(By:Marchilia Damayanti si guru "Beta")
Generasi milenial, orang menyebutnya demikian. Disebut juga generasi digital. Lahir di era yang begitu mudahnya mengakses informasi digital. Tetapi banyak orang mengeluhkan tentang karakter generasi ini. Pada kenyataannya tidak semua memiliki sikap demikian. Ada beberapa dari mereka yang masih memiliki karakter Pancasila, diantaranya: bertakwa kepada Allah SWT, toleransi, berperikemanusiaan, menjaga persatuan, bekerja sama, dan lain sebagainya. Tidak dapat dipungkiri pula, ada beberapa dari generasi kita yang memiliki sikap kurang peduli terhadap keadaan sekitarnya, kasar dan cepat marah. Ketika bertemu tetangga tidak menyapa, ada tetangga terkena musibah tidak cepat membantu malah asyik dengan gawainya.
Terkadang ada kecelakaan bukannya menolong tetapi sibuk mengambil gambar alias merekam video kejadian tersebut. Sikap lainnya adalah cepat marah dan tersinggung. Seperti kejadian di sebuah desa, hanya gara-gara beradu pandang seisi desa mengungsi karena terjadi perkelahian antar kampung. Rumah penduduk yang tidak bersalah dibakar, menghalangi masyarakat dari desa sebelah memasuki desanya, dan membabi buta merusak tanaman produktif warga. Sungguh miris menyaksikan kejadian itu. Ada apa dengan mereka? Setiap individu memiliki potensi karakter baik dan buruk. Karakter baik dapat tumbuh dengan baik ketika keluarga sebagai sekolah pertama bagi seorang individu dikondisikan dengan sadar membentuk karakter baik anggota keluarganya. Sebaliknya karakter buruk akan muncul dan dominan ketika keluarga tidak peduli dengan perkembangan anggota keluarganya.
Masyarakat sebagai lingkungan kedua setelah keluarga berperan pula dalam pembentukan karakter individu. Individu yang lahir di keluarga yang peduli akan melahirkan sosok kuat di masyarakat. Artinya ketika seseorang berada pada kondisi harus memilih perilaku baik dan buruk maka dengan tegas ia akan menolak ajakan berbuat buruk. Tidak demikian halnya dengan yang besar di keluarga yang minus perhatian akan melahirkan generasi yang lemah. Lemah tidak mampu menolak ajakan berbuat buruk. Karakter baik dan buruk merupakan suatu pilihan. Sikap tidak peduli dengan sekitar akan merusak generasi kita. Sikap ini dapat merusak sendi-sendi kebersamaan dalam masyarakat. Ketika sudah tidak ada lagi kebersamaan dalam suatu lingkungan maka lambat laun akan merusak persatuan dan kesatuan bangsa.
Hilangnya kebersamaan akan menumbuhkan sikap individualistis. Selanjutnya sikap ini akan bermuara kepada sikap yang mementingkan diri sendiri dan kelompok. Akibatnya ketika terjadi gesekan sedikit saja sudah memicu amarah. Amarah yang seharusnya tidak terjadi ketika ada dialog yang sejuk tanpa melibatkan emosi negatif. Pentingnya peran keluarga dalam hal ini orang tua untuk menciptakan suasana yang sejuk dan harmonis. Suasana ini akan membuka mata hati segenap anggota keluarga. Anak tidak segan menuangkan dan mengungkapkan curahan hatinya kepada orang tuanya.
Adanya dialog ini akan menjembatani semua persoalan dan menjadikan anak dewasa dalam bersikap. Oleh karena itu keluarga memegang peranan sangat penting dalam pembentukan karakter. Anak akan memiliki karakter yang kuat ketika masuk pada lingkungan yang lebih besar yaitu masyarakat. Karakter kuat membekali anak untuk memilih yang baik dan buruk. Mengikuti yang baik dan menolak yang buruk. Semoga anak-anak kita selalu dalam koridor karakter baik. Aamiiin
Salam guru Beta(=belajar tiada akhir)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar