Minggu, 20 Maret 2022

TANAH TIMBUNAN

 

TANAH TIMBUNAN

 

            Kondisi pintu belakang kandang untuk akses pemanenan ayam begitu becek.  Tanah yang memang berstruktur gembur memungkinkan  air mudah terserap dan menjadikannya lebih lembek.  Sifat ayam broiler yang tidak tahan panas jika berada di luar, membuat para bakul menyiramkan air ke atas tumpukan ayam yang siap untuk diangkut.  Alhasil tanah sekitarnya menjadi becek.  Ini juga yang menyebabkan seringkali ban mobil harus berputar kencang ketika akan berangkat meninggalkan kandang. 

            Keadaan seperti ini tidak bisa dibiarkan karena dapat mengganggu proses pengangkutan.  Sehingga teman-teman berinisiatif untuk menimbunnya dengan tanah berbatu.  Siang itu para bakul sudah mengantri di halaman kandang.  Tetapi mereka mengeluhkan kondisi halaman belakang yang berair. 

            “Pak, minta tolong ditimbun dulu itu,” kata Bakul A.

            “Iya, Pak. Ban mobil kami selip,” ujar yang lain.

            “Iya, hari ini sudah kami rencanakan untuk menimbun,” jawabku agak kesal.   

            Dengan langkah bergegas aku menyuruh anak buah kandang mengambil kereta dorong untuk mengambil tanah timbunan di samping bagian atas kandang. 

            “Ibra dan Idul cepat ambilkan tanah untuk menimbun bagian belakang kandang.”

            Ibra dan Idul yang sedang menyiapkan peralatatan pemanenan terkejut.

            “Tapi Pak, kami masih meyiapkan peralatan,” sahut Ibra.

            “Tinggalkan saja dulu itu. Kita benahi terlebih dahulu bagian luar,” jawabku dengan suara agak meninggi.

            “Oiya Pak, siap.”

            Aku pun berlari mengikuti mereka guna menunjukkan tanah mana yang harus diambil.  Lokasi pengambilan tanah timbunan berada di atas kandang sehingga kami harus sedikit mendaki. Nafasku mulai “ngos-ngosan” karena berlari dan berusaha mencapai lokasi dengan cepat.  Kakiku yang tiba-tiba dipaksa beraktivitas keras mulai terasa panas.  Aku berhenti sejenak untuk mengembalikan kenyamanan kakiku. Aku melihat dari kejauhan  Ibra dan Idul sudah berada di atas dan langsung memasukkan tanah ke dalam kereta dorong. 

            “Usia memang tidak bisa dibohongi,” batinku sambil meringis.

            Setelah kereta dorong penuh mereka segera meluncur lagi ke bawah dan aku mengikutinya dari belakang. Mereka berlari sangat kencang, langkah kakiku juga semakin cepat mengikuti mereka. Dadaku sudah terasa sesak dan nafas mulai tersengal-sengal.  Mereka terlebih dahulu sampai dan tertawa terbahak-bahak.

            “Hahaha, Bapak tidak bisa,” ucap Idul sambil tertawa hingga terlihat semua giginya.

            “Berbeda usia beda juga fisiknya,” canda Ibra menggodaku.

            “Hei, tapi jangan salah aku masih bisa mengejar kalian,” jawabku tidak mau kalah.

            Tubuh Ibra dan Idul  tinggi kurus sehingga memudahkan mereka berlari kencang. Mereka berhenti sejenak dan tertawa ngakak sambil memegang perutnya yang langsing lalu menuangkan semua tanah berbatu dan meratakannya dengan sekop.  Kami seringkali bergurau ketika bekerja untuk menghilangkan kejenuhan agar pekerjaan yang berat menjadi terasa ringan.  Seberat apapun pekerjaan jika kita menikmati prosesnya akan menjadi menyenangkan.

 

#60HMB

#BATCH9

#DAY76

           

 

              

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar