Rabu, 09 Maret 2022

BU DINA

 

 

BU DINA

 

            Awan putih menemaniku selama perjalanan menuju sekolah.  Udara begitu cerah dan angin sejuk menerpa wajahku yang kututupi masker.  Sepeda motor yang kukendarai melaju pelan di jalan berkerikil yang terus menggoyang badanku di atas motor.  Meski jalan belum beraspal tetapi aku sangat bersyukur jika dibandingkan beberapa bulan lalu, saat melintas harus melewati jembatan darurat dari kayu yang dibuat warga agar bisa sampai ke seberang.  Jembatan ini hanya bisa dilalui satu sepeda motor saja.  Sehingga warga harus bergantian ketika melewati jembatan ini. 

            Tanpa terasa sudah empat puluh lima menit aku di atas motor.  Sampailah aku di depan sekolah, terlihat pak satpam sedang menyiram tanaman.

            “Assalammualaikum.”

            “Waalaikumsalam, selamat pagi Pak,” ucapnya

            Aku bergegas menuju ruang instruktur di ruang praktik sekolah, di sinilah aku dan teman-teman satu prodi berkumpul dari pagi hingga sore.  Ruang belajar berada di belakang, kondisi ini memudahkan kami dalam memantau proses pembelajaran.

            “Kemana Bu Dina, ya?” tanyaku kepada Bu Dewi yang sudah lebih dahulu berada di ruangan.

            “Kurang tahu juga pak, semenjak ada pengumuman kelulusan menjadi tenaga kontrak tidak pernah lagi melaksanakan tugas.”

            “Nomor handphone- nya juga tidak bisa dihubungi,” tambahnya lagi.

            “Sekarang ada jam pelajarannya di kelas XII, terpaksa aku lagi yang menggantikannya, minggu lalu juga begitu,” kataku.  Kebetulan setiap jam pelajarannya tidak bersamaan dengan jam mengajarku.  Aku segera menuju kelas XII.

            Beberapa minggu ini rekan kerjaku, Dina tidak pernah hadir melaksanakan tugas. Setelah ada pengumuman kelulusannya jarang terlihat lagi di sekolah. Tampaknya ia sangat bahagia sekali ketika  dinyatakan lulus sebagai tenaga kontrak.  Baginya ini merupakan hadiah terbesar yang sudah begitu lama diinginkannya.    Bukan tanpa alasan jika ia sangat menikmati kebahagiaan ini.  Selama 5 tahun sebagai single parent harus menghidupi sendiri dirinya dan   anak perempuan yang bernama Cindy.  Suaminya telah meninggal dunia ketika anaknya berusia 2 tahun.

            Di koridor kelas aku berpapasan dengan Bu Anti, kami saling bertegur sapa dan menanyakan kabar hari ini.

            “Mengajar di kelas berapa Pak?” tanyanya

            “Di kelas XII menggantikan Bu Dina.”

            “Oooo, saya dengar ia sudah melapor ke tempat tugasnya yang baru Pak.  Kemarin ada statusnya di facebook sudah mengikuti upacara di sekolah barunya,” kata Bu Anti.

            “Begitu ya bu.  Maaf bu saya duluan ya anak-anak sudah menunggu di kelas.”

            Aku melanjutkan langkah menuju ke kelas.  Selama berjalan masih terngiang kata-kata Bu Anti tadi.  Bukankah jika kita melaksanakan tugas di tempat yang baru harus menunggu surat keputusan resmi terlebih dahulu? Tapi entahlah, mungkin kita berbeda pandangan tentang ini.

            “Ah, sudahlah positive thinking aja,” kataku dalam hati sambil  memasuki kelas dan mulai mengajar.

 

#60HMB

#BATCH9

#DAY65

Tidak ada komentar:

Posting Komentar