AKU MAMPU
Hari
demi hari kulalui dengan kecemasan dan kekhawatiran. Tidak berlebihan kiranya aku menginginkan
sesuatu yang aku dambakan dari dulu.
Cemas karena aku selalu berpikir dampak buruk yang akan terjadi. Aku juga khawatir akankah aku bisa
mewudukannya. Pergumulan kata “melanjutkan”
atau “berhenti”, terus berputar-putar di otakku. Aku sering menuliskan berbagai pertimbangan ke
dalam sebuah kertas. Kali ini aku
menuliskannya ke dalam bentuk puisi.
“Ipel,
sedang apa kamu?” Tanya Ivo.
Waduh,
bergegas aku beringsut dari tempat dudukku dan berdiri menemui Ivo yang datang
tiba-tiba.
“Aku
lagi menulis puisi.”
“Boleh
aku lihat?’
“Oiya,
tentu saja,” kataku agak gelagapan.
Aku
menyerahkan puisi yang berisi keinginanku kepada Ivo. Ia membaca sambil sesekali tersenyum Aku penasaran, kenapa ia senyum-senyum sendiri.
“Ada
yang lucu ya?” Tanyaku.
“Tidak,
aku hanya menilai keinginanmu itu sangat berlebihan.” Ujar Ivo sambil
menyerahkan kertas kepadaku.
“Sudah
lupakan saja keinginanmu itu. Yuk, kita
ke kolam saja, sudah banyak teman-teman menunggu di sana.”
“Tapi….”
“Tidak
usah tapi-tapi,” ujarnya.
Ivo
segera menyeret aku menuju kolam, tempat kami biasa menghabiskan waktu
bercengkerama dengan itik-itik lainnya.
Sejenak aku melupakan keinginan yang terus saja memenuhi pikiranku
dengan ngobrol bersama teman-teman. Tetapi semakin aku ingin mengabaikan
keinginan itu semakin kuat pula terbayang di mataku. Aku membayangkan indahnya saat-saat aku
berhasil mewujudkannya. Betapa senangnya hatiku bisa membantu. Teman-teman
juga bisa berbagi dengan yang lainnya, hingga nantinya kami bisa mandiri.
“Hayo…
menghayal lagi ya…,” seru Ivo mengagetkanku.
“Eh
tidak, eh, eemmm,” jawabku gelagapan.
“Masih
memikirkan keinginanmu. Sudahlah….tidak
akan terjadi,” katanya. Kata-kata Ivo semakin membuat semangatku menggebu untuk membuktikan bahwa aku mampu.
“Pasti
terjadi. Aku pasti bisa. Tidak ada yang
tidak mungkin” Gumamku dalam hati. Aku semakin tertantang untuk mewujudkan
keinginanku.
Setelah
selesai bermain di kolam, aku melanjutkan kembali perenungan dan merencanakan
segala sesuatunya. Aku mulai mengatur strategi dengan teman-teman yang sejalan
dengan pemikiranku. Kami melakukan
diskusi terus menerus guna membangun satu pemahaman untuk sebuah
kebersamaan. Ternyata masih banyak
teman-teman yang mendukungku. Aku
bertambah semangat.
‘Yuk
kita mulai beraksi,” ajakku. Teman-teman lainnya mulai mengumpulkan bahan-bahan
yang akan kita jual keesokan harinya.
Ada yang membuat kue, kerajinan tangan, minuman, dan mengumpulkan
barang-barang bekas layak pakai. Kami
bekerja dengan senang hati karena ada niat tulus dari kami untuk membantu
teman-teman yang kurang mampu serta membantu teman-teman untuk belajar bisnis.
Hari
“H” telah tiba, kami sudah bersiap untuk beraksi. Masing-masing sibuk dengan jualannya. Tidak lupa aku mengingatkan teman-teman agar
selalu mengembalikan ke niat awal membuat kegiatan ini, yaitu dari kami untuk kami. Sungguh diluar dugaan pasar mini yang semula kami targetkan biasa-biasa
saja ternyata ramai pengunjungnya.
Bahkan sudah banyak yang meminta untuk bergabung. Wah…. Aku senang sekali, aku sudah bisa
mewujudkan keinginanku.
#60HMB
#BATCH9
#DAY42
Tidak ada komentar:
Posting Komentar