Jumat, 25 Februari 2022

ITA SAHABATKU

 

ITA SAHABATKU

 

             Kuhampiri Ita dengan tergesa-gesa.  Setengah berlari aku mendekatinya yang sedang menyapu.    \

             “Ada apa denganmu?” tanyanya

            “Anu…anu… aku hanya ingin menyampaikan pesan,” kataku terengah-engah.

            “Pesan dari siapa?” ucapnya keheranan

            “Pesan dari Ipah.  Ia mengatakan titip salam untukmu. “  

            Ita mulai mengingat-ingat kejadian yang pernah terjadi beberapa waktu lalu.

            “Oiya, aku baru ingat, beberapa bulan lalu aku sedang berada pada  suatu acara dengan Ipah. “

            “Ah, sudahlah, aku malu jika mengingatnya.” lanjutnya

            Ita agak sedikit enggan menceritakan kejadian yang sebenarnya.  Ia berkeinginan mengatakan sesuatu tetapi bibirnya tertutup rapat. Sambil memainkan sapu yang dipegang, sesekali ia melihat ke arahku.  Aku tambah bingung melihat sikapnya.

            “Kenapa kau ini? Sepertinya ada sesuatu yang kau sembunyikan.” ucapku

            “Ti…ti…tidak.” ujarnya  sambil terus memainkan sapu.

            “Ada apa sih?” Aku  semakin penasaran dengan tingkahnya.

            “Boleh aku cerita?” ucapnya sedikit ragu

            “Lho, kenapa tidak?”

            Kamipun mengambil tempat duduk di bawah pohon.  Sebuah pohon rindang yang memang sering kami gunakan untuk mengobrol, bercanda, dan berkumpul dengan teman-teman. 

            “Begini, beberapa waktu lalu aku mengikuti lomba paduan suara.  Kebetulan Ipah berada di sebelahku.  Aku merasa keberadaanku sangatlah penting  di lomba itu sehingga aku mengabaikan siapa saja yang ada di dekatku. Tanpa aku sadari banyak yang memperhatikan diriku. Semua mata tertuju padaku.  Aku semakin “gede rasa” alias ge’er.  Demikian juga Ipah, ia berusaha memberi isyarat.  Tapi aku tetap tidak mengerti.  Semakin  lama semakin banyak yang melihat ke arahku.”

            Ita terus menceritakan kejadian yang ia alami pada saat lomba.  Sesekali kepalanya tertunduk menahan malu. 

            “Dengan semangat aku menyanyi tanpa menghiraukan mereka.  Ketika lomba telah usai teman-teman satu kelompok termasuk Ipah menegurku, aku masih belum mengerti apa maksudnya. Ipah lalu menunjuk ke arah sepatuku. Dan tara…duuhhh malunya.  Sepatuku terbuka haknya.”

            Ita…Ita… kamu memang selalu seperti itu.  Kebiasaan dari dulu tidak pernah berubah.  Jika sudah fokus pada sesuatu maka ia akan mengabaikan penampilannya.  Seringkali tidak menyadari apa yang ia kenakan.  Aku sangat hafal karakternya. 

            Pernah juga suatu ketika aku mengajaknya pergi ke pasar.  Saking senangnya,  ia lupa tidak membawa dompet. 

            “Eh, pinjam dulu uangmu, aku sudah terlanjur menawar sayur, pas aku rogoh bajuku ternyata aku tidak membawa dompet,” kata Ita gugup.

            Akupun tersenyum dan memberikan uang kepada Ita.

            “Ita…Ita…,” kataku sambil menggelengkan kepala.

            Ya, begitulah temanku yang satu ini, seringkali aku harus mengingatkan untuk tidak terburu-buru.  Namun apapun itu, ia adalah sahabat terbaikku.  Ketika aku membutuhkan bantuan ia selalu bersedia membantu.  Ia memiliki sifat tulus, jika aku meminta pertolongan dengan segera ia datang. Persahabatan  bukan hanya menerima kelebihan namun juga kekurangannya.  

           

#60HMB

#BATCH9

#DAY53

           

           

           

           

 

           

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar