Sabtu, 05 Februari 2022

 

 KUCINGKU?

Oleh: Marchilia Damayanti


            Si Hitam berjalan sedikit berlari menghampiriku.  Mungkin ada sesuatu yang ingin ia katakan.  Aku melihat ke arahnya, ia juga mendongakkan kepala menatapku. 

            “Meooong…meoooong…”

            Suara “cemprengnya” begitu berisik,

            “Ssssst, diam Hitam!” kataku

            “Meooong…meoooong…meoooong.”

            “Bisa diam nggak sih,” seruku lagi.

            Tetapi ia tetap saja berisik, hingga aku  mengambilkan makanan untuknya.  Sejurus kemudian dengan lahap ia menyantap makanan yang kuberikan.  Sambil makan  tetap  saja mengeluarkan suara khas cemprengnya.

            Selang beberapa saat datang si Upik dan Umik.  Merasa terganggu dengan kehadiran mereka berdua, si Hitam mengeluarkan suara nyaringnya.  Si Upik dan Umik berhenti dan mundur selangkah.  Si Hitam makan dengan lahap seraya sesekali melihat ke arah Upik dan Umik yang menyiratkan  bahwa ia tidak mau membagi makanannya. 

            Si Upik dan Umik mulai kesal.  Mereka berjalan perlahan mendekati Hitam.  Dan apa yang terjadi, jreng…jreng…Si Hitam naik pitam.  Ia membabi buta menyerang keduanya.  Upik dan Umik tidak kalah garangnya, mereka balik menyerang Hitam. 

            “Eerrrrr….eerrrr,”

            “Wauwwww….wauuuuwww.”

            “Bag…bug…prank…gedubrak….”

            Aku berlari secepat kilat mengambil air di gayung lalu menyiramkan ke arah mereka.

            “Wauuuw…wauuuw.” Suara mereka begitu berisik. 

            Sesaat mereka bubar.  Tetapi beberapa detik kemudian bertemu dan beradu fisik lagi.  Aku menghela nafas panjang sambil menyiramkan air lagi.   Si Hitam tetap bertahan di tempatnya terlihat ia menaikkan punggungnya pertanda masih siap untuk berkelahi. 

            “Ya ampuuun, Hitam….Hitam…”

            “Hitam, sudah berhenti berkelahi!”

            Upik dan Umik juga tidak kalah berani.  Mereka juga menaikkan punggungnya bersiap jika tiba-tiba si Hitam menyerang.  Keberanian ketiganya membuatku khawatir ketika ada yang terluka. 

            Mereka benar-benar seperti Tom and Jerry tetapi versi kucing.  Dimana bertemu pasti beradu kekuatan alias tidak pernah akur. Aku begitu cemas dengan kondisi ini. Kecemasanku sangat beralasan, pernah suatu ketika mereka berkelahi saling cakar sehingga ada yang terluka. 

            Meski mereka adalah kucing liar yang datang setiap saat ke rumah, aku sangat menyayangi mereka.  Ketika aku baru datang dari bepergian mereka sudah menyambutkku di pagar rumah.  Sebenarnya keinginan terbesarku adalah  mereka akur.  Tapi apalah daya binatang tetap memiliki insting untuk mempertahankan wilayahnya.

#60HMB

#BATCH9

#DAY33

 

             

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar