Sabtu, 26 Februari 2022

TAS IWA

 

TAS IWA

 

            Iwa terlihat cemberut tidak seperti hari-hari biasanya.  Iwa adalah itik yang sangat ceria.  Entah kenapa kali ini mukanya tampak kusut.  Bibirnya manyun beberapa senti, matanya tidak begitu bersinar, jika biasanya ia itik yang gesit, kali ini gerak-geriknya lemas. 

            Begitu selesai bekerja aku menghampirinya untuk menanyakan keadaannya.

            “Iwa, apa kabar? Kenapa mukamu kusut seperti itu, ada apa denganmu?”

            Matanya hanya melihatku sebentar kemudian menunduk lagi sambil memainkan jari-jari kukunya.  Semakin lama bibirnya semakin manyun.  Aku menggeserkan posisiku untuk lebih mendekatinya.  Namun ia juga beringsut dari tempatnya semula. 

            “He… ada apa sih? tanyaku

            “Tidak.” Jawabnya singkat.

            “Cerita dong kalau ada masalah, kita kan sudah lama berteman.”

            Sekali lagi ia hanya memainkan jari-jari kakinya ke tanah. 

            “Hei, kamu mau melukis di tanah ya?” candaku

            Tetapi ekspresi wajahnya malah menunjukkan ketidaksukaan. 

            “Ok deh, kalau tidak mau cerita tidak apa-apa. Nanti kalau sudah enakan boleh kok ngobrol denganku,” ucapku.

            Iwa terus menunduk menandakan ia begitu kesal.  Akupun beranjak meninggalkan Iwa sendirian. Dari kejauhan aku melihat ibu Iwa yang sedang meyapu halaman. Rupanya dari  tadi ibu Iwa memperhatikan kami.

            “Gimana Iwa masih cemberut?” tanyanya

            “Iya, tante belum berubah,” kataku

            “Iwa…Iwa…kalau punya kemauan harus diikuti.” kata ibu Iwa sambil menghela nafas panjang.

            “Memangnya ada apa dengan Iwa, Tante?” tanyaku penasaran

            Ibu Iwa kemudian menceritakan kejadian yang membuat Iwa seperti itu.  Rupanya beberapa hari yang lalu mereka pergi ke pasar.  Seperti biasanya Iwa juga ikut ibunya.  Biasalah kalau ikut ibu pasti ada yang mau kita beli.  Demikian juga Iwa, ia ingin membeli tas sekolah.  Ibunya pun menuruti kemauan Iwa, mereka menuju ke toko yang menjual tas.  Iwa tampak senang sekali.  Ia lalu memilih tas sesuai keiginannya.

            “Bu, yang ini,” kata Iwa sambil menunjuk ta situ.

            “Berapa harganya, Pak?” tanya Ibunya dengan sedikit ragu, khawatir harga tasnya mahal.

            “Dua ratus ribu bu.”

            “Hah, mahal sekali pak.  Iwa terlalu mahal itu Nak,” ucap ibu Iwa.

            “Yang lain saja, kan yang penting bisa untuk tempat buku,” lanjut ibu Iwa memberi pengertian kepada Iwa.

            “Tapi, saya suka yang itu bu,” ujar Iwa tetap dengan pendiriannya.

            “Iwa, uang ibu tidak cukup untuk membeli tas semahal itu. Kita pulang dulu yuk.” ajak ibunya.  Tetapi Iwa belum mau beranjak dari tempatnya berdiri.  Sekali lagi ibu Iwa mengajaknya pergi dari toko itu.  Namun Iwa tetap bertahan.  Akhirnya Ibunya meninggalkan dirinya sendirian di toko. 

            Sesampainya di rumah, Iwa masih cemberut.  Ia tidak mau berbicara dengan siapapun.  Kakaknya yang suka bercanda pun sudah kehabisan akal membujuk Iwa.

             Hari berganti hari, aku berusaha mendekati Iwa untuk melupakan saja ta situ. 

            “Iwa, main yuk,” ajakku

            “Nggak ah, lagi malas,” jawabnya

            “Ayo dong, aku punya sesuatu untukmu.”

            Aku berusaha membujuknya.  Iwa memang begitu, ia keras kepala.  Jika memiliki keinginan harus dituruti.  Tetapi ia lupa bahwa orang tuanya juga mempunyai kebutuhan lain yang lebih penting dari pada hanya sekedar tas yang harganya mahal.

            “Gimana Iwa, mau nggak? Ayolah…”

            “Baiklah,” ucapnya sambil beranjak dari tempat duduknya.

            Kami pun pergi ke suatu tempat.  Selama perjalanan aku menceritakan kekhawatiran ibunya terhadap sikapnya.

            “Iwa, ibumu sangat ingin membelikan tas itu, tetapi belum memiliki cukup uang. Ibumu mengatakan kepadaku bahwa suatu saat akan membelikan tas itu.”

             “Tapi aku menginginkannya sekarang.”

            “Iya, tetapi kamu harus sabar.  Kasihan orang tuamu jika kamu memaksakan kehendakmu.  Orang tuamu mana sih yang tega dengan anaknya? Kamu mau jika orang tuamu sakit, gara-gara memikirkan sikapmu? Kamu mau orang tuamu malu hanya gara-gara memaksakan diri menuruti keinginanmu.” ucapku sedikit keras.

            Iwa mulai luluh hatinya, ia memandangku dan berucap,”Maafkan aku ya.”

            “E…bukan sama aku minta maafnya, tapi sama ibumu.  Beliau sudah mencemaskan dirimu.”

            Iwa pun kemudian berlari menuju rumah dan mencari ibunya.  Aku mengikutinya dari belakang.  Ibu Iwa yang sedang memasak terkejut dengan kedatangan kami.

            “Bu, aku minta maaf ya, aku tidak akan mengulangi lagi perbuatanku.”

            Ibu Iwa tersenyum sambil mengelus kepala Iwa.  Mereka pun berpelukan.

           

#60HMB

#BATCH9

#DAY54

           

 

           

 

 

 

           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar