Minggu, 06 Maret 2022

GALAU

 

GALAU

 

            Malam itu begitu indah, aku dan isteri serta anak-anakku sangat gembira, baru saja aku menerima surat undangan pelantikan sebagai kepala sekolah di SMK PANCA HARAPAN.  Secangkir kopi menemaniku di meja kecil teras rumah. Seperti kebanyakan rumah guru yang berstatus ASN, memiliki rumah kecil berukuran 36 m2 sudah sangat bersyukur.  Rumah yang aku dapatkan dengan jerih payah mencicil melalui pinjaman di bank. Bagi kami meskipun gaji ASN pas pasan tetapi masih bisa gali lubang tutup lubang untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga. Sehingga aku dan isteri memberanikan diri mengambil kredit di bank. Aku berpikir kalau menunggu terkumpul uang baru membangun rumah maka berapa puluh tahun lagi kami akan memiliki rumah sendiri.  Sementara kebutuhan hidup lainnya juga harus terpenuhi.  

            Aku berpikir daripada membayar uang kontrak rumah terus menerus lebih baik membeli rumah dengan cara mencicil. Mereka pun setuju, intinya kala itu kami bertekad harus memiliki rumah, meski dengan konsekuensi hidup apa adanya dengan gaji yang tersisa.  Aku memberikan pengertian kepada isteri dan anak-anak agar hidup sederhana. Isteriku juga bersedia membantu perekonomian keluarga, ia berencana menjual nasi kuning  di depan rumah. 

            Teringat diskusi kecil kami di rumah kontrakan berpetak milik ibu Fatimah. Aku mengungkapkan keinginanku.

            “Ma, gimana kalau kita beli rumah dengan meminjam uang di bank?”

            “Tapi nanti tidak cukup uang untuk makan sehari-hari Pa.  Mana uang harian, jajan anak-anak, uang sekolah,” kata isteriku

            “Pilih mana Ma, setiap bulan kita membayar kontrak rumah atau mencicil di bank tapi rumah itu nantinya menjadi milik kita.”

            “Bagaimana nanti jika ada kebutuhan yang tiba-tiba Pa? Anak-anak sudah mulai besar” ucap isteriku khawatir.

            Ucapan isteriku benar juga, bagaiman kalau ada kebutuhan mendadak, mau pinjam di mana, sementara gaji tinggal sedikit. Aku gamang lagi, aku mulai ragu.  Tidak mungkin kami harus meminjam ke orang tua atau keluarga, sementara mereka juga memiliki kebutuhan hidup.  Beberapa hari kami berdiskusi secara alot tentang rumah.  Isteriku masih belum mau menerima kalau gajiku nantinya akan tergadai di bank.  Aku juga tidak bisa memaksakan diri agar ia mau mengikuti keputusanku. Galau super galau waktu itu.


#60HMB

#BATCH9

#DAY62

           

           

             

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar