MONITORING PKL
Pemanenan
ayam hari pertama sebanyak 4600 ekor telah selesai. Pagi ini aku merencanakan akan melakukan
monitoring siswa Praktik Kerja Lapangan (PKL) yang berada di kandang-kandang
peternak. Sepeda motor sudah siap
mengantarkanku keliling kandang. Tidak
lupa aku mengenakan atribut seperti biasanya.
Sarung tangan, jaket, dan helm sebagai pengaman dan pelindung diriku
dari teriknya matahari selalu setia menemani kemana aku pergi.
Jam
di tanganku menunjukkan pukul 09.00, kutatap langit cuaca cukup cerah hari
ini. Pasti sebentar lagi suhu di
sepanjang jalan akan panas sekali. Perlahan aku mulai menyusuri jalanan
beraspal. Kendaraan lalu lalang menyalip
sepeda motorku tidak aku hiraukan. Dalam
benakku hanya satu tujuan yaitu,
perjalanan dari satu kandang ke kandang lainnya.
Sudah
menjadi satu kebiasaan bagiku untuk berkomunikasi dengan para peternak tempat
siswa PKL magang. Seperti kali ini
sebelum turun monitoring aku terlebih dahulu menelpon dan mengutarakan maksud kedatanganku ke kandang. Tujuannya tidak lain agar dapat bertemu
langsung dengan mereka dan mencuri ilmunya.
Para peternak ini merupakan praktisi yang sudah makan asam garam
pemeliharaan ayam broiler. Banyak hal
yang bisa dipetik dari setiap diskusi dengan mereka. Aku sangat menikmatinya.
Tiba-tiba
handphone di kantong celanaku bergetar.
Aku yang sedang mengendarai sepeda motor hanya menganggap suatu hal
biasa dan kurang penting. Aku terus
melanjutkan perjalanan menyusuri jalan berkerikil dan kiri kanan dipenuhi
tanaman rumput yang tidak beraturan. Di
sepanjang jalan terhampar pohon kelapa dan di bawahnya pohon cacao. Ya, namanya kandang, tidak mungkin berada di
perkotaan. Pasti nun jauh di bawah-bawah
pohon kelapa yang menjulang tinggi.
Setelah
menempuh perjalanan selama 30 menit akhirnya sampai juga di kandang ke-1. Sambil
menarik nafas lega kutepikan sepeda motor di sebelah pagar yang terbuat dari
kayu dan dalam keadaan miring. Anjing penjaga kandang menyambuku. Kulepaskan
helm, sarung, tangan dan jaket agar lebih nyaman. Anjing terus menggonggong dan aku mulai
ketakutan.
“Kenapa
tidak anjing ini ya?” kataku dalam hati
Aku
membiarkan anjing terus menggonggong. Kuarahkan pandangan ke kandang yang
berbentuk panggung, ada seseorang yang sedang berdiri.
“Selamat
siang,” sapaku
“Selamat
siang,” sahutnya dari kejauhan
“Bisa
bertemu dengan Pak Edi?”
“Oiya
Pak, silakan masuk,” jawabnya lagi
Aku
melangkahkan kaki menaiki tangga kandang.
Seperti biasanya jika kita ke kandang pasti mendapat suguhan bau ammonia
yang menjadi ciri khas suatu kandang ayam.
Bagiku mencium bau ammonia adalah hal yang biasa, berbeda jika seseorang
baru pertama kali ke kandang pasti akan menutup hidung, mual dan terkadang
muntah karena jijik.
Belum
lama aku ngobrol dengan peternak, tiba-tiba handphone ku berbunyi. Aku permisi sebentar kepada peternak untuk
mengangkat telepon. Dari seberang sana
terdengar suara Pak Arif yang panik
“Pak
sudah ada tiga mobil bakul menunggu di kandang.
Belum ada siswa yang mau membantu menangkap ayam.” kata Pak Arif
“Waduh,
oiya Pak saya akan segera ke sekolah,” jawabku.
Secepatnya
kumasukkan handphone ke dalam tas dan berpamitan kepada peternak.
#60HMB
#BATCH9
#DAY75
Tidak ada komentar:
Posting Komentar