GALAU
Malam
itu begitu indah, aku dan isteri serta anak-anakku sangat gembira, baru saja
aku menerima surat undangan pelantikan sebagai kepala sekolah di SMK PANCA
HARAPAN. Secangkir kopi menemaniku di
meja kecil teras rumah. Seperti kebanyakan rumah guru yang berstatus ASN,
memiliki rumah kecil berukuran 36 m2 sudah sangat bersyukur. Rumah yang aku dapatkan dengan jerih payah mencicil
melalui pinjaman di bank. Bagi kami meskipun gaji ASN pas pasan tetapi masih
bisa gali lubang tutup lubang untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga. Sehingga
aku dan isteri memberanikan diri mengambil kredit di bank. Aku berpikir kalau
menunggu terkumpul uang baru membangun rumah maka berapa puluh tahun lagi kami
akan memiliki rumah sendiri. Sementara
kebutuhan hidup lainnya juga harus terpenuhi.
Aku
berpikir daripada membayar uang kontrak rumah terus menerus lebih baik membeli
rumah dengan cara mencicil. Mereka pun setuju, intinya kala itu kami bertekad harus
memiliki rumah, meski dengan konsekuensi hidup apa adanya dengan gaji yang
tersisa. Aku memberikan pengertian
kepada isteri dan anak-anak agar hidup sederhana. Isteriku juga bersedia
membantu perekonomian keluarga, ia berencana menjual nasi kuning di depan rumah.
Teringat
diskusi kecil kami di rumah kontrakan berpetak milik ibu Fatimah. Aku
mengungkapkan keinginanku.
“Ma,
gimana kalau kita beli rumah dengan meminjam uang di bank?”
“Tapi
nanti tidak cukup uang untuk makan sehari-hari Pa. Mana uang harian, jajan anak-anak, uang
sekolah,” kata isteriku
“Pilih
mana Ma, setiap bulan kita membayar kontrak rumah atau mencicil di bank tapi
rumah itu nantinya menjadi milik kita.”
“Bagaimana
nanti jika ada kebutuhan yang tiba-tiba Pa? Anak-anak sudah mulai besar” ucap
isteriku khawatir.
Ucapan
isteriku benar juga, bagaiman kalau ada kebutuhan mendadak, mau pinjam di mana,
sementara gaji tinggal sedikit. Aku gamang lagi, aku mulai ragu. Tidak mungkin kami harus meminjam ke orang
tua atau keluarga, sementara mereka juga memiliki kebutuhan hidup. Beberapa hari kami berdiskusi secara alot tentang
rumah. Isteriku masih belum mau menerima
kalau gajiku nantinya akan tergadai di bank.
Aku juga tidak bisa memaksakan diri agar ia mau mengikuti keputusanku.
Galau super galau waktu itu.
#60HMB
#BATCH9
#DAY62
Tidak ada komentar:
Posting Komentar