NENEK “JUTEK”
Oleh: Marchilia Damayanti
“Ma,
kasihan nenek itu jalan sendiri,” kata Caca.
“Iya…ya,
yuk kita lihat membawa apa dia,” ucap Mama sambil nyetir mobil.
“Iya
Ma, yuk kita lihat,” ucapku menimpali.
Aku,
Mama, dan Caca sedang berada dalam mobil menuju ke sekolah Mama. Dalam perjalanan kami melihat seorang nenek
dengan badan sedikit bungkuk berjalan di pinggir jalan sambil menggendong
keranjang dan menenteng toples berisi sesuatu.
Setelah agak dekat dengan posisi si nenek kami melihat ternyata toples
tadi berisi kacang sangrai yang terbungkus plastik. Kami pun berhenti dan turun dari mobil.
“Nek,
berapa harga kacanya?” Tanya Mama.
“Lima
ribu satu bungkus,” jawab si nenek.
“Beli
dua bungkus ya, Nek,” kata Mama.
“Ooooo,
saya kira mau beli sepuluh bungkus,”jawab si nenek dengan sedikit menggerutu.
Mama
melirik ke arahku. Aku dapat merasakan
kekecewaan mama.
“Tidak
usah pakai kantong plastik, Nek,”pinta Mama.
“Iya,
kalau beli sepuluh baru saya kasik kantongan.”
“Duuuuh
si nenek,”batinku.
Kami
pun masuk ke dalam mobil lagi. Di dalam
mobil kami membicarakan kejadian tadi.
“Icha,
gimana pendapatmu tentang nenek tadi?” Tanya Mama kepadaku.
“Neneknya
galak,”ucap Caca.
“Neneknya
kurang bersyukur, Ma,”jawabku.
“Mengapa
begitu Icha?”
“Mama
lihat sendiri kan, tadi waktu kita membeli kacangnya, si nenek nggak tersenyum dan mengucapkan terima
kasih,” ujarku kesal.
Mama
tersenyum melihatku sambil menyetir
mobil. Mama memahami kekesalanku. Mama
sering mengatakan kepadaku jika memberi jangan pernah mengharapkan imbalan
sesuai dengan harapan kita. Ketika
memberi niatkan hati hanya kepada Allah, maka kita akan ikhlas apapun reaksi
dari si penerima. Mama juga menjelaskan
jika kita memberi dan mendapatkan perlakuan kurang menyenangkan maka bersikap
sabar serta menahan amarah adalah lebih baik.
#60HMB
#BATCH9
#DAY26
Tidak ada komentar:
Posting Komentar