Selasa, 21 Agustus 2018

Hasil dan Usaha

(By: Marchilia Damayanti si guru "Beta")

 


 

Bertambah lagi medali emas Indonesia dari cabang olah raga angkat besi. Beberapa orang menganggap angkat besi adalah olah raga ekstrim. Betapa tidak, besi yang beratnya hampir menyamai berat sekarung beras 50 kg bahkan lebih, dengan mudahnya bisa terangkat.
Adalah Eko Yuli atlet angkat besi yang sudah dua belas tahun malang melintang di dunia angkat besi. Prestasi yang ditorehkannya amatlah membanggakan. Hari ini lagu kebangsaan Indonesia Raya bergema di arena cabang angkat besi Asian Games. Dua belas tahun bukanlah waktu yang singkat untuk mengukir prestasi. Latihan yang sangat ketat dan disiplin dilakoninya. Pengaturan pola makan juga diatur demi mendapatkan hasil yang diimpikan. Semua dalam pengawasan pelatih.

 Hasil tidak akan mengkhianati usaha, begitu orang-orang mengatakan. 


 Apapun profesi yang kita emban sekarang hendaknya kita syukuri. Bentuk rasa syukur dapat kita wujudkan melalui gairah kerja. Pekerjaan yang dilakukan dengan penuh gairah akan menunjukkan pula hasilnya. Kesungguhan dan tekad adalah bahan bakar semangat dan gairah dalam melakukan apapun. Kesungguhan menjalani segala sesuatu akan memberikan energi positif untuk terus berusaha dengan ulet serta pantang menyerah. Yang tidak kalah pentingnya adalah tekad. Tekad kuat dalam diri akan membantu mewujudkan keinginan dan cita-cita yang kita dambakan.

Belajar dari Eko Yuli, untuk meraih apa yang kita dambakan membutuhkan proses yang tidak instan. Berbagai cara ditempuh, agar dapat meraih cita-cita. Cara inilah yang disebut dengan proses, proses meraih mimpi yang kita gantung di angan-angan dan lubuk hati yang paling dalam.

Sukses tidak identik dengan bermalas-malasan.

Sukses adalah pengorbanan, baik tenaga, waktu, pikiran dan bahkan terkadang harta.

Sukses adalah disiplin dan kerja keras. Berlaku disiplin terhadap aturan yang dibuat kemudian kerja keras untuk mematuhi dan melaksanakannya.

Kunci sukses yang lainnya adalah do'a. Selalu memanjatkan do'a kepada Alloh SWT dan berpasrah diri ketika sudah berusaha secara maksimal. Dengan ijin-Nya tidak ada yang tidak mungkin.

Salam sukses dan Salam guru beta (=belajar tiada akhir)

Jumat, 17 Agustus 2018

Untukmu Pahlawanku

(By: Marchilia Damayanti si guru Beta) 


 

Air mata hampir membasahi pipi. Haru menyelimuti perasaanku, tatkala sang merah putih dikibarkan. Bersamaan dengan dikumandangkannya Lagu Indonesia Raya, kuangkat tangan kananku sambil menatap ke arah bendera merah putih. Terbayang betapa jerih payah pahlawan yang rela mengorbankan nyawanya demi kemerdekaan Indonesia. Terbayang pula suasana mencekam ketika terjadi perang melawan Belanda dan Jepang. Terbayang suasana hiruk pikuk senjata, bom, dan granat yang hanya bisa dibalas oleh keris dan bambu runcing. Perjuangan pahlawan yang tak kenal takut dan lelah. Mengerahkan semua daya dan kekuatannya.

Betapa kala itu untuk keluar rumah saja harus waspada. Waspada jangan sampai penjajah mengangkat senjatanya dan doorrr...., peluru menembus tubuh yang memimpikan dan menginginkan nikmatnya hidup di negara yang merdeka. Kini tujuh puluh tiga tahun sudah kita merdeka. Merdeka dari segala bentuk penjajahan. Merdeka untuk menjalani hidup. Kemerdekaan yang membuat kita dapat merasakan ketenangan, kenyamanan dan kemakmuran.

Hentakan kaki pengibar bendera seolah menggambarkan semangat kemerdekaan. Semangat mengisi kemerdekaan untuk negara tercinta. Negara yang telah memberi rasa aman, dan melindungi setiap hak warga negaranya.

Tiada upaya tanpa pengorbanan. Para pahlawan yang telah rela berkorban jiwa dan raga. Betapa kecilnya kita, dibanding pengorbanan para pahlawan.

Berkat jasa pahlawan kita dapat bekerja dan berkarya. Berkat jasa para pahlawan kita dapat menikmati indahnya hidup di negara yang kita cinta.

Terima kasih pahlawanku, semoga engkau berada di surganya Alloh SWT.

❤❤Dirgahayu Republik Indonesia ❤❤

Salam guru Beta

Kamis, 16 Agustus 2018

Selembar Upaya

(By: Marchilia Damayanti si guru Beta)

 

Penguatan, begitu istilah kami guru ketika peserta didik berhasil melakukan sesuatu yang kita inginkan. Pemberian penguatan dilakukan secara verbal maupun non verbal. Mengacungkan ibu jari, anggukan, pujian : iya, bagus, ok dan sebagainya. Tujuan pemberian penguatan untuk memberi penghargaan atas prestasi peserta didik, baik pada sikap, pengetahuan maupun keterampilan. Sekecil apapun prestasi itu.

Istilah penguatan pada proses pembelajaran seolah menyadarkan kita sebagai makhluk sosial, bahwa sebagai manusia biasa kitapun membutuhkan penghargaan ataupun pengakuan. Pengakuan dari orang-orang di sekitar maupun orang-orang yang "pantas" mendapat sebutan yang terhormat. Penghargaan dan pengakuan akan memberikan serum tersendiri bagi kinerja seseorang. Serum yang bagi pemerhati dunia kosmetik bermanfaat untuk mengencangkan kulit. Serum yang bagi kami dapat mengencangkan semangat. Semangat untuk terus berbuat. Berbuat untuk kemajuan bangsa dan negara.

Akan tetapi terkadang kenyataan tidak sesuai harapan. Jerih payah yang tidak kenal lelah dipandang sebelah mata oleh penguasa. Jerih payah yang melahirkan prestasi tidak menjadi penggerak sanubari.

Dimana nurani penguasa negeri ini......

Mungkinkah harus belajar dari orang-orang papa. Ataukah belajar dari ketidakberdayaan, sehingga kita pandai menghargai dan mengakui.

Menghargai jerih payah dengan tidak membuang rupiah. Mengakui prestasi dengan tidak menurunkan gengsi

Selembar kertas yang mungkin bagi mereka tidak berharga.

Tetapi....

Nilai pengakuan dari selembar kertas itu dapat lahir berjuta karya.

Salam guru beta (=belajar tiada akhir)

Rabu, 15 Agustus 2018

Perjalanan Finalis Inobel 2018

(By, Marchilia Damayanti si guru Beta)

*Catatan 15 Juni 2018

 


Perjalanan yang melelahkan dan penuh hikmah. Pesawat Garuda Indonesia bersiap meluncur menuju Jakarta. Para penumpang satu persatu mulai memasuki badan pesawat. Beberapa diantaranya membawa barang bawaan yang begitu besar. Padahal pihak maskapai sudah menyarankan untuk dibagasikan. Dengan susah payah pramugari membantu penumpang memasukkan ke kabin pesawat Beberapa saat pilot mengumumkan bahwa penerbangan ini menuju Jakarta yang akan ditempuh selama dua jam lima menit. Pada monitor TV di belakang tempat duduk depanku diputarkan video cara pencegahan dan penyelamatan ketika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Aku juga mulai berdoa agar diberikan kelancaran dalam perjalanan ini. 

Perlahan pesawat mulai bergerak menuju landasan pacu. Dag dig Dig jantungku. Orang mengatakan bahwa saat take off ini adalah saat yang paling menentukan keberhasilan penerbangan. Kututup mataku sambil terus berdoa,"Ya Alloh berikanlah keselamatan hamba-Mu selama dalam perjalanan." Rasa mual mulai menyerangku. Maklum perjalanan ini kulakukan pada saat aku melaksanakan puasa di bulan Romadhon. Perlahan kurasakan posisi pesawat sudah dalam keadaan normal. Suasana hatiku mulai nyaman, akan tetapi telingaku agak mengalami gangguan. Hal ini kemungkinan karena perbedaan tekanan udara. Pramugari pesawat menawarkan makanan, baik bagi yang berpuasa maupun yang tidak berpuasa. 

Teman satu rombonganku, Bu Rara sedang tidak menjalankan ibadah puasa karena sakit. Sambil menyantap makanan yang disodorkan pramugari ia menceritakan bahwa sebelum berangkat mengalami sesak nafas sehingga dirawat di unit gawat darurat (UGD) sebuah rumah sakit. Ia mengatakan sering mengalami sesak nafas akibat gangguan asam lambung. Aroma makanan Bu Rara membangkitkan kembali rasa mualku. Aku berusaha memejamkan mataku untuk mengurangi rasa mual. Dua jam bagiku di udara terasa lama. Rasa mual berganti dengan rasa bosan. Kuambil sebuah majalah yang berada di depanku. Kubuka lembar demi lembar majalah yang berbahasa Inggris itu. Meskipun aku kurang memahami makna dari artikel yang tersaji tetapi setidaknya melalui foto-foto yang ada membantuku mengerti maksud dari artikel itu. Keindahan pemandangan dalam foto-foto hasil jepretan fotografer membuatku berdecak kagum. Bagaimana tidak, fokus dan kekontrasan warna-warna dalam foto itu menunjukkan fotografernya adalah orang yang profesional di bidangnya. 

Tidak terasa dua jam lebih aku berada di pesawat. Dari ruang kokpit pilot mengumumkan bahwa pesawat akan segera mendarat di bandara Soekarno -Hatta Tangerang Banten. Alhamdulillah kuucapkan dalam hatiku. Pendaratan pesawat yang sempurna, mulus dan tidak mengagetkan penumpang. Bravo pilot Garuda. Setibanya di hotel sudah banyak peserta yang berdatangan dari berbagai daerah. Akupun mengambil posisi antrian. Kulihat beberapa peserta sibuk menyiapkan berkas yang disyaratkan dalam mengikuti kegiatan ini. Dari tiket transportasi, SPPD, surat tugas dan surat keterangan berbadan sehat yang dibawa dari daerah masing-masing. Seluruh peserta kegiatan harus menyerahkan berkas tersebut tanpa terkecuali. 

Aku teringat pertanyaan salah satu peserta di grup watsapp, yang menanyakan jika tidak ada surat keterangan berbadan sehat. Panitia menjelaskan bahwa harus ada. Panitia tidak bertanggung jawab apabila nanti terjadi sesuatu kepada peserta. Berdasarkan pengalaman panitia, terkadang ada peserta yang mengidap penyakit tertentu. Akan tetapi demi dapat mengikuti kegiatan ia memaksakan diri. Sehingga ketika kegiatan sedang berlangsung penyakitnya kambuh membuat panitia kerepotan dan melarikannya ke rumah sakit. Semua persyaratan itu tentu sudah melalui pertimbangan panitia. Setelah aku menyerahkan semua berkas persyaratan. Aku mendapatkan key card hotel. 

 Aku pun masuk ke kamar dan kurebahkan tubuhku yang terasa penat. Aku teringat pesan panitia sebelum ke kamar tadi bahwa pukul 13.00 pembukaan Bimtek Inobel (Inovasi Pembelajaran) dimulai. Dengan mengucap syukur yang tiada terkira melalui seleksi dari ribuan peserta, akhirnya aku dinyatakan lolos mengikuti Bimtek Inobel. Bahagianya tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Bagai mendapat suatu kehormatan, aku berkesempatan menambah ilmu bersama guru-guru hebat lainnya se Nusantara. 

Salam guru Beta  (belajar tiada akhir)

Membungkam dengan Karya

(By: Marchilia Damayanti si guru Beta) Angin berdesir seolah membisikkan asa. Asa-asa yang menghadirkan berjuta rasa. Asa yang terkadang membuat ragu tetapi harus dipupus dan digerus. Asa yang terkadang membuat pesimis tetapi harus mampu ditepis. Asa yang terkadang membuat cemas tetapi harus berani ditebas. ##### Seribu impian menanti wujud ##### Seribu juang juga menantang. Menantang wujud yang diharapkan. Segala upaya telah dijajal. Meski terkadang bimbang akan gagal. Segala usaha telah dirasa. Meski pahit dan getir selaksa getah. Do'a akan hadirnya wujud yang harus dirajut dan dibalut Do'a akan hadirnya asa yang didamba dan dicita. Sejuta asa dipagut dalam impian. Sejuta karya diukir dalam pikir Menanti wujudnya akan lahir. Berkaryalah dan terus berkarya, meski berjuta tantangan datang mendera. Salam guru Beta💜💜 (=belajar tiada akhir)

Senin, 13 Agustus 2018

Baik dan Buruk

(By:Marchilia Damayanti si guru "Beta") 

Generasi milenial, orang menyebutnya demikian. Disebut juga generasi digital. Lahir di era yang begitu mudahnya mengakses informasi digital. Tetapi banyak orang mengeluhkan tentang karakter generasi ini. Pada kenyataannya tidak semua memiliki sikap demikian. Ada beberapa dari mereka yang masih memiliki karakter Pancasila, diantaranya: bertakwa kepada Allah SWT, toleransi, berperikemanusiaan, menjaga persatuan, bekerja sama, dan lain sebagainya. Tidak dapat dipungkiri pula, ada beberapa dari generasi kita yang memiliki sikap kurang peduli terhadap keadaan sekitarnya, kasar dan cepat marah. Ketika bertemu tetangga tidak menyapa, ada tetangga terkena musibah tidak cepat membantu malah asyik dengan gawainya. 

Terkadang ada kecelakaan bukannya menolong tetapi sibuk mengambil gambar alias merekam video kejadian tersebut. Sikap lainnya adalah cepat marah dan tersinggung. Seperti kejadian di sebuah desa, hanya gara-gara beradu pandang seisi desa mengungsi karena terjadi perkelahian antar kampung. Rumah penduduk yang tidak bersalah dibakar, menghalangi masyarakat dari desa sebelah memasuki desanya, dan membabi buta merusak tanaman produktif warga. Sungguh miris menyaksikan kejadian itu. Ada apa dengan mereka? Setiap individu memiliki potensi karakter baik dan buruk. Karakter baik dapat tumbuh dengan baik ketika keluarga sebagai sekolah pertama bagi seorang individu dikondisikan dengan sadar membentuk karakter baik anggota keluarganya. Sebaliknya karakter buruk akan muncul dan dominan ketika keluarga tidak peduli dengan perkembangan anggota keluarganya. 

Masyarakat sebagai lingkungan kedua setelah keluarga berperan pula dalam pembentukan karakter individu. Individu yang lahir di keluarga yang peduli akan melahirkan sosok kuat di masyarakat. Artinya ketika seseorang berada pada kondisi harus memilih perilaku baik dan buruk maka dengan tegas ia akan menolak ajakan berbuat buruk. Tidak demikian halnya dengan yang besar di keluarga yang minus perhatian akan melahirkan generasi yang lemah. Lemah tidak mampu menolak ajakan berbuat buruk. Karakter baik dan buruk merupakan suatu pilihan. Sikap tidak peduli dengan sekitar akan merusak generasi kita. Sikap ini dapat merusak sendi-sendi kebersamaan dalam masyarakat. Ketika sudah tidak ada lagi kebersamaan dalam suatu lingkungan maka lambat laun akan merusak persatuan dan kesatuan bangsa. 

Hilangnya kebersamaan akan menumbuhkan sikap individualistis. Selanjutnya sikap ini akan bermuara kepada sikap yang mementingkan diri sendiri dan kelompok. Akibatnya ketika terjadi gesekan sedikit saja sudah memicu amarah. Amarah yang seharusnya tidak terjadi ketika ada dialog yang sejuk tanpa melibatkan emosi negatif. Pentingnya peran keluarga dalam hal ini orang tua untuk menciptakan suasana yang sejuk dan harmonis. Suasana ini akan membuka mata hati segenap anggota keluarga. Anak tidak segan menuangkan dan mengungkapkan curahan hatinya kepada orang tuanya. 

Adanya dialog ini akan menjembatani semua persoalan dan menjadikan anak dewasa dalam bersikap. Oleh karena itu keluarga memegang peranan sangat penting dalam pembentukan karakter. Anak akan memiliki karakter yang kuat ketika masuk pada lingkungan yang lebih besar yaitu masyarakat. Karakter kuat membekali anak untuk memilih yang baik dan buruk. Mengikuti yang baik dan menolak yang buruk. Semoga anak-anak kita selalu dalam koridor karakter baik. Aamiiin 

Salam guru Beta(=belajar tiada akhir)

Kamis, 09 Agustus 2018

Patutkah Sombong?

(By.Marchilia Damayanti si guru "Beta") 

Peserta pelatihan internal sekolah mulai memasuki ruang sebuah aula. Kegiatan akan segera dimulai. Tetapi tidak semua guru berminat mengikuti kegiatan ini. Ada yang peduli dan ada yang tidak peduli. Kegiatan ini bertujuan untuk menyeragamkan format perangkat pembelajaran di sekolah. Format yang sesuai dengan K13 revisi terbaru. Guru-guru yang peduli terlihat mengeluarkan laptop dan buku catatannya. Mereka mengikuti dengan seksama setiap materi yang diberikan oleh nara sumber. Sedangkan guru yang tidak peduli beralasan 'sibuk". Bahkan ada seorang guru senior ketika disodorkan materi pelatihan membentak dan marah-marah. Sesaat tercengang, tetapi Istighfar adalah jawabannya. Apakah ini yang disebut guru yang memiliki kompetensi kepribadian? Ternyata senioritas dan gelar tidak berbanding lurus dengan kematangan dan kedewasaan bersikap. Padahal seorang guru seharusnya dapat menjaga ucapan serta memberikan contoh sikap santun, dewasa, dan bijaksana. === Merasa diri lebih hebat dari narsum sehingga tidak mau mengikuti kegiatan pelatihan. ==== Ketika seseorang merasa paling pandai dan tidak mau membuka diri terhadap kebaharuan, disitulah kegagalan dimulai. Memandang rendah kemampuan seseorang adalah tindakan membodohi diri sendiri. Ilmu dapat kita peroleh dimana saja dan dari siapa saja. Dari seorang bayi pun kita dapat belajar dan memperoleh ilmu. Ilmu yang kita miliki bagaikan sebutir debu di gurun pasir, yang tidak memiliki kekuatan dan daya ketika ditiup angin. Ilmu yang kita miliki tidak patut kita sombongkan dan tidak selayaknya kita menepuk dada untuk membanggakan diri karenanya. Semoga kita tetap rendah hati dan menghargai setiap pemberian sekecil apapun. Kita tidak tahu sampai kapan kita masih diberi kesempatan oleh Alloh SWT hidup di dunia ini. Semoga kita tetap istiqomah dalam kebaikan, meski tantangan seringkali menghadang dan sesaat menggoyahkan iman. Salam guru Beta

Gadget

(By: Marchilia Damayanti si guru "Beta") 

Pemandangan di kantor pos tidak seperti biasanya. Setelah saya memarkirkan motor, saya pun melihat ke pintu masuk. Satu per satu orang-orang berdatangan mengambil nomor antrian. Bergegas saya juga menuju ke meja menghampiri keranjang kuning mungil yang berisi kertas-kertas kecil berisi nomor antrian. Dengan sabar petugas melayani satu persatu pelanggan. Diantara antrian saya lihat beberapa orang sudah berusia lanjut. Beliau-beliau ini adalah para pensiunan dan janda-janda pensiunan baik sipil maupun militer. Sambil ngobrol satu sama lain, sesekali saya mendengar gelak tawa mereka. Betapa bahagianya mereka bertemu dan saling berbagi cerita tentang anak, cucu bahkan cicit. Tidak terbersit sedikit pun wajah muram yang terkadang menghiasi kesehariannya. Hilang semua rasa sakit, gundah dan khawatir. Tidak ada gadget di tangan, sehingga percakapan demi percakapan mengalir begitu indahnya. Senyum keceriaan menghiasi wajahnya, disambut pula ekspresi yang sama oleh lawan bicaranya. Sungguh pemandangan indah, yang jarang terjadi pada saat sekarang. ==== Di deretan kursi lain, terlihat beberapa orang sibuk dengan gadgetnya. Seakan berada di tempat yang asing dan tidak mengenal serta tidak mau mengenalkan diri dengan orang-orang sekitarya. Senyum-senyum sendiri. ==== Zaman boleh berubah, teknologi terus mengalami kemajuan. Akan tetapi jangan sampai teknologi membuat kita lupa akan fitrah kita sebagai manusia. Manusia yang mempunyai ketergantungan satu sama lain. Kita tidak tahu 'siapa yang membutuhkan siapa". Bisa jadi orang yang kita ajak ngobrol menjadi penolong bagi kita di suatu waktu. Atau karena sesuatu hal kita dipertemukan Allah dalam kerja sama bisnis atau urusan apapun. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok. Terjalinnya hubungan dan komunikasi yang harmonis dengan orang- orang di sekitar kita adalah indikator kesuksesan seseorang di mata masyarakat. Gadget bukanlah segala-galanya. Ketika kita sudah mulai ketergantungan, ada baiknya melakukan introspeksi diri. Jika tidak bisa menghilangkan sikap sibuk gadget, minimal mengurangi aktivitas mengetuk-ngetuk gadget. Alihkan kepada kegiatan fisik yang produktif. Gunakan gadget sesuai kebutuhan. Bukankah saling bertegur sapa, bercanda, berbagi cerita itu lebih indah daripada hanya menatap benda mati yang tidak membalas senyum pada saat kita tersenyum? Ketika kita memberi salam, tidak membalas jabat salam kita. Bijak menggunakan gadget akan menumbuhkan kembali rasa empati dan simpati yang mulai hilang. Hidup akan lebih produktif dan inspiratif. Salam guru Beta (= belajar tiada akhir)

"Syahdunya" Motor Bogar

(By: Marchilia Damayanti si guru "Beta") 

Bogar oh bogar..... Suasana hening malam terpecahkan oleh suara bising motor yang entah darimana datangnya. Suara bising yang begitu "syahdu" bagi penikmat motor bogar. "Kesyahduan" yang tidak berpihak kepada orang-orang yang membutuhkan ketenangan. Rasa sakit yang terpendam oleh emosi seakan menyeruak seiring munculnya suara "syahdu" dari bogar. Do'a atau bahkan sumpah serapah ditujukan kepada pengendara bogar. Ketika amarah masih dapat dikendalikan, maka do'alah yang meluncur dari hati. Akan tetapi manakala nafsu amarah yang mendominasi maka sumpah serapah meluncur dari bibir bagai rudal tanpa kendali. #### Ketika do'a ataupun sumpah serapah terucap maka itu bukan hanya untuk dia, tetapi juga tertuju kepada kita sang pengirim kata-kata dan do'a. #### Sungguh suatu pilihan yang susah-susah gampang. Ketika mengalami situasi yang tidak mengenakkan, sesaat ingin melampiaskan kekesalan. Akan tetapi segera menyadari kekeliruan agar tidak terjadi penyesalan adalah suatu keutamaan. Belajar tulus mendo'akan dengan kalimat-kalimat positif akan membangun diri menjadi pribadi yang sehat rohani dan lebih dinamis. Salam guru Beta (=belajar tiada akhir) (*Motor bogar adalah motor yang dengan sengaja dibuka saringan knalpotnya sehingga menimbulkan suara berisik).

Si imut yang Krreeek

(By: Marchilia Damayanti si guru Beta) 

 

 


Sensasinya selalu membuat gemas. Setiap insan tergoda untuk merasakan nikmatnya dan mengatakan lagi, lagi dan lagi. Si cantik, mungil dengan warna khas hitam dan putih. Meski kecil tetapi dapat menimbulkan ketagihan. Meski pula tidak seberapa besar tetapi dapat memberi kepuasan bagi penikmatnya. Ketika berada diantara pertemuan gigi atas dan bawah menghasilkan suara "krreeek" maka pertanda ia berhasil dibuka. Dan, aaaah... si "imut" siap disantap. 

Ketika kebahagiaan ternodai oleh setitik asa yang terabaikan maka mengenang indahnya kebaikan walau sebutir debu akan menjadi obat yang menyejukkan.

Hidup tidak selamanya indah. Hubungan sosial tidak selamanya cerah. Ketika merasa kecewa dengan perilaku yang lain, maka mengingat kebaikan yang pernah diberikan akan menjadi peredam dendam. Walau sedikit dan sekecil apapun kebaikan itu. Dendam hanya akan merusak kualitas pribadi yang mulai meretas. Dendam hanya akan menjadikan pribadi yang tidak pantas untuk mendapatkan entitas. 

Salam guru Beta (= belajar tiada akhir) 