Rabu, 23 Februari 2022

PRASANGKA

 

PRASANGKA

 

            Bulunya sangat berbeda dengan kami dalam satu kelompok.  Perpaduan sayap berwarna coklat kerlip perak hijau kebiruan dan bulu dada coklat putih keabuan tampak indah dilihat.  Kakinya hitam mengkilat dan kokoh.  Paruhnya lurus berbentuk melengkung serta matanya yang cerah, menambah kesempurnaan tubuhnya.  Ia seekor itik yang cukup gagah, kami sangat mengaguminya.

            “Hei… lihat teman-teman, apa yang dilakukannya?” tanyaku

            “Eh, iya lihat tuh sedang apa dia?” ujar Ito

            Ia menjadi pusat perhatian kami akhir-akhir ini.  Kedatangannya membuat kami sedikit terusik.  Bagaimana tidak, bentuk tubuh yang gagah dengan warna bulu yang eksotik membuat ia menjadi pusat perhatian. 

            Ia berjalan sambil mendongakkan kepalanya, tanpa basa basi melewati kami yang sedang asyik bermain.  Pandangan kami seketika tertuju padanya.  Ia melenggak lenggokkan badannya seolah memamerkan kegagahannya.  Kakinya yang kokoh  terus melangkah mengelilingi kandang.  Mata kami pun terus tertuju pada gerak geriknya. 

            “Dia memang gagah,” kata Iza

            “Iya coba lihat sorot matanya sangat tajam,” ujar Iwa

            “Iya, darimana asalnya ya, kenapa dia datang di kandang kita.  Jangan-jangan dia diusir dari tempat lamanya.  Jangan-jangan sifatnya tidak baik.  Atau malah sering berkelahi di sana,” kata Ika.

            “Waduh, iya…iya…seharusnya dia bergabung dengan kita dan mengenalkan dirinya.  Sungguh angkuh sifatnya, mentang-mentang punya badan gagah tidak mau bertegur sapa dengan kita,” tambah Ifa lagi.

            Setiap hari ia menjadi bahan perbincangan kami di kandang.  Perilakunya yang aneh tidak mau bergabung dengan kami membuat kami selalu berprasangka buruk dengannya.  Kesehariannya hanya berjalan ke sana kemari memamerkan tubuhnya.  Kami menjadi penasaran, sebenarnya ingin menanyakan dari mana ia berasal dan apa tujuannya datang ke sini.  Tetapi kami merasa segan dan gengsi. 

            “Iza, berani tidak kamu mendekati dia?” tantangku

            “Iihhh, aku takut nanti dia marah.”\

            “Iwa, kamu kan paling cerewet di sini, berani tidak?”

            “Waduh, tunggu ya aku pikir-pikir dulu.”

            “Eh, kamu sendiri bagaimana?” ujar Iza.  Aku hanya mengelengkan kepala, tanda tidak mau.

            Semakin lama kami semakin penasan.  Siapa dia sebenarnya ya?

            Hari berganti hari, setiap kali berpapasan dengannya kami hanya berlalu begitu saja tidak bertegur sapa.  Ia juga hanya diam sambil terus memandangi kami.

            “Teman-teman tidak bisa kita begini terus.  Ayolah, salah satu dari kita harus menegurnya,” pintaku.

            “Hhhhmm, gimana ya?”

            “Iya ayo, kita datangi dia,” ajak Iwa

            “Tapi…tapi…,” kata Iza agak ragu

            “Yuk, ah, kita harus berani.”

            Kami pun sepakat beramai-ramai mendatanginya.  Belum sempat kami berjalan, Iwa mendadak ragu lagi.

            “Jangan ah, nanti dia tersinggung.”

            “Ayolah, tidak bisa kita begini terus,” kataku

            “Iya sih, kita harus memberanikan diri.”

            Kami pun melanjutkan berjalan mendekatinya.  Tampak ia sedang membersihkan bulu dengan paruhnya. 

            “Selamat siang, boleh kami mengganggu?”

            Tapi ia bergeming tidak memedulikan kedatangan kami.  Aku mengulangi sekali lagi memberi salam.

            “Selamat siang.”

            Tetapi ia tetap saja diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.  Kami menjadi kesal. Kami saling pandang dan berdiskusi.

            “Gimana ini?” tanya Iza

            “Sabar,” kataku

            “Bagaimana kalau kita colek badannya,” usulku

            “Iihh, jangan nanti dia marah,” ucap Iwa

            “Tidak apa-apa, yuk ah, aku yang akan mencoleknya.”

            Aku mendekati dia yang sedari tadi sepertinya tidak menyadari kedatangan kami.  Aku mengarahkan sayapku ke arah badannya.  Ia terkejut dan menghentikan aktivitasnya.  Ia melihat ke arah kami tanpa berkata-kata.  Aku tersenyum ia membalas senyumanku.  Aku sedikit menjaga jarak mengantisipasi kemungkinan yang tidak diinginkan.

            “Boleh kenalan?” tanyaku

            Ia hanya mengangguk sambil tersenyum namun tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya.

            “Boleh kenalan?” aku mengulangi sekali lagi.

            Ia mengangguk lagi.  Ia pun menunjuk ke arah lehernya memberi isyarat. 

            “Ada apa?” tanyaku

            Ia tetap menunjuk ke arah lehernya.  Ternyata ia adalah seekor itik yang memiliki kelainan pada pita suara sehingga tidak bisa berbicara.  Maafkan kami ya teman, sudah berprasangka buruk kepadamu.

 

#60HMB

#BATCH9

#DAY51

Tidak ada komentar:

Posting Komentar