Minggu, 06 Februari 2022

 

IJEN PAHLAWAN KAMI

Oleh: Marchilia Damayanti

 

            Rombonganku hampir sampai di sawah yang sudah selesai dipanen.  Kami terdiri dari ratusan itik yang siap menyantap makanan di area persawahan.  Selama perjalanan kami saling bercerita tentang pengalaman hari-hari sebelumnya ketika berada di penggembalaan.  Ijen berbagi pengalamannya mendapatkan banyak bekicot dan keong sawah. 

            “Aku melahapnya sampai tidak bisa bernafas karena kekenyangan.”

            “Di sawah sebelah Barat banyak tersedia makanan, nanti kita ke sana lagi,” katanya sambil terus berjalan.

            “Eh, aku mau dong ikut!” Pinta Ireng.

            “Aku juga,”Ucap Item tidak mau kalah

            “Aku juga…aku juga.” Seru yang lain menambah riuh perjalanan kami.

            Ya, Ijen yang paling “jago” diantara kami.  Instingnya sangat kuat mencium keberadaan makanan  favorit kami.  Ia akan secepat kilat menyusuri sawah untuk mencari spot-spot yang banyak keong dan bekicotnya.  Ketika  sudah menemukan tempat favorit maka ia makan sampai kenyang terlebih dahulu lalu memanggil kami yang sedang berburu makanan di tempat lain.

            “Woeee…sini….banyak makanan!” Teriaknya dari kejauhan.

            “Cepat …jangan sampai kehabisan.  Siapa cepat dia dapat!’ Serunya lagi.

            Kami yang mendengar teriakan Ijen segera berlomba-lomba menuju tempat Ijen.  Sampai-sampai ada yang bertabrakan satu sama lain.  Ada yang terjatuh namun saking semangatnya  segera menyusul rombongan lagi.  Benar apa yang dikatakan Ijen, di spot itu banyak sekali makanan, kamipun tanpa berlama-lama segera melahapnya.  Ijen hanya terdiam sambil menatap kami yang sedang makan sambil tersenyum.

            Tidak terasa hari sudah menjelang sore.  Setelah puas makan, bermain dan berenang kami pulang ke kandang untuk beristirahat.  Dalam perjalanan pulang kami tetap berada dalam rombongan agar tidak terpisah satu sama lain.   Beberapa kilometer berjalan aku tidak melihat Ijen.  Kususuri rombongan dengan mengamati satu per satu teman-teman, tapi tidak kutemui Ijen.

            “Dimana Ijen?” Batinku

            “Teman-teman, ada yang melihat Ijen? Teriakku dari depan rombongan.

            “Tidak ada,” Teriak yang lain.  Rombongan menjadi  gaduh karena suara kami yang teriak-teriak memanggil Ijen.

            Hari sudah hampir gelap, dengan terpaksa kami menghentikan pencarian dan pulang ke kandang.  

            “Ijen…Ijen…Dimana kamu?”

            Sesampai di kandang kami bercerita terakhir kali ketemu Ijen.  Beberapa teman ada yang menangis.  Sebelum tidur kami berdo’a semoga besok Ijen sudah bisa ditemukan.  Kami tidak sabar untuk segera kembali ke tempat kemarin dan berharap Ijen masih di sana dalam keadaan selamat.

           

 

#60HMB

#BATCH9

#DAY34

             

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar