Senin, 19 Oktober 2020

Berbagi dengan Tautan Hati

 Oleh: Marchilia Damayanti

Udara pagi itu begitu cerah.  Kami berenam berangkat dari rumah menggunakan dua mobil. Perjalanan yang akan kami tempuh sejauh kurang lebih 60 km.  Biasayan waktu tempuh kurang lebih satu jam tiga puluh menit.  Sehingga kami sudah bersiap dengan perbekalan logistik untuk di perjalanan.  Sosialisasi kali ini  diikuti oleh enam sekolah di Kecamatan Banawa Selatan, diantaranya SMP Negeri 1 Banawa Selatan (Bansel), SMP Negeri 2 SATAP Bansel, SMP Negeri SATAP 6 Bansel, SMP Negeri SATAP 7 Bansel, SMP Negeri SATAP 9 Bansel, dan SMP Negeri 2 Sarjo Sulbar.  Lima sekolah berada di wilayah Kabupaten Donggala Sulawesi Tengah dan satu sekolah berasal dari Sulawesi Barat yang berbatasan langsung dengan Kabupatan Donggala.

 


Keseruan kami dimulai dari keberangkatan yang memang satu misi yaitu ikhlas berbagi tanpa tendensi. Banyaknya sekolah yang menunggu, membuat kami seolah tak sabar untuk segera berbagi.  Alam begitu ramah pada kami, cuaca yang cerah menyajikan pemandangan begtiu memesona. Alam menyuguhkan pemandangan nan elok rupawan. Sehingga selama perjalanan bisa menikmati lukisan yang Maha Besar Allah SWT.  Sebelah kanan gunung dengan hijauanya pepohonan dan sebelah kiri membentang birunya lautan yang begitu luas. Nikmat mana lagi yang kamu dustakan, Subhanallah MashaAllah. 

 
 

 
 

Indahnya pemandangan seakan membius kami selama perjalanan.  Tanpa terasa sudah sampai tujuan.  Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Banawa Selatan begitu luas.  Pada bagian belakang kantor menghijau rerumputan berbaris seolah menyambut kedatangan kami.  Meski terletak di pinggir pantai, tanaman-tanaman terlihat subur mengisi ruang-ruang kosong.  Setelah beristirahat sejenak di kantor yang terletak pada bagian depan sekolah, kami diantar ke belakang lokasi sosialisasi.  Kali ini laboratorium komputer sebagai tempat sosialisasi. Namun  laboratorium komputer tidak mampu menampung jumlah peserta yang cukup banyak.  Sehingga kami memutuskan membagi dua ruangan untuk berbagi.   


 

 

Panitia pelaksanaan sekolah mempersilakan kepada kami  memulai acara.  Seperti biasanya yang pertama kami lakukan adalah mengenalkan Portal Rumah Belajar.  Kami mempersilahkan guru-guru untuk membuka gawainya masing-masing.  Selanjutnya pemaparan konten-konten pada fitur Rumah Belajar.  Pertama, kami perkenalkan konten Sumber Belajar, kemudian konten-konten lainnya, seperti Kelas Maya, Laboratorium Maya, Bank Soal, Edugame, dan Wahana Jelajah Angkasa.  Mereka sangat tertarik dengan fitur-fitur Rumah Belajar, terlihat dari pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan.  


 


Para guru tertarik juga dengan video pembelajaran seperti yang ada pada Sumber Belajar.  Sehingga kami mengatakan akan membantu para guru membuat video pembelajaran seperti itu.  Persiapan pembuatan video dimulai,  proses shooting dilakukan sebelum  istirahat dan makan siang. Hal ini mempertimbangkan efisiensi waktu, melihat cuaca mulai mendung  dan gelap.  Sesuai dengan perkiraan kami, hujan lebat mengguyur wilayah Banawa.  Kami tetap melanjutkan proses editing, untuk pengambilan gambar atau shooting kami hentikan, karena suara hujan akan mengganggu kualitas video yang akan dihasilkan. 

 

 

 
 
 
 
 
 

Waktu sudah menunjukkan pukul 15.30 Wita, hujan belum juga reda, malah semakin deras.  Saatnya berpamitan pulang dengan guru-guru luar biasa dari Banawa Selatan.  Air di halaman sekolah sudah mencapai lutut.  Beberapa guru mengatakan bahwa tidak pernah hujan sedemikian deras hingga mengakibatkan banjir.  Tetapi apapun keadannya kami harus pulang karena keluarga sudah menunggu di rumah. 


Awal perjalanan pulang pukul 16.00 Wita, masih dengan guyuran hujan sangat deras. Air seperti dicurahkan dari atas mobil, namun guyuran ini tidak menyurutkan kami untuk menghentikan perjalanan.  Sampailah kami di sebuah jembatan, terlihat air berwarna coklat bercampur lumpur dengan aliran cukup besar sudah melebihi tinggi jembatan.  Was-was, itulah yang kami rasakan, apalagi semenjak meninggalkan lokasi sosialisasi sinyal internet sudah hilang. 

 


Beberapa meter setelah melewati jembatan, kami dihentikan oleh petugas patroli jalan dari dinas perhubungan.  Petugas berpakaian dinas basah kuyup menghentikan setiap kendaraan yang lewat dan menginformasikan, di depan ada beberapa titik tanah longsor akibat hujan yang cukup deras.  Pikiran mulai kalut tetapi kami tetap berusaha tenang dan memohon perlindungan serta pertolongan Allah SWT.  Kami pun terdiam dan  larut dengan pikiran masing-masing. Datang seseorang mengetuk kaca pintu mobil, seorang bapak warga desa Panaá memberi tahu kami, lebih baik putar balik arah mobil, sebelum jembatan yang kami lalui tadi putus, akibat diterjang banjir.  Dengan berbagai pertimbangan akhirnya mobil balik  arah.  Bismillahhirohmannirohim, gumam kami dari dalam mobil ketika mobil berada di atas jembatan.  Alhamdulillah mobil berhasil melewati jembatan.  

 


Pertimbangan yang kami ambil sehingga memutuskan berbalik arah adalah, jika di depan banjir dan longsor maka kami tidak bisa kemana-mana hanya terdiam di tempat itu.  Tetapi jika kami berbalik arah, maka masih ada kemungkinan bisa ke Palu melalui jalan poros ke Makassar dengan menempuh jalur Poso yang cukup jauh yaitu satu hari satu malam.  Oiya, jalan yang kami lalui ini adalah jalan satu-satunya Palu-Mamuju menuju ke Sulawesi Selatan, tidak ada jalan alternatif lain.

 

Setelah berhasil lolos dari tanah longsor dan jembatan yang retak, kami berhenti menunggu sampai ada kemungkinan bisa meneruskan perjalanan.  Sementara itu sinyal handphone belum juga menampakkan keajaibannya. Di dalam mobil kami terdiam, semua tenggelam ke dalam pikirannya masing-masing.  Sempat terpikirkan, kegelisahan keluarga di rumah menunggu kami yang tidak ada kabar beritanya.  Lama kami terdiam sambil memikirkan alternatif-alternatif dengan berbagai kemungkinan. 

 

Beberapa kali berusaha menyentuh handphone menekan nomor-nomor yang bisa dihubungi, siapa tahu bisa, berulang dan berulang kami melakukannya dengan harapan ada suara dari seberang sana. Dan....terima kasih Ya Allah, Alhamdulillah, kami mengucapkan syukur yang tiada terkira, rupanya Allah menyayangi kami. Beberapa saat kemudian ada sinyal, kami berhasil menghubungi keluarga yang ada di Palu.  Aaahhhh, lega rasanya, inilah sebuah nikmat yang luar biasa di kala dalam kesempitan Allah memberi pertolongan yang tidak terduga.  Kami bisa tenang dan tersenyum kembali setelah menelpon anak dan suami.

 

 

Sore mulai merambah malam, hari pun mulai gelap. Hujan sudah berhenti, terlihat masyarakat sekitar jalur longsor dengan alat seadanya, bergotong royong menyingkirkan batu, tanah, dan pohon yang tumbang di badan jalan.  Gotong-royong ini adalah inisiatif warga sendiri guna membantu pengguna jalan agar bisa melanjutkan perjalanan.  Air dari atas lereng bukit juga semakin berkurang sehingga tidak ada lagi yang mengalir di atas jembatan.  Alhamdulillah, berkat kerja sama masyarakat sekitar berhasil membuka jalur kembali dan kami bisa melanjutkan perjalanan.

 

Ternyata perjuangan menembus batas kami belum berakhir. Perjalanan berlanjut, hingga sampai pada suatu desa, banjir menghadang kami.  Ya Allah, banjir hampir menyentuh badan mobil yang kami tumpangi.  Rupanya aliran air berasal dari laut di sebelah kiri jalan, alirannya lumayan deras.  Astaghfirullah, Allahhuakbar, Lahaulawalakuwwata Illabillah, lantunan zikir terus kami ucapkan.  Seisi mobil terdiam, berzikir dan memohon perlindungan dari Allah SWT, jangan sampai air bertambah besar.  Sebab kita tidak tahu rahasia alam yang akan terjadi.  Hanya Allah satu-satunya yang memiliki kuasa untuk menghentikan banjir ini. 

 

Banjir memaksa kami berhenti, degup jantung semakin kencang ketika melihat keluar jendela kaca mobil.  Mata terus memandang aliran air, sambil mengajak berbicara dengan alam agar segera surut.  Orang mengatakan, alam pun memiliki “nyawa” dan mampu menangkap apa yang kita ucapkan.  Setelah beberapa jam, akhirnya sudah mulai terlihat lagi ujung rerumputan yang tadi tenggelam oleh air.  Ya Allah terima kasih banyak atas perlindungan-Mu.  Sedikit-demi sedikit batang rumput pun mulai terlihat jelas.  Subhanallah, Alhamdulillah,MashaaAllah, Laillahaillah.  Jantung mulai menurun  ritmenya, lega telah lepas dari musibah.  Terharu... terima kasih Ya Allah. Benar, dimana, kemana, dan kapan pun kita harus menautkan hati kita kepada Allah SWT.   Seiring surutnya air, sambil menitikkan air mata, kami pun melanjutkan perjalanan dan berdo”a agar perjalanan lancar sampai di rumah.

 

Alhamdulillah kurang lebih pukul 21.30 sampai di rumah dengan selamat.  Terima kasih Ya Allah, atas perlindungan-Mu kami bisa melaksanakan giat berbagi dengan baik.  Semoga ilmu yang belum seberapa ini dapat bermanfaat bagi guru-guru di sekolah yang jauh dari pusat ibu kota.  Salam sehat untuk teman-teman seperjuangan: Ibu Fatmasariati, S.E. (Duta Rumah Belajar Sulawesi Tengah Tahun 2017) yang sudah berkenan mendampingi giat berbagi kami SRB Sulteng Tahun 2020: Marchilia Damayanti, Putrianti, Atina Liestyawati, Elis N. Hasibuan, dan Yandu Ardiansyah. Sebuah perjalanan yang sangat berkesan dan tidak akan terlupakan semoga membawa kita untuk selalu menautkan hati kita kepada Allah SWT.  Aamiin


Dokumentasi berbagi dapat dilihat pada vlog berikut ini:

 https://youtu.be/90UdfjY8G1s

Daftar hadir:





Flayer:

Sosmed fb:







 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar