Minggu, 20 Februari 2022

JAGA KEBERSIHAN MAKANAN

 

JAGA KEBERSIHAN MAKANAN

 

            Hujan begitu lebat dan berlangsung lama.  Seluruh area kandang menjadi basah dan becek.  Udara di dalam dan luar kandang sangat dingin.  Kami lebih memilih berlindung di dalam kandang dibandingkan berada di luar kandang.  Ini untuk menjaga agar kami tetap dalam keadaan sehat. Udara dingin bisa menyebabkan berbagai macam penyakit.  Jika sudah tiba musim penghujan kami harus lebih ekstra menjaga kesehatan tubuh.  Biasanya kami diberi minum jamu untuk menjaga imun tubuh.

            Sedang asyiknya bergerombol untuk menghangatkan tubuh dengan teman-teman, aku melihat Iga tertunduk lesu menyendiri di sudut kandang.  Aku memanggilnya berulang kali tetapi ia tetap tidak mau menoleh.

            “Iga, ayo sini berkumpul dengan kami.”

            “Ayo, Iga sini!” seru yang lain

            Tetapi ia bergeming tetap berada di tempatnya.  Kepalanya tertunduk dan bulunya terkulai.  Matanya sayu menatap kami, tidak ada semangat seperti biasanya.  Aku mulai mengkhawatirkan keadaannya.  Iga yang biasanya selalu membuat suasana ceria, tiba-tiba diam tanpa ekspresi di wajahnya.  Semakin lama aku memperhatikannya semakin tertunduk lemas dirinya.  Paruhnya sudah mendekati tanah, sayapnya hampir menutupi kakinya yang panjang. Kakinya juga seperti tidak mampu lagi menopang badannya. Dan…Brug… terdengar suara dari tempat Iga berdiri.

            Aku dan teman-teman segera menolong Iga lalu membopongnya ke tempat yang lebih kering.  Teman-teman segera menyiapkan alas agar ia dapat berbaring dengan nyaman.  Setelah situasi terkendali maka kami segera memberikan air minum untuk memulihkan kesadaran Iga. 

            “Iga, minum dulu air ini.”

            “Iga…Iga…bangun, ayo minum dulu airnya,” kata Ika

            Dengan susah payah ia mengangkat kepalanya dan sedikit demi sedikit meminum air yang sudah kami siapkan.  Kamipun menjadi lega karena Iga sudah mulai sadar kembali.  Kami ingin mengetahui apa yang dirasakan Iga.

            “Bolehkah kami tahu, apa yang kamu rasakan Iga?”

            “Katakan kepada kami siapa tahu kami bisa membantumu.”

            Meski masih lemas, Iga berusaha sekuat tenaga untuk berbicara. 

            “Perutku sakit, mules dan mual,” ujarnya

            “Kamu tadi makan apa?” tanyaku

            Ia belum mau menjawab pertanyaanku, matanya menerawang, berusaha mengingat makanan apa yang masuk ke dalam tubuhnya.  Sesaat kami juga terdiam menunggu jawaban dari Iga. 

            “Aku kemarin  makan makanan yang kurang bersih. Aku kelaparan, sehingga aku makan apa saja yang dapat mengenyangkan perutku.  Makanan itu aku dapatkan dari tempat sampah. Mungkin makanan itu sudah basi dan terdapat cacing atau bakteri penyebab penyakit.”

            Iga menjelaskan kronologis kejadian hingga dirinya jatuh sakit.  Kami semua mendengarkan dengan seksama penjelasan Iga.   

            “Ooo…begitu,” jawab kami serempak.  Iga tersenyum melihat kekompakan kami. 

            “Kalau begitu minum dulu obat ini,” kataku sambil menyodorkan obat sakit perut.

            “Lain kali kalau mau makan dilihat dulu ya Ga, makanannya bersih atau tidak.” nasehat teman-teman kepada Iga.  Iga hanya mengangguk lesu sambil tersenyum.

 

#60HMB

#BATCH9

#DAY48

           

           

           

           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar