SENYUM ILA
Seharian
Ila tersenyum terus tanpa henti. Entah
apa yang ada dalam pikirannya. Meski sedang sendirian ia tersenyum apalagi
ketika bertemu itik yang lain. Kedua
sudut bibirnya selalu mengarah ke atas, mimik wajahnya menunjukkan
keceriaan. Teman-teman yang lain juga
sangat heran melihat perangainya. Ila
yang biasanya cenderung pendiam kini berubah menjadi sosok yang ramah dan
ceria. Kami semua terkejut dengan
perubahan ini.
“Eh,
ada apa dengan Ila ya?” tanyaku
“Kamu
lihat juga perubahan sikapnya?”ucap Ika
“Iya,
dari tadi pagi kuamati sepertinya ada yang berbeda dengan dirinya.”
“Ah,
mungkin saja lagi senang hatinya.”
“Iya,
mungkin ia mendapatkan sesuatu yang diinginkannya.”
“Atau
jangan-jangan mendapatkan hadiah dari orang tuanya.”
Kami
saling menceritakan perubahan sikap Ila. Ya, siapa yang tidak kaget terhadap
perubahan yang begitu tiba-tiba.
“Eh,
kamu berani apa tidak tanya ke Ila, kenapa dia begitu?”tantangku
“Nggak
ah, nanti dia marah padaku.”jawab Ika
“Iya
nanti dia marah,” ujar Ita
“Aku
berani,” kata Iza
“Kamu
berani Iza?” jawabku tidak yakin
“Berani
donk.”
Akhirnya
kami putuskan untuk menemui Ila. Kami
berjalan beriringan menuju rumah Ila.
Dari kejauhan rumah Ila tampak asri dengan berbagai tanaman. Sesampainya di rumah Ila kami memberi salam dan
ibunya yang menyambut kedatangan kami.
“Ada
Ila Tante?” tanyaku
“Ada,
ada apa ini kok tiba-tiba ramai-ramai datang ke rumah?”
“Nggak
Tante, cuma pingin main saja,” jawabku
“Oooo. Tunggu ya, Ila lagi di belakang.”
Kami
saling pandang dan mulai kasak-kusuk.
Ita yang memang semula ragu akan keputusan kami mulai diam tidak berkata
apa-apa. Sementara Iza yang sanggup
menerima tantanganku tampak tenang-tenang saja.
Sepertinya ia siap menghadapi resiko apapun.
“Eh,
kalian pada kenapa kok semuanya diam, santai saja kali,” kata Iza sambil
tertawa.
“Ah,
kamu Iza, kita lagi memikirkan bagaimana kalau Ila marah nanti.”
“Aaahhh,
nggak apa-apa, dia tidak bakalan marah,” ujar Iza
Untuk
beberapa saat kami terdiam tenggelam dalam pikiran masing-masing. Suasana begitu hening, hanya kicauan burung
yang terdengar.
“Hai,
teman-teman, apa kabar?” sapa Ila dengan ceria
“Eee…,
eeemmm, ka…ka…bar baik,” jawab kami serempak.
“Tumben
ke rumahku, ada yang bisa saya bantu?”
Lagi-lagi
Ila tersenyum ramah.
“Ila…Ila…ada
apa denganmu?” batinku
Sementara
aku melihat ke arah Iza, ia hanya diam. Aku mulai ragu terhadap Iza. Katanya ia berani akan tapi kok malah diam di
saat Ila datang.
“Iza…,
ayo …,” bisikku kepada Iza yang duduk tidak jauh dariku.
Teman-teman
lainnya juga mengarahkan pandangannya kepada Iza. Tapi Iza malah menunduk. Ya…Iza…katanya berani.
“Hai…ada
yang bisa saya bantu?” tanya Ila sekali lagi.
“Begini
Ila, boleh kami menanyakan sesuatu?” kataku membuka pembuka pembicaraan.
“Tentu
donk dengan senang hati aku akan menjawabnya…”
“Eeemmm,
kenapa akhir-akhir ini kamu sering tersenyum dan selalu ceria?”
Sesaat
suasana menjadi hening kembali setelah aku mengajukan pertanyaan ke Ila. Aku memperhatikan dengan ekor mataku reaksi
Ila yang lagi-lagi hanya tersenyum.
“Oooo,
itu ya yang menjadikan kalian ingin tahu,” jawabnya
Ila
pun menceritakan mengapa akhir-akhir ini ia lebih sering tersenyum dan
ceria.
“Begitulah
teman-teman, senyum membuat kita membawa suasana lebih ceria. Senyum akan lebih mencairkan keadaan.”
“Oooo,
begitu ya Ila.”
Kami
pun tertawa bersama sambil menyantap cemilan yang telah dihidangkan oleh mama
Ila. Setelah puas mendapatkan jawaban
dari Ila kami berpamitan pulang.
#60HMB
#BATCH9
#DAY55
Tidak ada komentar:
Posting Komentar