Kamis, 17 Februari 2022

PANAS

 

PANAS

  

            Sinar matahari hari ini begitu terik.  Aku dan teman-teman berusaha mencari kubangan air tetapi belum menemukannya. Tidak ada tanda-tanda akan turun hujan.  Keadaan kubangan air yang biasa kami gunakan pun kering tidak seperti biasanya. Perjalanan kami terasa berat, beberapa dari kami mulai merasa kelelahan. Sudah puluhan kilometer kami berjalan untuk menemukan air namun belum kami temukan.  Kami terus berjalan menyusuri jalanan. Berusaha sekuat tenaga mendapatkan air. 

            Akibat kondisi ini, banyak itik yang mengalami stress. Ya, kami mengalami tekanan.  Rasa panas mulai merayap ke seluruh tubuh.  Jika kebutuhan air terpenuhi maka suhu badan kami normal, sebaliknya ketika mengalami suhu ekstrem panas seperti ini kami kepanasan. Kondisi demikian sangat menyedihkan, kami khawatir ada yang tidak mampu menanggung keadaan ini.  Ketika kami stress maka produksi kami akan menurun.  Daya tahan tubuh juga menurun sehingga kami lebih mudah terkena penyakit.  Jika sudah demikian kesedihan semakin menjadi karena diantara kami ada yang pergi.  Pergi dan tak akan kembali. 

            Oilu dan Oili tampak megap-megap.  Paruhnya terbuka terus, badannya bergerak naik turun mengikuti gerakan pernafasan yang tersengal-sengal. Mereka berusaha memasukkan udara ke dalam tubuhnya untuk mengatasi cekaman panas.  Mereka juga sudah terbata-bata ketika berbicara. Aku tidak tega melihat mereka seperti itu. Aku menghampiri mereka.

            “Oilu, Oila, ada apa denganmu? Bisa aku bantu?”

            “A…a…a…ku kepanasan,” katanya lirih. Terlihat gerakan badannya naik turun.  Aku semakin khawatir melihatnya.  Air mataku sudah menggenang di pelupuk mata.   

            “Sabar ya.. Oilu kita pasti bisa melewati semua ini,”

            Rombongan kami berhenti sejenak untuk memberi kesempatan kepada teman-teman yang ingin istirahat.  Kami mencari pohon yang bisa kami gunakan untuk berteduh, menghindari sinar matahari yang kian terik. 

            “Teman-teman istirahat dulu, supaya tidak semakin kelelahan.   Kita pasti akan menemukan kubangan air.  Untuk itu mari kita berdo’a agar Tuhan memberikan petunjuk keberadaan air.”  Kami berdo’a dengan khusyuk memanjatkan permohonan kepada Sang Pencipta untuk segera memberikan petunjuknya.

            Kami saling menyemangati. Setelah selesai berdo’a kami melanjutkan perjalanan. 

            “Oili dan Oilu bagaimana keadaan kalian? Masih sanggup kalian berjalan?” tanyaku

            “Sebenarnya a…a…ku…sudah tidak sanggup berjalan.”

            “Terus berusaha ya..., kita pasti akan menemukan kubangan air.  Tetap bertahan ya.” aku berusaha menghibur mereka.  Namun sejatinya dalam hatiku mulai cemas dan khawatir melihat kondisinya.  Teman-teman yang lain membantu menggandeng Oilu dan Oili berjalan, keadaannya  semakin lemas.

 

#60HMB

#BATCH9

#DAY45

 

 

 

 

 

 

             

Tidak ada komentar:

Posting Komentar