(By.Marchilia Damayanti si guru "Beta")
Peserta pelatihan internal sekolah mulai memasuki ruang sebuah aula. Kegiatan akan segera dimulai. Tetapi tidak semua guru berminat mengikuti kegiatan ini. Ada yang peduli dan ada yang tidak peduli. Kegiatan ini bertujuan untuk menyeragamkan format perangkat pembelajaran di sekolah. Format yang sesuai dengan K13 revisi terbaru. Guru-guru yang peduli terlihat mengeluarkan laptop dan buku catatannya. Mereka mengikuti dengan seksama setiap materi yang diberikan oleh nara sumber. Sedangkan guru yang tidak peduli beralasan 'sibuk". Bahkan ada seorang guru senior ketika disodorkan materi pelatihan membentak dan marah-marah. Sesaat tercengang, tetapi Istighfar adalah jawabannya. Apakah ini yang disebut guru yang memiliki kompetensi kepribadian? Ternyata senioritas dan gelar tidak berbanding lurus dengan kematangan dan kedewasaan bersikap. Padahal seorang guru seharusnya dapat menjaga ucapan serta memberikan contoh sikap santun, dewasa, dan bijaksana. === Merasa diri lebih hebat dari narsum sehingga tidak mau mengikuti kegiatan pelatihan. ==== Ketika seseorang merasa paling pandai dan tidak mau membuka diri terhadap kebaharuan, disitulah kegagalan dimulai. Memandang rendah kemampuan seseorang adalah tindakan membodohi diri sendiri. Ilmu dapat kita peroleh dimana saja dan dari siapa saja. Dari seorang bayi pun kita dapat belajar dan memperoleh ilmu. Ilmu yang kita miliki bagaikan sebutir debu di gurun pasir, yang tidak memiliki kekuatan dan daya ketika ditiup angin. Ilmu yang kita miliki tidak patut kita sombongkan dan tidak selayaknya kita menepuk dada untuk membanggakan diri karenanya. Semoga kita tetap rendah hati dan menghargai setiap pemberian sekecil apapun. Kita tidak tahu sampai kapan kita masih diberi kesempatan oleh Alloh SWT hidup di dunia ini. Semoga kita tetap istiqomah dalam kebaikan, meski tantangan seringkali menghadang dan sesaat menggoyahkan iman. Salam guru Beta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar