Selasa, 08 Maret 2022

KERIBUTAN YANG TIDAK (BIASA)

 

KERIBUTAN YANG TIDAK (BIASA)


            Hidup di lingkungan pasar memang harus ekstra sabar.  Terutama yang memiliki anak di bawah lima tahun.  Lingkungan yang tidak kondusif seperti kegaduhan, perilaku, dan segi kesehatan.  Beberapa hari yang lalu aku dan Meta anakku sedang di rumah beristirahat setelah beraktivitas seharian di sekolah. Aku menemaninya bermain, tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut dari sebelah.  Aku kaget bukan kepalang. Tanpa berpikir panjang aku berlari ke depan dan melihat ke sebelah.  Terlihat dua orang sedang beradu mulut.  Meta yang mengikutiku dari belakang ketakutan dengan segera memelukku.

            Tetangga yang lain juga tidak kalah terkejutnya, mereka berkerumun di depan rumah tempat kejadian perkara. Ada yang berusaha menenangkan dan memisahkan pihak yang sedang bertikai. Ada pula yang hanya menonton saja kejadian itu, sehingga menambah padat keadaan.

            “Pa, ada apa orang-orang itu?” tanyanya

            “Tidak ada apa-apa, yuk masuk ke dalam lagi,” ajakku sambil menutup pintu.

            Suara keras dari sebelah terus terdengar.  Aku mengalihkan perhatian Meta dengan memutar televisi.  Aku memencet tombol untuk mencari film kartun atau animasi  agar perhatian Meta beralih ke film itu. 

            “Meta, sini yuk, itu tuh lihat bebeknya sedang bermain di kolam bersama teman-temannya.”

            Dengan serta merta Meta menuju ke tengah ruangan yang hanya berukuran 2x2 meter persegi itu dan langsung duduk.  Mata kecilnya pun menatap layar kaca, perhatiannya sudah teralihkan ke televisi.  Aku bernafas lega, akhirnya anankku fokus menonton, ia sudah lupa kejadian tadi.

            “Ya, Allah…,” ucapku lirih sambil mengelus dada.

            Lambat laun suara ribut-ribut sudah mulai mereda.  Aku berjalan lima langkah dan mengintip ke luar, Meta masih asyik dengan animasinya, ternyata mereka sudah pada bubar.

            “Alhamdulillah, semoga tidak ada kejadian seperti itu lagi” batinku.

            Sungguh sebuah peristiwa yang tidak aku inginkan.  Meta anakku melihat perilaku yang kurang terpuji.  Deg-degan juga melihat kejadian tadi, apalagi Meta yang jarang mendengar suara keras membentak seperti itu.  Aku menyaksikan sendiri mimik Meta pucat dan hampir menangis. Tangan kecilnya memegang tanganku cukup erat. Pelukannya seolah mengisyaratkan permintaan perlindungan kepadaku. Keributan seperti itu sering terjadi di lingkungan kontrakan petakanku.       Malah biasanya saat Meta bermain dengan teman-temannya, keributan kecil terjadi.  Biasalah, anak-anak yang saling berebut mainan dan mainannya rusak lalu mengadukan ke orang tuanya.  Di situlah sumber keonaran, orang tua yang kurang memahami jiwa anak-anak dengan serta merta datang marah-marah. Anak-anak yang ketakutan melapor lagi ke orang tuanya lagi.  Akhirnya keributan antar tetangga terjadi. Satu sama lain menganggap diri mereka benar. Terkadang aku berpikir, kapan bisa hidup tenang. Aku juga mengkhawatirkan perkembangan mental Meta. Semoga tidak terjadi lagi keributan yang dapat menimbulkan dampak buruk kepada mental anak-anak.

 

#60HMB

#BATCH9

#DAY64

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar