(By: Marchilia Damayanti si guru "Beta")
Pemandangan di kantor pos tidak seperti biasanya. Setelah saya memarkirkan motor, saya pun melihat ke pintu masuk. Satu per satu orang-orang berdatangan mengambil nomor antrian. Bergegas saya juga menuju ke meja menghampiri keranjang kuning mungil yang berisi kertas-kertas kecil berisi nomor antrian. Dengan sabar petugas melayani satu persatu pelanggan. Diantara antrian saya lihat beberapa orang sudah berusia lanjut. Beliau-beliau ini adalah para pensiunan dan janda-janda pensiunan baik sipil maupun militer. Sambil ngobrol satu sama lain, sesekali saya mendengar gelak tawa mereka. Betapa bahagianya mereka bertemu dan saling berbagi cerita tentang anak, cucu bahkan cicit. Tidak terbersit sedikit pun wajah muram yang terkadang menghiasi kesehariannya. Hilang semua rasa sakit, gundah dan khawatir. Tidak ada gadget di tangan, sehingga percakapan demi percakapan mengalir begitu indahnya. Senyum keceriaan menghiasi wajahnya, disambut pula ekspresi yang sama oleh lawan bicaranya. Sungguh pemandangan indah, yang jarang terjadi pada saat sekarang. ==== Di deretan kursi lain, terlihat beberapa orang sibuk dengan gadgetnya. Seakan berada di tempat yang asing dan tidak mengenal serta tidak mau mengenalkan diri dengan orang-orang sekitarya. Senyum-senyum sendiri. ==== Zaman boleh berubah, teknologi terus mengalami kemajuan. Akan tetapi jangan sampai teknologi membuat kita lupa akan fitrah kita sebagai manusia. Manusia yang mempunyai ketergantungan satu sama lain. Kita tidak tahu 'siapa yang membutuhkan siapa". Bisa jadi orang yang kita ajak ngobrol menjadi penolong bagi kita di suatu waktu. Atau karena sesuatu hal kita dipertemukan Allah dalam kerja sama bisnis atau urusan apapun. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok. Terjalinnya hubungan dan komunikasi yang harmonis dengan orang- orang di sekitar kita adalah indikator kesuksesan seseorang di mata masyarakat. Gadget bukanlah segala-galanya. Ketika kita sudah mulai ketergantungan, ada baiknya melakukan introspeksi diri. Jika tidak bisa menghilangkan sikap sibuk gadget, minimal mengurangi aktivitas mengetuk-ngetuk gadget. Alihkan kepada kegiatan fisik yang produktif. Gunakan gadget sesuai kebutuhan. Bukankah saling bertegur sapa, bercanda, berbagi cerita itu lebih indah daripada hanya menatap benda mati yang tidak membalas senyum pada saat kita tersenyum? Ketika kita memberi salam, tidak membalas jabat salam kita. Bijak menggunakan gadget akan menumbuhkan kembali rasa empati dan simpati yang mulai hilang. Hidup akan lebih produktif dan inspiratif. Salam guru Beta (= belajar tiada akhir)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar