Sabtu, 19 Maret 2022

MONITORING PKL

 

MONITORING PKL

 

            Pemanenan ayam hari pertama sebanyak 4600 ekor telah selesai.  Pagi ini aku merencanakan akan melakukan monitoring siswa Praktik Kerja Lapangan (PKL) yang berada di kandang-kandang peternak.  Sepeda motor sudah siap mengantarkanku keliling kandang.  Tidak lupa aku mengenakan atribut seperti biasanya.  Sarung tangan, jaket, dan helm sebagai pengaman dan pelindung diriku dari teriknya matahari selalu setia menemani kemana aku pergi.  

            Jam di tanganku menunjukkan pukul 09.00, kutatap langit cuaca cukup cerah hari ini.  Pasti sebentar lagi suhu di sepanjang jalan akan panas sekali. Perlahan aku mulai menyusuri jalanan beraspal.  Kendaraan lalu lalang menyalip sepeda motorku tidak aku hiraukan.  Dalam  benakku hanya satu tujuan yaitu, perjalanan dari satu kandang ke kandang lainnya. 

            Sudah menjadi satu kebiasaan bagiku untuk berkomunikasi dengan para peternak tempat siswa PKL magang.  Seperti kali ini sebelum turun monitoring aku terlebih dahulu menelpon dan mengutarakan  maksud kedatanganku ke kandang.  Tujuannya tidak lain agar dapat bertemu langsung dengan mereka dan mencuri ilmunya.  Para peternak ini merupakan praktisi yang sudah makan asam garam pemeliharaan ayam broiler.  Banyak hal yang bisa dipetik dari setiap diskusi dengan mereka.  Aku sangat menikmatinya.

            Tiba-tiba handphone di kantong celanaku bergetar.  Aku yang sedang mengendarai sepeda motor hanya menganggap suatu hal biasa dan kurang penting.  Aku terus melanjutkan perjalanan menyusuri jalan berkerikil dan kiri kanan dipenuhi tanaman rumput yang tidak beraturan.  Di sepanjang jalan terhampar pohon kelapa dan di bawahnya pohon cacao.  Ya, namanya kandang, tidak mungkin berada di perkotaan.  Pasti nun jauh di bawah-bawah pohon kelapa yang menjulang tinggi.

            Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit akhirnya sampai juga di kandang ke-1. Sambil menarik nafas lega kutepikan sepeda motor di sebelah pagar yang terbuat dari kayu dan dalam keadaan miring. Anjing penjaga kandang menyambuku. Kulepaskan helm, sarung, tangan dan jaket agar lebih nyaman.  Anjing terus menggonggong dan aku mulai ketakutan. 

            “Kenapa tidak anjing ini ya?” kataku dalam hati

            Aku membiarkan anjing terus menggonggong. Kuarahkan pandangan ke kandang yang berbentuk panggung, ada seseorang yang sedang berdiri. 

            “Selamat siang,” sapaku

            “Selamat siang,” sahutnya dari kejauhan

            “Bisa bertemu dengan Pak Edi?”

            “Oiya Pak, silakan masuk,” jawabnya lagi

            Aku melangkahkan kaki menaiki tangga kandang.  Seperti biasanya jika kita ke kandang pasti mendapat suguhan bau ammonia yang menjadi ciri khas suatu kandang ayam.  Bagiku mencium bau ammonia adalah hal yang biasa, berbeda jika seseorang baru pertama kali ke kandang pasti akan menutup hidung, mual dan terkadang muntah karena jijik. 

            Belum lama aku ngobrol dengan peternak, tiba-tiba handphone ku berbunyi.  Aku permisi sebentar kepada peternak untuk mengangkat telepon.  Dari seberang sana terdengar suara Pak Arif yang panik

            “Pak sudah ada tiga mobil bakul menunggu di kandang.  Belum ada siswa yang mau membantu menangkap ayam.” kata Pak Arif

            “Waduh, oiya Pak saya akan segera ke sekolah,” jawabku.

            Secepatnya kumasukkan handphone ke dalam tas dan berpamitan kepada peternak.

 

#60HMB

#BATCH9

#DAY75

Tidak ada komentar:

Posting Komentar