Senin, 07 Maret 2022

SABAR “NAK”

 

SABAR “NAK”

 

            Si sulung sudah mulai masuk sekolah, pagi-pagi terlihat isteriku sibuk menyiapkan  sarapan sekaligus bahan untuk jualan nasi kuning di depan rumah.  Nasi sudah siap di atas kompor, tercium aroma harum  perpaduan daun jeruk, pandan, jahe dan kunyit.  Ya, semenjak kami bertekad memiliki rumah melalui kredit, isteriku turut membantu perekonomian keluarga dengan berjualan nasi kuning.  Sekarang hal yang wajib adalah bangun pagi pukul 03.00 membantu isteriku mengaduk beras sampai menjadi aronan lalu menaikkan ke dalam dandang dan mengukusnya. Sementara isteriku sendiri menyiapkan mi, memasak ayam, ikan, daging, dan telur. 

            “Pa, lihat nasinya sama ayamnya ya, aku shalat dulu” kata isteriku. 

            Meski sibuk tetapi kami tidak melupakan ibadah, kami bergantian melakukan shalat tahajud.  Sementara isteriku shalat aku mengaduk nasi yang ada di dandang.  Sesekali aku membalik ayam bumbu bali di kompor satunya.  Hhhmmm. wangi dari rempah-rempah menggugah selera. 

            Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 04.30 terdengar adzan subuh berkumandang di masjid dekat rumah.  Aku menyiapkan diri pergi ke masjid.

            “Ma, aku ke masjid dulu.”

            Isteriku mengangguk sambil terus mengiris bawang untuk bumbu mi. Aku berucap dalam hati, beruntungnya diriku memiliki isteri yang mau bersusah payah membantu mencukupi kebutuhan keluarga.  Seandainya kami tidak memiliki tanggungan cicilan rumah hidup kami akan biasa-biasa saja. Rumah merupakan tantangan tersendiri  bagi kami.  Kami sudah lelah pindah dari satu kontrakan ke kontrakan lainnya.  Kasihan juga anak-anak yang harus beradaptasi setiap kali berada di lingkungan yang baru.

            Pernah suatu ketika kami mengontrak rumah di dekat pasar.  Waktu itu keadaan benar-benar sulit.  Uang yang kami miliki hanya bisa membayar kontrakan berpetak berdinding papan.  Pikiranku waktu itu untuk sementara saja, nanti sambil berjalannya waktu kalau ada rejeki lebih mencari yang kontrakan layak.

            Begitulah, hari demi hari kami hidup berdampingan dengan para pedagang di pasar.  Bisa dibayangkan lingkungan sekitar kotor dan jorok, penuh dengan sayur dan ikan  segar maupun busuk.  Jemuran pakaian bergantungan seperti umbul-umbul di depan rumah.  Mereka tidak memedulikan lagi penataan lingkungan. Ya bisa dimaklumi, pagi buta mereka sudah harus berada di pasar dan pulang pada sore hari  dalam keadaan kelelahan.  Sementara anak-anak mereka pulang sekolah berada di rumah dengan segala aktivitasnya. 

             Orang tua cenderung kurang memperhatikan anak-anaknya. Seperti pernah terjadi di tetangga sebelah, anaknya terjepit sedangkan orang tuanya sedang berada di pasar.  Untung ada kami tetangga yang membantu sehingga anak tersebut bisa diselamatkan.

 

#60HMB

#BATCH9

#DAY63

           

           

           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar