BU DINA
Awan
putih menemaniku selama perjalanan menuju sekolah. Udara begitu cerah dan angin sejuk menerpa
wajahku yang kututupi masker. Sepeda motor
yang kukendarai melaju pelan di jalan berkerikil yang terus menggoyang badanku
di atas motor. Meski jalan belum
beraspal tetapi aku sangat bersyukur jika dibandingkan beberapa bulan lalu,
saat melintas harus melewati jembatan darurat dari kayu yang dibuat warga agar
bisa sampai ke seberang. Jembatan ini
hanya bisa dilalui satu sepeda motor saja.
Sehingga warga harus bergantian ketika melewati jembatan ini.
Tanpa
terasa sudah empat puluh lima menit aku di atas motor. Sampailah aku di depan sekolah, terlihat pak
satpam sedang menyiram tanaman.
“Assalammualaikum.”
“Waalaikumsalam,
selamat pagi Pak,” ucapnya
Aku
bergegas menuju ruang instruktur di ruang praktik sekolah, di sinilah aku dan
teman-teman satu prodi berkumpul dari pagi hingga sore. Ruang belajar berada di belakang, kondisi ini
memudahkan kami dalam memantau proses pembelajaran.
“Kemana
Bu Dina, ya?” tanyaku kepada Bu Dewi yang sudah lebih dahulu berada di ruangan.
“Kurang
tahu juga pak, semenjak ada pengumuman kelulusan menjadi tenaga kontrak tidak pernah
lagi melaksanakan tugas.”
“Nomor
handphone- nya juga tidak bisa dihubungi,” tambahnya lagi.
“Sekarang
ada jam pelajarannya di kelas XII, terpaksa aku lagi yang menggantikannya,
minggu lalu juga begitu,” kataku.
Kebetulan setiap jam pelajarannya tidak bersamaan dengan jam
mengajarku. Aku segera menuju kelas XII.
Beberapa
minggu ini rekan kerjaku, Dina tidak pernah hadir melaksanakan tugas. Setelah
ada pengumuman kelulusannya jarang terlihat lagi di sekolah. Tampaknya ia
sangat bahagia sekali ketika dinyatakan
lulus sebagai tenaga kontrak. Baginya
ini merupakan hadiah terbesar yang sudah begitu lama diinginkannya. Bukan tanpa alasan jika ia sangat menikmati
kebahagiaan ini. Selama 5 tahun sebagai single parent harus menghidupi sendiri
dirinya dan anak perempuan yang bernama
Cindy. Suaminya telah meninggal dunia
ketika anaknya berusia 2 tahun.
Di
koridor kelas aku berpapasan dengan Bu Anti, kami saling bertegur sapa dan
menanyakan kabar hari ini.
“Mengajar
di kelas berapa Pak?” tanyanya
“Di
kelas XII menggantikan Bu Dina.”
“Oooo,
saya dengar ia sudah melapor ke tempat tugasnya yang baru Pak. Kemarin ada statusnya di facebook sudah mengikuti upacara di sekolah barunya,” kata Bu Anti.
“Begitu
ya bu. Maaf bu saya duluan ya anak-anak
sudah menunggu di kelas.”
Aku
melanjutkan langkah menuju ke kelas. Selama
berjalan masih terngiang kata-kata Bu Anti tadi. Bukankah jika kita melaksanakan tugas di
tempat yang baru harus menunggu surat keputusan resmi terlebih dahulu? Tapi
entahlah, mungkin kita berbeda pandangan tentang ini.
“Ah,
sudahlah positive thinking aja,”
kataku dalam hati sambil memasuki kelas
dan mulai mengajar.
#60HMB
#BATCH9
#DAY65
Tidak ada komentar:
Posting Komentar