LUBANG PEMBUANGAN
Bau
menyengat keluar dari tumpukan karung berisi sekam bekas alas kandang. Setiap
hari sekitar 10 karung sekam dikeluarkan dari dalam kandang. Jika dikalikan dengan lamanya pemeliharaan
selama 30 hari maka nantinya akan ada 300 karung sekam akan menumpuk. Bisa dibayangkan dampak dari sekam bekas
beserta kotoran ayamnya ini. Selain bau
yang menyengat juga akan mengundang lalat berkembang biak. Hal ini sangat mengganggu dan meresahkan
masyarakat sekitar.
“Pak,
bagaimana solusinya ini, semakin hari semakin banyak sekam dan baunya mulai
menyebar,” kata Bu Anti.
“Itulah
Bu, kita harus mencari cara agar sekam bekas pakai tidak bertambah menggunung,”
ujarku.
“Sepertinya
kita harus membuat lubang besar untuk menampung sekam-sekam ini,” usul Bu
Titin.
“Iya
betul. Selain untuk menampung juga agar
sekam terfermentasi nantinya dan dapat digunakan sebagai pupuk,” kataku.
“Para
pembeli sekam kotoran ayam tidak mau membeli kalau belum masak. Sehingga dibutuhkan lubang penyimpanan sekam/kotoran
terlebih dahulu,” usul Bu Titin.
Aku
mulai berpikir bagaimana caranya membuat lubang besar untuk menampung jumlah kotoran ayam begitu banyak. Jika menggunakan alat berat tentunya harus
mendatangkan dari kota dan pasti biayanya sangat mahal, sekitar 5 jutaan. Bagaimana kalau menggunakan tenaga manusia?
Mungkin tidak ya? Akhirnya dengan
berbagai pertimbangan, aku dan teman-teman memanggil penjaga sekolah untuk
menggali lubang itu. Aku memanggil Iwan
untuk melihat kondisi lubang yang akan dibuat.
“Iwan,
bisa ke kandang sebentar?”
“Iya
Pak.”
Posisi
kandang berada di bawah tempat pembuangan sekam/kotoran. Kami bersama-sama menuju
ke atas dengan cara sedikit mendaki. Sesampainya
di atas, bau kian menyengat karena sekam/kotoran bertumpuk di sana.
“Iwan,
mampukah kamu membuat lubang untuk penampungan sekam/kotoran sebanyak ini?”
tanyaku
“Waduh,
kalau sebanyak ini, pasti lubangnya besar dan dalam. Sepertinya saya tidak sanggup Pak.”
“Itulah,
tadi kami sudah menghubungi juga penyewaan alat berat tetapi biaya untuk sampai
ke sini 3,5 juta plus biaya operator dan bahan bakarnya. Menurut kamu dimana tempat penyewaan lagi
yang agak murah?” kataku.
Iwan
terdiam sejenak memikirkan kata-kataku, mencari solusi. Dan tiba-tiba ia
mendapatkan ide.
“Itu
Pak, ada di depan jalan, kebetulan operatornya bapaknya Desi, siswa yang pernah
sekolah di sini. Mungkin bisa kita minta
tolong sebentar.”
“Oiya,
kita coba saja. Siapa tahu bersedia,”
ujarku
Sore
itu juga aku segera menuju ke rumah bapak Desi.
Di depan rumahnya terparkir alat berat yang ingin kami pinjam. Aku memarkir sepeda motor di dekat alat berat
itu. Sekilas kuamati dan berpikir semoga ia mau membantuku.
“Assalammualaikum,”
aku menguluk salam
“Waalaikumsalam,
mari Pak, masuk,” jawab suara dari dalam
rumah.
Sesaat
keluar laki-laki setengah baya berbadan kekar dengan senyum tersungging di
wajah, yang ternyata bapaknya Desi. Aku mengutarakan maksud kedatanganku. Ia tersenyum, setelah berdiskusi tentang
biaya kita bersepakat dan ia bersedia membantu untuk mengoperasikan alat berat
menggali tanah lubang pembuangan.
Alhamdulillah,
terima kasih ya Allah atas pertolonganmu.
Engkau telah membukakan hati bapak Desi untuk mengatasi masalah
pembuangan sekam/kotoran ayam.
#60HMB
#BATCH9
#DAY72
Tidak ada komentar:
Posting Komentar