ITONG HEBAT
Oleh: Marchilia Damayanti
“Ayooo,
Kamu hebat. Kamu bisaaa.” Teriak pendukung dari tim biru. Perlombaan baru dimulai. Aku dan teman-teman sangat menikmati lomba
pacuan itik ini. Para peserta dari
berbagai kandang tampak antusias mengikutinya.
Jauh-jauh hari para peternak
mempersiapkan itik calon peserta dengan memberikan perlakuan khusus.
Itong,
Ipit, Ipel, dan Ipal terpilih mewakili tim kami. Mereka memang memiliki penampilan terbaik
diantara kami. Tubuh mereka atletis dan
proporsional disebut sebagai atlet pacuan.
Kaki yang kokoh, badan tegap berisi, paruh tertutup sempurna, mata cerah
serta warna bulu yang mengkilat, menjadikan kriteria itik pacuan.
“Itong,
bagaimana persiapan kamu menghadapi pacuan nanti,” tanyaku beberapa hari sebelum
hari “H”.
“Biasa
saja tidak ada yang istimewa.”
“Ipit,
gimana?”
“Aku
banyak melakukan pemanasan dan makan yang sehat.”
“Ipel
bagaimana dengan dirimu?”
“Aku
banyak berlari ke sana kemari supaya pada saat perlombaan lebih siap.”
“Ipal,
apa yang kamu persiapkan?’
“Aku
lebih banyak berdo’a, karena aku memperkirakan lawanku pasti banyak berlatih
dan siap menghadapi pacuan nanti.”
Mereka
masing-masing sudah menyiapkan strategi yang itik lainnya tidak boleh
mengetahui. Target mereka menjadi yang
terbaik diantara para peserta lainnya.
Perlombaan
pacuan itik bertambah seru. Penampilan
itik-itik lain tidak boleh dipandang sebelah mata. Sekarang giliran Itong terlebih dahulu.
“Ayo
Itong buktikan kamu bisa,” ucapku.
Itong
tersenyum sambil menggerak-gerakkan
badannya untuk pemanasan.
“Satu…dua…tiga…” seru panitia memberi aba-aba. Dan Itong melesat tanpa memedulilkan lawan-lawannya. Tampak dari jauh ia memimpin paling depan. Tetapi tiba-tiba saja ia berhenti di tengah
area pertandingan.
“Ah,
Itong ada apa denganmu?”batinkku
Para
supporter pihak lain bertambah semangat ketika melihat kondisi Itong yang
tiba-tiba berhenti. Kulihat Itong
terduduk lemas di tengah area persawahan.
Pelatih kami menghampiri Itong.
Aku pun tidak kalah panik.
“Itong,
apa yang terjadi?”
“Kakiku
sakit, sepertinya terkilir.”
Tanpa
berpikir panjang kami mengangkat Itong ke tepi sawah. Tim kami datang untuk
memberi pertolongan. Itong tampak meringis kesakitan.
“Tahan
ya Itong, memang sedikit sakit,” ujar pelatih sambil menggosokkan sesuatu di
kaki Itong. Setelah agak tenang aku
mengajak ngobrol Itong.
“Sebelum
pertandingan tadi kamu membaca do’a apa tidak?” Tanyaku.
“Iya,
aku lupa tadi tidak membaca do’a sebelumnya. Pikiranku hanya terkonsentrasi ke
lawan-lawanku.” Ucapnya
“Mungkin
itu salah satu penyebabnya, Itong dimanapun dan sedang apapun jangan lupa kita
selalu mengingat Allah, agar yang kita lakukan bisa sukses.”
“Iya
benar sekali.”
Perlombaan
pacuan berlangsung dengan meriah. Aku
sudah tidak memedulikannya karena fokus kepada Itong. Setelah perlombaan usai kami pun pulang
dengan mengucap Alhamdulillah, sebab kami masih bisa berkumpul kembali.
#60HMB
#BATCH9
#DAY37
Tidak ada komentar:
Posting Komentar