HIDUP
TENANG
Oleh:
Marchilia Damayanti
Hidupnya hanya unuk memenuhi
ekspektasi orang lain. Sungguh ironis
hidup seperti itu. Betapa menderita jika
hidup kita berada di bawah bayang-bayang keinginan orang lain. Orang mengatakan kita kaya karena punya
mobil, baju, sepatu, dan tas branded.
Orang mengatakan, hidupnya penuh kemewahan, perabot dalam rumah (meja, kursi,
lemari, tempat tidur) semua terbuat dari kayu jati. Kulkasnya penuh dengan makanan, tersedia
berbagai jenis minuman dan makanan ringan di atas meja. Setiap kali bercerita ia selalu membanggakan
kepemilikan harta, baik rumah maupun
tanah.
Malang tak dapat ditolak untung tak
dapat diraih. Hidup tidak ada yang tahu,
hidup adalah rahasia Allah. Ketika Allah
berkehendak maka apapun yang kita miliki bisa diambil dengan tiba-tiba.
Semua kekayaan yang hanya berupa titipan ini akan kembali
kepada-Nya. Kehidupan yang semula mewah
berbalik arah. Rumah dengan segenap isi yang membuat bangga telah ditelan oleh
tanah. Apa mau dikata hidup harus
berlanjut.
Terkadang mental terlanjur kaya
masih melekat di pikiran dan perasaan.
Meskipun sudah terpuruk tetap “ngotot” paling “ter”. Sehingga memaksakan diri memenuhi ekspektasi
orang lain dengan cara yang kurang terpuji.
Dalam berbicara banyak berdusta, untuk memenuhi penilaian orang sampai-sampai
harus berhutang. Betapa sakit dan
menderita hidup dalam bayang-bayang masa lalu.
Hidup adalah anugerah terbesar yang
Allah karuniakan kepada hamba-Nya.
Sungguh sangat merugi ketika kita hidup di masa lalu dan terlalu berangan
di masa depan. Hidup adalah saat ini
yang harus diperjuangkan dan menerima diri apa adanya. Biarkan orang lain menilai diri kita. Apakah ia
menyukai, membenci, simpati maupun anti.
Kita tidak usah repot-repot menjelaskan hal-hal yang mereka tidak pahami
tentang kita, agar kita lebih bisa menikmati hidup.
#60HMB
#BATCH9
#DAY17
Tidak ada komentar:
Posting Komentar