TANAH TIMBUNAN
Kondisi
pintu belakang kandang untuk akses pemanenan ayam begitu becek. Tanah yang memang berstruktur gembur memungkinkan air mudah terserap dan menjadikannya lebih
lembek. Sifat ayam broiler yang tidak tahan
panas jika berada di luar, membuat para bakul menyiramkan air ke atas tumpukan
ayam yang siap untuk diangkut. Alhasil tanah
sekitarnya menjadi becek. Ini juga yang
menyebabkan seringkali ban mobil harus berputar kencang ketika akan berangkat
meninggalkan kandang.
Keadaan
seperti ini tidak bisa dibiarkan karena dapat mengganggu proses
pengangkutan. Sehingga teman-teman berinisiatif
untuk menimbunnya dengan tanah berbatu. Siang
itu para bakul sudah mengantri di halaman kandang. Tetapi mereka mengeluhkan kondisi halaman
belakang yang berair.
“Pak,
minta tolong ditimbun dulu itu,” kata Bakul A.
“Iya,
Pak. Ban mobil kami selip,” ujar yang lain.
“Iya,
hari ini sudah kami rencanakan untuk menimbun,” jawabku agak kesal.
Dengan
langkah bergegas aku menyuruh anak buah kandang mengambil kereta dorong untuk
mengambil tanah timbunan di samping bagian atas kandang.
“Ibra
dan Idul cepat ambilkan tanah untuk menimbun bagian belakang kandang.”
Ibra
dan Idul yang sedang menyiapkan peralatatan pemanenan terkejut.
“Tapi
Pak, kami masih meyiapkan peralatan,” sahut Ibra.
“Tinggalkan
saja dulu itu. Kita benahi terlebih dahulu bagian luar,” jawabku dengan suara
agak meninggi.
“Oiya
Pak, siap.”
Aku
pun berlari mengikuti mereka guna menunjukkan tanah mana yang harus
diambil. Lokasi pengambilan tanah
timbunan berada di atas kandang sehingga kami harus sedikit mendaki. Nafasku mulai
“ngos-ngosan” karena berlari dan berusaha mencapai lokasi dengan cepat. Kakiku yang tiba-tiba dipaksa beraktivitas
keras mulai terasa panas. Aku berhenti
sejenak untuk mengembalikan kenyamanan kakiku. Aku melihat dari kejauhan Ibra dan Idul sudah berada di atas dan
langsung memasukkan tanah ke dalam kereta dorong.
“Usia
memang tidak bisa dibohongi,” batinku sambil meringis.
Setelah
kereta dorong penuh mereka segera meluncur lagi ke bawah dan aku mengikutinya
dari belakang. Mereka berlari sangat kencang, langkah kakiku juga semakin cepat
mengikuti mereka. Dadaku sudah terasa sesak dan nafas mulai tersengal-sengal. Mereka terlebih dahulu sampai dan tertawa
terbahak-bahak.
“Hahaha,
Bapak tidak bisa,” ucap Idul sambil tertawa hingga terlihat semua giginya.
“Berbeda
usia beda juga fisiknya,” canda Ibra menggodaku.
“Hei,
tapi jangan salah aku masih bisa mengejar kalian,” jawabku tidak mau kalah.
Tubuh
Ibra dan Idul tinggi kurus sehingga
memudahkan mereka berlari kencang. Mereka berhenti sejenak dan tertawa ngakak
sambil memegang perutnya yang langsing lalu menuangkan semua tanah berbatu dan meratakannya
dengan sekop. Kami seringkali bergurau
ketika bekerja untuk menghilangkan kejenuhan agar pekerjaan yang berat menjadi
terasa ringan. Seberat apapun pekerjaan
jika kita menikmati prosesnya akan menjadi menyenangkan.
#60HMB
#BATCH9
#DAY76
Tidak ada komentar:
Posting Komentar