JABATAN
DINANTI DAN DIBENCI
Oleh:
Marchilia Damayanti
Setiap jabatan dalam struktur
pemerintahan pasti akan bergulir dan berganti.
Suhu politik yang sedang memanas tentu sangat memengaruhi jabatan seseorang. Pergantian kepala daerah yang baru mau tidak
mau merombak struktur organisasi yang sudah berjalan dengan baik. Politik “balas
budi” mulai menjalar dari atas hingga bawah, dari kepala dinas sampai kecamatan
bahkan kepala sekolah. Orang mengatakan
politik memang kejam. Kejam dan abai
terhadap perasaan. Politik tidak
memandang bulu siapa dan berasal darimana dia, ketika penguasa mulai bertahta
maka saling sikut dan rebut jabatan akan terjadi.
Bagi yang terlibat jabatan politik
praktis harus siap mental menghadapi kejatuhan kedudukan dalam suatu
organisasi. Artinya, siap menghadapi
resiko yang menghadang di depan mata.
Ketika memegang jabatan, orang-orang respek dan menghormatinya.
Kemana-mana orang memberi salam, setiap kali keluar kantor ada sopir yang siap
menemai. Tiba waktunya harus lengser,
orang kurang respek lagi. Hal ini
biasanya akan memunculkan penyakit stress hingga depresi.
Jabatan merupakan sebuah amanah yang
seharusnya dijalankan dengan bijak. Pada
saat memegang jabatan hendaknya dapat menempatkan posisi bahwa jabatan ini
hanyalah sementara. Perlu kiranya
menetapkan pada diri bahwa jabatan bukanlah sesuatu yang absolut sehingga tidak
menimbulkan sense of belonging berlebihan. Tujuan menerapkan pemikiran ini adalah dunia
kita masih luas bukan hanya sebatas lingkup pekerjaan dalam jabatan saja. Jadi ketika lengser dari jabatan kita masih
bisa memandang jernih lingkup sosial yang lebih luas. Sebuah lingkungan sosial yang dapat menerima
kita apa adanya tanpa embel-embel jabatan. Masih luas lingkup pergaulan yang
kita dapatkan di lingkungan sosial. Dengan
demikian akan terhindar dari post power syndrome dan hidup lebih
bahagia.
#60HMB
#BATCH9
#DAY12
Tidak ada komentar:
Posting Komentar