PERPISAHAN
Saatnya
mengucapkan selamat tinggal kepada teman-temanku. Aku sudah bersama mereka selama lima
bulan. Sedari kecil kami berkumpul,
berdiskusi, dan berbagi suka duka bersama.
Bagi itik petelur memasuki usia enam bulan merupakan masa yang paling
berat. Kami harus rela dipisahkan karena
proses seleksi. Kami akan dipantau
sampai bulan ke delapan untuk seleksi kedua kalinya. Ketika mencapai umur delapan bulan kami harus
siap berpisah. Sungguh sebuah keadaan
yang tidak kami inginkan tetapi kami terpaksa harus mematuhinya.
Malam
hari sebelum berpisah, aku berkumpul dengan teman-teman untuk membicarakan kemungkinan
yang akan terjadi.
“Teman-teman
semoga kita tidak jadi dipisahkan ya,” kataku berharap
“Iya,
kita sudah menyatu dalam suka dan duka,” ucap Ipit
“Seandainya
kita bisa mengatur semua ini. Tapi
apapun yang terjadi jika kita berpisah saling mengingat ya teman-teman,” ujar
Iza
“Aku
akan selalu mengingat kalian sebagai sahabat terbaikku. Jika dalam perjalanan waktu bersama kita
pernah melakukan hal-hal yang menyakitkan bahkan melukai hati, aku minta maaf
ya teman-teman.”
“Tidak
ada yang mau keadaan ini, namun kita juga tidak mampu mencegah hal ini terjadi,”
ucap Ipal.
“Semoga
banyak hikmah yang dapat kita ambil dalam kebersamaan kita. Teman-teman kita harus menumbuhkan kesadaran
bahwa tidak ada yang kekal di dunia ini. Dengan demikian kita akan ikhlas menerima
kondisi seburuk apapun.”
“Mungkin
kita harus berpikir bijak, semoga di tempat yang baru nanti kita akan
mendapatkan teman-teman sebaik kalian,” kata Ipal.
Ita
mulai menundukkan kepalanya, air matanya mulai mengalir membasahi pipinya.
Iza memeluk Ita sambil terisak pula.
Kami semua terbawa dalam suasana haru.
Aku pun memeluk mereka secara bersamaan.
“Maafkan
aku ya teman-teman jika selama ini pernah menyakiti hati teman-teman,” ucapku
lirih sambil mengusap air mata.
“Sama-sama,
maafkan aku juga,” ucap mereka serempak.
Tanpa
terasa malam semakin larut, Kami menuju ke tempat tidur masing-masing. Aku melihat Iza masih belum memejamkan
matanya. Iwa mulai berkemas dan Ipit menatap kosong ke arah langit memandangi
bintang. Seperti ada yang
dipikirkannya. Tapi aku juga tidak mampu
untuk menghiburnya. Ya “Tuhan…kuatkanlah
hati kami menghadapi kenyataan pahit yang harus kami hadapi.” Ucapku dalam hati
Akhirnya
tibalah hari yang telah ditentukan.
Peternak memindahkan kami satu per satu ke dalam keranjang yang
berbeda. Suasana riuh rendah terjadi,
kami menangis pasrah tidak mampu berbuat untuk tetap bertahan ke dalam
kelompok. Aku melihat Ipit dan Ipal melambaikan
tangan kepadaku. Demikian juga Iza, Iwa,
Ita, mereka sudah dibawa pergi terlebih dahulu.
Aku hanya menatap kosong kepergian mereka. Aku berharap semoga teman-teman betah di
tempat yang baru dan mendapatkan peternak yang mampu mengatur semuanya dengan
baik.
#60HMB
#BATCH9
#DAY59
Tidak ada komentar:
Posting Komentar