Selasa, 22 Februari 2022

IGAL…IGAL…

 

IGAL…IGAL…

 

            Hujan belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.  Udara di luar begitu dingin, tidak ada pilihan lain kami harus berada dalam kandang dan menghangatkan diri.   Jika cuaca cerah kami biasanya berada di luar, kali ini hanya berdiam diri di kandang.  Kebosanan terkadang menyerang kami,  tetapi kami berusaha membuat kegiatan   untuk mengusir rasa bosan ini.  Seperti kali ini, kami melakukan kegiatan bermanfaat dengan membuat sesuatu yang dapat berguna.  Kami membuat topi dari anyaman.  Topi ini nantinya bisa kami gunakan pada saat musim hujan maupun kemarau.

            Kami membuat topi secara berkelompok, tujuannya agar terjalin kerja sama dan saling membantu satu sama lain.  Bagi yang sudah mengetahui cara membuat topi mengajarkan kepada yang belum tahu.  Kesibukan pun dimulai, masing-masing sudah memegang peralatannya.

            “Eh, Ipet tolong ambilkan gunting dulu,” ucap Idul

            “Ipo, gunting dulu yang ini, baru yang itu,” kata Itri memberi instruksi kepada Ipo. 

            “E…bukan begitu cara menganyamnya. Bukankah tadi sudah saya ajarkan?”

            “Aduuh, perhatikan kalau memotong.  Iiihh, kamu nih… sudah diberi tahu tapi tidak ada perhatiannya.  Perhatikan sekali lagi, begini caranya.” ucap Itri sambil memberi contoh. Itri memang piawai membuat topi.   Aku sangat mengagumi karya buatan Itri, rapi dan nyaman ketika dipakai.

            Kami terus sibuk membuat topi.  Ada yang langsung bisa adapula yang harus mengulang beberapa kali hingga menemukan cara yang tepat.

            “Sekali lagi perhatikan cara menganyamnya, jangan sampai telipat atau salah arah.” ujar itri sambil terus mengelilingi kami satu per satu untuk memeriksa pekerjaan kami. 

            Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, perut kami sudah mulai keroncongan.  Ya…membuat topi sangatlah menyita waktu, ternyata tidak semudah yang kami bayangkan.  Selama ini kami hanya tahu memakai tanpa mau tahu cara membuatnya.  Akhirnya kami menyadari pentingnya menghargai karya.  Sekecil apapun sebuah karya terdapat jerih payah dan pemikiran pembuatnya.

            “Aku sudah lapar nih, apa dia tidak lapar ya? Iihhh… aku capek dari tadi menunduk terus.  Tanganku  pegel dari tadi menggunting, menjalin, menata. Kegiatan yang membosankan. Aku tidak suka ini.  Lebih baik aku tadi tidur. Lebih baik aku ngobrol.  Begini ini membuat aku tidak bebas, mau kemana-mana.  Itu Itri Cuma bisa perintah-perintah dikira kita ini bodoh.  Sok pintar dia.” gerutu Igal.

            Igal mengomel dan mengeluh terus menerus. Aku yang duduk di samping Igal sangat kesal mendengar kata-katanya.  Telingaku terasa penuh sampai-sampai kehilangan konsentrasi.  Igal memang begitu, ia selalu mengomel setiap saat dan setiap waktu.  Teman-teman biasanya menghindar berdekatan dengannya.  Apapun keadaannya ia selalu mengomel, baik itu sesuatu yang menyenangkan apalagi yang membuatnya kesal. Jika kesal suaranya bisa meledak-ledak tidak menghiraukan siapapun.  Seperti kali ini, ia mulai bosan.

            “Aku capek mau ke sana dulu.  Dari tadi cuma ini yang dibuat. Apa tidak ada yang lain yang lebih keren. Cuma topi sudah membuang waktuku.” ucapnya dengan suara meninggi. 

            Kami juga mulai kesal dengan perilaku Igal.  Tetapi kami berusaha bersabar karena sudah mengetahui sifat Igal yang meleda-ledak itu. Aku hanya mennghela nafas panjang sambil terus membuat anyaman topi.  Demikian juga teman-teman yang lain.  Kami biarkan Igal mengomel, semua mengacuhkannya.  Kalau tidak ada yang memperhatikan maka ia akan diam dengan sendirinya. Igal…Igal…

 

#60HMB

#BATCH9

#DAY50

 

           

 

           

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar