AYAH PAHLAWANKU
Oleh: Marchilia Damayanti
Hal
yang sangat aku tunggu-tunggu ketika ayahku pulang dari kantor. Aku dan adik-adikku selalu penasaran oleh-oleh yang dibawa ayah buat kami. Biasanya ayah membawa sejenis makanan ringan dan kue yang belum pernah kami makan. Ayahku bekerja di sebuah BUMN yang berada di
Surabaya. Jarak kantor dengan rumah
adalah dua jam perjalanan jika tidak macet.
Peraturan
di kantor ayah, pukul 07.00 sudah harus apel pagi. Sehingga sebelum pukul 06.00
sudah harus tiba di kantor. Maka ayah
berangkat dari rumah biasanya pukul 03.00 pagi.
Sepagi itu belum ada bis yang melintas di desaku. Sehingga ayah harus menumpang mobil tangki
pengisi minyak tanah yang dikemudikan oleh pak dheku. Pak dheku adalah sopir tangki yang
biasa mengambil stok minyak tanah dari Surabaya untuk dibawa di desa kami. Mobil
ini milik juragan pak dhe.
Malam hari sebelumnya ayah ke rumah pak dhe
untuk menginformasikan bahwa besok pukul 03.00 mau menumpang. Rumah pak dhe
bersebelahan dengan rumahku.
“Cak,
aku numpang ya besok,” kata ayahku.
“Iya,
jam tiga ya?” ujar Pak Dheku.
"Iya," jawab ayahku.
Pagi
pun tiba, setelah mandi dan berganti pakaian ayah berjalan kaki bersama pak dhe
menuju pangkalan tangki. Di sana menunggu kernet yang sudah menyiapkan mobil tangki. Begitulah keseharian ayahku.
Ayah
menceritakan beberapa kejadian lucu kepadaku tentang perjalanannya menuju ke
Surabaya.
Mobil
tangki merupakan mobil barang yang tidak boleh memuat lebih dari dua
penumpang. Nah, jika ayah menumpang maka
jumlahnya menjadi tiga orang, kalau ketahuan polisi maka akan ditilang.
Oleh
karena itu setiap melewati pos polisi ayah harus merundukkan badannya sampai sejajar jok mobil. Suatu ketika karena panik, tanpa pikir
panjang ayah merundukkan badannya hingga kejedot dan benjol kepalanya. Sungguh pengorbanan ayah begitu luar biasa. Ayah
adalah pahlawanku.
#60HMB
#BATCH9
#DAY22
Tidak ada komentar:
Posting Komentar