Minggu, 13 Maret 2022

KHAWATIR

 

KHAWATIR

 

            Mendung menggantung sore itu di atas awan.  Namun udara di dalam ruangan cukup panas, biasanya jika seperti ini akan hujan deras.  Keringat bercucuran membasahi seluruh badan. Aku dan anak-anak  membuka semua jendela dan pintu rumah agar angin dapat masuk ke dalam rumah.  Benar saja malam hari hujan disertai angin kencang mengguyur tanpa henti.  Aku mulai kepikiran kandang closed house di sekolah.  Semoga listrik tidak padam, karena biasanya jika hujan deras PLN akan dengan segera mematikan aliran listrik untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

            Kulihat jam dinding menunjukkan pukul 01.30, aku gelisah, sepanjang malam, pikiranku tertuju kepada ABK di kandang..  Bagaimana dengan ABK di kandang? Apakah mereka baik-baik saja? Ataukah…? Ya Allah jangan sampai terjadi.

            Aku mencoba menghubungi mereka satu per satu melalui handphone.  Tetapi tidak ada respon sama sekali.  Aku telpon melalui whatsapp juga “calling”.  Mungkin suara hujan demikian keras sehingga mereka tidak mendengar bunyi nada dering ataukah sinyal sedang terganggu.  Aku cemas sekali, kucoba sekali lagi menghubungi mereka, lagi-lagi tidak ada respon. 

            “Waduh, gimana ini?

            “Kenapa Pak?” tanya isteriku.

            Isteriku terbangun juga, khawatir melihatku mondar-mandir gelisah tidak menentu.

            “Semoga listrik di kandang tidak padam, Ma.  Kalau sampai padam bagaimana dengan ABK dan ayam yang di kandang?” kataku menjelaskan

            “Oooo, itu yang menyebabkan Papa cemas,” kata Isteriku lagi

            “Iya, apalagi Idul tadi pagi izin pulang, neneknya meninggal dunia.”

            Idul adalah salah seorang  ABK yang sudah dilatih untuk segera menyalakan .mesin gen set apabila aliran listrik PLN padam.   Posisi panel listrik pergantian dari PLN ke gen set berada di luar samping depan kandang, sedangkan mesin gen set berada sekitar 20 m di samping belakang kandang.  Sehingga membuthkan waktu untuk sampai cepat mencapai gen set.  Ditambah lagi hujan deras.  Aku khawatir jika air hujan sampai masuk ke dalam panel akan menyebabkan korsleting listrik.  Ini sangat membahayakan, panel listrik ini bertegangan tinggi.

            Belum lagi kalau ABK sudah gugup dan bingung karena harus sigap segera menyalakan gen set, mereka lupa mengenakan sandal maka akan sangat berbahaya.  Atau karena cepat-cepat ingin mencapai gen set, kondisi gelap di kandang mereka lari kemudian menginjak-injak ayam.

            “Ya Allah lindungi mereka, berikan mereka keselamatan,” ucapku lirih.

            Aku melihat keluar jendela, di atas awan kilat menyala disusul bunyi menggelegar, hujan kian deras.  Aku berusaha menenangkan pikiranku dan bertanya dalam hati, apa yang harus aku lakukan. Oiya, aku ingat Bu Ani yang tinggal di dekat sekolah. Bagaimana kalau aku menghubunginya untuk menanyakan informasi keadaan di sekitar sana.  Sedetik kemudian aku menekan nomor hand phone nya,, semoga ia mendengar bunyi hp.

            “Tolong angkat Bu,” kataku dalam hati

            “Halo…, halo… Pak” jawab Bu Ani dari seberang sana

            “Eh, iya Bu Ani, maaf malam-malam mengganggu.  Mau tanya, apakah listrik di situ menyala?”

            “Iya Pak, Alhamdulilllah menyala.  Memangnya kenapa Pak? Tanyanya balik kepadaku.

            “Alhamdulillah, ini Bu, saya khawatir dengan anak-anak di kandang,”

            ‘Baik Bu terima kasih informasinya.”

            “Iya Pak sama-sama,” ucapnya.

            Aku pun bernafas lega telah mendapatkan informasi yang menenangkan hati.  Aku mengucapkan syukur kepada Allah. Terima kasih Ya Allah.

 

#60HMB

#BATCH9

#DAY69

           

           

 

           

 

           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar