Senin, 14 Februari 2022

AKU MAMPU

 

AKU MAMPU


            Hari demi hari kulalui dengan kecemasan dan kekhawatiran.  Tidak berlebihan kiranya aku menginginkan sesuatu yang aku dambakan dari dulu.  Cemas karena aku selalu berpikir dampak buruk yang akan terjadi.  Aku juga khawatir akankah aku bisa mewudukannya.  Pergumulan kata “melanjutkan” atau “berhenti”, terus berputar-putar di otakku.  Aku sering menuliskan berbagai pertimbangan ke dalam sebuah kertas.  Kali ini aku menuliskannya ke dalam bentuk puisi.

            “Ipel, sedang apa kamu?” Tanya  Ivo. 

            Waduh, bergegas aku beringsut dari tempat dudukku dan berdiri menemui Ivo yang datang tiba-tiba. 

            “Aku lagi menulis puisi.”

            “Boleh aku lihat?’

            “Oiya, tentu saja,” kataku agak gelagapan.

            Aku menyerahkan puisi yang berisi keinginanku kepada Ivo.  Ia membaca sambil sesekali tersenyum  Aku penasaran, kenapa ia senyum-senyum sendiri.

            “Ada yang lucu ya?” Tanyaku.

            “Tidak, aku hanya menilai keinginanmu itu sangat berlebihan.” Ujar Ivo sambil menyerahkan kertas kepadaku.

            “Sudah lupakan saja keinginanmu itu.  Yuk, kita ke kolam saja, sudah banyak teman-teman menunggu di sana.”

            “Tapi….”

            “Tidak usah tapi-tapi,” ujarnya.

            Ivo segera menyeret aku menuju kolam, tempat kami biasa menghabiskan waktu bercengkerama dengan itik-itik lainnya.  Sejenak aku melupakan keinginan yang terus saja memenuhi pikiranku dengan ngobrol bersama teman-teman. Tetapi semakin aku ingin mengabaikan keinginan itu semakin kuat pula terbayang di mataku.  Aku membayangkan indahnya saat-saat aku berhasil mewujudkannya.   Betapa senangnya hatiku bisa membantu. Teman-teman juga bisa berbagi dengan yang lainnya, hingga nantinya kami bisa mandiri.

            “Hayo… menghayal lagi ya…,” seru Ivo mengagetkanku.

            “Eh tidak, eh, eemmm,” jawabku gelagapan.

            “Masih memikirkan keinginanmu.  Sudahlah….tidak akan terjadi,” katanya. Kata-kata Ivo semakin membuat semangatku  menggebu untuk membuktikan bahwa aku mampu.

            “Pasti terjadi.  Aku pasti bisa. Tidak ada yang tidak mungkin”  Gumamku dalam hati.  Aku semakin tertantang untuk mewujudkan keinginanku. 

            Setelah selesai bermain di kolam, aku melanjutkan kembali perenungan dan merencanakan segala sesuatunya. Aku mulai mengatur strategi dengan teman-teman yang sejalan dengan pemikiranku.  Kami melakukan diskusi terus menerus guna membangun satu pemahaman untuk sebuah kebersamaan.  Ternyata masih banyak teman-teman yang mendukungku.  Aku bertambah semangat.

            ‘Yuk kita mulai beraksi,”  ajakku.  Teman-teman lainnya mulai mengumpulkan bahan-bahan yang akan kita jual keesokan harinya.  Ada yang membuat kue, kerajinan tangan, minuman, dan mengumpulkan barang-barang bekas layak pakai.  Kami bekerja dengan senang hati karena ada niat tulus dari kami untuk membantu teman-teman yang kurang mampu serta membantu teman-teman untuk belajar bisnis.

            Hari “H” telah tiba, kami sudah bersiap untuk beraksi.  Masing-masing sibuk dengan jualannya.  Tidak lupa aku mengingatkan teman-teman agar selalu mengembalikan ke niat awal membuat kegiatan ini, yaitu dari kami untuk kami.  Sungguh diluar dugaan  pasar mini yang semula kami targetkan biasa-biasa saja ternyata ramai pengunjungnya.  Bahkan sudah banyak yang meminta untuk bergabung.  Wah…. Aku senang sekali, aku sudah bisa mewujudkan keinginanku.

 

#60HMB

#BATCH9

#DAY42

           

 

           

 

           

 

           

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar