Sabtu, 15 Januari 2022

 

JABATAN DINANTI DAN DIBENCI

Oleh: Marchilia Damayanti

 

            Setiap jabatan dalam struktur pemerintahan pasti akan bergulir dan berganti.  Suhu politik yang sedang memanas tentu sangat memengaruhi jabatan seseorang.  Pergantian kepala daerah yang baru mau tidak mau merombak struktur organisasi yang sudah berjalan dengan baik. Politik “balas budi” mulai menjalar dari atas hingga bawah, dari kepala dinas sampai kecamatan bahkan kepala sekolah.  Orang mengatakan politik memang kejam.  Kejam dan abai terhadap perasaan.  Politik tidak memandang bulu siapa dan berasal darimana dia, ketika penguasa mulai bertahta maka saling sikut dan rebut jabatan akan terjadi.

            Bagi yang terlibat jabatan politik praktis harus siap mental menghadapi kejatuhan kedudukan dalam suatu organisasi.  Artinya, siap menghadapi resiko yang menghadang di depan mata.  Ketika memegang jabatan, orang-orang respek dan menghormatinya. Kemana-mana orang memberi salam, setiap kali keluar kantor ada sopir yang siap menemai.  Tiba waktunya harus lengser, orang kurang respek lagi.  Hal ini biasanya akan memunculkan penyakit stress hingga depresi.

            Jabatan merupakan sebuah amanah yang seharusnya dijalankan dengan bijak.  Pada saat memegang jabatan hendaknya dapat menempatkan posisi bahwa jabatan ini hanyalah sementara.  Perlu kiranya menetapkan pada diri bahwa jabatan bukanlah sesuatu yang absolut sehingga tidak menimbulkan sense of belonging berlebihan.  Tujuan menerapkan pemikiran ini adalah dunia kita masih luas bukan hanya sebatas lingkup pekerjaan dalam jabatan saja.  Jadi ketika lengser dari jabatan kita masih bisa memandang jernih lingkup sosial yang lebih luas.  Sebuah lingkungan sosial yang dapat menerima kita apa adanya tanpa embel-embel jabatan. Masih luas lingkup pergaulan yang kita dapatkan di lingkungan sosial.  Dengan demikian  akan terhindar dari post power syndrome dan hidup lebih bahagia.

 

 

#60HMB

#BATCH9

#DAY12

Tidak ada komentar:

Posting Komentar