Kamis, 03 Maret 2022

PERPISAHAN

 

PERPISAHAN

 

            Saatnya mengucapkan selamat tinggal kepada teman-temanku.  Aku sudah bersama mereka selama lima bulan.  Sedari kecil kami berkumpul, berdiskusi, dan berbagi suka duka bersama.  Bagi itik petelur memasuki usia enam bulan merupakan masa yang paling berat.  Kami harus rela dipisahkan karena proses seleksi.  Kami akan dipantau sampai bulan ke delapan untuk seleksi kedua kalinya.  Ketika mencapai umur delapan bulan kami harus siap berpisah.  Sungguh sebuah keadaan yang tidak kami inginkan tetapi kami terpaksa harus mematuhinya.

            Malam hari sebelum berpisah, aku berkumpul dengan teman-teman untuk membicarakan kemungkinan yang akan terjadi. 

            “Teman-teman semoga kita tidak jadi dipisahkan ya,” kataku berharap

            “Iya, kita sudah menyatu dalam suka dan duka,” ucap Ipit

            “Seandainya kita bisa mengatur semua ini.  Tapi apapun yang terjadi jika kita berpisah saling mengingat ya teman-teman,” ujar Iza

            “Aku akan selalu mengingat kalian sebagai sahabat terbaikku.  Jika dalam perjalanan waktu bersama kita pernah melakukan hal-hal yang menyakitkan bahkan melukai hati, aku minta maaf ya teman-teman.”

            “Tidak ada yang mau keadaan ini, namun kita juga tidak mampu mencegah hal ini terjadi,” ucap Ipal.

            “Semoga banyak hikmah yang dapat kita ambil dalam kebersamaan kita.  Teman-teman kita harus menumbuhkan kesadaran bahwa tidak ada yang kekal di dunia ini. Dengan demikian kita akan ikhlas menerima kondisi seburuk apapun.”

            “Mungkin kita harus berpikir bijak, semoga di tempat yang baru nanti kita akan mendapatkan teman-teman sebaik kalian,” kata Ipal.

            Ita mulai menundukkan kepalanya, air matanya mulai mengalir membasahi  pipinya.  Iza memeluk Ita sambil terisak pula.  Kami semua terbawa dalam suasana haru.  Aku pun memeluk mereka secara bersamaan. 

            “Maafkan aku ya teman-teman jika selama ini pernah menyakiti hati teman-teman,” ucapku lirih sambil mengusap air mata.

            “Sama-sama, maafkan aku juga,” ucap mereka serempak. 

            Tanpa terasa malam semakin larut, Kami menuju ke tempat tidur masing-masing.  Aku melihat Iza masih belum memejamkan matanya. Iwa mulai berkemas dan Ipit menatap kosong ke arah langit memandangi bintang.  Seperti ada yang dipikirkannya.  Tapi aku juga tidak mampu untuk menghiburnya. Ya       “Tuhan…kuatkanlah hati kami menghadapi kenyataan pahit yang harus kami hadapi.” Ucapku dalam hati

            Akhirnya tibalah hari yang telah ditentukan.  Peternak memindahkan kami satu per satu ke dalam keranjang yang berbeda.  Suasana riuh rendah terjadi, kami menangis pasrah tidak mampu berbuat untuk tetap bertahan ke dalam kelompok.  Aku melihat Ipit dan Ipal melambaikan tangan kepadaku.  Demikian juga Iza, Iwa, Ita, mereka sudah dibawa pergi terlebih dahulu.  Aku hanya menatap kosong kepergian mereka.  Aku berharap semoga teman-teman betah di tempat yang baru dan mendapatkan peternak yang mampu mengatur semuanya dengan baik.


#60HMB

#BATCH9

#DAY59

           

           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar