AKU BERBEDA
Sunyi
senyap kurasa sendiri. Hiruk pikuk di
luar tidak mampu membuat aku larut ikut serta menikmatinya. Entah mengapa beberapa hari ini aku merasa
ada yang berbeda pada diriku. Aku masih
memikirkan ucapan Oila yang mengatakan aku memiliki perbedaan dengan yang
lainnya. Sejenak terbersit kalimat yang
sama terucap dari Oili bahwa aku berbeda.
Kutelisik
badanku, adakah yang salah? Lagi-lagi
aku tidak menemukan jawabannya. Belum
puas sekali lagi aku berdiri di depan cermin, putar kanan dan kiri. “ Apa
ya…,” batinku. Mengapa teman-temanku
mengatakan demikian? Aku makin penasaran, kupegang wajah, mata, hidung ,
telinga, sayap, kaki, semuanya sama dengan yang lain.
Ah,
biarlah terserah mereka saja mau mengatakan apa tentang diriku. Malam kian larut, bintang dan bulan semakin
bersinar menggantikan tugas matahari menerangi bumi. Mataku belum mau terpenjam. Pikiranku melayang kemana-mana. Pikiranku tertuju kepada teman-temanku yang
sudah sekian lama bersama. Mereka begitu
baik, tidak mungkin menjerumuskan aku hanya karena aku (menurut) mereka
berbeda. Ah…, sudahlah. Malam semakin larut mataku sudah mulai
meredup pertanda aku harus istirahat.
Seperti
hari-hari biasanya kami bermain di halaman.
Tiba-tiba Oila dan Oili datang dan mengajakku bermain
tebak-tebakan.
“Yuk,
kita main tebak-tebakan.”
“Aku
lagi males Oili,” sahutku
“Ayolaaah,
sekali ini saja,” bujuknya
“Iya,
yok ah, kita asah otak,” ucap Oili
“Tapi…,”
“Tidak
udah pakai tapi-tapi.”
“Tumben
kamu tidak semangat, biasanya kamu yang paling semangat kalau ada
tebak-tebakan. Kamu tuh, paling hebat
diantara kami.”
“Ayo
donk, sebentar lagi ada lomba lho. Yuk,
sambil kita latihan supaya nanti kita dapat juara.”
Aku
mulai goyah untuk tetap berpegang pada pendirian. Aku mengkhawatirkan komentar mereka yang
mengatakan bahwa aku berbeda. Sedikit
galau dari semalam membuatkan kurang semangat bermain hari ini. Bagaimana jika… mereka mengatakan hal itu
sekali lagi nanti. Aku mulai cemas. Bagaimana jika…mereka menjauhiku nanti aku
tidak memiliki teman lagi.
“Ayo,
cepat main,” Oila melambaikan tangan memanggilku dari kejauhan.
Oili
datang menjemputku.
“Ada
apa denganmu?” Ucap Oili. Ia mulai penasaran mengapa aku tidak seperti
biasanya, yang ceria ketika bermain.
“Kamu
mengatakan aku berbeda, Oila juga berkata demikian” kataku lirih.
“Ooooo
itu penyebab kamu tidak mau main sama kita?”
“Jadi
begini, kamu itu berbeda karena memiliki keistimewaan,” ujarnya
“Apanya
yang istimewa?” Tanyaku.
“Kamu
suka belajar dan memiliki kemampuan di atas kami-kami ini,” jelasnya.
“Oooo
itu maksudnya berbeda? Ya…ampun maafkan aku ya sudah berpikir yang tidak-tidak”
kataku. Aku pun lega karena bukan
seperti prasangkaku.
#60HMB
#BATCH9
#DAY41
Tidak ada komentar:
Posting Komentar