Rabu, 23 Maret 2022

MENCUCI DAN DESINFEKSI KANDANG

 

MENCUCI DAN DESINFEKSI KANDANG


            Gerimis mewarnai perjalananku ke sekolah hari ini.  Aku baru mendapatkan berita bahwa pihak kemitraan akan datang mengunjungi teaching factory closed house sekolah.  Perasaan campur aduk sempat menghinggapi pikiranku.  Akankah mereka puas dengan kinerja tim sekolah dalam mengelola kandang closed house ataukah sebaliknya?  Aku dan teman-teman sudah berusaha semaksimal mungkin berbuat yang terbaik. 

             Dari kegiatan persiapan, pemeliharaan hingga panen adalah proses yang tidak mudah.  Kami harus mengerahkan segenap pikiran, tenaga, waktu, serta biaya.   Kami mengawalinya dengan kegiatan mempersiapan kandang, kegiatan ini membutuhkan banyak tenaga.  Sebelum melakukan persiapan kandang, terlebih dahulu aku memberikan pengarahan tentang pentingnya persiapan kandang dan tahapan-tahapannya.  Tujuannya agar siswa memahami dan dapat melakukan kegiatan persiapan kandang dengan baik.            

            Kandang yang begitu luas  membuat kewalahan dalam melakukan persiapan kandang. Kegiatan sanitasi kandang  dimulai dari mencuci kandang dengan air dicampur detergen.  Setelah mencuci kandang dengan air biasa dengan cara menyikat dan menyapu lantai dan dinding kandang. Siswa kemudian membuat campuran air dengan detergen.  Penggunaan detergen adalah untuk membunuh mikroorganisme penyebab penyakit.  Siswa menyikat lagi lantai dan dinding kandang untuk mengangkat kotoran yang masih melekat pada lantai.  Selesai disikat kemudian mencuci lagi kandang dengan air.

            Beberapa siswa sudah tampak basah kuyup akibat terkena air.  Tapi mereka sangat senang melakukan kegiatan ini.  Terlihat dari keseruan yang mereka ciptakan, seperti berdendang sambil mendengarkan lagu-lagu di gawai mereka.  Sesekali mereka bercanda dengan menyemprotkan air ke tubuh teman lainnya. Hingga yang lain berteriak dan berkejaran.  Jika sudah seperti ini aku harus turun tangan melerai agar kembali bekerja. 

            Esok harinya setelah lantai kering kami melakukan desinfeksi kandang. Hal yang paling berat dalam kegiatan sanitasi adalah desinfeksi kandang.  Desinfeksi kandang ini adalah kegiatan menyemprot bagian dalam dan luar kandang dengan menggunakan desinfektan yang bertujuan membunuh bibit penyakit.  Mengapa berat? Karena siswa harus menyemprot kandang seluas 12x60 m  dengan menggunakan sprayer gendong.  Sprayer ini cukup berat sebelum diisi air dan campuran desinfektan.  Apalagi setelah diisi, sehingga aku memilih siswa yang berbadan besar saja untuk melakukan desinfeksi kandang. 

            Secara bergantian siswa melakukan desinfeksi kandang dengan cara menyemprot bagian belakang kandang terlebih dahulu.  Aku memberi arahan, dalam melakukan desinfeksi kandang sebaiknya berjalan mundur ke area yang belum disemprot..  Jika berjalan maju maka dikhawatirkan bagian yang telah disemprot akan terinjak kembali dan pekerjaan desinfeksi akan sia-sia. Desinfeksi kandang ini sangat penting untuk memutus rantai perpindahan penyakit dari pemeliharaan sebelumnya.  Jadi mesti dilakukan secara cermat dan teliti, baik langkah-langkahnya maupun perbandingan campuran air dan desinfektan.

            Tanpa terasa desinfeksi bagian dalam kandang sudah terselesaikan kurang dari waktu yang telah dilakukan, saatnya melakukan desinfeksi kandang bagian luar.  Bagian luar ini juga penting untuk didesinfeksi karena kemungkinan terdapat juga mikroorganisme penyakit yang menempel pada lantai dan dinding kandang bagian luar.  Aku terus mendampingi siswa hingga selesai.  Alhamdulillah kegiatan terberat sudah kami lalui. Kami akan melanjutkan keesokan harinya dengan pengapuran lantai kandang.

           

#60HMB

#BATCH9

#DAY79

           

           

           

Selasa, 22 Maret 2022

 

ANAK BUAH KANDANG 

 

            Jarum jam sudh menunjukkan pukul 18.00.  Tetapi antrian mobil bakul yang akan mengambil ayam di kandang semakin banyak.  Padahal kegiatan pemanenan sudah kami lakukan dari pagi namun hingga sore menjelang malam belum berakhir.  Di dalam kandag anak buah kandang (ABK) begitu sibuk memilih, menangkaP, menimbang dan menaikkan ayam ke dalam mobil angkutan.  Aku yang mencatat hasil penimbangan cukup khawatir dengan ABK.  Mereka sedari pagi hingga saat ini tanpa istirahat melayani bakul. 

            Langkah kaki mereka dengan gesit berjalan bolak-balik dari bagian belakang ke depan kandang.  Kaki-kaki yang beralaskan sandal jepit dan kaki yang sudah penuh dengan debu kotoran kandang.  Sementara tangan-tangan mereka tidak kalah sigap menangkap ayam satu per satu pada bagian kaki, setelah tertangkap lima ekor mereka lalu memindahkannya ke dalam keranjang ayam.  Lagi, lagi dan lagi begitu seterusnya. 

            Nafas mereka memburu dengan muka tampak lelah. Sesekali mereka mengelap keringat bercucuran membasahi kening dan pipi.  Sesampai di depanku yang sedang menulis hasil penimbangan, mereka berhenti sejenak dan menarik nafas panjang, tanda lelah yang amat sangat.

            “Kalau kalian capek, istirahat dulu, jangan memaksakan diri.  Nanti kalian sakit,” kataku

            “Tapi Pak, masih seribu ekor lagi mau ditangkap,” jawab mereka

            “Sudah tidak apa-apa, makan sana dulu.”

            “Nanti saja Pak, tanggung kita kasik penuh dulu satu mobil ini,” ujar mereka dengan nafas tersengal.

            “Kalau begitu minum saja dulu dan duduk sebentar meluruskan kaki.”

            “Iya Pak, boleh kami minum dulu?” tanya Idul sedikit terbata karena kerongkongannya kering.

            “Iya, minum saja. Tadi itu siswi PKL sudah menyiapkan,” ucapku sambil menunjuk cerek yang berada di samping.

            Mereka kemudian duduk dan menuangkan air ke dalam gelas.  Anak-anak PKL (Praktik Kerja Lapang) sengaja aku minta membuat air sirup dicampur dengan es batu agar lebih nikmat.

            Aku melirik ke arah mereka tampak kerongkongan mereka naik turun dilewati air minum yang masuk ke dalam lambung. 

            “Aaahhh, Alhamdulillah,” ujar Ibra sambil tersenyum lega.

            “Huufff, nikmatnya,”kata Idul lagi

            Aku tersenyum melihat tingkah mereka berdua.  Aku berbicara sejenak dengan para bakul agar mereka memakluminya.

             Setelah beristirahat sejenak mereka memberi isyarat kepadaku untuk melanjutkan lagi proses panen ayam.  Aku dengan segera menuju ke meja kayu yang memang disiapkan guna memudahkan pencatatan bobot badan ayam.

            “Dua pulu koma sembilan belas,” teriak Idul kepadaku

            “Angkaat!” seruku memberi semangat

            Kami harus berbicara dengan nada suara keras karena bunyi kipas yang berukuran kurang lebih 1,5x1,5 meter sebanyak lima buah cukup bising.

            Mereka lalu membawa keranjang yang berisi ayam ke atas mobil angkuta. 

            “Lanjuut,” teriakku lagi

            Serta merta datang Indra dan Randi membawa keranjang yang sudah diisi ayam kemudian mereka menimbangnya.

            “Sembilan belas sembilan delapan.”

            Begitu seterusnya aktivitas pemanenan hingga selesai.  Aku melihat jam di handphone sudah menunjukkan pukul 22.00.

            “Ya, Allah semoga lelah ini membawa berkah. Semoga ABK sehat-sehat selalu.,” kataku lirih.

            Panen hari ini telah usai, para ABK mengumpulkan peralatan yang digunakan.  Terima kasih Ya Allah atas nikmat sehat yang telah Engkau berikan.

           

#60HMB

#BATCH9

#DAY78

           

 

 

Minggu, 20 Maret 2022

TANAH TIMBUNAN

 

TANAH TIMBUNAN

 

            Kondisi pintu belakang kandang untuk akses pemanenan ayam begitu becek.  Tanah yang memang berstruktur gembur memungkinkan  air mudah terserap dan menjadikannya lebih lembek.  Sifat ayam broiler yang tidak tahan panas jika berada di luar, membuat para bakul menyiramkan air ke atas tumpukan ayam yang siap untuk diangkut.  Alhasil tanah sekitarnya menjadi becek.  Ini juga yang menyebabkan seringkali ban mobil harus berputar kencang ketika akan berangkat meninggalkan kandang. 

            Keadaan seperti ini tidak bisa dibiarkan karena dapat mengganggu proses pengangkutan.  Sehingga teman-teman berinisiatif untuk menimbunnya dengan tanah berbatu.  Siang itu para bakul sudah mengantri di halaman kandang.  Tetapi mereka mengeluhkan kondisi halaman belakang yang berair. 

            “Pak, minta tolong ditimbun dulu itu,” kata Bakul A.

            “Iya, Pak. Ban mobil kami selip,” ujar yang lain.

            “Iya, hari ini sudah kami rencanakan untuk menimbun,” jawabku agak kesal.   

            Dengan langkah bergegas aku menyuruh anak buah kandang mengambil kereta dorong untuk mengambil tanah timbunan di samping bagian atas kandang. 

            “Ibra dan Idul cepat ambilkan tanah untuk menimbun bagian belakang kandang.”

            Ibra dan Idul yang sedang menyiapkan peralatatan pemanenan terkejut.

            “Tapi Pak, kami masih meyiapkan peralatan,” sahut Ibra.

            “Tinggalkan saja dulu itu. Kita benahi terlebih dahulu bagian luar,” jawabku dengan suara agak meninggi.

            “Oiya Pak, siap.”

            Aku pun berlari mengikuti mereka guna menunjukkan tanah mana yang harus diambil.  Lokasi pengambilan tanah timbunan berada di atas kandang sehingga kami harus sedikit mendaki. Nafasku mulai “ngos-ngosan” karena berlari dan berusaha mencapai lokasi dengan cepat.  Kakiku yang tiba-tiba dipaksa beraktivitas keras mulai terasa panas.  Aku berhenti sejenak untuk mengembalikan kenyamanan kakiku. Aku melihat dari kejauhan  Ibra dan Idul sudah berada di atas dan langsung memasukkan tanah ke dalam kereta dorong. 

            “Usia memang tidak bisa dibohongi,” batinku sambil meringis.

            Setelah kereta dorong penuh mereka segera meluncur lagi ke bawah dan aku mengikutinya dari belakang. Mereka berlari sangat kencang, langkah kakiku juga semakin cepat mengikuti mereka. Dadaku sudah terasa sesak dan nafas mulai tersengal-sengal.  Mereka terlebih dahulu sampai dan tertawa terbahak-bahak.

            “Hahaha, Bapak tidak bisa,” ucap Idul sambil tertawa hingga terlihat semua giginya.

            “Berbeda usia beda juga fisiknya,” canda Ibra menggodaku.

            “Hei, tapi jangan salah aku masih bisa mengejar kalian,” jawabku tidak mau kalah.

            Tubuh Ibra dan Idul  tinggi kurus sehingga memudahkan mereka berlari kencang. Mereka berhenti sejenak dan tertawa ngakak sambil memegang perutnya yang langsing lalu menuangkan semua tanah berbatu dan meratakannya dengan sekop.  Kami seringkali bergurau ketika bekerja untuk menghilangkan kejenuhan agar pekerjaan yang berat menjadi terasa ringan.  Seberat apapun pekerjaan jika kita menikmati prosesnya akan menjadi menyenangkan.

 

#60HMB

#BATCH9

#DAY76

           

 

              

 

Sabtu, 19 Maret 2022

MONITORING PKL

 

MONITORING PKL

 

            Pemanenan ayam hari pertama sebanyak 4600 ekor telah selesai.  Pagi ini aku merencanakan akan melakukan monitoring siswa Praktik Kerja Lapangan (PKL) yang berada di kandang-kandang peternak.  Sepeda motor sudah siap mengantarkanku keliling kandang.  Tidak lupa aku mengenakan atribut seperti biasanya.  Sarung tangan, jaket, dan helm sebagai pengaman dan pelindung diriku dari teriknya matahari selalu setia menemani kemana aku pergi.  

            Jam di tanganku menunjukkan pukul 09.00, kutatap langit cuaca cukup cerah hari ini.  Pasti sebentar lagi suhu di sepanjang jalan akan panas sekali. Perlahan aku mulai menyusuri jalanan beraspal.  Kendaraan lalu lalang menyalip sepeda motorku tidak aku hiraukan.  Dalam  benakku hanya satu tujuan yaitu, perjalanan dari satu kandang ke kandang lainnya. 

            Sudah menjadi satu kebiasaan bagiku untuk berkomunikasi dengan para peternak tempat siswa PKL magang.  Seperti kali ini sebelum turun monitoring aku terlebih dahulu menelpon dan mengutarakan  maksud kedatanganku ke kandang.  Tujuannya tidak lain agar dapat bertemu langsung dengan mereka dan mencuri ilmunya.  Para peternak ini merupakan praktisi yang sudah makan asam garam pemeliharaan ayam broiler.  Banyak hal yang bisa dipetik dari setiap diskusi dengan mereka.  Aku sangat menikmatinya.

            Tiba-tiba handphone di kantong celanaku bergetar.  Aku yang sedang mengendarai sepeda motor hanya menganggap suatu hal biasa dan kurang penting.  Aku terus melanjutkan perjalanan menyusuri jalan berkerikil dan kiri kanan dipenuhi tanaman rumput yang tidak beraturan.  Di sepanjang jalan terhampar pohon kelapa dan di bawahnya pohon cacao.  Ya, namanya kandang, tidak mungkin berada di perkotaan.  Pasti nun jauh di bawah-bawah pohon kelapa yang menjulang tinggi.

            Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit akhirnya sampai juga di kandang ke-1. Sambil menarik nafas lega kutepikan sepeda motor di sebelah pagar yang terbuat dari kayu dan dalam keadaan miring. Anjing penjaga kandang menyambuku. Kulepaskan helm, sarung, tangan dan jaket agar lebih nyaman.  Anjing terus menggonggong dan aku mulai ketakutan. 

            “Kenapa tidak anjing ini ya?” kataku dalam hati

            Aku membiarkan anjing terus menggonggong. Kuarahkan pandangan ke kandang yang berbentuk panggung, ada seseorang yang sedang berdiri. 

            “Selamat siang,” sapaku

            “Selamat siang,” sahutnya dari kejauhan

            “Bisa bertemu dengan Pak Edi?”

            “Oiya Pak, silakan masuk,” jawabnya lagi

            Aku melangkahkan kaki menaiki tangga kandang.  Seperti biasanya jika kita ke kandang pasti mendapat suguhan bau ammonia yang menjadi ciri khas suatu kandang ayam.  Bagiku mencium bau ammonia adalah hal yang biasa, berbeda jika seseorang baru pertama kali ke kandang pasti akan menutup hidung, mual dan terkadang muntah karena jijik. 

            Belum lama aku ngobrol dengan peternak, tiba-tiba handphone ku berbunyi.  Aku permisi sebentar kepada peternak untuk mengangkat telepon.  Dari seberang sana terdengar suara Pak Arif yang panik

            “Pak sudah ada tiga mobil bakul menunggu di kandang.  Belum ada siswa yang mau membantu menangkap ayam.” kata Pak Arif

            “Waduh, oiya Pak saya akan segera ke sekolah,” jawabku.

            Secepatnya kumasukkan handphone ke dalam tas dan berpamitan kepada peternak.

 

#60HMB

#BATCH9

#DAY75

Jumat, 18 Maret 2022

PANEN

 

PANEN

 

            Tiba-tiba beberapa kendaraan yang di desain sebagai mobil pengangkut ayam memasuki kandang.  Aku yang sedang memberikan pengarahan kepada siswa kelas XII sangat terkejut dengan kedatangan mobil-mobil tersebut.  Memang kemarin ada rencana mau panen ayam tetapi dari pihak kemitraan sampai pagi ini belum mengonfirmasikan kepada kami sebagai pengelola kandang closed house sekolah.

            Aku segera berkomunikasi dengan teman-teman dan anak buah kandang untuk secepatnya melakukan persiapan kandang.  Saat itu jarum jam menunjukkan pukul 09.00, matahari di kandang mulai memancarkan sinarnya yang membuat kami memicingkan mata jika berada di area halaman kandang.  Artinya hari ini suhu pasti sangat panas.  Bagaimana dengan ayam broiler yang selalu berada di tempat yang sejuk dan tidak tahan panas?

            “Ah, sudahlah nanti aku kondisikan,” batinku

            Persipan mulai kami lakukan.  Anak buah kandang bertugas menyiapkan peralatan di yang akan digunakan dalam pemanenan. 

            “Ibra tolong sekat ayam di bagian belakang dengan paranet,” kataku

            “Idul, siapkan timbangan digital di dekat pintu belakang kandang. Hasri siapkan alat tulisnya ya.”

            Setelah peralatan semuanya siap, aku berdiskusi dengan bakul tentang aturan pemanenan.  Aku perlu melakukan ini agar bakul memahami juga resiko yang akan diterima jika tidak mematuhinya.  Terutama dalam penggunaan timbangan untuk mengetahui bobot jual ayam.

            “Maaf Pak, perlu saya sampaikan bahwa kita menggunakan timbangan dacin digital untuk meminimalisir kematian ayam selama perjalanan.”

            “Waduh, tidak bisa begitu Pak.  Kalau kita pakai timbangan dacin akan lama proses pemindahan ayam ke dalam mobil karena ayam akan stress.  Bayangkan setelah ditangkap, ayam ditimbang kemudian ditangpak lagi dan dimasukkan ke dalam keranjang.  Kalau kami biasanya main cantik dengan peternak, dengan menggunakan timbangan gantung,” ucap Bakul 1 panjang lebar.

             “Iya, nanti tidak ada bakul yang ambil ayam di kandang sini lagi jika aturannya seperti itu,” ujar Bakul 2.

            Disampingku berdiri Bu Tina dan Bu Anti, mereka memberi kode kepadaku untuk tetap pada prinsip. 

            “Ayam dari kandang closed house tidak bisa digantung berlama-lama di timbangan Pak.  Nanti stress dan banyak mati selama pengangkutan dan kami tidak mau menggantinya.  Bapak mau menanggung resikonya?” aku menjelaskan panjang lebar. 

            “Iya Pak, kalau ayam dari kandang open house mungkin bisa digantung di timbangan untuk mengetahui bobot badannya,” kata Bu Anti berusaha memberi pengertian.

            Dengan sedikit berat hati Bakul 1 dan 2 menyetujui aturan ini.  Penangkapan ayam mulai dilakukan, ayam ditangkap sebanyak lima ekor kemudian dimasukkan ke dalam keranjang untuk ditimbang.  Bu Tina bertugas mencatat bobot badan ayam. 

            Cuaca di kandang mulai tidak kondusif, ayam yang sudah berada dalam mobil angkut mengalami panting.  Aku menugaskan kepada Tatang, satpam kandang untuk mengambil kipas angin besar. 

            “Tang, tolong ambil kipas angina di kantor ya,”

            “Baik pak,” jawabnya.

            Setelah beberapa menit datang membawa kipas angin.  Aku meletakkan kipas angina di samping mobil angkut ayam. Dengan segera pula aku menarik kabel panjang dan menyalakannya.  Ayam masih terlihat megap-megap. 

            “Tang tolong siapkan selang air.”

            “Untuk apa Pak?” tanyanya

            “Untuk menyemprot ayam agar tidak kepanasan.”

            Secepat kilat Tatang berlari mengambil selang dan memasangnya di kran dekat kandang.

            “Tolong semprot ayamnya dari atas sampai ke bawah ya,” kataku kepada anak buah bakul.

            Proses penangkapan, penimbangan dan pemindahan ayam ke mobil memakan waktu cukup lama karena  satu mobil maksimal berisi 500 ekor ayam.  Setelah mobil penuh dan bakul menandatangani administrasi maka rombongan mobil 1 siap diberangkatkan.

            Aku mengarahkan pandangan ke halaman kandang yang begitu luas. 

            “Ya, Allah,” ucapku lirih

            Di halaman kandang sudah berderet sekitar 10 mobil lagi yang siap mengangkut ayam.  Ini artinya pemanenan akan berlangsung sampai malam.  Tak apalah tetap harus semangat.  Terima kasih Ya Allah, Engkau telah mengabulkan permohonan kami memiliki kandang modern kapasitas 20 ribu ekor guna peningkatan kompetensi siswa.

 

#60HMB

#BATCH9

#DAY74

           

 

Kamis, 17 Maret 2022

AIR

 

AIR

 

            Hari berganti hari minggu berganti minggu.  Tanpa terasa usia ayam di kandang closed house sudah mencapai 30 hari.  Usia yang sangat rawan terhadap kematian akibat bobot badan yang semakin berat dengan kepadatan ayam yang tinggi.  Jika dalam pemeliharaan open house ketika siang hari suhu mencapai puncaknya yaitu sangat panas maka kita bisa menyemprot ayam dengan menggunakan air.  Namun tidak demikian dengan kandang tertutup yang menggunakan sistem.  Jika cuaca panas maka ketersediaan air adalah yang utama.  Ketersediaan air berguna untuk mengisi cooling pad dan nipple (tempat minum ayam) agar tidak kehabisan air. 

            Keterlambatan penyediaan air beberapa detik saja akan mengganggu  sirkulasi air di dalam kandang. Bisa dibayangkan sirkulasi air dengan kandang dengan luasan 12x60 m2 harus segera terpenuhi.  Perjalanan air dari pipa penampungan air ke cooling pad dan nipple harus terdistribusi dengan cepat.  Belum lagi jumlah ayam yang besar dan suhu lingkungan yang panas sehingga konsumsi air minum juga semakin besar.  Hal ini membutuhkan kesigapan anak buah kandang untuk selalu mengontrol air yang tersedia di penampungan.  Jika lengah sedikit saja akan berdampak sangat besar terhadap kelangsungan hidup ayam di dalam kandang.

            Aku sedang duduk santai di teras rumah penjaga kandang untuk istirahat sejenak menghindari suhu di luar yang begitu panas. Belum berapa lama aku duduk aku melihat anak buah kandang semuanya berlarian menuju ke arah cooling pad bagian luar.  Mereka begitu sibuk memeriksa kondisi cooling pad.  Aku mulai curiga pasti ada yang sesuatu yang tidak beres.  Kujejakkan lagi ke tanah dan berlari ke arah mereka.

            “Ada apa?”

            “Air di cooling pad tidak ada Pak,” jawab Ibra

            Aku tidak lagi memedulikan alasan mereka, aku segera memutar otak mencari solusi agar air segera terpenuhi. 

            “Cepat ambil air dari kandang sebelah dengan ember!” perintahku

            Mereka dengan segera berlari mengambil ember, masing-masing membawa dua ember.  Tanpa pikir panjang secepat kilat kubuka bagian bawah penampungan cooling pad.  Ya, ampun kosong tidak ada airnya.

            “Ini Pak,” ujar Ibra menyyerahkan air di ember

            Dengan serta merta aku mengisi air di bagian bawah cooling pad.  Satu per satu kumasukkan air di ember yang mereka bawa. Kondisi air juga masih panas akibat sinar matahari yang sangat terik.

            “Cepat beli es batu, kondisi air agak panas!”

            Tanpa berkata-kata lagi Ibra dan Idul segera mengambil  motor kemudian memacunya untuk segera mendapatkan es batu di toko sekitar kandang.  Beberapa menit kemudian mereka datang dengan membawa es batu.  Langsung kuperintahkan membuka plastik dan memasukkannya ke bagian bawah cooling pad yang sudah terisi air. 

            “Alhamdulillah,” aku bernafas lega

            “Lain kali harus sering memeriksa air yang ada di penampungan,” kataku mengingatkan mereka.

            “Iya Pak, maaf.”

            “Bisa kamu bayangkan jika kamu lengah sedikit saja maka dampaknya cukup besar.”

            “Tadi air di tandon dalam digunakan untuk mencuci peralatan makan ayam oleh anak PKL,” ujar Ibra

            “Nah, itu penyebabnya.  Air tandon dalam kandang hanya untuk memnuhi cooling pad dan nipple.  Jangan digunakan yang lain!” kataku sedikit marah.

            Cuaca yang sangat panas menambah gerah hatiku.  Namun aku berusaha untuk meredamnya agar tidak menjadi amarah, toh  permasalahan sudah teratasi. Terima kasih Ya Allah.

 

#60HMB

#BATCH9

#DAY73

 

 

           

Rabu, 16 Maret 2022

LUBANG PEMBUANGAN

 

LUBANG PEMBUANGAN

 

            Bau menyengat keluar dari tumpukan karung berisi sekam bekas alas kandang. Setiap hari sekitar 10 karung sekam dikeluarkan dari dalam kandang.  Jika dikalikan dengan lamanya pemeliharaan selama 30 hari maka nantinya akan ada 300 karung sekam akan menumpuk.  Bisa dibayangkan dampak dari sekam bekas beserta kotoran ayamnya ini.  Selain bau yang menyengat juga akan mengundang lalat berkembang biak.  Hal ini sangat mengganggu dan meresahkan masyarakat sekitar.

            “Pak, bagaimana solusinya ini, semakin hari semakin banyak sekam dan baunya mulai menyebar,” kata Bu Anti.

            “Itulah Bu, kita harus mencari cara agar sekam bekas pakai tidak bertambah menggunung,” ujarku.

            “Sepertinya kita harus membuat lubang besar untuk menampung sekam-sekam ini,” usul Bu Titin.

            “Iya betul.  Selain untuk menampung juga agar sekam terfermentasi nantinya dan dapat digunakan sebagai pupuk,” kataku.

            “Para pembeli sekam kotoran ayam tidak mau membeli kalau belum masak.  Sehingga dibutuhkan lubang penyimpanan sekam/kotoran terlebih dahulu,” usul Bu Titin.

            Aku mulai berpikir bagaimana caranya membuat lubang besar untuk menampung  jumlah kotoran ayam begitu banyak.  Jika menggunakan alat berat tentunya harus mendatangkan dari kota dan pasti biayanya sangat mahal, sekitar 5 jutaan.  Bagaimana kalau menggunakan tenaga manusia? Mungkin tidak ya?  Akhirnya dengan berbagai pertimbangan, aku dan teman-teman memanggil penjaga sekolah untuk menggali lubang itu.  Aku memanggil Iwan untuk melihat kondisi lubang yang akan dibuat.

            “Iwan, bisa ke kandang sebentar?”

            “Iya Pak.”

            Posisi kandang berada di bawah tempat pembuangan sekam/kotoran. Kami bersama-sama menuju ke atas dengan cara sedikit mendaki.  Sesampainya di atas, bau kian menyengat karena sekam/kotoran bertumpuk di sana. 

            “Iwan, mampukah kamu membuat lubang untuk penampungan sekam/kotoran sebanyak ini?” tanyaku

            “Waduh, kalau sebanyak ini, pasti lubangnya besar dan dalam.  Sepertinya saya tidak sanggup Pak.”

            “Itulah, tadi kami sudah menghubungi juga penyewaan alat berat tetapi biaya untuk sampai ke sini 3,5 juta plus biaya operator dan bahan bakarnya.  Menurut kamu dimana tempat penyewaan lagi yang agak murah?” kataku.

            Iwan terdiam sejenak memikirkan kata-kataku, mencari solusi. Dan tiba-tiba ia mendapatkan ide.

            “Itu Pak, ada di depan jalan, kebetulan operatornya bapaknya Desi, siswa yang pernah sekolah di sini.  Mungkin bisa kita minta tolong sebentar.”

            “Oiya, kita coba saja.  Siapa tahu bersedia,” ujarku

            Sore itu juga aku segera menuju ke rumah bapak Desi.  Di depan rumahnya terparkir alat berat yang ingin kami pinjam.  Aku memarkir sepeda motor di dekat alat berat itu. Sekilas kuamati dan berpikir semoga  ia mau membantuku.

            “Assalammualaikum,” aku menguluk salam

            “Waalaikumsalam, mari Pak, masuk,” jawab  suara dari dalam rumah. 

            Sesaat keluar laki-laki setengah baya berbadan kekar dengan senyum tersungging di wajah, yang ternyata bapaknya Desi. Aku mengutarakan maksud kedatanganku.  Ia tersenyum, setelah berdiskusi tentang biaya kita bersepakat dan ia bersedia membantu untuk mengoperasikan alat berat menggali tanah lubang pembuangan. 

            Alhamdulillah, terima kasih ya Allah atas pertolonganmu.  Engkau telah membukakan hati bapak Desi untuk mengatasi masalah pembuangan sekam/kotoran ayam.

 

#60HMB

#BATCH9

#DAY72