Rabu, 16 Maret 2022

LUBANG PEMBUANGAN

 

LUBANG PEMBUANGAN

 

            Bau menyengat keluar dari tumpukan karung berisi sekam bekas alas kandang. Setiap hari sekitar 10 karung sekam dikeluarkan dari dalam kandang.  Jika dikalikan dengan lamanya pemeliharaan selama 30 hari maka nantinya akan ada 300 karung sekam akan menumpuk.  Bisa dibayangkan dampak dari sekam bekas beserta kotoran ayamnya ini.  Selain bau yang menyengat juga akan mengundang lalat berkembang biak.  Hal ini sangat mengganggu dan meresahkan masyarakat sekitar.

            “Pak, bagaimana solusinya ini, semakin hari semakin banyak sekam dan baunya mulai menyebar,” kata Bu Anti.

            “Itulah Bu, kita harus mencari cara agar sekam bekas pakai tidak bertambah menggunung,” ujarku.

            “Sepertinya kita harus membuat lubang besar untuk menampung sekam-sekam ini,” usul Bu Titin.

            “Iya betul.  Selain untuk menampung juga agar sekam terfermentasi nantinya dan dapat digunakan sebagai pupuk,” kataku.

            “Para pembeli sekam kotoran ayam tidak mau membeli kalau belum masak.  Sehingga dibutuhkan lubang penyimpanan sekam/kotoran terlebih dahulu,” usul Bu Titin.

            Aku mulai berpikir bagaimana caranya membuat lubang besar untuk menampung  jumlah kotoran ayam begitu banyak.  Jika menggunakan alat berat tentunya harus mendatangkan dari kota dan pasti biayanya sangat mahal, sekitar 5 jutaan.  Bagaimana kalau menggunakan tenaga manusia? Mungkin tidak ya?  Akhirnya dengan berbagai pertimbangan, aku dan teman-teman memanggil penjaga sekolah untuk menggali lubang itu.  Aku memanggil Iwan untuk melihat kondisi lubang yang akan dibuat.

            “Iwan, bisa ke kandang sebentar?”

            “Iya Pak.”

            Posisi kandang berada di bawah tempat pembuangan sekam/kotoran. Kami bersama-sama menuju ke atas dengan cara sedikit mendaki.  Sesampainya di atas, bau kian menyengat karena sekam/kotoran bertumpuk di sana. 

            “Iwan, mampukah kamu membuat lubang untuk penampungan sekam/kotoran sebanyak ini?” tanyaku

            “Waduh, kalau sebanyak ini, pasti lubangnya besar dan dalam.  Sepertinya saya tidak sanggup Pak.”

            “Itulah, tadi kami sudah menghubungi juga penyewaan alat berat tetapi biaya untuk sampai ke sini 3,5 juta plus biaya operator dan bahan bakarnya.  Menurut kamu dimana tempat penyewaan lagi yang agak murah?” kataku.

            Iwan terdiam sejenak memikirkan kata-kataku, mencari solusi. Dan tiba-tiba ia mendapatkan ide.

            “Itu Pak, ada di depan jalan, kebetulan operatornya bapaknya Desi, siswa yang pernah sekolah di sini.  Mungkin bisa kita minta tolong sebentar.”

            “Oiya, kita coba saja.  Siapa tahu bersedia,” ujarku

            Sore itu juga aku segera menuju ke rumah bapak Desi.  Di depan rumahnya terparkir alat berat yang ingin kami pinjam.  Aku memarkir sepeda motor di dekat alat berat itu. Sekilas kuamati dan berpikir semoga  ia mau membantuku.

            “Assalammualaikum,” aku menguluk salam

            “Waalaikumsalam, mari Pak, masuk,” jawab  suara dari dalam rumah. 

            Sesaat keluar laki-laki setengah baya berbadan kekar dengan senyum tersungging di wajah, yang ternyata bapaknya Desi. Aku mengutarakan maksud kedatanganku.  Ia tersenyum, setelah berdiskusi tentang biaya kita bersepakat dan ia bersedia membantu untuk mengoperasikan alat berat menggali tanah lubang pembuangan. 

            Alhamdulillah, terima kasih ya Allah atas pertolonganmu.  Engkau telah membukakan hati bapak Desi untuk mengatasi masalah pembuangan sekam/kotoran ayam.

 

#60HMB

#BATCH9

#DAY72

 

           

           

 

 

 

 

           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar