Rabu, 02 Februari 2022

 

SUKA DAN DUKA BERSAMA

Oleh: Marchilia Damayanti

 

            “Huufff,” aku menarik nafas lega. 

       Akhirnya bisa keluar  menghirup udara bebas, setelah dua puluh satu hari berada di dalam cangkang telur.   

            “Tetapi dimanakah aku sekarang?”

         Aku memperhatikan sekitar,  suasana kotak terang oleh lampu, masih banyak telur di sekelilingku.

            “Mana ibuku?” Aku bertanya dalam hati.

            “Ibu…ibu….ibu…” Teriakku. 

            Tetapi yang aku dengar hanya teriakan serupa dari teman-teman lainnya. Ternyata kami bernasib sama, tidak memiliki ibu lagi.  Sebuah perjalanan berat yang akan kami lalui. Kelak hari demi hari aku dan teman-teman melewati tanpa kasih sayang ibu. Inilah yang dinamakan takdir.  Kami harus menerimanya dengan lapang dada.  Jika mengeluh kamipun tidak tahu mencurahkan kepada siapa.

            “Ya, kita  bisa mandiri,” pekikku kepada teman-teman.

            “Benar, kita tidak boleh cengeng,”tambah Oila.

            “Kita harus bersatu,”kata Oilu.

            “Jika ada teman yang mengalami kesulitan, kita harus membantu,”ujar  Oili.

            Kami bertekad selalu bersama dalam suka dan duka.  Hari pertama dan kedua kami belum diberikan makanan.  Kami masih kenyang karena  memiliki cadangan makanan yang kami bawa dari dalam telur. Namun begitu selalu ada makanan di sekitar kami.  Ada orang baik yang memberikan makan dan minum.  Meski tidak begitu lapar kami dengan lahap tetap memakan makanan yang telah disiapkan.

            Walau ibu  tidak menemani selama hidup, aku dan teman-teman  saling memberi semangat.  Oila misalnya, pernah mengalami stress karena kedinginan. 

            “Oiler, tolong… Aku kedinginan,”katanya.

            “Baik Oila, apa yang kamu rasakan?”

            “Di…di…dingiiiiiin,”jawabnya sambil menggigil.

            “Hai…teman-teman kesini.  Oila kedinginan!”

            “Ayo kita semua kumpul merapatkan badan ke arah Oila!”Perintahku.

            Semua teman-teman datang berlarian dari segala penjuru menuju ke arahku dan Oila. 

            “Siaaaaap!”

            “Heiiii, tunggu aku!” Seru Oilu.

            “Aku juga!” Teriak Oili tidak mau kalah.

            Tidak memerlukan waktu lama, kami sudah bergerombol menghangatkan tubuh Oila sambil ngobrol ini itu. Dan syukurlah, setelah beberapa saat Oila sudah merasa nyaman.  Aku dan teman-teman sangat senang karena dapat saling membantu.

 

#60HMB

#BATCH9

#DAY30

 

 

           

 

           

           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar