PRASANGKA
Bulunya
sangat berbeda dengan kami dalam satu kelompok.
Perpaduan sayap berwarna coklat kerlip perak hijau kebiruan dan bulu
dada coklat putih keabuan tampak indah dilihat.
Kakinya hitam mengkilat dan kokoh.
Paruhnya lurus berbentuk melengkung serta matanya yang cerah, menambah
kesempurnaan tubuhnya. Ia seekor itik
yang cukup gagah, kami sangat mengaguminya.
“Hei…
lihat teman-teman, apa yang dilakukannya?” tanyaku
“Eh,
iya lihat tuh sedang apa dia?” ujar Ito
Ia
menjadi pusat perhatian kami akhir-akhir ini.
Kedatangannya membuat kami sedikit terusik. Bagaimana tidak, bentuk tubuh yang gagah
dengan warna bulu yang eksotik membuat ia menjadi pusat perhatian.
Ia
berjalan sambil mendongakkan kepalanya, tanpa basa basi melewati kami yang
sedang asyik bermain. Pandangan kami
seketika tertuju padanya. Ia melenggak
lenggokkan badannya seolah memamerkan kegagahannya. Kakinya yang kokoh terus melangkah mengelilingi kandang. Mata kami pun terus tertuju pada gerak
geriknya.
“Dia
memang gagah,” kata Iza
“Iya
coba lihat sorot matanya sangat tajam,” ujar Iwa
“Iya,
darimana asalnya ya, kenapa dia datang di kandang kita. Jangan-jangan dia diusir dari tempat
lamanya. Jangan-jangan sifatnya tidak
baik. Atau malah sering berkelahi di
sana,” kata Ika.
“Waduh,
iya…iya…seharusnya dia bergabung dengan kita dan mengenalkan dirinya. Sungguh angkuh sifatnya, mentang-mentang
punya badan gagah tidak mau bertegur sapa dengan kita,” tambah Ifa lagi.
Setiap
hari ia menjadi bahan perbincangan kami di kandang. Perilakunya yang aneh tidak mau bergabung
dengan kami membuat kami selalu berprasangka buruk dengannya. Kesehariannya hanya berjalan ke sana kemari
memamerkan tubuhnya. Kami menjadi
penasaran, sebenarnya ingin menanyakan dari mana ia berasal dan apa tujuannya
datang ke sini. Tetapi kami merasa segan
dan gengsi.
“Iza,
berani tidak kamu mendekati dia?” tantangku
“Iihhh,
aku takut nanti dia marah.”\
“Iwa,
kamu kan paling cerewet di sini, berani tidak?”
“Waduh,
tunggu ya aku pikir-pikir dulu.”
“Eh,
kamu sendiri bagaimana?” ujar Iza. Aku hanya
mengelengkan kepala, tanda tidak mau.
Semakin
lama kami semakin penasan. Siapa dia
sebenarnya ya?
Hari
berganti hari, setiap kali berpapasan dengannya kami hanya berlalu begitu saja
tidak bertegur sapa. Ia juga hanya diam
sambil terus memandangi kami.
“Teman-teman
tidak bisa kita begini terus. Ayolah,
salah satu dari kita harus menegurnya,” pintaku.
“Hhhhmm,
gimana ya?”
“Iya
ayo, kita datangi dia,” ajak Iwa
“Tapi…tapi…,”
kata Iza agak ragu
“Yuk,
ah, kita harus berani.”
Kami
pun sepakat beramai-ramai mendatanginya.
Belum sempat kami berjalan, Iwa mendadak ragu lagi.
“Jangan
ah, nanti dia tersinggung.”
“Ayolah,
tidak bisa kita begini terus,” kataku
“Iya
sih, kita harus memberanikan diri.”
Kami
pun melanjutkan berjalan mendekatinya.
Tampak ia sedang membersihkan bulu dengan paruhnya.
“Selamat
siang, boleh kami mengganggu?”
Tapi
ia bergeming tidak memedulikan kedatangan kami.
Aku mengulangi sekali lagi memberi salam.
“Selamat
siang.”
Tetapi
ia tetap saja diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Kami menjadi kesal. Kami saling pandang dan
berdiskusi.
“Gimana
ini?” tanya Iza
“Sabar,”
kataku
“Bagaimana
kalau kita colek badannya,” usulku
“Iihh,
jangan nanti dia marah,” ucap Iwa
“Tidak
apa-apa, yuk ah, aku yang akan mencoleknya.”
Aku
mendekati dia yang sedari tadi sepertinya tidak menyadari kedatangan kami. Aku mengarahkan sayapku ke arah badannya. Ia terkejut dan menghentikan
aktivitasnya. Ia melihat ke arah kami
tanpa berkata-kata. Aku tersenyum ia
membalas senyumanku. Aku sedikit menjaga
jarak mengantisipasi kemungkinan yang tidak diinginkan.
“Boleh
kenalan?” tanyaku
Ia
hanya mengangguk sambil tersenyum namun tidak ada kata-kata yang keluar dari
mulutnya.
“Boleh
kenalan?” aku mengulangi sekali lagi.
Ia
mengangguk lagi. Ia pun menunjuk ke arah
lehernya memberi isyarat.
“Ada
apa?” tanyaku
Ia
tetap menunjuk ke arah lehernya. Ternyata
ia adalah seekor itik yang memiliki kelainan pada pita suara sehingga tidak
bisa berbicara. Maafkan kami ya teman,
sudah berprasangka buruk kepadamu.
#60HMB
#BATCH9
#DAY51
Tidak ada komentar:
Posting Komentar