KHAWATIR
Mendung
menggantung sore itu di atas awan. Namun
udara di dalam ruangan cukup panas, biasanya jika seperti ini akan hujan
deras. Keringat bercucuran membasahi
seluruh badan. Aku dan anak-anak membuka
semua jendela dan pintu rumah agar angin dapat masuk ke dalam rumah. Benar saja malam hari hujan disertai angin kencang
mengguyur tanpa henti. Aku mulai kepikiran
kandang closed house di sekolah. Semoga listrik tidak padam, karena biasanya
jika hujan deras PLN akan dengan segera mematikan aliran listrik untuk
menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
Kulihat
jam dinding menunjukkan pukul 01.30, aku gelisah, sepanjang malam, pikiranku
tertuju kepada ABK di kandang..
Bagaimana dengan ABK di kandang? Apakah mereka baik-baik saja? Ataukah…?
Ya Allah jangan sampai terjadi.
Aku
mencoba menghubungi mereka satu per satu melalui handphone. Tetapi tidak ada
respon sama sekali. Aku telpon melalui whatsapp juga “calling”. Mungkin suara
hujan demikian keras sehingga mereka tidak mendengar bunyi nada dering ataukah
sinyal sedang terganggu. Aku cemas
sekali, kucoba sekali lagi menghubungi mereka, lagi-lagi tidak ada respon.
“Waduh,
gimana ini?
“Kenapa
Pak?” tanya isteriku.
Isteriku
terbangun juga, khawatir melihatku mondar-mandir gelisah tidak menentu.
“Semoga
listrik di kandang tidak padam, Ma.
Kalau sampai padam bagaimana dengan ABK dan ayam yang di kandang?” kataku
menjelaskan
“Oooo, itu yang menyebabkan Papa cemas,” kata Isteriku lagi
“Iya,
apalagi Idul tadi pagi izin pulang, neneknya meninggal dunia.”
Idul
adalah salah seorang ABK yang sudah
dilatih untuk segera menyalakan .mesin gen
set apabila aliran listrik PLN padam.
Posisi panel listrik pergantian
dari PLN ke gen set berada di luar samping depan kandang, sedangkan mesin gen
set berada sekitar 20 m di samping belakang kandang. Sehingga membuthkan waktu untuk sampai cepat
mencapai gen set. Ditambah lagi hujan deras. Aku khawatir jika air hujan sampai masuk ke
dalam panel akan menyebabkan korsleting listrik. Ini sangat membahayakan, panel listrik ini
bertegangan tinggi.
Belum
lagi kalau ABK sudah gugup dan bingung karena harus sigap segera menyalakan gen
set, mereka lupa mengenakan sandal maka akan sangat berbahaya. Atau karena cepat-cepat ingin mencapai gen
set, kondisi gelap di kandang mereka lari kemudian menginjak-injak ayam.
“Ya
Allah lindungi mereka, berikan mereka keselamatan,” ucapku lirih.
Aku
melihat keluar jendela, di atas awan kilat menyala disusul bunyi menggelegar, hujan
kian deras. Aku berusaha menenangkan
pikiranku dan bertanya dalam hati, apa yang harus aku lakukan. Oiya, aku ingat
Bu Ani yang tinggal di dekat sekolah. Bagaimana kalau aku menghubunginya untuk
menanyakan informasi keadaan di sekitar sana.
Sedetik kemudian aku menekan nomor hand
phone nya,, semoga ia mendengar bunyi hp.
“Tolong
angkat Bu,” kataku dalam hati
“Halo…,
halo… Pak” jawab Bu Ani dari seberang sana
“Eh,
iya Bu Ani, maaf malam-malam mengganggu.
Mau tanya, apakah listrik di situ menyala?”
“Iya
Pak, Alhamdulilllah menyala. Memangnya
kenapa Pak? Tanyanya balik kepadaku.
“Alhamdulillah,
ini Bu, saya khawatir dengan anak-anak di kandang,”
‘Baik
Bu terima kasih informasinya.”
“Iya
Pak sama-sama,” ucapnya.
Aku
pun bernafas lega telah mendapatkan informasi yang menenangkan hati. Aku mengucapkan syukur kepada Allah. Terima
kasih Ya Allah.
#60HMB
#BATCH9
#DAY69
Tidak ada komentar:
Posting Komentar