SABAR
Berada
pada ruang yang sama setiap hari membuat dan teman-teman dihinggapi rasa
bosan. Sudah beberapa minggu peternak
tidak membawa kami menikmati makanan segar yang ada di persawahan. Kami sangat menginginkan ikan kecil-kecil dan
sayuran yang masih alami. Makanan alami
membuat kami menjadi lebih sehat karena belum melalui banyak pengolahan
sehingga nilai gizinya masih ada.
Berbeda halnya makanan yang sudah mengalami banyak proses pengolahan,
biasanya ketika kita makan nilai gizinya sudah hilang.
Entah
apa alasan peternak tidak pernah lagi membawa kami ke persawahan.
“Oila,
kenapa ya… kita tidak pernah diajak lagi makan di sawah?” tanyaku kepada Oila
yang sedari tadi duduk termenung.
“Iya
ya Oiler, padahal aku sangat merindukan suasana berburu makanan di alam.”
“Mungkin
peternak masih sibuk sehingga belum bisa membawa kita keluar,” ucap Oili.
“Hhhmmm,
enaknya kalau kita bisa menyantap makanan alami. Pasti rasanya kres…kres… renyah dan manis
karena belum melalui proses pemanasan,” ujarku lagi.
“Iya,
aku bisa membayangkan. Hhhmm…nikmat sekali,”ucap Oili. “Sambil
makan kita bermain dan berlari-lari di sawah.”
Ya,
suasana menyantap makanan bersama-sama cukup menggembirakan. Meski sederhana tetapi terdapat nilai
kebersamaan yang luar biasa. Jika ada
salah satu dari kami menemukan lokasi makanan yang berlimpah maka
beramai-beramai kami memakannya. Begitu
pula jika dalam satu hari makanan yang kami dapatkan tidak terlalu banyak maka
kami akan membaginya secara merata.
“Semoga
besok kita bisa keluar ya teman-teman menikmati pemandangan dan menghirup udara
segar,” kataku
“Iya,
semoga peternak mengingat kita lagi.” ucap Oili sedih
Dari
kejauhan aku melihat kedatangan peternak menuju ke kandang bersama seseorang
yang belum kami kenal. Setelah mendekati
tempat kami tampak mereka sedang membicarakan sesuatu. Mereka berdiskusi cukup serius, sesekali aku
mendengarkan percakapan mereka.
“Pak
Todi, banyak sekali itik bapak.
Bagaimana cara memeliharanya sehingga bisa berhasil seperti ini?” tanya pria
tidak dikenal itu.
“Alhamdulillah,
itik-itik ini cukup mudah pemeliharaannya. Kita hanya memberikan pakan dan
memperhatikan manajemen pemeliharaannya.”
“Oiya,
apakah Pak Todi sering juga menggembalakan itik bapak di sawah?” tanya pria itu
lagi.
“Iya,
saya dulu saya sering membawa mereka ke sawah mencari makanan sendiri. Tetapi akhir-akhir ini saya jarang membawa
mereka ke sana,” jawab pak Todi.
“Lho
kenapa Pak? Kalau kita membawa mereka ke sawah akan lebih menghemat biaya pakan
kan?”
Aku
terus nguping pembicaraan mereka. Pak
Todi mengatakan sawah di sekitar kandang sudah tidak memungkinkan lagi sebagai
tempat penggembalaan. Para petani menggunakan
pupuk dan pestisida kimia yang sangat berbahaya. Jika kami mengonsumsi makanan
bekas penyemprotan maka bisa-bisa kami akan mati.
“Aku
mengkhawatirkan jika itik-itikku makan makanan di sawah, mereka akan keracunan
dan akan mati,” jawab Pak Todi
Jleb,
aku kaget.
“Benarkah
segawat itu?” batinku
Aku
segera berlari ke arah teman-temanku.
“Ada
apa Oiler?” tanya Oili
Akupun
menceritakan hasil pembicaraan Pak Todi dengan rekannya tadi kepada teman-temanku.
Mereka mulai mengerti, mengapa selama ini Pak. Todi tidak pernah lagi membawa
kami ke sawah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar