ANAK BUAH KANDANG
Jarum
jam sudh menunjukkan pukul 18.00. Tetapi
antrian mobil bakul yang akan mengambil ayam di kandang semakin banyak. Padahal kegiatan pemanenan sudah kami lakukan
dari pagi namun hingga sore menjelang malam belum berakhir. Di dalam kandag anak buah kandang (ABK)
begitu sibuk memilih, menangkaP, menimbang dan menaikkan ayam ke dalam mobil
angkutan. Aku yang mencatat hasil
penimbangan cukup khawatir dengan ABK.
Mereka sedari pagi hingga saat ini tanpa istirahat melayani bakul.
Langkah
kaki mereka dengan gesit berjalan bolak-balik dari bagian belakang ke depan
kandang. Kaki-kaki yang beralaskan
sandal jepit dan kaki yang sudah penuh dengan debu kotoran kandang. Sementara tangan-tangan mereka tidak kalah
sigap menangkap ayam satu per satu pada bagian kaki, setelah tertangkap lima
ekor mereka lalu memindahkannya ke dalam keranjang ayam. Lagi, lagi dan lagi begitu seterusnya.
Nafas
mereka memburu dengan muka tampak lelah. Sesekali mereka mengelap keringat
bercucuran membasahi kening dan pipi. Sesampai
di depanku yang sedang menulis hasil penimbangan, mereka berhenti sejenak dan
menarik nafas panjang, tanda lelah yang amat sangat.
“Kalau
kalian capek, istirahat dulu, jangan memaksakan diri. Nanti kalian sakit,” kataku
“Tapi
Pak, masih seribu ekor lagi mau ditangkap,” jawab mereka
“Sudah
tidak apa-apa, makan sana dulu.”
“Nanti
saja Pak, tanggung kita kasik penuh dulu satu mobil ini,” ujar mereka dengan
nafas tersengal.
“Kalau
begitu minum saja dulu dan duduk sebentar meluruskan kaki.”
“Iya
Pak, boleh kami minum dulu?” tanya Idul sedikit terbata karena kerongkongannya
kering.
“Iya,
minum saja. Tadi itu siswi PKL sudah menyiapkan,” ucapku sambil menunjuk cerek yang
berada di samping.
Mereka
kemudian duduk dan menuangkan air ke dalam gelas. Anak-anak PKL (Praktik Kerja Lapang) sengaja
aku minta membuat air sirup dicampur dengan es batu agar lebih nikmat.
Aku
melirik ke arah mereka tampak kerongkongan mereka naik turun dilewati air minum
yang masuk ke dalam lambung.
“Aaahhh,
Alhamdulillah,” ujar Ibra sambil tersenyum lega.
“Huufff,
nikmatnya,”kata Idul lagi
Aku
tersenyum melihat tingkah mereka berdua.
Aku berbicara sejenak dengan para bakul agar mereka memakluminya.
Setelah beristirahat sejenak mereka memberi
isyarat kepadaku untuk melanjutkan lagi proses panen ayam. Aku dengan segera menuju ke meja kayu yang
memang disiapkan guna memudahkan pencatatan bobot badan ayam.
“Dua
pulu koma sembilan belas,” teriak Idul kepadaku
“Angkaat!”
seruku memberi semangat
Kami
harus berbicara dengan nada suara keras karena bunyi kipas yang berukuran
kurang lebih 1,5x1,5 meter sebanyak lima buah cukup bising.
Mereka
lalu membawa keranjang yang berisi ayam ke atas mobil angkuta.
“Lanjuut,”
teriakku lagi
Serta
merta datang Indra dan Randi membawa keranjang yang sudah diisi ayam kemudian
mereka menimbangnya.
“Sembilan
belas sembilan delapan.”
Begitu
seterusnya aktivitas pemanenan hingga selesai.
Aku melihat jam di handphone sudah menunjukkan pukul 22.00.
“Ya,
Allah semoga lelah ini membawa berkah. Semoga ABK sehat-sehat selalu.,” kataku lirih.
Panen
hari ini telah usai, para ABK mengumpulkan peralatan yang digunakan. Terima kasih Ya Allah atas nikmat sehat yang
telah Engkau berikan.
#60HMB
#BATCH9
#DAY78
Tidak ada komentar:
Posting Komentar