SEKAM PADI
Pagi mulai merangkak naik, matahari
perlahan menunjukkan sinarnya di ufuk Timur. Selesai shalat subuh aku menyapu halaman belakang dan memberi makan
ayam kampong peliharaanku. Ayam kampong ini
adalah ayam sisa pemeliharaan yang lalu.
Beberapa bulan lalu jumlah ayam yang aku peliharan lebih dari dua puluh
ekor tetapi karena ada sesuatu kebutuhan maka aku menjualnya. Sekarang tersisa dua ekor, lumayan untuk
hiburan.
“Pa, ada telepon,” teriak isteriku
dari dalam rumah
“Iya, tunggu sebentar.”
Setelah mencuci tangan, aku bergegas
menuju rumah untuk mengambil handphone.
“Siapa ya pagi-pagi begini menelpon,”
kataku dalam hati.
Kuraih handphone yang berada di atas
meja ruang tamu. Aku mulai membukanya dan melihat ke layar monitor, ternyata
Ibra salah satu ABK. Ketika aku mengangkatnya,
nadir dering sudah berhenti.
“Wah, ada apa lagi ya di kandang?”
ucapku lirih
Dengan segera aku menelpon Ibra. Setengah khawatir dan bertanya-tanya, kuangkat
handphone mendekati telinga.
“ Assalammualaikum,” terdenga suara
Ibra dari seberang sana.
“Waalaikumsalam, ada apa Ibra?”
“Ini pak, kelembaban di dalam
kandang mencapai 80%, sehingga sekam basah dan kami sudah menggantinya. Sekarang posisi sekam sudah habis, kami
bingung jadi sementara kami menghentikan penggantian sekam,” jawab Ibra.
“Ok, Bapak akan segera ke kandang.”
Aku bergegas mandi dan bersiap
menuju ke kandang sekolah.
‘Ma, aku berangkat dulu. Sekam di
kandang sudah habis,” kataku
“Iya, Pa. Nanti saya yang urus
anak-anak di rumah,” sahut isteriku dari dapur.
Selam perjalanan menuju ke kandang,
aku memikirkan sekam yang harus aku siapkan
kira-kira 50 karung gabah lagi. Jumlah
yang tidak sedikit. Sementara irigasi
sedang diperbaiki, sehingga persediaan sekam di penggilingan padi cukup
terbatas. Biasanya dalam setiap
penggilingan sudah mempunyai langganan masing-masing. Sehingga aku harus berkeliling mencari sekam.
“Ya, Allah mudahkanlah urusanku.”
Sekam padi ini kami gunakan sebagai
alas kandang. Penggunaan sekam padi
bukan tanpa alasan. Sekam padi memiliki
daya serap yang baik dan ringan. Namun kami harus sigap dan memperhatikan keadaan
sekam. Ketika lembab maka harus cepat
menggantinya. Apabila tidak lekas
diganti akan menggumpal dan mengeluarkan gas amonia yang membahayakan ayam. Ayam akan menghirup gas ini dan bisa memicu berbagai
penyakit.
Ah, tidak terasa aku sudah sampai di
kandang sekolah. Di teras kandang
terlihat tumpukan sekam yang berbau khas amonia. Rupanya benar laporan Ibra, aku masuk ke
dalam kandang dengan terlebih dahulu menyemprot badan dengan cairan
desinfektan.
“Bagaimana Ibra?”
“Ini Pak, masih ada yang basah dan
menggumpal,” kata Ibra
“Waduh.”
Tiba-tiba Eko menghampiri kami dan
mengatakan di depan rumahnya ada penggilingan padi.
“Kalau begitu coba kita ke sana Ko,”
ucapku
“Boleh Pak, kalau tidak cepat nanti
sudah diambil orang,” kata Eko
“Kalau begitu ayo kita berangkat.”
Alhamdulillah, Allah maha
penolong. Pemilik gilingan padi
mengizinkan kami mengambil 50 karung sekam.
Terima kasih Ya Allah.
#60HMB
#BATCH9
#DAY71
Tidak ada komentar:
Posting Komentar