Rabu, 02 Maret 2022

SABAR

 

 SABAR

 

            Berada pada ruang yang sama setiap hari membuat dan teman-teman dihinggapi rasa bosan.  Sudah beberapa minggu peternak tidak membawa kami menikmati makanan segar yang ada di persawahan.  Kami sangat menginginkan ikan kecil-kecil dan sayuran yang masih alami.  Makanan alami membuat kami menjadi lebih sehat karena belum melalui banyak pengolahan sehingga nilai gizinya masih ada.  Berbeda halnya makanan yang sudah mengalami banyak proses pengolahan, biasanya ketika kita makan nilai gizinya sudah hilang.

            Entah apa alasan peternak tidak pernah lagi membawa kami ke persawahan.

            “Oila, kenapa ya… kita tidak pernah diajak lagi makan di sawah?” tanyaku kepada Oila yang sedari tadi duduk termenung.

            “Iya ya Oiler, padahal aku sangat merindukan suasana berburu makanan di alam.”

            “Mungkin peternak masih sibuk sehingga belum bisa membawa kita keluar,” ucap Oili.

            “Hhhmmm, enaknya kalau kita bisa menyantap makanan alami.  Pasti rasanya kres…kres… renyah dan manis karena belum melalui proses pemanasan,” ujarku lagi.

            “Iya, aku bisa membayangkan. Hhhmm…nikmat sekali,”ucap Oili.              “Sambil makan kita bermain dan berlari-lari di sawah.”

            Ya, suasana menyantap makanan bersama-sama cukup menggembirakan.  Meski sederhana tetapi terdapat nilai kebersamaan yang luar biasa.  Jika ada salah satu dari kami menemukan lokasi makanan yang berlimpah maka beramai-beramai kami memakannya.  Begitu pula jika dalam satu hari makanan yang kami dapatkan tidak terlalu banyak maka kami akan membaginya secara merata.

            “Semoga besok kita bisa keluar ya teman-teman menikmati pemandangan dan menghirup udara segar,” kataku

            “Iya, semoga peternak mengingat kita lagi.” ucap Oili sedih

            Dari kejauhan aku melihat kedatangan peternak menuju ke kandang bersama seseorang yang belum kami kenal.  Setelah mendekati tempat kami tampak mereka sedang membicarakan sesuatu.  Mereka berdiskusi cukup serius, sesekali aku mendengarkan percakapan mereka.

            “Pak Todi, banyak sekali itik bapak.  Bagaimana cara memeliharanya sehingga bisa berhasil seperti ini?” tanya pria tidak dikenal itu.

            “Alhamdulillah, itik-itik ini cukup mudah pemeliharaannya. Kita hanya memberikan pakan dan memperhatikan manajemen pemeliharaannya.”

            “Oiya, apakah Pak Todi sering juga menggembalakan itik bapak di sawah?” tanya pria itu lagi.

            “Iya, saya dulu saya sering membawa mereka ke sawah mencari makanan sendiri.  Tetapi akhir-akhir ini saya jarang membawa mereka ke sana,” jawab pak Todi.

            “Lho kenapa Pak? Kalau kita membawa mereka ke sawah akan lebih menghemat biaya pakan kan?”

            Aku terus nguping pembicaraan mereka.  Pak Todi mengatakan sawah di sekitar kandang sudah tidak memungkinkan lagi sebagai tempat penggembalaan.  Para petani menggunakan pupuk dan pestisida kimia yang sangat berbahaya. Jika kami mengonsumsi makanan bekas penyemprotan maka bisa-bisa kami akan mati.

            “Aku mengkhawatirkan jika itik-itikku makan makanan di sawah, mereka akan keracunan dan akan mati,” jawab Pak Todi

            Jleb, aku kaget. 

            “Benarkah segawat itu?” batinku

            Aku segera berlari ke arah teman-temanku. 

            “Ada apa Oiler?” tanya Oili

            Akupun menceritakan hasil pembicaraan Pak Todi dengan rekannya tadi kepada teman-temanku. Mereka mulai mengerti, mengapa selama ini Pak. Todi tidak pernah lagi membawa kami ke sawah. 

           

 #60HMB

#BATCH9

#DAY58

 

           

 

           

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar