PENERIMAAN
DAN PENEGASAN DIRI
Oleh: Marchilia Damayanti
Berani menerima diri apa
adanya. Berani mengakui kelemahan dan
menjadi diri sendiri. Ketika berani mengakui kekurangan harus berani pula
memotivasi diri untuk mengejar kelemahan menjadi kelebihan. Pencapain dari “kurang” ke “lebih”
membutuhkan sebuah proses yang menguras waktu dan tenaga. Semisal, seorang atlet lari, ketika melakukan
uji coba di lapangan, catatan waktu yang ia peroleh belum mencapai target yang
ia inginkan. Ia terlebih dahulu harus
menyadari bahwa itulah kemampuannya kali ini.
Namun di balik itu ia harus
berusaha dengan terus berlatih guna menambah kecepatannya dalam berlari
sehingga dapat memenuhi target yang ditentukan.
Berbeda dengan penerimaan diri
seperti penjelasan diatas, penegasan diri merupakan sikap ingin menegaskan “inilah
saya”, “saya bisa” dan “saya mampu”. Suatu sikap yang cenderung menonjolkan ke”aku”annya,
seolah ia mampu melakukan apa yang ia inginkan.
Sikap yang lebih condong kepada pemaksaan diri. Misalnya, pernyataan “saya
kuat” dan “saya bisa”. Pernyataan ini
dapat menimbulkan sifat kesombongan,
memandang orang lain lebih rendah. Padahal
dalam kenyataan, ia hanya ingin menutupi kekurangannya dengan cara membohongi
diri sendiri.
Penerimaan diri dan penegasan diri memiliki kandungan
makna yang sangat berbeda. Penerimaan diri
membuat kita lebih banyak intropeksi dan memperkuat diri dengan terus belajar
memperbaiki kekurangan dan kelemahan diri.
Sebaliknya penegasan diri menjadikan diri terus berdusta dengan menutupi
kekurangan dan kelemahan kita. Terus belajar memperbaiki diri adalah lebih baik
daripada sekedar membanggakan diri yang akan membawa kita kepada sikap semu dan
menjerumuskan.
#60HMB
#BATCH9
#DAY13
Tidak ada komentar:
Posting Komentar