IGAL…IGAL…
Hujan
belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.
Udara di luar begitu dingin, tidak ada pilihan lain kami harus berada
dalam kandang dan menghangatkan diri. Jika cuaca cerah kami biasanya berada di luar,
kali ini hanya berdiam diri di kandang. Kebosanan
terkadang menyerang kami, tetapi kami
berusaha membuat kegiatan untuk mengusir rasa bosan ini. Seperti kali ini, kami melakukan kegiatan
bermanfaat dengan membuat sesuatu yang dapat berguna. Kami membuat topi dari anyaman. Topi ini nantinya bisa kami gunakan pada saat
musim hujan maupun kemarau.
Kami
membuat topi secara berkelompok, tujuannya agar terjalin kerja sama dan saling membantu
satu sama lain. Bagi yang sudah
mengetahui cara membuat topi mengajarkan kepada yang belum tahu. Kesibukan pun dimulai, masing-masing sudah
memegang peralatannya.
“Eh,
Ipet tolong ambilkan gunting dulu,” ucap Idul
“Ipo,
gunting dulu yang ini, baru yang itu,” kata Itri memberi instruksi kepada
Ipo.
“E…bukan
begitu cara menganyamnya. Bukankah tadi sudah saya ajarkan?”
“Aduuh,
perhatikan kalau memotong. Iiihh, kamu
nih… sudah diberi tahu tapi tidak ada perhatiannya. Perhatikan sekali lagi, begini caranya.” ucap
Itri sambil memberi contoh. Itri memang piawai membuat topi. Aku
sangat mengagumi karya buatan Itri, rapi dan nyaman ketika dipakai.
Kami
terus sibuk membuat topi. Ada yang
langsung bisa adapula yang harus mengulang beberapa kali hingga menemukan cara
yang tepat.
“Sekali
lagi perhatikan cara menganyamnya, jangan sampai telipat atau salah arah.” ujar
itri sambil terus mengelilingi kami satu per satu untuk memeriksa pekerjaan
kami.
Tanpa
terasa waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, perut kami sudah mulai
keroncongan. Ya…membuat topi sangatlah
menyita waktu, ternyata tidak semudah yang kami bayangkan. Selama ini kami hanya tahu memakai tanpa mau
tahu cara membuatnya. Akhirnya kami
menyadari pentingnya menghargai karya.
Sekecil apapun sebuah karya terdapat jerih payah dan pemikiran
pembuatnya.
“Aku
sudah lapar nih, apa dia tidak lapar ya? Iihhh… aku capek dari tadi menunduk
terus. Tanganku pegel dari tadi menggunting, menjalin, menata.
Kegiatan yang membosankan. Aku tidak suka ini.
Lebih baik aku tadi tidur. Lebih baik aku ngobrol. Begini ini membuat aku tidak bebas, mau
kemana-mana. Itu Itri Cuma bisa
perintah-perintah dikira kita ini bodoh.
Sok pintar dia.” gerutu Igal.
Igal
mengomel dan mengeluh terus menerus. Aku yang duduk di samping Igal sangat
kesal mendengar kata-katanya. Telingaku terasa
penuh sampai-sampai kehilangan konsentrasi.
Igal memang begitu, ia selalu mengomel setiap saat dan setiap
waktu. Teman-teman biasanya menghindar
berdekatan dengannya. Apapun keadaannya
ia selalu mengomel, baik itu sesuatu yang menyenangkan apalagi yang membuatnya
kesal. Jika kesal suaranya bisa meledak-ledak tidak menghiraukan siapapun. Seperti kali ini, ia mulai bosan.
“Aku
capek mau ke sana dulu. Dari tadi cuma ini
yang dibuat. Apa tidak ada yang lain yang lebih keren. Cuma topi sudah membuang
waktuku.” ucapnya dengan suara meninggi.
Kami
juga mulai kesal dengan perilaku Igal. Tetapi
kami berusaha bersabar karena sudah mengetahui sifat Igal yang meleda-ledak
itu. Aku hanya mennghela nafas panjang sambil terus membuat anyaman topi. Demikian juga teman-teman yang lain. Kami biarkan Igal mengomel, semua
mengacuhkannya. Kalau tidak ada yang
memperhatikan maka ia akan diam dengan sendirinya. Igal…Igal…
#60HMB
#BATCH9
#DAY50
Tidak ada komentar:
Posting Komentar