Selasa, 15 Maret 2022

SEKAM PADI

 

SEKAM PADI

 

            Pagi mulai merangkak naik, matahari perlahan menunjukkan sinarnya di ufuk Timur. Selesai shalat subuh aku  menyapu halaman belakang dan memberi makan ayam kampong peliharaanku.  Ayam kampong ini adalah ayam sisa pemeliharaan yang lalu.  Beberapa bulan lalu jumlah ayam yang aku peliharan lebih dari dua puluh ekor tetapi karena ada sesuatu kebutuhan maka aku menjualnya.  Sekarang tersisa dua ekor, lumayan untuk hiburan.

            “Pa, ada telepon,” teriak isteriku dari dalam rumah

            “Iya, tunggu sebentar.”

            Setelah mencuci tangan, aku bergegas menuju rumah untuk mengambil handphone. 

            “Siapa ya pagi-pagi begini menelpon,” kataku dalam hati.

            Kuraih handphone yang berada di atas meja ruang tamu. Aku mulai membukanya dan melihat ke layar monitor, ternyata Ibra salah satu ABK.  Ketika aku mengangkatnya, nadir dering sudah berhenti. 

            “Wah, ada apa lagi ya di kandang?” ucapku lirih

            Dengan segera aku menelpon Ibra.  Setengah khawatir dan bertanya-tanya, kuangkat handphone mendekati telinga.

            “ Assalammualaikum,” terdenga suara Ibra dari seberang sana.

            “Waalaikumsalam, ada apa Ibra?”

            “Ini pak, kelembaban di dalam kandang mencapai 80%, sehingga sekam basah dan kami sudah menggantinya.  Sekarang posisi sekam sudah habis, kami bingung jadi sementara kami menghentikan penggantian sekam,” jawab Ibra.

            “Ok, Bapak akan segera ke kandang.”

            Aku bergegas mandi dan bersiap menuju ke kandang sekolah. 

            ‘Ma, aku berangkat dulu. Sekam di kandang sudah habis,” kataku

            “Iya, Pa. Nanti saya yang urus anak-anak di rumah,” sahut isteriku dari dapur.

            Selam perjalanan menuju ke kandang, aku memikirkan sekam yang harus  aku siapkan kira-kira 50 karung gabah lagi.  Jumlah yang tidak sedikit.  Sementara irigasi sedang diperbaiki, sehingga persediaan sekam di penggilingan padi cukup terbatas.  Biasanya dalam setiap penggilingan sudah mempunyai langganan masing-masing.  Sehingga aku harus berkeliling mencari sekam.

            “Ya, Allah mudahkanlah urusanku.”

            Sekam padi ini kami gunakan sebagai alas kandang.  Penggunaan sekam padi bukan tanpa alasan.  Sekam padi memiliki daya serap yang baik dan ringan.  Namun kami  harus sigap dan memperhatikan keadaan sekam.  Ketika lembab maka harus cepat menggantinya.  Apabila tidak lekas diganti akan menggumpal dan mengeluarkan gas amonia yang membahayakan ayam.  Ayam akan menghirup gas ini dan bisa memicu berbagai penyakit.

            Ah, tidak terasa aku sudah sampai di kandang sekolah.  Di teras kandang terlihat tumpukan sekam yang berbau khas amonia.  Rupanya benar laporan Ibra, aku masuk ke dalam kandang dengan terlebih dahulu menyemprot badan dengan cairan desinfektan. 

            “Bagaimana Ibra?”

            “Ini Pak, masih ada yang basah dan menggumpal,” kata Ibra

            “Waduh.”

            Tiba-tiba Eko menghampiri kami dan mengatakan di depan rumahnya ada penggilingan padi. 

            “Kalau begitu coba kita ke sana Ko,” ucapku

            “Boleh Pak, kalau tidak cepat nanti sudah diambil orang,” kata Eko

            “Kalau begitu ayo kita berangkat.”

            Alhamdulillah, Allah maha penolong.  Pemilik gilingan padi mengizinkan kami mengambil 50 karung sekam.  Terima kasih Ya Allah.

 

#60HMB

#BATCH9

#DAY71

           

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar