SABAR “NAK”
Si
sulung sudah mulai masuk sekolah, pagi-pagi terlihat isteriku sibuk menyiapkan sarapan sekaligus bahan untuk jualan nasi
kuning di depan rumah. Nasi sudah siap
di atas kompor, tercium aroma harum
perpaduan daun jeruk, pandan, jahe dan kunyit. Ya, semenjak kami bertekad memiliki rumah
melalui kredit, isteriku turut membantu perekonomian keluarga dengan berjualan
nasi kuning. Sekarang hal yang wajib
adalah bangun pagi pukul 03.00 membantu isteriku mengaduk beras sampai menjadi
aronan lalu menaikkan ke dalam dandang dan mengukusnya. Sementara isteriku
sendiri menyiapkan mi, memasak ayam, ikan, daging, dan telur.
“Pa,
lihat nasinya sama ayamnya ya, aku shalat dulu” kata isteriku.
Meski
sibuk tetapi kami tidak melupakan ibadah, kami bergantian melakukan shalat
tahajud. Sementara isteriku shalat aku
mengaduk nasi yang ada di dandang. Sesekali
aku membalik ayam bumbu bali di kompor satunya.
Hhhmmm. wangi dari rempah-rempah menggugah selera.
Tidak
terasa waktu sudah menunjukkan pukul 04.30 terdengar adzan subuh berkumandang
di masjid dekat rumah. Aku menyiapkan
diri pergi ke masjid.
“Ma,
aku ke masjid dulu.”
Isteriku
mengangguk sambil terus mengiris bawang untuk bumbu mi. Aku berucap dalam hati,
beruntungnya diriku memiliki isteri yang mau bersusah payah membantu mencukupi
kebutuhan keluarga. Seandainya kami
tidak memiliki tanggungan cicilan rumah hidup kami akan biasa-biasa saja. Rumah
merupakan tantangan tersendiri bagi
kami. Kami sudah lelah pindah dari satu
kontrakan ke kontrakan lainnya. Kasihan juga
anak-anak yang harus beradaptasi setiap kali berada di lingkungan yang baru.
Pernah
suatu ketika kami mengontrak rumah di dekat pasar. Waktu itu keadaan benar-benar sulit. Uang yang kami miliki hanya bisa membayar
kontrakan berpetak berdinding papan. Pikiranku
waktu itu untuk sementara saja, nanti sambil berjalannya waktu kalau ada rejeki
lebih mencari yang kontrakan layak.
Begitulah,
hari demi hari kami hidup berdampingan dengan para pedagang di pasar. Bisa dibayangkan lingkungan sekitar kotor dan
jorok, penuh dengan sayur dan ikan segar
maupun busuk. Jemuran pakaian
bergantungan seperti umbul-umbul di depan rumah. Mereka tidak memedulikan lagi penataan
lingkungan. Ya bisa dimaklumi, pagi buta mereka sudah harus berada di pasar dan
pulang pada sore hari dalam keadaan
kelelahan. Sementara anak-anak mereka
pulang sekolah berada di rumah dengan segala aktivitasnya.
Orang tua cenderung kurang memperhatikan
anak-anaknya. Seperti pernah terjadi di tetangga sebelah, anaknya terjepit
sedangkan orang tuanya sedang berada di pasar.
Untung ada kami tetangga yang membantu sehingga anak tersebut bisa
diselamatkan.
#60HMB
#BATCH9
#DAY63
Tidak ada komentar:
Posting Komentar