KERIBUTAN YANG TIDAK (BIASA)
Hidup
di lingkungan pasar memang harus ekstra sabar.
Terutama yang memiliki anak di bawah lima tahun. Lingkungan yang tidak kondusif seperti
kegaduhan, perilaku, dan segi kesehatan.
Beberapa hari yang lalu aku dan Meta anakku sedang di rumah beristirahat
setelah beraktivitas seharian di sekolah. Aku menemaninya bermain, tiba-tiba
terdengar suara ribut-ribut dari sebelah.
Aku kaget bukan kepalang. Tanpa berpikir panjang aku berlari ke depan
dan melihat ke sebelah. Terlihat dua
orang sedang beradu mulut. Meta yang
mengikutiku dari belakang ketakutan dengan segera memelukku.
Tetangga
yang lain juga tidak kalah terkejutnya, mereka berkerumun di depan rumah tempat
kejadian perkara. Ada yang berusaha menenangkan dan memisahkan pihak yang
sedang bertikai. Ada pula yang hanya menonton saja kejadian itu, sehingga
menambah padat keadaan.
“Pa,
ada apa orang-orang itu?” tanyanya
“Tidak
ada apa-apa, yuk masuk ke dalam lagi,” ajakku sambil menutup pintu.
Suara
keras dari sebelah terus terdengar. Aku
mengalihkan perhatian Meta dengan memutar televisi. Aku memencet tombol untuk mencari film kartun
atau animasi agar perhatian Meta beralih
ke film itu.
“Meta,
sini yuk, itu tuh lihat bebeknya sedang bermain di kolam bersama
teman-temannya.”
Dengan
serta merta Meta menuju ke tengah ruangan yang hanya berukuran 2x2 meter
persegi itu dan langsung duduk. Mata
kecilnya pun menatap layar kaca, perhatiannya sudah teralihkan ke televisi. Aku bernafas lega, akhirnya anankku fokus
menonton, ia sudah lupa kejadian tadi.
“Ya,
Allah…,” ucapku lirih sambil mengelus dada.
Lambat
laun suara ribut-ribut sudah mulai mereda.
Aku berjalan lima langkah dan mengintip ke luar, Meta masih asyik dengan
animasinya, ternyata mereka sudah pada bubar.
“Alhamdulillah,
semoga tidak ada kejadian seperti itu lagi” batinku.
Sungguh
sebuah peristiwa yang tidak aku inginkan.
Meta anakku melihat perilaku yang kurang terpuji. Deg-degan juga melihat kejadian tadi, apalagi
Meta yang jarang mendengar suara keras membentak seperti itu. Aku menyaksikan sendiri mimik Meta pucat dan
hampir menangis. Tangan kecilnya memegang tanganku cukup erat. Pelukannya seolah
mengisyaratkan permintaan perlindungan kepadaku. Keributan seperti itu sering
terjadi di lingkungan kontrakan petakanku. Malah
biasanya saat Meta bermain dengan teman-temannya, keributan kecil terjadi. Biasalah, anak-anak yang saling berebut
mainan dan mainannya rusak lalu mengadukan ke orang tuanya. Di situlah sumber keonaran, orang tua yang
kurang memahami jiwa anak-anak dengan serta merta datang marah-marah. Anak-anak
yang ketakutan melapor lagi ke orang tuanya lagi. Akhirnya keributan antar tetangga terjadi.
Satu sama lain menganggap diri mereka benar. Terkadang aku berpikir, kapan bisa
hidup tenang. Aku juga mengkhawatirkan perkembangan mental Meta. Semoga tidak
terjadi lagi keributan yang dapat menimbulkan dampak buruk kepada mental
anak-anak.
#60HMB
#BATCH9
#DAY64
Tidak ada komentar:
Posting Komentar