PURA-PURA
KAYA
Oleh: Marchilia Damayanti
Gaya hidup masa kini beberapa kaum
hawa di Indonesia cukup glamour atau
memaksa disebut glamour. Ramai di media sosial, sekumpulan ibu-ibu
mengenakan warna baju senada denga gaya bak anak muda. Lagi trending
sekarang para kaum hawa mengerik alis lalu melukisnya dengan pensil alis supaya terlihat lebih cantik dan
segar (dalihnya). Bibir merah merona seperti selesai mengunyah sirih
pinang. Makan-makan di kafé yang instagramable supaya dapat bergaya
dengan foto-foto dengan latar belakang I
catching. Tidak ketinggalan tas bermerk supaya terlihat branded. Seolah menegaskan “Ini lho saya
yang mempunyai kehidupan serba branded.”
Setiap indinvidu berhak menikmati
kebebasan sesuai kodratnya sebagai manusia di dunia ini. Itu semua adalah hak asasi mereka untuk menampilkan
apa yang mereka miliki guna eksistensi diri di media sosial. Pemerintah dan
undang-undang pun tidak melarang setiap orang mengunggah aktivitas
tersebut. Bahkan sebagian malah nekad
menunjukkan kekayaan isi rumahnya.
Sebuah fenomena yang melanda Indonesia di media sosial, yaitu
menginginkan eksistensi penyebutan kaya berada. Pura-pura kaya merupakan sebuah
dusta besar dengan memanipulasi penampilan jauh dari kehidupan yang sebenarnya.
Sebuah kehidupan yang melelahkan. Kita
dapat membayangkan setiap bertemu orang topik yang dibicarakan tentang uang,
barang branded, hartanya dimana-mana,
dan aset yang dimiliki. Ia harus menjelaskan kepada semua orang bahwa
ia benar-benar memiliki segalanya. It’s Ok, itu merupakan hak setiap orang untuk
memperoleh eksistensi diri. Tetapi sesungguhnya orang yang benar-benar kaya topik
pembicaraan bukan lagi tentang apa yang mereka miliki namun sudah menjangkau
luas tentang kemanfaatan dirinya bagi orang lain.
#60HMB
#BATCH9
#DAY18
Tidak ada komentar:
Posting Komentar