By: Marchilia Damayanti

Terlihat tiga orang anak berada di toilet umum sebuah taman hiburan. Usianya yang paling besar sekitar 7 tahun, adiknya yang laki-laki sekitar 5 tahun, sedangkan anak ketiga paling kecil usianya 3 tahunan. Sepertinya mereka baru selesai mandi. Handuk kecil lusuh melilit leher sang kakak. Rambut yang basah menandakan mereka juga mencuci rambut. Di depan pintu toilet terdengar percakapan kecil "trio mandiri." Entah apa yang mereka bicarakan. Tergelitik aku ingin tahu dimana rumah mereka dan mengapa mandi di toilet umum. Ternyata mereka adalah anak pedagang asongan di sekitar taman hiburan. Anak-anak yang mandiri. Keadaanlah yang memaksa mereka demikian.
Kemandirian tercipta karena situasi yang mengharuskan bahkan terkadang terpaksa dan memaksa.
Kemandirian merupakan kebutuhan. Suatu kebutuhan karena pada dasarnya kita tidak ingin bergantung terus menerus dengan orang lain. Mandiri dapat memberikan nilai plus pada fitrah kita yang dikodratkan sebagai khalifah di muka bumi ini. Indikator kemandirian seseorang sangat beragam dan relatif. Tingkat kemandirian dapat dikelompokkan berdasarkan umur, jenis kelamin, profesi, kondisi fisik dan mental. Berdasarkan umur, misalnya seorang anak yang duduk di play grup,paud dan TK dikatakan mandiri apabila bisa memakai baju sendiri, mandi dan mengenakan sepatu sendiri. Berbeda pula untuk anak yang duduk di sekolah dasar, dan seterusnya.
Seorang yang beranjak dewasa dikatakan mandiri ketika ia dapat melakukan pekerjaannya tanpa bimbingan dan berani dalam membuat suatu keputusan. Seorang wanita dikatakan mandiri ketika dapat mengurus segala urusannya. Dan masih banyak lagi contoh kemandirian. Sikap mandiri akan melahirkan kreativitas. Kreativitas yang dapat melatih otak untuk terus bekerja secara tak terbatas. Aktivitas sel-sel otak memberi efek menguatkan daya ingat. Daya ingat yang terasah dan tertata, menjadikan seseorang tidak akan cepat lupa. Kemandirian dapat terbentuk dan menjadi suatu karakter ketika seseorang selalu berusaha untuk membiasakannya dalam kehidupan sehari-hari.
Pembiasaan akan secara refleks mencuat tanpa sikap dibuat-buat. Pembiasaan akan melahirkan sikap lugas dan cerdas. Biasa hidup mandiri menjadikan kita sebagai individu yang gigih dan tangguh. Tangguh dalam menghadapi segala tantangan dan gigih berjuang meraih cita-cita yang diharapkan.
Salam guru Beta belajar tiada akhir
Tidak ada komentar:
Posting Komentar