IJEN
PAHLAWAN KAMI
Oleh:
Marchilia Damayanti
Rombonganku hampir sampai di sawah
yang sudah selesai dipanen. Kami terdiri
dari ratusan itik yang siap menyantap makanan di area persawahan. Selama perjalanan kami saling bercerita
tentang pengalaman hari-hari sebelumnya ketika berada di penggembalaan. Ijen berbagi pengalamannya mendapatkan banyak
bekicot dan keong sawah.
“Aku melahapnya sampai tidak bisa
bernafas karena kekenyangan.”
“Di sawah sebelah Barat banyak
tersedia makanan, nanti kita ke sana lagi,” katanya sambil terus berjalan.
“Eh, aku mau dong ikut!” Pinta
Ireng.
“Aku juga,”Ucap Item tidak mau kalah
“Aku juga…aku juga.” Seru yang lain
menambah riuh perjalanan kami.
Ya, Ijen yang paling “jago” diantara
kami. Instingnya sangat kuat mencium
keberadaan makanan favorit kami. Ia akan secepat kilat menyusuri sawah untuk
mencari spot-spot yang banyak keong dan bekicotnya. Ketika sudah menemukan tempat favorit maka ia makan
sampai kenyang terlebih dahulu lalu memanggil kami yang sedang berburu makanan
di tempat lain.
“Woeee…sini….banyak makanan!”
Teriaknya dari kejauhan.
“Cepat …jangan sampai
kehabisan. Siapa cepat dia dapat!’
Serunya lagi.
Kami yang mendengar teriakan Ijen
segera berlomba-lomba menuju tempat Ijen.
Sampai-sampai ada yang bertabrakan satu sama lain. Ada yang terjatuh namun saking semangatnya segera menyusul rombongan lagi. Benar apa yang dikatakan Ijen, di spot itu
banyak sekali makanan, kamipun tanpa berlama-lama segera melahapnya. Ijen hanya terdiam sambil menatap kami yang
sedang makan sambil tersenyum.
Tidak terasa hari sudah menjelang
sore. Setelah puas makan, bermain dan
berenang kami pulang ke kandang untuk beristirahat. Dalam perjalanan pulang kami tetap berada
dalam rombongan agar tidak terpisah satu sama lain. Beberapa
kilometer berjalan aku tidak melihat Ijen.
Kususuri rombongan dengan mengamati satu per satu teman-teman, tapi
tidak kutemui Ijen.
“Dimana Ijen?” Batinku
“Teman-teman, ada yang melihat Ijen?
Teriakku dari depan rombongan.
“Tidak ada,” Teriak yang lain. Rombongan menjadi gaduh karena suara kami yang teriak-teriak
memanggil Ijen.
Hari sudah hampir gelap, dengan
terpaksa kami menghentikan pencarian dan pulang ke kandang.
“Ijen…Ijen…Dimana kamu?”
Sesampai di kandang kami bercerita
terakhir kali ketemu Ijen. Beberapa
teman ada yang menangis. Sebelum tidur
kami berdo’a semoga besok Ijen sudah bisa ditemukan. Kami tidak sabar untuk segera kembali ke tempat
kemarin dan berharap Ijen masih di sana dalam keadaan selamat.
#60HMB
#BATCH9
#DAY34
Tidak ada komentar:
Posting Komentar