TAS IWA
Iwa
terlihat cemberut tidak seperti hari-hari biasanya. Iwa adalah itik yang sangat ceria. Entah kenapa kali ini mukanya tampak
kusut. Bibirnya manyun beberapa senti,
matanya tidak begitu bersinar, jika biasanya ia itik yang gesit, kali ini
gerak-geriknya lemas.
Begitu
selesai bekerja aku menghampirinya untuk menanyakan keadaannya.
“Iwa,
apa kabar? Kenapa mukamu kusut seperti itu, ada apa denganmu?”
Matanya
hanya melihatku sebentar kemudian menunduk lagi sambil memainkan jari-jari
kukunya. Semakin lama bibirnya semakin
manyun. Aku menggeserkan posisiku untuk
lebih mendekatinya. Namun ia juga
beringsut dari tempatnya semula.
“He…
ada apa sih? tanyaku
“Tidak.”
Jawabnya singkat.
“Cerita
dong kalau ada masalah, kita kan sudah lama berteman.”
Sekali
lagi ia hanya memainkan jari-jari kakinya ke tanah.
“Hei,
kamu mau melukis di tanah ya?” candaku
Tetapi
ekspresi wajahnya malah menunjukkan ketidaksukaan.
“Ok
deh, kalau tidak mau cerita tidak apa-apa. Nanti kalau sudah enakan boleh kok
ngobrol denganku,” ucapku.
Iwa
terus menunduk menandakan ia begitu kesal.
Akupun beranjak meninggalkan Iwa sendirian. Dari kejauhan aku melihat
ibu Iwa yang sedang meyapu halaman. Rupanya dari tadi ibu Iwa memperhatikan kami.
“Gimana
Iwa masih cemberut?” tanyanya
“Iya,
tante belum berubah,” kataku
“Iwa…Iwa…kalau
punya kemauan harus diikuti.” kata ibu Iwa sambil menghela nafas panjang.
“Memangnya
ada apa dengan Iwa, Tante?” tanyaku penasaran
Ibu
Iwa kemudian menceritakan kejadian yang membuat Iwa seperti itu. Rupanya beberapa hari yang lalu mereka pergi
ke pasar. Seperti biasanya Iwa juga ikut
ibunya. Biasalah kalau ikut ibu pasti
ada yang mau kita beli. Demikian juga
Iwa, ia ingin membeli tas sekolah. Ibunya
pun menuruti kemauan Iwa, mereka menuju ke toko yang menjual tas. Iwa tampak senang sekali. Ia lalu memilih tas sesuai keiginannya.
“Bu,
yang ini,” kata Iwa sambil menunjuk ta situ.
“Berapa
harganya, Pak?” tanya Ibunya dengan sedikit ragu, khawatir harga tasnya mahal.
“Dua
ratus ribu bu.”
“Hah,
mahal sekali pak. Iwa terlalu mahal itu
Nak,” ucap ibu Iwa.
“Yang
lain saja, kan yang penting bisa untuk tempat buku,” lanjut ibu Iwa memberi
pengertian kepada Iwa.
“Tapi,
saya suka yang itu bu,” ujar Iwa tetap dengan pendiriannya.
“Iwa,
uang ibu tidak cukup untuk membeli tas semahal itu. Kita pulang dulu yuk.” ajak
ibunya. Tetapi Iwa belum mau beranjak
dari tempatnya berdiri. Sekali lagi ibu
Iwa mengajaknya pergi dari toko itu. Namun
Iwa tetap bertahan. Akhirnya Ibunya
meninggalkan dirinya sendirian di toko.
Sesampainya
di rumah, Iwa masih cemberut. Ia tidak
mau berbicara dengan siapapun. Kakaknya yang
suka bercanda pun sudah kehabisan akal membujuk Iwa.
Hari berganti hari, aku berusaha mendekati Iwa
untuk melupakan saja ta situ.
“Iwa,
main yuk,” ajakku
“Nggak
ah, lagi malas,” jawabnya
“Ayo
dong, aku punya sesuatu untukmu.”
Aku
berusaha membujuknya. Iwa memang begitu,
ia keras kepala. Jika memiliki keinginan
harus dituruti. Tetapi ia lupa bahwa
orang tuanya juga mempunyai kebutuhan lain yang lebih penting dari pada hanya
sekedar tas yang harganya mahal.
“Gimana
Iwa, mau nggak? Ayolah…”
“Baiklah,”
ucapnya sambil beranjak dari tempat duduknya.
Kami
pun pergi ke suatu tempat. Selama
perjalanan aku menceritakan kekhawatiran ibunya terhadap sikapnya.
“Iwa,
ibumu sangat ingin membelikan tas itu, tetapi belum memiliki cukup uang. Ibumu
mengatakan kepadaku bahwa suatu saat akan membelikan tas itu.”
“Tapi aku menginginkannya sekarang.”
“Iya,
tetapi kamu harus sabar. Kasihan orang
tuamu jika kamu memaksakan kehendakmu.
Orang tuamu mana sih yang tega dengan anaknya? Kamu mau jika orang tuamu
sakit, gara-gara memikirkan sikapmu? Kamu mau orang tuamu malu hanya gara-gara
memaksakan diri menuruti keinginanmu.” ucapku sedikit keras.
Iwa
mulai luluh hatinya, ia memandangku dan berucap,”Maafkan aku ya.”
“E…bukan
sama aku minta maafnya, tapi sama ibumu.
Beliau sudah mencemaskan dirimu.”
Iwa
pun kemudian berlari menuju rumah dan mencari ibunya. Aku mengikutinya dari belakang. Ibu Iwa yang sedang memasak terkejut dengan
kedatangan kami.
“Bu,
aku minta maaf ya, aku tidak akan mengulangi lagi perbuatanku.”
Ibu
Iwa tersenyum sambil mengelus kepala Iwa.
Mereka pun berpelukan.
#60HMB
#BATCH9
#DAY54
Tidak ada komentar:
Posting Komentar