapkan
10) Klik: kegiatan belajar
11) Klik: ambil kuis online
12) Jawab pertanyaan pada kuis
13) Setelah itu klik: ambil ujian online
14) Klik: pengaturan dan centang pilihan paling atas
15) Jawab pertanyaan pada ujian online
16)
Klik: detail untuk mengetahui
nilai-nilai hasil tugas, forum diskusi, kuis dan ujian akhir
Langkah-langkah tersebut di atas
dibuat dalam bentuk kantong informasi dan dibuat seperti buku. Hal ini untuk memudahkan siswa yang memiliki
keterbatasan dalam mengikuti pembelajaran kelas digital. Ini sesuai dengan penelitian yang pernah
dilakukan oleh Rahayu (2017) yang menyatakan bahwa media kantong bilangan dapat mempermudah siswa dalam
memahami nilai tempat suatu bilangan, dan selama proses pembelajaran siswa
dapat mengikuti pembelajaran dengan baik.
Kelebihan dari media berbentuk kantong
adalah dapat dibuka kembali ketika siswa lupa atau terlambat dari teman-temannya
dalam mengikuti langkah-langkah masuk ke kelas digital. Bagi siswa yang memiliki keterbatasan
motorik, buku tipis kantong informasi ini cukup membantu dan sangat
bermanfaat.
Di halaman youtube tersedia juga tutorial masuk kelas digital. Tetapi tampilan video tutorial terkadang
menyulitkan siswa yang memiliki keterbatasan motorik untuk mengulang ketika
lupa atau tertinggal dari teman-temannya. Untuk menerapkan masuk kelas digital
melalui video tutorial juga membutuhkan waktu yang agak lama. Siswa
berkebutuhan khusus terkadang kesulitan untuk kembali ke awal.
Berbeda dengan video turorial,
kelebihan Bukti Kasi (buku tipis kantong informasi) adalah:
1) Full color
Kantong
informasi dibuat dengan perpaduan warna-warna
kontras. Tujuannya agar siswa tidak bosan dalam belajar masuk kelas
digital. Warna berpengaruh terhadap daya tangkap siswa terhadap suatu materi. Sebuah
penelitian yang dillakukan Sujarwo dan Oktaviana (2017) membuktikan bahwa
penyajian materi dengan menggunakan warna, dapat menjadi salah satu strategi
untuk meningkatkan kemampuan kognitif dan hasil belajar siswa.
2) Simpel (mudah dimengerti
dan tidak berbelit-belit)
Bukti
Kasi ini dirancang dengan menampilkan perintah-perintah singkat yang mudah
dipahami. Sehingga memudahkan siswa yang
memiliki keterbatasan motorik untuk mengingat dan mengikuti tahap-tahap masuk
kelas digital. Juga menampilkan hasil
tangkapan layar setiap langkah-langkah dalam kelas digital.
3) Terstruktur
Bukti
Kasi disajikan dalam bentuk terstruktur, artinya langkah-langkah masuk kelas
digital menggunakan pola berurutan.
Sehingga siswa dapat bekerja dengan mengurutkan tahap demi tahap masuk
ke kelas digital.
4) Efisien
Dibandingkan
dengan video tutorial, Bukti Kasi lebih
efisien dan menghemat waktu. Ketika
siswa ABK bekerja pada halaman kerjanya dan terlambat mengikuti instruksi dari
guru, dapat dengan mudah membuka Bukti Kasi
dan melihat langkah apa yang
belum dilakukan. Sedangkan pada video
tutorial, siswa berkebutuhan khusus mengalami kesulitan jika kembali lagi
ke halaman yang terlewati.
5) Efektif
Bukti
Kasi memudahkan pemahaman dalam menerapkan langkah-langkah suatu kegiatan.
Perintah-perintah yang simpel, menjadikannya mudah diingat. Penggunaan warna
yang kontras menarik perhatian siswa.
Sehingga akan menumbuhkan rasa
ingin tahu. Adanya rasa ingin tahu akan
merangsang siswa untuk membacanya.
6) Bentuk proporsional
Bentuk
bujur sangkar dari Bukti Kasi menambah indah tampilan kantong informasi. Tujuan pemilihan bentuk ini adalah agar mudah
dalam membuka dan membolak-baliknya. Bentuk
proporsional menguntungkan siswa berkebutuhan khusus, karena mudah memegangnya.
Bukti Kasi membantu siswa berkebutuhan khusus dalam memahami langkah-langkah masuk ke dalam kelas digital. Hambatan tertinggal dengan teman normal lainnya dapat diatasi. Bukti Kasi dapat menumbuhkan rasa percaya diri siswa berkebutuhan khusus, yang merupakan motivasi untuk terus melangkah sejajar dengan teman-teman lainnya.
Pustaka:
Sujarwo,
S. dan Oktaviana, R. 2017. Pengaruh Warna Terhadap Short Term Memory pada Siswa Kelas VIII SMPN 37 Palembang. Jurnal
Psikologi Islami. 3 (1).
Link vlog terkait "Bukti Kasi": https://youtu.be/j4uVEDIgKZw

























