Minggu, 16 Januari 2022

 

PENERIMAAN DAN PENEGASAN DIRI

Oleh: Marchilia Damayanti

            Berani menerima diri apa adanya.  Berani mengakui kelemahan dan menjadi diri sendiri. Ketika berani  mengakui kekurangan harus berani pula memotivasi diri untuk mengejar kelemahan menjadi kelebihan.  Pencapain dari “kurang” ke “lebih” membutuhkan sebuah proses yang menguras waktu dan tenaga.  Semisal, seorang atlet lari, ketika melakukan uji coba di lapangan, catatan waktu yang ia peroleh belum mencapai target yang ia inginkan.  Ia terlebih dahulu harus menyadari bahwa itulah kemampuannya kali ini.  Namun di balik  itu ia harus berusaha dengan terus berlatih guna menambah kecepatannya dalam berlari sehingga dapat memenuhi target yang ditentukan.

            Berbeda dengan penerimaan diri seperti penjelasan diatas, penegasan diri merupakan sikap ingin menegaskan “inilah saya”, “saya bisa” dan “saya mampu”. Suatu sikap yang cenderung menonjolkan ke”aku”annya, seolah ia mampu melakukan apa yang ia inginkan.  Sikap yang lebih condong kepada pemaksaan diri. Misalnya, pernyataan “saya kuat” dan “saya bisa”.  Pernyataan ini dapat  menimbulkan sifat kesombongan, memandang orang lain lebih rendah.  Padahal dalam kenyataan, ia hanya ingin menutupi kekurangannya dengan cara membohongi diri sendiri.

            Penerimaan  diri dan penegasan diri memiliki kandungan makna yang sangat berbeda.  Penerimaan diri membuat kita lebih banyak intropeksi dan memperkuat diri dengan terus belajar memperbaiki kekurangan dan kelemahan diri.  Sebaliknya penegasan diri menjadikan diri terus berdusta dengan menutupi kekurangan dan kelemahan kita. Terus belajar memperbaiki diri adalah lebih baik daripada sekedar membanggakan diri yang akan membawa kita kepada sikap semu dan menjerumuskan.

 

#60HMB

#BATCH9

#DAY13

Tidak ada komentar:

Posting Komentar