Minggu, 09 September 2018

Berkahnya Makanan

By: Marchilia Damayanti

 


Suasana pesta pernikahan di sebuah hotel begitu meriah. Para undangan satu per satu berdatangan dengan baju terbaiknya. Tampak beberapa pasang suami istri mengenakan pakaian dengan warna senada. Mereka tampak serasi. Di sudut lain terlihat sekelompok pemuda pemudi memakai baju yang sama. Mungkin mereka teman satu kantor pengantin. Anak- anak berlarian diantara para undangan yang menambah semarak pesta itu. Tampaknya konsep pesta pernikahan yang dirancang adalah fleksibel dan simpel. Tamu yang datang langsung jabat salam kepada pengantin. Setelah itu menuju ke meja yang sudah tersedia makanan, kemudian tamu undangan meninggalkan hotel untuk pulang. Pegawai hotel dengan sigap mengangkat piring bekas makanan para tamu. Tetapi yang menggelitik benak saya adalah banyak makanan yang tersisa di piring-piring kotor itu. Sungguh suatu pemandangan yang begitu menyesakkan dada. Betapa tidak, jika setiap piring ada makanan tersisa,jika dikalikan ratusan undangan maka berapa kilogram makanan terbuang sia-sia.

Teringat para pengungsi akibat perang, bencana alam, kerusuhan dan kaum miskin dan dhuafa, serta daerah rawan pangan. Untuk mendapatkan air bersih saja mereka kesulitan dan terkadang harus berjalan puluhan kilometer mendapatkan sumber air. Apalagi untuk memperoleh makanan yang layak.

Kalap ketika melihat makanan yang terhidang. Sehingga keinginan untuk makan semua makanan yang dihidangkan sangat besar dan kuat.

Keinginan ini melahirkan nafsu makan yang tak terbendung. Nafsu untuk mengambil setiap makanan yang tersaji di piring tanpa ampun. Kita lupa bahwa tubuh kita memiliki keterbatasan dalam menerima makanan yang kita menerima asupan. Ketika sendok demi sendok makanan masuk ke dalam mulut, maka beberapa saat kemudian alat pencernaan mengirimkan sinyal ke otak. Pengiriman sinyal ini memberi isyarat kepada tangan dan mulut untuk berhenti makan. Dan apa yang terjadi makanan masih banyak tersisa di piring karena tubuh sudah tidak mampu menampung lagi makanan. Sungguh sangat disayangkan, karena nafsu yang menggebu akibatnya menghasilkan sikap yang tidak bermutu.

Sesuai kebutuhan dan tidak kalap, dua hal yang dapat mencegah kita dari perbuatan yang tidak bermutu. Perbuatan sia-sia karena membuang makanan. Makanan yang memiliki nilai istimewa bagi kaum miskin papa. Makanan yang mempunyai nilai tak terhingga bagi orang nestapa.

Rasulullah mengajarkan: berhentilah makan sebelum kenyang. Suatu ajaran yang tidak akan lekang oleh jaman. Suatu ajaran yang hingga kini sesuai dengan dunia kedokteran dan kesehatan. Selalu mengingat ajaran itu akan membuat kita tidak kalap ketika melihat makanan.

Dalam makanan yang sedang kita santap ada keberkahan. Entah dimana keberkahan itu, apakah terletak di sepiring nasi atau sebutir nasi yang tertinggal di piring. Makan sesuai kebutuhan dengan tidak berbuat sia-sia, karena di dalam makanan terdapat keberkahan yang menunggu.

Salam guru Beta  belajar tiada akhir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar