Senin, 24 Januari 2022

CIK HWA 

Oleh: Marchilia Damayanti

 

            Pagi setelah shalat subuh terlihat Cik Hwa melintas di depan rumah.  Aku sedang duduk di teras  menunggu giliran mandi. Maklum kamar mandi di rumah hanya satu dan harus antri.

            Kusapa Cik Hwa,”Pagi Cik Hwa.”  Cik Hwa tersenyum dan berhenti sejenak.

            “Mau kemana Cik?” Tanyaku.

            “Biasa disuruh mama beli sabun di Cak Ran,” jawabnya sambil berlalu.

            Cak Ran adalah pemilik toko kelontongan terlengkap di desaku. Aku dan Cik Hwa bertetangga gang.  Rumahnya berada di depan jalan besar sedangkan rumahku agak ke dalam.  Kala itu  listrik belum masuk ke desaku, televisi saja masih hitam putih dengan bahan bakar aki.   Ketika aki di rumah habis setrumnya kami ramai-ramai menonton di rumah Cik Hwa.  Papa Cik Hwa pemilik bengkel mobil  terbesar di desaku.  Kami menonton di halaman depan rumahnya yang penuh dengan alat perbengkelan.

            Mama dan Papa Cik Hwa sangatlah baik, mereka berjiwa sosial dengan masyarakat desa.  Cik Hwa anak perempuan satu-satunya dari lima bersaudara.  Ia sangat rajin dan patuh kepada mamanya.  Dalam satu hari Cik Hwa bisa bolak-balik ke tokonya Cak Ran untuk membeli sesuatu dengan berjalan kaki. 

            Suatu hari ibu menyuruhku ke rumah Cik Hwa meminta  belimbing sayur.  Bukannya aku tidak mau, bagiku ini pekerjaan yang berat.  Di rumah Cik Hwa ada dua ekor anjing penjaga rumah.   Belum lagi di dalam rumahnya masih ada  anjing kecil-kecil.

            “Meti cepat pergi,” teriak ibu dari dalam rumah.

            “Iya Mak,” jawabku.

            Aku pun bergegas menuju rumah Cik Hwa.  Kulihat dari kejauhan tidak ada seorang pun di sana.  Semakin dekat aku semakin gemetaran.  Betul saja ketika aku sampai di rumah Cik Hwa, kedua anjing itu  menyambutku dengan gonggongan.  Tanpa pikir panjang aku berjongkok dan memanggil Cik Hwa.

 

 

#60HMB

#BATCH9

#DAY21 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar