Jumat, 21 Januari 2022

 

PURA-PURA KAYA

Oleh: Marchilia Damayanti

            Gaya hidup masa kini beberapa kaum hawa di Indonesia cukup glamour atau memaksa disebut glamour.  Ramai di media sosial, sekumpulan ibu-ibu mengenakan warna baju senada denga gaya bak anak muda.  Lagi trending sekarang para kaum hawa mengerik alis lalu melukisnya dengan  pensil alis supaya terlihat lebih cantik dan segar (dalihnya). Bibir merah merona seperti selesai mengunyah sirih pinang.  Makan-makan di kafé yang instagramable supaya dapat bergaya dengan foto-foto dengan latar belakang I catching. Tidak ketinggalan tas bermerk supaya terlihat branded. Seolah menegaskan “Ini lho saya yang mempunyai kehidupan serba branded.”

            Setiap indinvidu berhak menikmati kebebasan sesuai kodratnya sebagai manusia di dunia ini.  Itu semua adalah hak asasi mereka untuk menampilkan apa yang mereka miliki guna eksistensi diri di media sosial. Pemerintah dan undang-undang pun tidak melarang setiap orang mengunggah aktivitas tersebut.  Bahkan sebagian malah nekad menunjukkan kekayaan isi rumahnya.

            Sebuah fenomena  yang melanda Indonesia di media sosial, yaitu menginginkan eksistensi penyebutan kaya berada. Pura-pura kaya merupakan sebuah dusta besar dengan memanipulasi penampilan jauh dari kehidupan yang sebenarnya. Sebuah kehidupan yang melelahkan.  Kita dapat membayangkan setiap bertemu orang topik yang dibicarakan tentang uang, barang branded, hartanya dimana-mana, dan  aset yang dimiliki.  Ia harus menjelaskan kepada semua orang bahwa ia benar-benar memiliki segalanya. It’s Ok, itu merupakan hak setiap orang untuk memperoleh eksistensi diri. Tetapi sesungguhnya orang yang benar-benar kaya topik pembicaraan bukan lagi tentang apa yang mereka miliki namun sudah menjangkau luas tentang kemanfaatan dirinya bagi orang lain.   

 

#60HMB

#BATCH9

#DAY18

Tidak ada komentar:

Posting Komentar