PANAS
Sinar matahari hari ini begitu terik. Aku dan teman-teman berusaha mencari kubangan
air tetapi belum menemukannya. Tidak ada tanda-tanda akan turun hujan. Keadaan kubangan air yang biasa kami gunakan
pun kering tidak seperti biasanya. Perjalanan kami terasa berat, beberapa dari
kami mulai merasa kelelahan. Sudah puluhan kilometer kami berjalan untuk
menemukan air namun belum kami temukan. Kami
terus berjalan menyusuri jalanan. Berusaha sekuat tenaga mendapatkan air.
Akibat kondisi ini, banyak itik yang
mengalami stress. Ya, kami mengalami tekanan.
Rasa panas mulai merayap ke seluruh tubuh. Jika kebutuhan air terpenuhi maka suhu badan
kami normal, sebaliknya ketika mengalami suhu ekstrem panas seperti ini kami
kepanasan. Kondisi demikian sangat menyedihkan, kami khawatir ada yang tidak
mampu menanggung keadaan ini. Ketika
kami stress maka produksi kami akan menurun.
Daya tahan tubuh juga menurun sehingga kami lebih mudah terkena
penyakit. Jika sudah demikian kesedihan
semakin menjadi karena diantara kami ada yang pergi. Pergi dan tak akan kembali.
Oilu dan Oili tampak
megap-megap. Paruhnya terbuka terus, badannya
bergerak naik turun mengikuti gerakan pernafasan yang tersengal-sengal. Mereka berusaha
memasukkan udara ke dalam tubuhnya untuk mengatasi cekaman panas. Mereka juga sudah terbata-bata ketika
berbicara. Aku tidak tega melihat mereka seperti itu. Aku menghampiri mereka.
“Oilu, Oila, ada apa denganmu? Bisa
aku bantu?”
“A…a…a…ku kepanasan,” katanya lirih.
Terlihat gerakan badannya naik turun.
Aku semakin khawatir melihatnya.
Air mataku sudah menggenang di pelupuk mata.
“Sabar ya.. Oilu kita pasti bisa
melewati semua ini,”
Rombongan kami berhenti sejenak
untuk memberi kesempatan kepada teman-teman yang ingin istirahat. Kami mencari pohon yang bisa kami gunakan untuk
berteduh, menghindari sinar matahari yang kian terik.
“Teman-teman istirahat dulu, supaya
tidak semakin kelelahan. Kita pasti akan menemukan kubangan air. Untuk itu mari kita berdo’a agar Tuhan memberikan
petunjuk keberadaan air.” Kami berdo’a
dengan khusyuk memanjatkan permohonan kepada Sang Pencipta untuk segera
memberikan petunjuknya.
Kami saling menyemangati. Setelah
selesai berdo’a kami melanjutkan perjalanan.
“Oili dan Oilu bagaimana keadaan
kalian? Masih sanggup kalian berjalan?” tanyaku
“Sebenarnya a…a…ku…sudah tidak
sanggup berjalan.”
“Terus berusaha ya..., kita pasti
akan menemukan kubangan air. Tetap
bertahan ya.” aku berusaha menghibur mereka.
Namun sejatinya dalam hatiku mulai cemas dan khawatir melihat
kondisinya. Teman-teman yang lain
membantu menggandeng Oilu dan Oili berjalan, keadaannya semakin lemas.
#60HMB
#BATCH9
#DAY45
Tidak ada komentar:
Posting Komentar