Rabu, 09 Februari 2022

 

ITONG HEBAT

Oleh: Marchilia Damayanti

 

            “Ayooo, Kamu hebat.  Kamu bisaaa.”  Teriak pendukung dari tim biru.  Perlombaan baru dimulai.  Aku dan teman-teman sangat menikmati lomba pacuan itik ini.  Para peserta dari berbagai kandang tampak antusias mengikutinya.  Jauh-jauh hari para peternak  mempersiapkan itik calon peserta dengan memberikan perlakuan khusus.

            Itong, Ipit, Ipel, dan Ipal terpilih mewakili tim kami.  Mereka memang memiliki penampilan terbaik diantara kami.  Tubuh mereka atletis dan proporsional disebut sebagai atlet pacuan.  Kaki yang kokoh, badan tegap berisi, paruh tertutup sempurna, mata cerah serta warna bulu yang mengkilat, menjadikan kriteria itik pacuan.

            “Itong, bagaimana persiapan kamu menghadapi pacuan nanti,” tanyaku beberapa hari sebelum hari “H”.

            “Biasa saja tidak ada yang istimewa.”

            “Ipit, gimana?”

            “Aku banyak melakukan pemanasan dan makan yang sehat.”

            “Ipel bagaimana dengan dirimu?”

            “Aku banyak berlari ke sana kemari supaya pada saat perlombaan lebih siap.”

            “Ipal, apa yang kamu persiapkan?’

            “Aku lebih banyak berdo’a, karena aku memperkirakan lawanku pasti banyak berlatih dan siap menghadapi pacuan nanti.”

            Mereka masing-masing sudah menyiapkan strategi yang itik lainnya tidak boleh mengetahui.  Target mereka menjadi yang terbaik diantara para peserta lainnya.

            Perlombaan pacuan itik bertambah seru.  Penampilan itik-itik lain tidak boleh dipandang sebelah mata.  Sekarang giliran Itong terlebih dahulu.

            “Ayo Itong buktikan kamu bisa,” ucapku.

            Itong tersenyum  sambil menggerak-gerakkan badannya untuk pemanasan. 

            “Satu…dua…tiga…”  seru panitia memberi aba-aba.  Dan Itong melesat tanpa memedulilkan lawan-lawannya.  Tampak dari jauh ia memimpin paling depan.  Tetapi tiba-tiba saja ia berhenti di tengah area pertandingan. 

            “Ah, Itong ada apa denganmu?”batinkku

            Para supporter pihak lain bertambah semangat ketika melihat kondisi Itong yang tiba-tiba berhenti.  Kulihat Itong terduduk lemas di tengah area persawahan.  Pelatih kami menghampiri Itong.  Aku pun tidak kalah panik.

            “Itong, apa yang terjadi?”

            “Kakiku sakit, sepertinya terkilir.”

            Tanpa berpikir panjang kami mengangkat Itong ke tepi sawah. Tim kami datang untuk memberi pertolongan. Itong tampak meringis kesakitan.

            “Tahan ya Itong, memang sedikit sakit,” ujar pelatih sambil menggosokkan sesuatu di kaki Itong.  Setelah agak tenang aku mengajak ngobrol Itong.

            “Sebelum pertandingan tadi kamu membaca do’a apa tidak?” Tanyaku.

            “Iya, aku lupa tadi tidak membaca do’a sebelumnya. Pikiranku hanya terkonsentrasi ke lawan-lawanku.” Ucapnya

            “Mungkin itu salah satu penyebabnya, Itong dimanapun dan sedang apapun jangan lupa kita selalu mengingat Allah, agar yang kita lakukan bisa sukses.”

            “Iya benar sekali.”

            Perlombaan pacuan berlangsung dengan meriah.  Aku sudah tidak memedulikannya karena fokus kepada Itong.  Setelah perlombaan usai kami pun pulang dengan mengucap Alhamdulillah, sebab kami masih bisa berkumpul kembali.

 

#60HMB

#BATCH9

#DAY37

           

           

           

           

 

           

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar