IMPIANKU
Siang
ini cuaca amat terik seolah matahari ada dua. Terlihat dari kejauhan atap
kandang seperti mengeluarkan asap karena sinar matahari yang begitu menyengat. Jarak
kandang dengan pandanganku sekitar lima puluh meter, sehingga tampak jelas
“kepulan asap” meliuk dari seng mengarah ke awan. Entah berapa derajat jika diukur dengan
termometer. Suhu lingkungan sangat
menentukan suhu ruangan. Bagaimana suhu dalam kandang tertutup (closed house) berukuran 12x60 m2 dengan
populasi 10.000 ekor? Bisa dibayangkan
pasti ayam akan mengalami panting (megap-megap). Meski kandang tertutup sudah didesain
sedemikian rupa, namun tetap membutuhkan
keteliltian dan kejelian dalam mengatur suhu dalam kandang.
Aku
buru-buru masuk ke dalam kandang, seperti biasa sebelum masuk kucelupkan kakiku
terlebih dahulu ke dalam kolam air yang sudah dicampur desinfektan. Pintu yang terbuat dari besi kubuka perlahan
agar tidak menimbulkan bunyi yang dapat mengejutkan ayam. Ayam broiler adalah jenis ayam yang mudah
mengalami stress jika ada perlakuan dari lingkungan yang membuatnya tidak
nyaman, seperti suhu terlalu dingin, terlalu panas, bunyi yang keras, hembusan
angina yang kencang, perlakuan kasar dan sebagainya. Ketika ayam mengalami perlakuan di atas maka
dengan serta merta akan menurunkan kemampuannya mengonsumsi pakan. Penurunan konsumsi pakan akan menurunkan pula
feed intake dan akhirnya menghambat
pertumbuhannya.
“Ibra,
sudah kamu atur kebutuhan kipas dan cooling
pad dengan suhu dan kelembaban yang dibutuhkan ayam?” tanyaku
“Iya,
pak sudah,” jawabnya sambil memutar tempat pakan ayam.
Ibra
merupakan salah satu anak buah kandang (ABK) yang juga siswa prodi peternakan
di sekolah kami. Di luar jam sekolah ia bekerja membantu pamannya mengumpulkan
buah kelapa yang akan dijual kepada pengepul.
Suatu ketidaksengajaan, malam itu sekitar pukul 01.00 dini hari, DOC
(bibit ayam) datang, kebetulan salah seorang siswa kelas XI yang juga
tetangganya mengajaknya untuk ikut ke kandang. Ibra pun datang membantu kami
mengeluarkan DOC dari kotaknya. Aku perhatikan ia begitu cekatan dalam bekerja.
Pagi harinya aku menanyakan kesediaannya untuk menjadi salah seorang ABK di
kandang dan ia bersedia. Jadilah ia salah seorang tenaga handal di kandang
sekolah.
“Ibra
berapa ayam yang mati hari ini?”
“Alhamdulillah
hanya dua Pak,” jawabnya.
“Alhamdulillah.”
Kandang
tertutup modern (closed house) di
sekolah merupakan kandang bantuan dari pemerintah melalui Dana Alokasi Khusus
(DAK) untuk kebutuhan pembelajaran praktik siswa berbasis teaching factory. Aku sangat bersyukur, seperti mimpi yang menjadi
kenyataan. Memang benar apa kata orang, apa yang kita pikirkan dan ucapkan
pasti akan terjadi ketika kita meyakininya. Aku sangat menginginkan siswa dapat
mengupdate dan mengupgrade kemajuan teknologi peternakan terutama ternak unggas. Sehingga kompetensi siswa dapat seiring
sejalan dengan kebutuhan dunia usaha dan industri.
#60HMB
#BATCH9
#DAY68
Tidak ada komentar:
Posting Komentar