Jumat, 18 Maret 2022

PANEN

 

PANEN

 

            Tiba-tiba beberapa kendaraan yang di desain sebagai mobil pengangkut ayam memasuki kandang.  Aku yang sedang memberikan pengarahan kepada siswa kelas XII sangat terkejut dengan kedatangan mobil-mobil tersebut.  Memang kemarin ada rencana mau panen ayam tetapi dari pihak kemitraan sampai pagi ini belum mengonfirmasikan kepada kami sebagai pengelola kandang closed house sekolah.

            Aku segera berkomunikasi dengan teman-teman dan anak buah kandang untuk secepatnya melakukan persiapan kandang.  Saat itu jarum jam menunjukkan pukul 09.00, matahari di kandang mulai memancarkan sinarnya yang membuat kami memicingkan mata jika berada di area halaman kandang.  Artinya hari ini suhu pasti sangat panas.  Bagaimana dengan ayam broiler yang selalu berada di tempat yang sejuk dan tidak tahan panas?

            “Ah, sudahlah nanti aku kondisikan,” batinku

            Persipan mulai kami lakukan.  Anak buah kandang bertugas menyiapkan peralatan di yang akan digunakan dalam pemanenan. 

            “Ibra tolong sekat ayam di bagian belakang dengan paranet,” kataku

            “Idul, siapkan timbangan digital di dekat pintu belakang kandang. Hasri siapkan alat tulisnya ya.”

            Setelah peralatan semuanya siap, aku berdiskusi dengan bakul tentang aturan pemanenan.  Aku perlu melakukan ini agar bakul memahami juga resiko yang akan diterima jika tidak mematuhinya.  Terutama dalam penggunaan timbangan untuk mengetahui bobot jual ayam.

            “Maaf Pak, perlu saya sampaikan bahwa kita menggunakan timbangan dacin digital untuk meminimalisir kematian ayam selama perjalanan.”

            “Waduh, tidak bisa begitu Pak.  Kalau kita pakai timbangan dacin akan lama proses pemindahan ayam ke dalam mobil karena ayam akan stress.  Bayangkan setelah ditangkap, ayam ditimbang kemudian ditangpak lagi dan dimasukkan ke dalam keranjang.  Kalau kami biasanya main cantik dengan peternak, dengan menggunakan timbangan gantung,” ucap Bakul 1 panjang lebar.

             “Iya, nanti tidak ada bakul yang ambil ayam di kandang sini lagi jika aturannya seperti itu,” ujar Bakul 2.

            Disampingku berdiri Bu Tina dan Bu Anti, mereka memberi kode kepadaku untuk tetap pada prinsip. 

            “Ayam dari kandang closed house tidak bisa digantung berlama-lama di timbangan Pak.  Nanti stress dan banyak mati selama pengangkutan dan kami tidak mau menggantinya.  Bapak mau menanggung resikonya?” aku menjelaskan panjang lebar. 

            “Iya Pak, kalau ayam dari kandang open house mungkin bisa digantung di timbangan untuk mengetahui bobot badannya,” kata Bu Anti berusaha memberi pengertian.

            Dengan sedikit berat hati Bakul 1 dan 2 menyetujui aturan ini.  Penangkapan ayam mulai dilakukan, ayam ditangkap sebanyak lima ekor kemudian dimasukkan ke dalam keranjang untuk ditimbang.  Bu Tina bertugas mencatat bobot badan ayam. 

            Cuaca di kandang mulai tidak kondusif, ayam yang sudah berada dalam mobil angkut mengalami panting.  Aku menugaskan kepada Tatang, satpam kandang untuk mengambil kipas angin besar. 

            “Tang, tolong ambil kipas angina di kantor ya,”

            “Baik pak,” jawabnya.

            Setelah beberapa menit datang membawa kipas angin.  Aku meletakkan kipas angina di samping mobil angkut ayam. Dengan segera pula aku menarik kabel panjang dan menyalakannya.  Ayam masih terlihat megap-megap. 

            “Tang tolong siapkan selang air.”

            “Untuk apa Pak?” tanyanya

            “Untuk menyemprot ayam agar tidak kepanasan.”

            Secepat kilat Tatang berlari mengambil selang dan memasangnya di kran dekat kandang.

            “Tolong semprot ayamnya dari atas sampai ke bawah ya,” kataku kepada anak buah bakul.

            Proses penangkapan, penimbangan dan pemindahan ayam ke mobil memakan waktu cukup lama karena  satu mobil maksimal berisi 500 ekor ayam.  Setelah mobil penuh dan bakul menandatangani administrasi maka rombongan mobil 1 siap diberangkatkan.

            Aku mengarahkan pandangan ke halaman kandang yang begitu luas. 

            “Ya, Allah,” ucapku lirih

            Di halaman kandang sudah berderet sekitar 10 mobil lagi yang siap mengangkut ayam.  Ini artinya pemanenan akan berlangsung sampai malam.  Tak apalah tetap harus semangat.  Terima kasih Ya Allah, Engkau telah mengabulkan permohonan kami memiliki kandang modern kapasitas 20 ribu ekor guna peningkatan kompetensi siswa.

 

#60HMB

#BATCH9

#DAY74

           

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar