Minggu, 30 Januari 2022

 

ODI

Oleh: Marchilia Damayanti 

             Tiba-tiba Odi menghampiriku dan berkata’”Tolong aku dulu.”

            Aku yang sedari tadi hanya terdiam pun menjadi penasaran, ada apa dengan Odi?

            “Emangnya ada apa Odi?” Tanyaku.

            “Tolong aku, ibuku sakit dan mau dibawa ke puskesmas tetapi aku tidak punya  uang untuk naik angkot,’ katanya lirih.

            “Hah, sakit apa?”Tanyaku kaget.

            “Tadi malam badannya panas sampai pagi ini belum juga turun.”

            Sementara  Odi menunggu di teras rumah.  Tanpa pikir panjang aku  bergegas masuk ke dalam rumah dan membuka celenganku. Kemudian kuserahkan uang dua puluh ribu kepada Odi.

            “Uangku hanya ada ini, Odi,” kataku.

            “Iya, tidak apa-apa,” jawab Odi.

            Odi pun pamit setelah mengucapkan terima kasih. Odi dan aku bersahabat dari kecil.  Dimana ada dia disitu ada aku.  Tidak pernah sekalipun kami berpisah.  Bapak Odi sudah lama meninggal dunia sekitar empat tahun yang lalu.  Ibu Odi hanya seorang buruh tani yang ketika ada pekerjaan di sawah saja ia bekerja.  Sementara untuk menyambung hidup jika tidak bekerja di sawah, ia menjadi buruh cuci pakaian.  Meskipun hidup sangat sederhana Odi sangatlah jujur.  Terkadang ada orang menyuruh dia membersihkan halaman rumah dan mencabut rumput pengganggu  di ladang.

            Suatu hari ada pengumuman lomba cerdas cermat tingkat sekolah dasar di sekolah kami.  Aku menyuruh Odi untuk mengikuti lomba itu.  Oiya, Odi termasuk siswa yang cerdas di kelasku.  Seringkali ia menjadi juara dalam beberapa perlombaan di kecamatan. 

            “Odi ada lomba tuh, ikut saja, ini kesempatan lho,” kataku.

            “Tapi….” Jawabnya ragu.

            “Tapi kenapa Odi, biasanya kamu semangat kalau ada lomba.”

            “Ibuku masih sakit,” jawabnya sedih.

            Akupun ikut merasakan kesedihan yang dirasakan Odi. Aku tahu yang ada dalam pikiran Odi.  Sebenarnya ia ingin mengikuti lomba tapi harus merawat ibunya yang sedang sakit. 

            “Iya…ya, tidak apa-apa kali ini tidak usah ikut lomba.  Kamu rawat ibumu dulu,”     saranku.

            Odi mengiyakan apa yang aku katakan. Odi anak yang sangat berbakti. Meskipun di lubuk hati terdalam ia sangat ingin mengikuti lomba itu. Kali ini harus memendam keinginannya  mengikuti lomba demi kesembuhan sang ibu. 

 

#60HMB

#BATCH9

#DAY27

           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar