Minggu, 27 Mei 2018

MENYIKAPI KETIDAKADILAN

MENYIKAPI KETIDAKADILAN Kejadian demi kejadian berlalu di depan mata. Ketidakadilan di negeri ini seakan sudah menjadi pemandangan yang biasa. Seorang nenek yang mengambil ranting kayu di hutan dituntut 5 tahun penjara. Sementara koruptor yang mencuri, menerima uang suap dan gratifikasi milyaran bahkan trilyunan rupiah melenggang bebas bak peragawati dan peragawan di tanah Indonesia tercinta ini. Dalam suatu instansi terkadang ketidakadilan turut mewarnai riak-riak aktivitas warganya. Sifat iri dan dengki membuat manusia melupakan ikatan pertemanan. Di situasi berbeda manusia adalah individu yang membutuhkan pengakuan dari lingkungannya. Bagi pihak yang diuntungkan dalam situasi ini seakan tidak mau tahu dan tidak mempedulikan rasa dan hati orang lain. Manusia pada kodratnya dikaruniai Allah SWT sifat-sifat sifat baik dan buruk. Tergantung kita dalam mengelola sifat-sifat itu. Kita lebih cenderung memilih yang baik atau sebaliknya keburukan lebih menguasai alam bawah sadar kita Setiap kejadian mengandung hikmah. Demikian juga ketika ketidakadilan menimpa kita. Banyak pelajaran yang dapat dipetik dari perlakuan tidak mengenakkan. Mungkin kita harus lebih belajar bersabar dan tidak gegabah, lebih belajar menerima keadaan dan tidak mengeluh, belajar menahan emosi dan tidak sensi. Mari mengelola argumen-argumen negatif menjadi sesuatu yang inspiratif. Marchilia si guru " beta" (belajar tiada akhir).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar