ITA SAHABATKU
Kuhampiri
Ita dengan tergesa-gesa. Setengah berlari
aku mendekatinya yang sedang menyapu. \
“Ada
apa denganmu?” tanyanya
“Anu…anu…
aku hanya ingin menyampaikan pesan,” kataku terengah-engah.
“Pesan
dari siapa?” ucapnya keheranan
“Pesan
dari Ipah. Ia mengatakan titip salam
untukmu. “
Ita
mulai mengingat-ingat kejadian yang pernah terjadi beberapa waktu lalu.
“Oiya,
aku baru ingat, beberapa bulan lalu aku sedang berada pada suatu acara dengan Ipah. “
“Ah,
sudahlah, aku malu jika mengingatnya.” lanjutnya
Ita
agak sedikit enggan menceritakan kejadian yang sebenarnya. Ia berkeinginan mengatakan sesuatu tetapi
bibirnya tertutup rapat. Sambil memainkan sapu yang dipegang, sesekali ia
melihat ke arahku. Aku tambah bingung
melihat sikapnya.
“Kenapa
kau ini? Sepertinya ada sesuatu yang kau sembunyikan.” ucapku
“Ti…ti…tidak.”
ujarnya sambil terus memainkan sapu.
“Ada
apa sih?” Aku semakin penasaran dengan
tingkahnya.
“Boleh
aku cerita?” ucapnya sedikit ragu
“Lho,
kenapa tidak?”
Kamipun
mengambil tempat duduk di bawah pohon. Sebuah
pohon rindang yang memang sering kami gunakan untuk mengobrol, bercanda, dan
berkumpul dengan teman-teman.
“Begini,
beberapa waktu lalu aku mengikuti lomba paduan suara. Kebetulan Ipah berada di sebelahku. Aku merasa keberadaanku sangatlah
penting di lomba itu sehingga aku
mengabaikan siapa saja yang ada di dekatku. Tanpa aku sadari banyak yang memperhatikan
diriku. Semua mata tertuju padaku. Aku
semakin “gede rasa” alias ge’er.
Demikian juga Ipah, ia berusaha memberi isyarat. Tapi aku tetap tidak mengerti. Semakin lama semakin banyak yang melihat ke arahku.”
Ita
terus menceritakan kejadian yang ia alami pada saat lomba. Sesekali kepalanya tertunduk menahan
malu.
“Dengan
semangat aku menyanyi tanpa menghiraukan mereka. Ketika lomba telah usai teman-teman satu
kelompok termasuk Ipah menegurku, aku masih belum mengerti apa maksudnya. Ipah
lalu menunjuk ke arah sepatuku. Dan tara…duuhhh malunya. Sepatuku terbuka haknya.”
Ita…Ita…
kamu memang selalu seperti itu.
Kebiasaan dari dulu tidak pernah berubah. Jika sudah fokus pada sesuatu maka ia akan
mengabaikan penampilannya. Seringkali tidak
menyadari apa yang ia kenakan. Aku
sangat hafal karakternya.
Pernah
juga suatu ketika aku mengajaknya pergi ke pasar. Saking senangnya, ia lupa tidak membawa dompet.
“Eh,
pinjam dulu uangmu, aku sudah terlanjur menawar sayur, pas aku rogoh bajuku
ternyata aku tidak membawa dompet,” kata Ita gugup.
Akupun
tersenyum dan memberikan uang kepada Ita.
“Ita…Ita…,”
kataku sambil menggelengkan kepala.
Ya,
begitulah temanku yang satu ini, seringkali aku harus mengingatkan untuk tidak
terburu-buru. Namun apapun itu, ia
adalah sahabat terbaikku. Ketika aku
membutuhkan bantuan ia selalu bersedia membantu. Ia memiliki sifat tulus, jika aku meminta
pertolongan dengan segera ia datang. Persahabatan bukan hanya menerima kelebihan namun juga
kekurangannya.
#60HMB
#BATCH9
#DAY53
Tidak ada komentar:
Posting Komentar