Selasa, 22 Maret 2022

 

ANAK BUAH KANDANG 

 

            Jarum jam sudh menunjukkan pukul 18.00.  Tetapi antrian mobil bakul yang akan mengambil ayam di kandang semakin banyak.  Padahal kegiatan pemanenan sudah kami lakukan dari pagi namun hingga sore menjelang malam belum berakhir.  Di dalam kandag anak buah kandang (ABK) begitu sibuk memilih, menangkaP, menimbang dan menaikkan ayam ke dalam mobil angkutan.  Aku yang mencatat hasil penimbangan cukup khawatir dengan ABK.  Mereka sedari pagi hingga saat ini tanpa istirahat melayani bakul. 

            Langkah kaki mereka dengan gesit berjalan bolak-balik dari bagian belakang ke depan kandang.  Kaki-kaki yang beralaskan sandal jepit dan kaki yang sudah penuh dengan debu kotoran kandang.  Sementara tangan-tangan mereka tidak kalah sigap menangkap ayam satu per satu pada bagian kaki, setelah tertangkap lima ekor mereka lalu memindahkannya ke dalam keranjang ayam.  Lagi, lagi dan lagi begitu seterusnya. 

            Nafas mereka memburu dengan muka tampak lelah. Sesekali mereka mengelap keringat bercucuran membasahi kening dan pipi.  Sesampai di depanku yang sedang menulis hasil penimbangan, mereka berhenti sejenak dan menarik nafas panjang, tanda lelah yang amat sangat.

            “Kalau kalian capek, istirahat dulu, jangan memaksakan diri.  Nanti kalian sakit,” kataku

            “Tapi Pak, masih seribu ekor lagi mau ditangkap,” jawab mereka

            “Sudah tidak apa-apa, makan sana dulu.”

            “Nanti saja Pak, tanggung kita kasik penuh dulu satu mobil ini,” ujar mereka dengan nafas tersengal.

            “Kalau begitu minum saja dulu dan duduk sebentar meluruskan kaki.”

            “Iya Pak, boleh kami minum dulu?” tanya Idul sedikit terbata karena kerongkongannya kering.

            “Iya, minum saja. Tadi itu siswi PKL sudah menyiapkan,” ucapku sambil menunjuk cerek yang berada di samping.

            Mereka kemudian duduk dan menuangkan air ke dalam gelas.  Anak-anak PKL (Praktik Kerja Lapang) sengaja aku minta membuat air sirup dicampur dengan es batu agar lebih nikmat.

            Aku melirik ke arah mereka tampak kerongkongan mereka naik turun dilewati air minum yang masuk ke dalam lambung. 

            “Aaahhh, Alhamdulillah,” ujar Ibra sambil tersenyum lega.

            “Huufff, nikmatnya,”kata Idul lagi

            Aku tersenyum melihat tingkah mereka berdua.  Aku berbicara sejenak dengan para bakul agar mereka memakluminya.

             Setelah beristirahat sejenak mereka memberi isyarat kepadaku untuk melanjutkan lagi proses panen ayam.  Aku dengan segera menuju ke meja kayu yang memang disiapkan guna memudahkan pencatatan bobot badan ayam.

            “Dua pulu koma sembilan belas,” teriak Idul kepadaku

            “Angkaat!” seruku memberi semangat

            Kami harus berbicara dengan nada suara keras karena bunyi kipas yang berukuran kurang lebih 1,5x1,5 meter sebanyak lima buah cukup bising.

            Mereka lalu membawa keranjang yang berisi ayam ke atas mobil angkuta. 

            “Lanjuut,” teriakku lagi

            Serta merta datang Indra dan Randi membawa keranjang yang sudah diisi ayam kemudian mereka menimbangnya.

            “Sembilan belas sembilan delapan.”

            Begitu seterusnya aktivitas pemanenan hingga selesai.  Aku melihat jam di handphone sudah menunjukkan pukul 22.00.

            “Ya, Allah semoga lelah ini membawa berkah. Semoga ABK sehat-sehat selalu.,” kataku lirih.

            Panen hari ini telah usai, para ABK mengumpulkan peralatan yang digunakan.  Terima kasih Ya Allah atas nikmat sehat yang telah Engkau berikan.

           

#60HMB

#BATCH9

#DAY78

           

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar