Kamis, 03 Februari 2022

 

BIARLAH MENJADI MISTERI

Oleh: Marchilia Damayanti

 

            Anjing melolong tanpa berkesudahan.  Aku teringat cerita ibu, jika seperti itu biasanya ada setan lewat. 

            “Iiiihhh, sereeem…”

            Buru-buru aku menutup jendela kamar.  Menjelang malam, setiap selesai shalat Maghrib bulu kuduk selalu berdiri.  Entah perasaanku sendiri atau ada faktor X. 

            Beberapa hari ini di vila tempat kami menginap terasa ada keanehan.  Suasana vila yang banyak pepohonan menambah syahdu keadaaan.  Suara gesekan dedaunan turut andil menjadi saksi bisu ketegangan dalam vila. 

        Beberapa cerita dari teman-teman, pernah melihat sekelebat sosok putih yang tiba-tiba menghilang diantara pepohonan.  Terkadang terdengar suara “kresek-kresek” berjalan di area belakang. Ada juga yang mendengar samar-samar suara orang bercerita. 

       Tidak kalah seremnya yang dialami oleh Ida kali ini.    Seperti biasa ketika siang hari kegiatan kami padat merayap tidak sempat mencuci pakaian. Sore menjelang malam baru sempat kami mencuci. Ida sedang menjemur pakaian di teras vila sendirian.  Tanpa ia sadari di kegelapan malam ada yang memperhatikannya. Sepasang cahaya menyorot tajam ke arahnya.   Perasaannya mulai tidak enak.  Ia pun melirik ke arah pepohonan tadi.

            “Lela…Lela… sini dulu, temaniku aku!” teriak Ida.

            “Ya…., tunggu…sebentar!”

            Aku berlari ke teras menghampiri Ida.

            “Kenapa Da?”Tanyaku sedikit berbisik.

            “Tuh, lihat ke sana,” kata Ida

            “Mana?” Tanyaku lagi.

            Aku pun menyelidik ke arah yang ditunjuk Ida.

            “Tidak ada apa-apa,” gumamku.

            Eit, tunggu dulu ada yang mengkilat dari kejauhan. 

            “Apa itu ya?” Batinku.

            Ih, tapi lama-lama aku takut juga.  Dengan tunggang langgang kami masuk ke dalam vila.

            “Nah, tuh… kan… apa kataku.”

            “Sereeeem, Da,” jawabku.

            Setelah menenangkan diri, aku dan Ida berdiskusi sambil mereka-reka, kira-kira kilauan apa itu. 

            “Waduh, gawat kalau begini tiap malam,” ujar Ida.

            “Iya, Da, lama-lama stress kita,” ucapku lagi.

            Rasa penasaran semakin membuncah, kami mengintip dari balik jendela.  Perlahan-lahan  kubuka tirai, mengarahkan pandangan ke tempat tadi.  Tapi sorot kilauan sudah tidak terlihat lagi. Tanpa sengaja kami saling menatap dan hampir bersamaan menggelengkan kepala, membisu.  Ah, biarlah menjadi misteri.  Aku dan Ida naik ke tempat tidur membawa mimpi dua sorot  tajam yang berkilau.

 

#60HMB

#BATCH9

#DAY31

           

           

           

           

           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar