Rabu, 21 Oktober 2020

“BUKTI KASI” UNTUK SISWA TERKASIH DI ERA DIGITALISASI (belajar.kemdikbud.go.id)

 Oleh: Marchilia Damayanti





Latar Belakang

Hak asasi manusia menjamin kebebasan setiap orang mendapatkan pendidikan. Pendidikan yang kelak dapat menjamin kelangsungan kehidupan bagi setiap individu.  Hidup yang benar-benar mandiri tidak bergantung kepada orang lain.  Kecakapan hidup akan menjamin kemampuan seseorang dalam menggapai kesejahteraannya.  Akan tetapi dalam kondisi normal terkadang belum dapat menjamin tercapainya hal tersebut.  Apalagi ketika berlangsung dalam kondisi di luar batas normal. 

Kondisi di luar batas normal artinya, individu yang memiliki kekurangan dan keterbatasan diri. Tidak seorangpun menginginkan mempunyai keterbatasan dalam dirinya.  Namun dibalik keterbatasan itu, Tuhan pasti menganugerahkan kelebihan kepada sebagian hamba-Nya ini.  Keterbatasan diri bukanlah suatu malapetaka, akan tetapi memaksimalkan menggali potensi diri adalah solusinya. Seseorang yang memiliki keterbatasan diri (berkebutuhan khusus) berhak atas pengakuan dari lingkungan dan lingkungan wajib memberikan respon positif atas kehadirannya.

Data Pusdatin dari Kementerian Sosial pada 2010  menunjukkan jumlah penyandang disabilitas adalah 11.580.117 orang.  Jumlah ini merupakan angka komulatif dari berbagai kondisi penyandang disabilitas,  diantaranya penyandang disabilitas penglihatan, penyandang disabilitas pendengaran, penyandang disabilitas mental dan penyandang disabilitas kronis. Data jumlah penyandang disabilitas tersebut akan menentukan kebijakan pemerintah guna membantu penyandang disabilitas memperoleh haknya sebagai warga negara lainnya tanpa diskriminasi.

Kondisi ekonomi masyarakat Indonesia sangatlah beragam.  Ketika salah satu anggota keluarga menyandang disabilitas dan perekonomian keluarga pada tingkat “mampu” maka orang tua akan menyekolahkan putra/putrinya ke sekolah luar biasa (SLB).  Sebaliknya ketika perekonomian keluarga dalam kondisi “pas-pasan” maka orang tua membiarkan putra/putrinya hanya berada di rumah tanpa pendidikan. Padahal setiap individu berhak mendapatkan pendidikan

Pemerintah memberi dukungan terhadap penyandang disabilitas agar dapat berkiprah dalam pembangunan tanpa diskriminasi. Beberapa dukungan pemerintah terhadap peyandang disabilitas diantaranya adalah dengan mengeluarkan undang-undang tentang kuota tenaga kerja penyandang disabilitas di perusahaan pemerintah dan swasta, undang-undang tentang kesamaan hak atas fasilitas dan perlakuan khusus, undang-undang tentang hak mendapatkan sertifikat kejuruan, dan masih banyak lagi peraturan pemerintah serta peraturan menteri terkait dengan penyandang disabilitas.  Hal ini menunjukkan kesungguhan pemerintah dalam mengayomi penyandang disabilitas.

Sebagian orang tua yang memiliki putra/putri menyandang disabilitas menginginkan putra/putrinya tetap bersekolah di sekolah reguler.  Hal ini bukan tanpa alasan, orang tua menginginkan putra/putrinya tetap tumbuh di lingkungan sosial yang normal tanpa mendapatkan perlakuan diskriminasi dari lingkungannya.   Lingkungan yang kelak dapat memberikan rasa aman dan nyaman untuk pertumbuhan dan perkembangan pola pikir dalam proses mendewasakan diri.

Salah satu siswa SMK Negeri 1 Sigi adalah seorang disabilitas yang mengalami gangguan fisik dan motorik. Siswa ini memiliki keterbatasan dalam berbicara dan memegang sesuatu, namun mempunyai kecerdasan yang hampir sama dengan teman-teman satu kelasnya.  Ketika siswa tersebut berbicara, terkadang teman dan guru  kesulitan memahaminya. Demikian juga ketika menulis, ia dapat menulis akan tetapi tulisannya sulit untuk dibaca. Pada saat memegang sesuatu tidak cekatan seperti siswa normal lainnya. Demikian juga dalam hal kemampuan memahami perintah, baik dari guru maupun perintah dalam langkah-langkah mengoperasikan peralatan. Terkadang teman satu kelas sudah selesai mengerjakan tugas, ia terlambat  menyelesaikan tugasnya. 

Di era digitalisasi seperti sekarang ini guru dituntut  memanfaatkan teknologi untuk memudahkan penyampaian materi ajar dan siswa dapat berperan aktif  dalam proses pembelajaran. Peran aktif siswa akan menciptakan pembelajaran yang menyenangkan. Pemanfaatan teknologi bertujuan agar sisiwa dapat terus mengikuti perkembangan teknologi pembelajaran, termasuk siswa penyandang disabilitas.  Harapannya siswa ini dapat maju dan tumbuh  bersama teman-teman lainnya dan tidak ketinggalan dalam penguasaan informasi teknologi (IT).

Kelas digital merupakan salah satu metode yang memanfaatkan informasi teknologi.  Dalam kelas digital siswa menyimak video yang disajikan guru.  Guru juga memberi penugasan kepada siswa untuk mengulang kembali penjelasan dari guru dengan mengunggah tugasnya di kelas digital.  Kelas digital mengajarkan kepada siswa belajar dalam suasana era digital.  Kelas digital merupakan penerapan pembelajaran berbasis informasi teknologi komunikasi (TIK).

Bagi siswa normal mengikuti langkah-langkah masuk ke kelas digital sangat mudah.  Tetapi tidak dengan siswa yang mengalami gangguan fisik dan motorik tadi. Ia kesulitan masuk ke kelas digital karena keterbatasannya. Siswa  kesulitan mengikuti langkah-langkah masuk ke kelas digital. Setiap kali guru memberi penugasan. Siswa tersebut mengalami kebingungan. Ia terlambat merespon dan memahami langkah-langkah kerja ketika masuk ke kelas digital. Keadaan ini dapat menghambat pencapaian tujuan pembelajaran. 

Guru membuat sebuah buku tipis kantong informasi  (Bukti Kasi) untuk masuk ke dalam kelas digital.  Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kantong merupakan tempat mengumpulkan bawaan. Dapat diartikan pula sebagai tempat mengumpulkan sesuatu. Bukti Kasi ini merupakan sebuah kantong informasi berbentuk buku tipis yang  memudahkan siswa yang memiliki keterbatasan dalam menerapkan langkah-langkah mengikuti kelas digital. Berdasarkan hal tersebut maka diangkatlah gagasan  “Bukti Kasi untuk Siswa Terkasih di Era Digitalisasi”.


Kerangka Pemikiran

Pendidikan inklusif memiliki keisimewaan, dimana anak yang memiliki keterbatasan belajar bersama dengan anak normal lainnya.  Artinya dalam pelaksanaannya guru dapat memodifikasi kurikulum, sarana prasarana, proses pembelajaran sedemikian rupa agar ABK dapat mengikuti pembelajaran sebagaimana teman-teman normal lainnya.  Hal ini sesuai dengan amanat Undang-undang Dasar 1945 Pasal 32 ayat 1, bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan. 

Penguasaan teknologi informasi komunikasi pada era sekarang ini sangatlah mutlak.  Siswa dituntut untuk dapat terus membarui pengetahuan dan keterampilanya melalui penerapan dan penggunaan teknologi.  Penerapan kelas digital salah satunya.  Melalui kelas digital siswa diharapkan dapat belajar dan mengakses materi ajar kapan saja dan dimana saja tanpa batas ruang dan waktu.  Untuk masuk kelas digital membutuhkan langkah-langkah agar dapat mengikutinya dengan baik.

Dalam kelas inklusif kemampuan siswa sangat beragam.  Siswa normal mungkin dapat dengan mudah mengikuti langkah-langkah petunjuk masuk ke dalam kelas digital.  Akan tetapi tidak halnya dengan ABK, yang memiliki keterbatasan dalam mengikuti kelas digital.  Media pembelajaran dapat membantu mengatasi masalah tersebut.  Media pembelajaran berupa Bukti Kasi (buku tipis kantong informasi) dapat memandu siswa yang memiliki keterbatasan untuk masuk ke kelas digital.  Bukti Kasi ini full color, praktis, simpel, menarik dan mudah dibawa.

 

Pembelajaran di Era Digitalisasi

Literasi digital merupakan salah satu bentuk literasi yang harus dikuasai siswa pada era saat ini.  Respon terbuka terhadap kemajuan teknologi harus ditumbuhkan. Siswa  mau tidak mau suka tidak suka harus terbuka dan membuka diri terhadap perubahan ini.  Manakala siswa dan guru menutup diri terhadap perubahan maka dapat dipastikan guru dan siswa akan ketinggalan dan bahkan ditinggalkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan serta teknologi.

Persaingan ketat dunia kerja sudah menanti, tidak terkecuali siswa yang memiliki keterbatasan dan berkebutuhan khusus (ABK).  Proses pembelajaran menentukan bagaimana kelak siswa dapat bersaing di dunia kerja dan bahkan jika mungkin menciptakan lapangan kerja baru.  Kita tidak dapat menghindari tuntutan digitalisasi.  Penggunaan internet merambah setiap bidang pekerjaan.  Penggunaan peralatan yang dulu manual sudah berubah menjadi digital.  Oleh karena itu pendidikan inklusif harus dapat beradaptasi dan memodifikasi pembelajaran berbasis TIK (Teknologi Informasi Komunikasi).

Kelas digital merupakan salah satu penerapan pembelajaran berbasis teknologi informasi di era digtalisasi sekarang ini.  Dalam kelas digital siswa diajarkan memanfaatkan teknologi informasi agar nantinya dapat beradaptasi dengan kemajuan teknologi. Kelas digital yang berisi berbagai konten pembelajaran memudahkan siswa untuk belajar mengakses berbagai materi ajar dari guru.

Pemanfaatan kelas digital untuk pembelajaran memotivasi siswa untuk terus belajar dalam menggunakan berbagai aplikasi. Suatu contoh, untuk mengerjakan tugas dari guru di kelas digital, guru meminta kepada siswa untuk membuat tugas dalam bentuk video pembelajaran  yang dibuat oleh siswa.  Dalam pembuatan video pembelajaran siswa dapat menggunakan power point, download, editing video dan sebagainya.  Hal ini memungkinkan tumbuhnya rasa ingin tahu siswa akan sesuatu yang baru.  Ini juga termasuk salah satu program pemerintah yaitu literasi digital.   Untuk itu ketika siswa memiliki keterbatasan dalam memahami langkah-langkah masuk kelas digital, maka guru dapat membuat media pembelajaran yang dapat membantu siswa mengakses kelas digital.

 

Langkah-langkah Masuk Kelas Digital dengan Menggunakan Bukti Kasi  (Buku Tipis Kantong Informasi)

Di era digitalisasi ini membarui pengetahuan dan keterampilan adalah suatu keniscayaan.  Guru dan siswa harus pula terus belajar mengikuti pola perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK).  Tidak terkecuali siswa berkebutuhan khusus.  Agar dapat terus seiring dengan siswa lainnya maka siswa berkebutuhan khusus dalam hal ini yang memiliki keterbatasan motorik, belajar bersama siswa normal lainnya. 

Kelas digital adalah salah satu  solusi untuk menjawab tantangan di era digitalisasi.  Tantangan yang harus disikapi dengan kerja keras dan berbagai kreasi. Demikian juga pembelajaran yang menggunakan kelas digital.  Untuk masuk kelas digital memerlukan langkah-langkah sebagai berikut:

Sebelum masuk ke kelas digital, siswa terlebih dahulu membuat akun di Rumah Belajar.  Akun ini dapat digunakan untuk masuk ke kelas digital dan download aplikasi Rumah Belajar. Adapun langkah-langkah masuk ke kelas digital adalah:

1)  Klik: Coba sekarang pada kelas digital

2) Setelah terbuka tampilan kelas digital atau kelas maya, kilik: login

3)  Masukkan username dan password

4)  Klik: nama modul

5)  Klik: video dan simak

6)  Kerjakan tugas : Buat tugas di Ms.Word

7) Telusuri (cari file kemudian unggah tugas (up load file))

8) Setelah itu klik: forum diskusi

9) Jawab pertanyaan yang ada di forum diskusi di kotak yang sudah disiapkan

10) Klik: kegiatan belajar

11) Klik: ambil kuis online

12) Jawab pertanyaan pada kuis

13) Setelah itu klik: ambil ujian online

14) Klik: pengaturan dan centang pilihan paling atas

15) Jawab pertanyaan pada ujian online

16) Klik: detail untuk mengetahui nilai-nilai hasil tugas, forum diskusi, kuis dan ujian akhir

 

Langkah-langkah tersebut di atas dibuat dalam bentuk kantong informasi dan dibuat seperti buku.  Hal ini untuk memudahkan siswa yang memiliki keterbatasan dalam mengikuti pembelajaran kelas digital.  Ini sesuai dengan penelitian yang pernah dilakukan oleh Rahayu (2017) yang menyatakan bahwa media kantong  bilangan dapat mempermudah siswa dalam memahami nilai tempat suatu bilangan, dan selama proses pembelajaran siswa dapat mengikuti pembelajaran dengan baik.

Kelebihan dari media berbentuk kantong adalah dapat dibuka kembali ketika siswa lupa atau terlambat dari teman-temannya dalam mengikuti langkah-langkah masuk ke kelas digital.  Bagi siswa yang memiliki keterbatasan motorik, buku tipis kantong informasi ini cukup membantu dan sangat bermanfaat. 

Di halaman youtube tersedia juga  tutorial masuk kelas digital.  Tetapi tampilan video tutorial terkadang menyulitkan siswa yang memiliki keterbatasan motorik untuk mengulang ketika lupa atau tertinggal dari teman-temannya. Untuk menerapkan masuk kelas digital melalui video tutorial juga membutuhkan waktu yang agak lama. Siswa berkebutuhan khusus terkadang kesulitan untuk kembali ke awal.

Berbeda dengan video turorial, kelebihan Bukti Kasi (buku tipis kantong informasi) adalah:

1) Full color

Kantong informasi dibuat dengan perpaduan warna-warna  kontras. Tujuannya agar siswa tidak bosan dalam belajar masuk kelas digital. Warna berpengaruh terhadap daya tangkap siswa terhadap suatu materi. Sebuah penelitian yang dillakukan Sujarwo dan Oktaviana (2017) membuktikan bahwa penyajian materi dengan menggunakan warna, dapat menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan kemampuan kognitif dan hasil belajar siswa.

2) Simpel (mudah dimengerti dan tidak berbelit-belit)

Bukti Kasi ini dirancang dengan menampilkan perintah-perintah singkat yang mudah dipahami.  Sehingga memudahkan siswa yang memiliki keterbatasan motorik untuk mengingat dan mengikuti tahap-tahap masuk kelas digital.  Juga menampilkan hasil tangkapan layar setiap langkah-langkah dalam kelas digital.

3)  Terstruktur

Bukti Kasi disajikan dalam bentuk terstruktur, artinya langkah-langkah masuk kelas digital menggunakan pola berurutan.  Sehingga siswa dapat bekerja dengan mengurutkan tahap demi tahap masuk ke kelas digital.

4)  Efisien

Dibandingkan dengan video tutorial, Bukti Kasi  lebih efisien dan menghemat waktu.  Ketika siswa ABK bekerja pada halaman kerjanya dan terlambat mengikuti instruksi dari guru, dapat dengan mudah membuka Bukti Kasi  dan  melihat langkah apa yang belum dilakukan.  Sedangkan pada video tutorial, siswa berkebutuhan khusus mengalami kesulitan jika kembali lagi ke  halaman yang terlewati. 

5)  Efektif

Bukti Kasi memudahkan pemahaman dalam menerapkan langkah-langkah suatu kegiatan. Perintah-perintah yang simpel, menjadikannya mudah diingat. Penggunaan warna yang kontras menarik perhatian siswa.  Sehingga  akan menumbuhkan rasa ingin tahu.  Adanya rasa ingin tahu akan merangsang siswa untuk membacanya.

6)  Bentuk proporsional

Bentuk bujur sangkar dari Bukti Kasi menambah indah tampilan kantong informasi.  Tujuan pemilihan bentuk ini adalah agar mudah dalam membuka dan membolak-baliknya.  Bentuk proporsional menguntungkan siswa berkebutuhan khusus, karena mudah memegangnya.

Bukti Kasi membantu siswa berkebutuhan khusus dalam memahami langkah-langkah masuk ke dalam kelas digital.  Hambatan tertinggal dengan teman normal lainnya dapat diatasi.  Bukti Kasi dapat menumbuhkan rasa percaya diri siswa berkebutuhan khusus, yang merupakan motivasi untuk terus melangkah sejajar dengan teman-teman lainnya.

Pustaka:

Sujarwo, S. dan Oktaviana, R.  2017.  Pengaruh Warna Terhadap Short Term Memory pada Siswa Kelas VIII SMPN 37 Palembang.  Jurnal Psikologi Islami. 3 (1).



Link vlog terkait "Bukti Kasi":  https://youtu.be/j4uVEDIgKZw


Tidak ada komentar:

Posting Komentar