CIK HWA
Oleh: Marchilia Damayanti
Pagi
setelah shalat subuh terlihat Cik Hwa melintas di depan rumah. Aku sedang duduk di teras menunggu giliran mandi. Maklum kamar mandi di
rumah hanya satu dan harus antri.
Kusapa
Cik Hwa,”Pagi Cik Hwa.” Cik Hwa
tersenyum dan berhenti sejenak.
“Mau
kemana Cik?” Tanyaku.
“Biasa
disuruh mama beli sabun di Cak Ran,” jawabnya sambil berlalu.
Cak
Ran adalah pemilik toko kelontongan terlengkap di desaku. Aku dan Cik Hwa bertetangga
gang. Rumahnya berada di depan jalan
besar sedangkan rumahku agak ke dalam. Kala
itu listrik belum masuk ke desaku,
televisi saja masih hitam putih dengan bahan bakar aki. Ketika
aki di rumah habis setrumnya kami ramai-ramai menonton di rumah Cik Hwa. Papa Cik Hwa pemilik bengkel mobil terbesar di desaku. Kami menonton di halaman depan rumahnya yang
penuh dengan alat perbengkelan.
Mama
dan Papa Cik Hwa sangatlah baik, mereka berjiwa sosial dengan masyarakat
desa. Cik Hwa anak perempuan
satu-satunya dari lima bersaudara. Ia
sangat rajin dan patuh kepada mamanya.
Dalam satu hari Cik Hwa bisa bolak-balik ke tokonya Cak Ran untuk
membeli sesuatu dengan berjalan kaki.
Suatu
hari ibu menyuruhku ke rumah Cik Hwa meminta belimbing sayur. Bukannya aku tidak mau, bagiku ini pekerjaan
yang berat. Di rumah Cik Hwa ada dua
ekor anjing penjaga rumah. Belum lagi di dalam rumahnya masih ada anjing kecil-kecil.
“Meti
cepat pergi,” teriak ibu dari dalam rumah.
“Iya
Mak,” jawabku.
Aku
pun bergegas menuju rumah Cik Hwa.
Kulihat dari kejauhan tidak ada seorang pun di sana. Semakin dekat aku semakin gemetaran. Betul saja ketika aku sampai di rumah Cik Hwa,
kedua anjing itu menyambutku dengan
gonggongan. Tanpa pikir panjang aku
berjongkok dan memanggil Cik Hwa.
#60HMB
#BATCH9
#DAY21
Tidak ada komentar:
Posting Komentar